Hal penting dari Sultan Muhammad Al Fatih yang tidak diceritakan oleh Ustad Felix Siauw

Muh_Fatih_Felix_Siauw_1

Ustad Felix Siauw adalah seorang Muslim yang amat fenomenal yang dahulunya adalah seorang Mualaf. Beliau menemukan Islam dari hasil pencarian beliau kepada kebenaran, yang akhirnya beliau dapatkan ketika beliau kuliah di IPB melalui Jamaah Hizbut Tahrir Indonesia. Jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang maka tidak ada apapun yang dapat menyesatkan. Sebaliknya jika Allah biarkan seseorang itu sesat karena kekesatan hatinya, maka tidak dapat seorangpun memberikan hidayah kepadanya.

Dalam waktu yang relatif singkat beliau telah berubah dari seorang Mualaf – yaitu orang yang baru masuk Islam yang hatinya perlu diberikan “ulfah” atau kasih sayang khusus – menjadi seorang Mukallaf yang tidak hanya memikul beban syariat tetapi juga seorang yang memikul beban dakwah. Semoga Allah melindungi dan memimpin beliau dalam melaksanakan tugas berdakwah di jalanNya.

Dalam dakwahnya itu beliau terkenal diantaranya karena sering meng“highlight” kisah perjuangan Sultan Muhammad II, salah seorang Sultan dari kerajaan Usmaniyah yang mendapat gelar Al Fatih, karena beliaulah yang berhasil melakukan Futuh (membuka) Konstantinopel (Istanbul) pada tahun 1453 M.

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الْاَمِيرُ اَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

“Sungguh akan terjadi Futuh Kota Konstantinopel di tangan Islam. Pemimpin yang berhasil melaksanakan Futuh itu adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”[Hadits Konstantinopel]

Muh_Fatih_Felix_Siauw_2

Beliau telah menulis sebuah buku tentang perjuangan Sultan Muhammad Al Fatih. Kamipun tertarik untuk membeli dan membaca buku itu.
Dalam buku itu, beliau menerangkan secara detail bagaimana Muhammad Al Fatih kecil dididik oleh ayahnya Sultan Murad II dengan mencarikan guru-guru terbaik, sehingga menjadikannya menjadi pejuang tangguh, pemimpin terbaik yang memimpin pasukan terbaik, sesuai dengan Hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tentang pembukaan (Futuh) Kontantinopel. Bahkan beliau menulis secara detail strategi dan alat perang yang digunakan dengan panjang lebar.

Namun sayang sekali kami tidak menemukan perkara yang amat penting dari Sultan Muhammad Al Fatih yang semestinya beliau juga “highlight“kan dalam bukunya itu. Yaitu landasan agama Islam yang dipegang oleh Sultan Muhammad Al Fatih dan kerajaan Usmaniyah. Kalau Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sudah memuji tentulah apa-apa yang ada pada orang itu dalam hal beragama adalah benar dan tidak diragukan lagi, sehingga patut untuk kita jadikan tauladan. Demikian juga Sultan Muhammad Al Fatih. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sudah memujinya bahkan dengan bala tetaranya sebelum mereka dilahirkan (lihat Isyarat Rasulullah SAW membenarkan Aqidah ASWAJA Asy´ariyyah/Maturidiyah, berfiqih dengan bermazhab dan bertasauf).

Sekarang ini banyak golongan mengaku beragama Islam dan mengaku Ahlussunnah wal Jamaah. Namun Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya punya ciri khas tersendiri yang telah diketahui dan disepakati oleh Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jamaah dari zaman ke zaman. Ciri khas itu adalah landasan agamanya yang dikenal dengan tiga Rukun Agama dalam Ahlussunnah wal Jamaah yaitu: Islam, Iman dan Ihsan. Tiga rukun agama ini diambil dari Hadits yang terkenal yang sering juga disebut dengan Hadits Jibril:

“Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khatthab RA, beliau berkata, ‘Pada suatu hari, di saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, tiba-tiba muncullah seorang laki-laki yangsangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, dan tidak terlihat bekas-bekas bahwa dia datang dari jauh, dan tidak ada seorang pun diantara kami yang mengenalinya, sampai dia duduk di depan Nabi shallallahu alaihi wassalam, dan menempelkan kedua lututnya dengan kedua lutut Nabi, seraya meletakkan kedua telapak tangannya di kedua paha beliau. Kemudian dia berkata, ‘Ya Muhammad, jelaskan kepadaku tentang Islam?’

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Islam ialah hendaknya angkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah rasul-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan melaksanakan haji jika engkau mampu.’

Laki-laki itu berkata, ‘Engkau benar’. Maka kami pun merasa heran terhadap laki-laki itu, dia bertanya tapi dia juga membetulkan (jawabannya). Selanjutnya dia berkata, ‘Terang pula kepadaku tentang Iman?’

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Iman ialah hendaknya engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan buruknya.’

‘Engkau benar’, kata laki-laki itu. Seterusnya dia berkata, ‘Jelaskan kepadaku tentang Ihsan?’

Nabi shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Ihsan ialah hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.’

Laki-laki itu berkata, ‘Jelaskan pula kepadaku tentang hari kiamat?.’

Nabi shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.’

Laki-laki itu berkata lagi, ‘Katakan kepadaku tentang tanda-tandanya (kiamat)?’

Nabi shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘(Tanda-tandanya ialah) jikaseorang budak perempuan telah melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang, papa, dan penggembala kambing, berlomba-lomba membangun rumah-rumah yang tinggi.’

Untuk mempelajari ketiga rukun agama itu, Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah menjabarkannya menjadi ilmu Fiqih, Ilmu Tauhid dan Ilmu Tasawuf *) sbb:

  1. Ilmu Fiqih, yaitu ilmu tentang hukum-hukum syariat yang diwajibkan oleh Allah untuk dilaksanakan oleh kaum muslim dan muslimat. Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah bersepakat bahwa dalam ilmu fiqih, umat Islam Ahlussunnah wal Jama´ah mengikuti satu dari 4 Mazhab yang mu´tabar yaitu Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafei dan Mazhab Hambali. (lihat Mengapa Ahlussunnah wal Jamaah mengikuti Imam Mazhab).
  2. Ilmu Tauhid atau Aqidah, yaitu hal-hal yang wajib diyakini oleh seorang mukallaf (orang yang telah dewasa yang wajib menjalankan hukum agama), yang terdiri dari ketuhanan, kenabian, dan hal-hal yang sam’iyyat (masalah-masalah ghaib). Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah bersepakat bahwa jika disebut Aqidah Ahlussunnah wal Jama´ah adalah Aqidah yang disusun oleh Imam Abul Hasan Al Asy´ari (wafat 324 H) dan Imam Abu Mansur Al Maturidi (wafat 333 H). Oleh sebab itu disebut juga Aqidah Ahlussunnah wal Jama´ah Asy´ariyyah dan Maturidiyah. (lihat Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 1: Sifat Nafsiyah dan Sifat Salbiyah)).
  3. Ilmu Tasawuf, yaitu ilmu tentang akhlak bathin dimana sifat yang baik (mahmudah) wajib dijadikan hiasan oleh seorang hamba, dan sifat yang buruk mazmumah mesti dibuang dan ditinggalkan. Di antara Imam yang telah menyusun Kitab Tasawwuf dari Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah adalah Imam Junaid Al Baghdadi, Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani, Imam Ghazali, Ibnu Athoilah As-sakandari dan banyak lagi.
    (lihat Sejarah ditulisnya ilmu-ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama´ah ).

Inilah pegangan Sultan Muhammad Al Fatih dan Kerajaan Usmaniyah. Dalam hal fiqih, orang Turki pada umumnya bermazhab Hanafi. Aqidahnya mengikuti Imam Abu Mansur Al Maturidi yang juga bermazhab Hanafi. Umat Islam yang bermazhab Maliki dan Syafei pada umumnya Aqidahnya mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy’ari. Pengikut Mazhab Maliki mengatakan bahwa Imam Abul Hasan Al Asy’ari bermazhab Maliki, dan pengikut Mazhab Syafei mengatakan beliau bermazhab Syafei. Hal ini bukan masalah sebab memang di zaman itu, masih banyak Ulama yang menguasai lebih dari satu Mazhab. Ilmu Aqidah Ahlussunnah wal Jama´ah yang disusun oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Maturidi adalah sama pada pokoknya. Hanya ada perbedaan kecil yang tidak menyangkut pokok, seperti pada cara pendefinsian. Misalnya dalam ajaran Imam Abul Hasan Al Asy´ari sifat wajib Rasul ada 4 yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah. Sifat Ma´shum (tidak melakukan dosa) sudah termasuk di dalam 4 Sifat itu. Dalam ajaran Imam Abu Mansur Al Maturidi, sifat wajib Rasul ada 5 yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah dan ‘Ishmah (Ma´shum).
Pengikut Mazhab Hambali sebagiannya mengikuti Aqidah Asy’ariyah dan Maturidiyah, sebagiannya mengikut Aqidah yang disusun oleh Ibnu Taimiyah (wafat 728H) yang sekarang kemudian dikenal dengan Tauhid dibagi 3. Ibnu Taimiyah memang dikenal sebagai Ulama yang banyak pendapatnya keluar dari Jumhur Ulama Ahlussunah.
Umat Islam pada zaman kerajaan Usmaniyah pada umumnya bertasawuf dengan mengikuti Tariqat sebagai jalan untuk mendidik akhlaknya. Bahkan guru dari Sultan Muhammad Al Fatih adalah bertariqat Naqsibandiyah. Pada umumnya para Sultan dari Kerajaan Usmaniyah memang bertariqat Naqsibandiyah.

Mengapa menyebutkan 3 Rukun agama ini sangat penting? Kalau kita membuka Kitab-kitab Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang terdahulu, seperti Imam Ghazali, Imam As Suyuti, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Zakaria Al Anshari, Imam Fahrurrazi, Imam Ahmad Ad-Dardir dan lain-lain. Mereka selalu menuliskan pada awal Kitabnya itu tentang pegangan mereka dalam Aqidah, madzhab fikih dan tidak jarang mereka sebut pula Tariqatnya. Ini menunjukkan bahwa perkara ini amat penting. Kita Umat Islam Ahlusssunnah wal Jamaah akan segera tahu bahwa penulis buku itu adalah Ulama Ahlussunnah wal Jamaah, sehingga timbul kecintaan dan ta’zhim kepadanya karena kesamaan guru yaitu para Imam Ahlussunnah wal Jamaah.

Kita lebih dapat memahami maksud mereka mendeklarasikan pegangannya dalam Kitab-Kitab mereka dengan melihat keadaan zaman sekarang ini. Karena di zaman inilah banyak orang mengaku mengikuti Qur’an dan Hadits tetapi tanpa menyebut darimana mereka memperoleh ilmu Qur’an dan Hadits. Yaitu ilmu yang berkaitan dengan perkara Aqidah, Fiqih dan Tasawwuf sebagai penjabaran Hadits Jibril di atas dalam kehidupan, yang telah disepakati oleh Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jamaah.
Kalau mereka tidak menuliskan dari siapa mereka belajar sebagai rasa syukur dan mengingat jasa guru, bagaimana mereka dapat mendidik orang lain agar bersyukur dan mengingat jasa gurunya?

Oleh sebab itu di akhir zaman ini mendeklarasikan bahwa kita berpegang pada Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah di saat orang menganggap remeh perkara ini adalah suatu dakwah dan syiar Islam. Mengatakan kita berpegang pada satu dari 4 Mazhab yang Muktabar (Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafei dan Mazhab Hambali) di kala orang mengabaikan Mazhab adalah dakwah dan syiar Islam. Mengatakan kita mengikuti Ulama Tasawuf yang Muktabar di waktu orang mengatakan tasawuf itu bid’ah adalah dakwah dan syiar Islam.

Insya Allah umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah akan kembali berjaya sebentar lagi, karena semakin banyak orang yang melakukan dakwah dan syiar Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah. Dengan itu di satu sisi akan semakin banyak pula umat Islam yang mengenal dan melihat kehebatan dan kecerdasan Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah, di sisi lain semakin nampak kelemahan dan keanehan ajaran Islam yang menyimpang, terutamanya ajaran Aqidah yang membagi Tauhid menjadi 3 yang didukung oleh suatu negara Petrodollar. Sebagaimana dahulu Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi mengembalikan Umat Islam dari aliran Aqidah menyimpang Muktazilah yang juga disponsori oleh suatu kerajaan Islam. Mereka memenangi perjuangan mereka bukan dengan politik, tetapi melalui dakwah dan penyampaian kepada Umat Islam yang memperlihatkan kehebatan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Perjuangan Sultan Muhammad Al Fatih inilah Isyarat Rasulullah shallallahu alaihi wassalam membenarkan Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah Asy´ariyyah/Maturidiyah, berfiqih dengan bermazhab dan bertasauf.

Satu hal yang jarang diketahui oleh mayoritas Umat Islam Indonesia bahwa Umat Islam Turki berpegang pada Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariah/Maturidiyah hingga sekarang. Kalau anda datang ke Mesjid yang dikelola oleh pemerintah atau oleh organisasi Islam Turki baik di dalam negeri maupun di luar negara Turki anda akan melihat bahwa mereka semua berpegang pada Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariah/Maturidiyah. Setiap Mesjidnya selalu ada Hojah (Ustad) yang bertugas berkhidmat di Mesjid, Tidak ada Mesjid didirikan tanpa Hojah. Para Hojah inilah yang menjaga pegangan Ahlussunnah wal Jamaah di Mesjid itu. Inilah keunggulan masyarakat Islam Turki dibanding Umat Islam bangsa lain sekarang ini.

Pengaruh pengikut Tauhid dibagi 3 dan golongan orang yang mengkafirkan Shahabat hampir-hampir tidak ada. Ini juga berkat warisan dari Kerajaan Usmaniyah yang telah berkhidmat selama hampir 700 tahun memegang amanah Khilafah kepada umat Islam.

Banyak muslim Indonesia yang menokohkan President Turki sekarang, tetapi hanya melihat dari sisi politik, karena mungkin merasa sama-sama berjuang melalui Partai Islam. Namun kekuatan Islam di Turki bukanlah kekuatan partai politik saja, melainkan yang terpenting adalah kesamaan pegangan Ahlussunnah wal Jamaah pada masyarakat Islam Turki pada umumnya. Semua Mesjid baik yang dikelola oleh pemerintah maupun dari berbagai organisasi Islam, mereka sama-sama memperingati hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi, Malam Rajaib (malam Jumat pertama di bulan Rajab), Baraat Kandili (malam Nisyfu Sya’ban), hari Asyura (10 Muharam), Isra’ Mi’raj dan lain-lain. Mereka merayakan Hari Raya Idul Adha dan Idul Fithri pada hari yang sama sesuai dengan keputusan pemerintahnya. Tidak ada issue bid’ah membid’ahkan di antara mereka. Perkara ini kelihatannya remeh temeh, tapi inilah kekuatan pemersatu Umat islam Turki yang luar biasa. Oleh sebab itu kami ingin “highlight”kan hal penting dari Sultan Muhammad Al Fatih yang tidak diceritakan oleh ustad Felix Siauw dalam buku dan pengajian-pengajiannya.
Hal penting ini sampai saat ini masih menjadi kekuatan utama persatuan Umat Islam di Turki. Agar kalau kita ingin benar-benar menjadikan Sultan Muhammad Al Fatih sebagai tauladan perjuangan kita, maka mulai dari bagian mana dari Sultan Muhammad Al Fatih yang ingin kita tiru? Tentulah kita mulai dari landasan agamanya, yaitu Aqidahnya, fikihnya dan tasawufnya. Bukankah beliau telah dipuji oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Tentulah beliau termasuk orang yang telah diberi ni’mat, yaitu orang yang ingin kita ikuti, seperti do’a kita dalam surat Al Fatihah yang selalu kita baca, bahwa kita minta ditunjukkan jalan yang lurus yaitu jalan orang yang telah Allah beri ni’mat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang tersesat. Amin Allahumma amin.

Wallahu a´lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

*) KH Hasyim Asy’ari sudah mengingatkan kepada Umat Islam Indonesia tentang pentingnya pegangan Ahlussunnah wal Jamaah ini – yang menjadi pegangan Umat Islam Nusantara dari awal datangnya Islam ke Nusantara – dalam Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ustad Adi Hidayat telah menjelaskan sebagiannya, namun sayang justru tidak menjelaskan 2 bagian pentingnya  yaitu

  1. Apa itu Ahlussunnah wal Jamaah yaitu
    a. Islam, ilmunya disebut ilmu Fiqih dengan mengikut satu dari 4 Imam Mazhab (dalam hal ini di Indonesia, mayoritas bermazhab Syafei)
    b. Iman, ilmunya disebut ilmu Tauhid/Aqidah yang merujuk kepada Imam Abul Hasan Al Asy’ari (dan Imam Abu Mansur Al Maturidi.
    c. Ihsan, ilmunya disebut Ilmu Tasawuf/Akhlak mengikuti Ulama Tasawuf seperti Imam Ghazali dan Imam Junaid Al Baghdadi
  2. Kekeliruan ajaran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab yang membagi Tauhid menjadi 3 (Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Sifat).

(Lihat Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat).

Iklan

Perkara buruk apa yang sama-sama dilakukan oleh golongan yang mengkafirkan Shahabat radhiallahu anhum dan golongan Tauhid 3 serangkai?

Sejarah kehidupan manusia selalunya berulang. Di setiap zaman ada golongan yang baik dan ada yang buruk. Kalau kita lihat sejarah golongan yang menyimpang dari ajaran agama yang lurus, selalunya mempunyai “modus” yang hampir sama.

Kami ingin paparkan perkara buruk apa yang sama-sama dilakukan oleh golongan yang mengkafirkan Shahabat radhiallahu anhum dan golongan Tauhid 3 serangkai. Mengapa modus kedua golongan ini hampir sama, padahal keduanya adalah musuh bebuyutan yang kita lihat dengan jelas di akhir zaman ini. Jawaban singkatnya karena mereka berusaha ingin mengelabui sebanyak-banyaknya umat Islam agar mengikuti mereka, yaitu mengikuti penyimpangan ajaran mereka itu.

Memalsukan sumber rujukan ajaran Islam.

Sumber rujukan ajaran Islam adalah Qur’an, Hadits, Ijma dan Qiyas. Golongan yang mengkafirkan Shahabat radhiallahu anhum sudah ada di zaman Shahabat radhiallahu anhum. Di zaman itu sumber rujukan utama setelah Qur’an adalah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, karena para Shahabat masih hidup. Kitab belum banyak ditulis, sebab belum terlalu diperlukan. Para Shahabat radhiallahu anhum itulah “ilmu Qur’an dan Hadits yang hidup” dan menjadi model pengamalan Qur’an dan Hadits.  Al-Quran adalah Kitab suci yang Allah jamin keasliannya, sebagaimana firman Allah dalam QS Al Hijr:9

15:9

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Maka golongan yang mengkafirkan Shahabat hanya dapat memalsukan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wassalam untuk membelokan pemahaman Al Qur’an seperti yang difahami Shahabat. Para ulama mereka memalsukan hadits untuk menguatkan ajaran menyimpang mereka yang rapuh agar orang Islam yang awam mengikuti mereka. Pemalsuan ini dilakukan oleh ulama-ulama mereka.
Khalifah Bani Umayah yang terkenal dengan keadilannya yaitu Sayidina Umar bin Abdul Aziz radhiallahu anhu (wafat 101 H) memerintahkan para Ulama di zaman beliau untuk menyaring hadits-hadits yang beredar ketika itu. Ini di antara sebab munculnya ilmu dan ulama-ulama hadits pada abad 2 dan 3 Hijriyah.
Penganut Tauhid 3 serangkai juga memalsukan sumber rujukan ajaran Islam yaitu dengan mentahrif dan memalsukan kitab Ulama Mu’tabar yang menjadi panduan umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah untuk membelokkan pemahaman Al Qur’an seperti yang difahami oleh Shahabat radhiallahu anhum dan para Salafusholih. Yang melakukan ini juga ulama penganut 3 serangkai. Tujuannya sama yaitu untuk menguatkan ajaran menyimpang mereka yang rapuh agar orang Islam yang awam mengikuti penyimpangan mereka itu. Pemalsuan itu mereka lakukan dengan berbagai cara di antaranya.

Mengubah (mentahrif) text dalam Kitab Ulama ASWAJA (1)
Mengubah (mentahrif) text dalam Kitab Ulama ASWAJA (2)
Memasukan fahamannya melalui catatan kaki Mushaf Al Qur’an
Memasukan fahamannya melalui catatan kaki Kitab Riyadhush Sholihin
Cara pemalsuan seperti ini sudah dilakukan oleh umat terdahulu yaitu golongan ahlul kitab, Yang melakukannya juga alim ulama di kalangan mereka. Mereka memalsukan Kitab suci Taurat dan Injil. Tujuannya sama untuk menyokong penyimpangan ajaran mereka yang sebenarnya rapuh agar orang Islam awam pengikut Nabi Musa alaihi salam dan Nabi Isa alaihi salam dapat dikelabui mengikuti kesesatan mereka. Al Qur’an menyebutkan kejahatan mereka itu dalam QS Al Baqarah:75-79..

Surat Al-Baqarah Ayat 75

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?.

Surat Al-Baqarah Ayat 76Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: “Kamipun telah beriman,” tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?”

Surat Al-Baqarah Ayat 77

Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?

Surat Al-Baqarah Ayat 79

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.

Memalsukan sejarah dan pribadi tokoh panutan Umat Islam

Selain memalsukan sumber rujukan ajaran Islam, golongan yang menyimpang juga memalsukan sejarah dan pribadi tokoh panutan Umat islam. Ini adalah di antara cara licik yang amat berbahaya. Tokoh panutan itu mahal dan mempunyai pengaruh yang besar walaupun tokoh itu sudah wafat.
Golongan yang mengkafirkan Sahabat radhiallahu anhum melakukan pemalsuan sejarah di satu sisi dengan menghina bahkan mengkafirkan banyak Shahabat radhiallahu anhum, seperti Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar bin Khathab radhiallahu anhuma termasuk para istri Nabi, Siti Aisyah binti Abu Bakar dan Siti Hafshah binti Umar bin Khattab. Sehingga dengan itu mereka menolak hadits para Shahabat radhiallahu anhum, Termasuk Abu Hurairah radhiallahu anhu, padahal beliau adalah Shahabat perawi hadits yang terbanyak.
Di sisi yang lain mengklaim bahwa Shahabat tertentu dan Shahabat di kalangan ahlul bait dan keturunannya berfahaman seperti mereka, seperti Sayidina Ali bin Abi Thalib, Siti Fathimah binti Rasulillah, Sayidina Hasan dan Sayidina Hussein, radhiallahu anhum.
Kemudian mereka meng”klaim” bahwa anak dan cucu  Rasulullahu shallallahu alaihi wassalam adalah Imam-Imam yang berfahaman seperti mereka, seperti Sayidina Ali Zainal Abidin, Sayidina Muhammad Al Baqir, Sayidina Ja’far Shadiq dan seterusnya. Padahal mereka itu adalah Ulama Besar Ahlussunnah Wal jama’ah. Bahkan Sayidina Ja’far Shadiq adalah guru dari para Imam Mazhab.
Para ahlul Bait Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mengakui 4 Khulafahurrasyidin Sayidina Abu Bakar, Sayidina Umar bin Khattab, Sayidina Usman bin ‘Affan dan Sayidina All bin Abi Thalib. Jauh sekali dari merendahkan para Sahabat apa lagi mengkafirkan.  Bahkan para Imam itu selain keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melalui Sayidatina Fathimah radhiallahu anha, adalah juga cucu Sayidina Abu Bakar dari garis keturunan ibu.

Hal ini juga dilakukan oleh golongan Tauhid 3 serangkai. Setelah mereka memalsukan Kitab rujukan umat. mereka juga memalsukan sejarah dan pribadi Ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Di antaranya cerita palsu yang mereka gembar gemborkan adalah:

A. Mereka memalsukan pemahaman Aqidah yang dipegang oleh para Imam Mazhab (Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafei, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah),
Karena mereka hidup sebelum Imam Abul Hasan Al Asy’ari, dikatakan oleh golongan Tauhid 3 serangkai bahwa para Imam itu beraqidah seperti mereka yaitu memahami ayat Mutasyabihat secara zahir. Padahal jauh sekali perbedaannya. Imam Mazhab dan Ulama Salaf kebanyakannya adalah bertafwid  (tidak membahas) sama sekali tentang ayat Mutasyabihat), sedang orang yang mengaku Salaf, tetapi beraqidah membagi Tauhid menjadi 3 memahami makna zahir, dan tidak tafwid (tidak membiarkan tanpa mengetahui maknanya), tanpa tahrif (tidak mengubah teks), tanpa takwil (mengalihkan arti), tanpa menta’thil (tidak menolak makna zahirnya) dan tanpa takyif (tidak bertanya bagaimana). Pemahaman ini sangat syubhat dan menjurus ke faham Mujassimah  Apa perbedaannya ?

Tafwid terhadap ayat Mutasyabihat oleh para Imam Mazhab dan Ulama Salaf adalah
1. Membaca ayat Mutasyabihat, tanpa memahami dan membahas maknanya. Mengimani bahwa ayat itu adalah dari sisi Allah, sebagaimana QS 3:7
2. Men”tahzih” yaitu mensucikan Allah dari Sifat yang tidak layak yaitu dari Sifat Jism (berjasad, berbentuk). Hanya makhluk yang bersifat Jism.
3. Menyerahkan makna yang sebenarnya hanya kepada Allah Yang Maha Mengetahui

Tidak mentakwil terhadap ayat Mutasyabihat oleh golongan Tauhid 3 serangkai
1. Membaca ayat Mutasyabihat, tanpa memahami dan membahas maknanya. Mengimani bahwa ayat itu adalah dari sisi Allah, sebagaimana QS 3:7
2. Menetapkani Sifat Allah dengan makna zahir ayat sehingga mereka katakan Allah punya Tangan, Allah punya Wajah, Allah punya Kaki, Allah turun dari langit setiap pagi dini hari, Allah ada di atas, Allah bersemayam di atas Arasy,  jadi yang mereka tetapkan ada Dzat Allah punya sifat yang demikian.
3. Kemudian mengatakan Tangan, Wajah, Kaki, turunNya Allah dari langit setiap pagi dini hari, adanya Dzat Allah di atas, bersemayamNya Allah di atas Arasy, tidak serupa dengan makhluk. Makna zahir tidak ditafwid (tidak dibiarkan tanpa penetapan makna), tidak ditahrif (tidak diubah), tidak dita’thil (tidak ditolak sebagian/seluruh makna), tidak di takwil (tidak di alihkan ke makna lain).

Kita lihat betapa jauh berbeda antara “Tafwid“nya Ulama Salaf dan “Tidak mentakwil“nya penganut Tauhid 3 serangkai. “Tafwid”nya  Ulama Salaf sama sekali tidak menyerupakan Allah dengan makhluknya, sedang “Tidak-mentakwil”nya penganut Tauhid 3 serangkai adalah syubhat meyakini Allah mempunyau Jism (bertubuh/bersosok/bervolume). Sifat Jism adalah sifat makhluk, walaupun mereka katakan Jism Allah berbeda dengan Jism makhluk.

Lihat
Bahaya fahaman Mujassimah (1); Allah ada di comberan?
Bahaya fahaman Mujassimah (2); Allah ada di luar alam?
Bahaya fahaman Mujassimah (3), Allah mempunyai sifat fisik?
Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah?

B. Memalsukan riwayat hidup Imam Abul Hasan Al Asya’ri.

Semasa hidupnya beliau hanyalah melalui 2 fase saja, tetapi dipalsukan menjadi 3 fase yaitu
a. Fase Muktazilah
b. Fase Ahlussunnah wal Jamaah yang ajaranya kita anut sekarang
c.  Di akhir hayatnya dikatakan beliau bertaubat kembali kepada Salaf seperti pemahaman yang mereka.
Sehingga mereka katakan ajaran Asy’ariyah berbeda dengan Imam Abul Hasan Al Asy’ari. Ini adalah pembohongan besar yang buruk sekali.
Para Ulama besar yang Kitabnya samapai hari ini menjadi rujukan Ulama Islam Ahlussunnah wal Jamaah adalah mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi dalam Aqidah. Mereka mengikuti satu dari 4 Imam Mazhab dalam berfiqih. Selain itu mereka semua adalah bertasawuf (ahli sufi). Penyebaran Islam di tanah melayu, disebarkan melalui ulama Tasawuf yang beraqidah mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan bermazhab Syafei. Mayoritasnya bertasawuf dengan mengikuti Tariqat Qodiriyah (Tariqat yang diasaskan oleh Syeikh Abdul Qodir Jaelani dari Bagdad/Iraq), Tariqat Syadziliyah (mengikuti Imam Hasan Al-Syadzili dari Mesir), dan Tariqat Naqyahbandiyah (mengikuti Syeikh Bahauddin Naqsyahbandi dari Uzbekistan). KH Hasyim Asy’ari menuliskannya dalam Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah (lihat Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat ).

C. Memalsukan riwayat Imam Ghazali, seorang Ulama besar bermazhab Syafei dan ber Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah, dikatakan juga telah bertaubat di akhir hayatnya, mengikuti Aqidah seperti mereka.

Ini semua adalah pembohongan yang luar biasa buruknya, yamg mesti mereka pertanggung jawabkan di akhirat kelak. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua dan menjaga kita dari fitnah mereka

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat (2)

Sejak tulisan kami Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat (bagian 1) diterbitkan, sampai hari ini tulisan itu masih cukup sering dikunjungi. Data statistik yang ada bukan mesti menunjukkan banyaknya jumlah orang yang membaca, sebab mungkin saja memang dibaca seluruhnya, hanya sebagian saja atau tidak dibaca sama sekali.

Dari sebagian orang yang membaca, kami memperoleh komentar tentang tulisan itu, ada yang ditulis langsung pada kolom komentar di bawah tulisan itu, ada juga ditulis di kolom komentar di YouTube.

Dari komentar yang kami baca, kami dapat melihat bahwa sebagian besar pembaca mengatakan memang fakta bahwa Ustad Adi Hidayat telah melompati bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah.
Hanya sebagian kecil tidak percaya bahkan menuduh bahwa bagian penting yang kami sampaikan itu tidak ada dalam Kitab tersebut, Ada yang ingin minta bukti dengan Kitab aslinya yang berbahasa Arab. Walaupun golongan ini adalah sebagian kecil dari komentar, namun kami rasa perlu juga menanggapinya, karena komentar yang sedikit itu mungkin mewakili orang banyak yang tidak percaya, tetapi tidak mengungkapkan isi hatinya.

Setelah beberapa waktu berusaha mencari Kitab asli yang berbahasa Arab seperti yang dibaca oleh Ustad Adi Hidayat, akhirnya Allah izinkan kami mendapatkan Kitab itu dari sebuah toko buku. Alhamdulillah.

Dalam tulisan lanjutan ini kami ingin sampaikan hasil scan Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah yang berbahasa Arab, untuk melengkapi tulisan kami yang pertama.

Dari komentar pembaca yang percaya bahwa memang bagian penting itu dilompati. Kami dapat membagi menjadi 3 golongan besar ditinjau dari sikap mereka terhadap tulisan kami yaitu:

  1. Golongan yang menganggap bahwa Ustad Adi Hidayat sengaja melompati bab penting itu dan membenarkan beliau melompatinya. Golongan ini menganggap antara Ustad Adi Hidayat dan kami adalah dua pihak yang saling berlawanan. Mereka mendukung Ustad Adi Hidayat dan “memusuhi” kami. Diantara mereka ada yang berusaha menjatuhkan atau menjelek-jelekan tulisan kami ini,
  2. Golongan yang menganggap bahwa Ustad Adi Hidayat sengaja melompati bab penting itu dan menyalahkan sikap beliau telah melompatinya. Seperti point 1 di atas, Golongan ini menganggap antara Ustad Adi Hidayat dan kami adalah dua pihak yang saling berlawanan. Golongan ini sangat mendukung kami dan “memusuhi” Ustad Adi Hidayat. Mungkin diantara mereka ada yang men-share tulisan ini, yang menyebabkan tulisan ini sejak diterbitkan menjadi salah satu “best seller” dari seluruh tulisan kami.
  3. Golongan yang menganggap bahwa Ustad Adi Hidayat tidak sengaja melompati bab penting itu, karena alasan waktu yang terbatas. Golongan ini juga sangat mendukung tulisan kami, tetapi menganggap antara Ustad Adi Hidayat dan kami adalah dua pihak yang saling bantu dan melengkapi, sebagai orang Islam yang bersaudara yang saling tolong menolong dalam kebenaran. Golongan ini bersangka baik bahwa suatu saat nanti jika waktu lapang, Ustad Adi Hidayat pasti akan menyampaikan bagian penting yang telah dilompati itu, insya Allah.

Silakan masing-masing kita mengukur atau muhasabah diri, termasuk golongan manakah diri kita dari 3 golongan yang disebut di atas?

Seperti yang disampaikan oleh Ustad Adi Hidayat, Kitab itu adalah kumpulan Kitab tulisan KH Hasyim Asy’ari yang terdiri dari 19 Kitab.

Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jamaah atau judul lengkapnya Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah fi Haditisil Mauta wa Asyrothis Saa’ah wa Bayani Mafhumis Sunnah wal Bid’ah adalah Kitab kedua dari kumpulan 19 Kitab itu.

Mohon maaf bahwa hasil scan kami ada bagian yang agak gelap, sebab bukunya cukup tebal, sehingga sangat sulit untuk menekan seluruh halaman agar rata pada mesin scan, yang mangakibatkan sisi halaman yang dijilid (bagian dalamnya) agak terlihat gelap.

Cover Kitab bagian depan

Cover Kitab bagian belakang

Keterangan judul dan penerbit

Halaman 9 (sesuai dengan halaman yang disebut Ustad Adi Hidayat).

Dengan tambahan garis yang menandai text yang dilompati (lihat bagian 1).

Garis biru: penjelasan Ahlussunnah wal Jama’ah yang dimaksud, yang dianut oleh orang Jawa (Indonesia).

Garis merah: penjelasan aliran yang menyimpang (ajaran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi )

risalah-aswaja-arab-9_tandaygdilompati

Halaman 10

Dengan tambahan garis yang menandai text yang dilompati (lihat bagian 1).

Hampir dilompati seluruhnya kecuali paragraf terakhir (yang ketiga seperti disebut oleh Ustad Adi Hidayat)

Garis merah: penjelasan aliran yang menyimpang (ajaran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi)

risalah-aswaja-arab-10_tandaygdilompati

Halaman 11

Perlu kami tambahkan disini bahwa dalam File PDF terjemah pada tulisan Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat yang  pertama (Terjemah Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah KH Hasyim Asy’ari)  perlu ada koreksi sedikit dalam bab yang dilompati yaitu pada keterangan apa itu pegangan Ahlussunnah wal Jamaah yang dianut oleh masyarakat Jawa (Indonesia). Koreksi itu adalah

…. dalam Tasawwuf ikut Imam Ghazali dan Imam Hasan As Syadzili.

Namun ini tidak mengubah esensi pegangan Ahlussunnah wal Jamaah, sebab memang Imam Junaid Al Baghdadi dan Imam Hasan As Syadzili adalah Ulama Tasawwuf yang menjadi rujukan dan panutan umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di Indonesia bahkan seluruh dunia.

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat

Ustad Adi Hidayat telah membahas Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang kemudian rekamannya telah dituangkan dalam video youtube Risalah Ahlussunah Wal Jama’ah (1) dan video youtube Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah (2) (sayang kedua video ini kemudian dihapus setelah tulisan ini diterbitkan, alhamdulillah kemudian kami menemukan video di atas dan video ini (3), mudah-mudahan tidak dihapus lagi setelah ini). Beliau membahas dengan rinci sebagian dan melompati bagian penting dalam Kitab itu.

Dalam adab mengaji kitab di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah biasanya sebelum memulai seorang Ustad akan membacakan al Fatihah yang diniatkan jika Allah beri pahala atas bacaan Al Fatihah dan pahala dari mengajarkan Kitab itu untuk dihadiahkan pahalanya khusus kepada penulis Kitab itu dan juga guru-guru yang mengajarkan Kitab itu secara sambung menyambung hingga sampai kepadanya. Kemudian dia akan merasakan bahwa gurunya itu ada berada di sampingnya ketika dia mengajarkan Kitab itu sehingga dia merasa tawadhuk dan khawatir ketika dia menyampaikan isi Kitab itu tidak sesuai dengan seperti yang dimaksudkan gurunya. Demikianlah gurunya itu dahulu diajarkan oleh guru dari gurunya itu, dan seterusnya hingga bersambung kepada KH Hasyim Asy’ari. Sebagaimana kita ketahui bersama sanad ilmu beliau diambil dari guru yang bersambung hingga Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, (Ustad Adi Hidayat juga mengakui dalam video youtube di atas, sayang video ke (1) dan ke (2) sudah dihapus setelah tulisan ini terbit, mudah-mudahan yang di atas dan yang ke (3) tidak dihapus) Begitulah aliran keberkatan dari Rasulullah shallallahu alaihi wassalam disampaikan melalui Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut tabi’in dan terus ke ulama pewaris nabi dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga sampai kepada kita.

Ustad Adi Hidayat berkata dalam video di atas (menit 1:30) bahwa Kitab itu asli berbahasa Arab ada gambar KH Hasyim Asy’ari berjenggot. Kalau tidak berjenggot itu palsu jadi jangan dimanipulasi. Kemudian beliau berkata tidak akan beropini, tidak akan mengambil pendapat pribadi. Semua yang akan dibahas hanya mengambil dari apa yang tertulis dalam Kitab itu.

Namun mengapa Ustad Adi Hidayat tidak menyampaikan bagian yang penting ini? Mungkin begitulah cara Ustad Adi Hidayat belajar dari gurunya sehingga bagian penting itu dilompati tanpa memberikan keterangan dan membahas sedikitpun bagian yang dilompati itu. Kalau benar memang karena alasan waktu sebagaimana beliau sebutkan di video di atas pada menit 4:30, mudah-mudahan beliau ada kesempatan untuk menerangkan bagian penting ini di lain waktu. Karena bagaimanapun  KH Hasyim Asy’ari sudah pasti telah menjelaskan seluruh kitab yang ditulisnya itu kepada muridnya, kalau tidak, tidak mungkin beliau menuliskannya dalam Kitabnya itu.
Disini kami berprasangka baik kepada beliau, mungkin beliau ingin memberitahukan kepada kami, agar kami menyampaikan bagian yang telah dilompatinya. Semoga Allah membalas kebaikan beliau yang telah menerangkan sebagian isi Kitab Ahlussunnah wal Jama’ah sekaligus lebih mengenalkan KH Hasyim Asy’ari.

Terjemah Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang asli dapat dilihat dalam Terjemah Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah KH Hasyim Asy’ari. Text yang dibaca (dan yang dilompati) oleh Ustad Adi Hidayat yang berbahasa Arab kami muat pada lanjutan tulisan kami ini.

Bagian yang dilompati ada dalam halaman 12 hingga 14 dan awal halaman 15 (lihat di bawah ini). Ustad Adi Hidayat menjelaskan di awal video youtube bagian awal dari halaman 12 itu yaitu bahwa KH Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa dahulu di tanah Jawa (Nusantara) hanya ada satu Madzhab Islam yaitu Ahlussunnah Wal Jama’ah.

risalah-aswaja-12_farb

risalah-aswaja-13_farb

risalah-aswaja-14_farb

risalah-aswaja-15_farb

Kemudian teks yang menerangkan apa itu Ahlussunnah Wal Jama’ah tidak dibaca atau dilompati (text yang diwarnai biru di halaman 12). KH Hasyim Asy’ari menerangkan yang dimaksud dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah di Nusantara itu adalah dalam fiqihnya ikut Imam Syafei,  dalam Aqidah (teologi)  ikut Imam Abul Hasan Al Asy’ari, dalam Tasawwuf ikut Imam Ghazali dan Imam Junaid Al Baghdadi. Ini sesuai dengan dasar Ahlulsunnah Wal Jama’ah secara umum yaitu:
1. Islam, ilmunya disebut ilmu Fiqih mengikut 1 dari 4 Imam Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafei, Hambali)
2. Iman, ilmunya disebut ilmu Tauhid/Aqidah merujuk kepada Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturudi
3. Ihsan, ilmunya disebut Ilmu Tasawuf/Akhlak mengikuti Ulama Tasawuf diantaranya Imam Junaid Al Baghdadi dan Imam Ghazali.

Setelah itu Ustad Adi Hidayat kembali membaca Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah yaitu sejak tahun 1330 Hijriyah, telah masuk aliran dan faham lain yang saling bertentangan, bahkan disebutkan dalam youtube sampai terjadi pertentangan fisik.
Perlu kita ketahui bahwa tahun 1330 H itu adalah bersamaan dengan berdirinya organisasi Muhammadiyah, tepatnya tanggal 18 November 1912 atau 8 Dzulhijjah 1330 H (lihat Muhammadiyah di Wikipedia). KH Hasyim Asy’ari tidak menjelaskan secara explisit apa yang dimaksud dengan tahun 1330 H, apakah yang dimaksud itu adalah tahun berdirinya Muhammadiyah? Wallahu a’lam.
Walaupun KH Ahmad Dahlan beraqidah mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan berfiqih mengikut Imam Syafei, namun telah diketahui umum dan diakui oleh Muhammadiyah bahwa memang ada penyusupan fahaman itu ke dalam ajaran Aqidah dalam Muhammadiyah (lihat halaman 2 dan 3 pada tulisan  REINTERPRETASI DOKTRIN TAUHID DALAM MUHAMMADIYAH) yang mengikuti  ajaran  Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi yang Aqidahnya membagi Tauhid menjadi 3 (Uluhiyah, Rububiyah dan Asma Wa Sifat.

Dalam halaman 2 dan 3 dari REINTERPRETASI DOKTRIN TAUHID DALAM MUHAMMADIYAH

Tauhid_Rahamautiyah_Muhammadiyah_page2-3_strich

Dimana Tauhid Rububiyah melanggar Tauhid Asma wa Sifat ajarannya sendiri dan pemahaman Tauhid Asma wa Sifat yang dapat menjerumuskan orang kepada faham Mujassimah (meyakini Allah berjisim/berjasad seperti makhluk). Karena mengikuti Ayat Mutasyabihat dengan makna zahirnya menyebabkan seorang Ustad bergelar doktor kemudian menjadi lupa atau tidak tahu lagi perkara pokok dalam Aqidah Islam bahwa yang selain Allah adalah pasti makhluk, termasuk juga Arasy adalah makhluk Allah (lihat video ini atau video ini pada menit ke 3:15). Disini kita bertambah faham  Mengapa perkumpulan ASWAJA mesti mendeklarasikan Aqidah Asy´ariyah/Maturidiyah, bermazhab dan bertasawuf.
Kemudian Ustad Adi Hidayat melompati text yang diwarnai biru di sisa halaman 12 dan di awal halaman 13 yang menerangkan amalan Ahlussunnah Wal Jama’ah yaitu :
Sebagian dari mereka terdapat kaum salaf yang berpegang pada para ulama salaf dan menganut madzhab yang jelas, memegangi kitab-kitab mu’tabar, mencintai keluarga Nabi, para wali, dan orang-orang shaleh dan meminta barakah kepada mereka baik ketika masih hidup ataupun setelah meninggal, mengamalkan ziarah kubur, talqin mayit, shadaqah kepada mayit, meyakini syafaat Nabi, manfaat doa dan tawasul, dan lain-lain.

Kemudian Ustad Adi Hidayat melompati tulisan berikutnya yang berwarna merah di halaman 13 hingga awal halaman 15. Dalam tulisan itu KH Hasyim Asy`ari menjelaskan ulama-ulama yang membawa ajaran yang menyimpang dari Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ulama-ulama itu adalah Muhammad Abduh dan Rasyid Ridla, Muhammad bin Abdul Wahab al-Najdi, Ahmad bin Taimiyah, Ibnu Qayim al-Jauzi, dan Ibnu Abdul Hadi. Mereka megharamkan yang disunahkan kaum muslimin, yaitu perjalanan ziarah ke makam Nabi s.a.w. dan selalu menyalahi pendapat kelompok lainnya.
Berkata Ibnu Taimiyah dalam “Fatawi” bahwa orang yang ziarah ke makam Nabi dengan meyakininya sebagai suatu ketaatan maka hal itu adalah haram secara pasti.
Berkata Syeikh Muhammad Bahith al- Hanafi al-Muthi’i dalam kitab “Tathhir al-Fu’ad mindanas al-I’tiqad”, bahwa kelompok ini telah banyak menguji kaum muslimin baik salaf maupun khalaf dengan banyak fitnah, mereka sebenarnya aib dalam Islam, dan sebagai organ Islam yang rusak dan harus diamputasi, mereka bagaikan orang yang terjangkit penyakit lepra yang harus dijauhi, mereka adalah kaum yang mempermainkan agama. Mereka menghina para ulama salaf dan khalaf, bahwa, menurut mereka, para ulama tersebut bukanlah orang yang maksum sehingga tidak patut diikuti. Baik yang hidup maupun yang mati. Mereka mencederai kehormatan ulama dan menyebarkan faham yang membingungkan di hadapan orang-orang bodoh dengan tujuan membutakannya dan agar menimbulkan kerusakan di muka bumi. Mereka berkata dusta kepada Allah dan mengira telah melakukakan amar makruf nahi munkar. Padahal Allah menyaksikan mereka sebagai pembohong. Dan menurut KH Hasyim Asy’ari mereka adalah ahli bid’ah dan mengikuti hawa nafsu.

Ada keanehan dalam ajaran Tauhid dibagi 3 yakni Anomali Tauhid Asma Wa Sifat yang memahami sifat Allah sesuai lafaz zahir Asma dan Sifat Allah, kecuali Sifat Rububiyah. Keyakinan yang anomali (aneh) membawa kepada sikap yang anomali (aneh) pula, yaitu Anomali pengikut Tauhid 3 serangkai yang percaya dengan ahlinya kecuali kepada Imam Mazhab juga cara dakwah mereka yang berslogan kembali kepada Qur´an dan Sunnah namun tidak mau percaya kepada Ulama, karena menurut mereka Ulama bukanlah maksum, dengan maksud mereka masih terus mencari dalil Quran dan Hadits yang menurut mereka paling sahih hingga sekarang. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wassalam telah berkata bahwa sebaik-baik kurun adalah 3 kurun pertama sejak Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Di zaman terbaik itulah para Imam Mazhab menyusun Mazhab fiqih yang mengistinbat hukum langsung dari Qur’an dan Sunnah (lihat Mengapa Ahlussunnah wal Jama’ah mengikut Imam Mazhab).

Ilmu agama tidak seperti ilmu sains. Ilmu agama semakin lama semakin sedikit, sebab ulama-ulama yang berilmu dengan ilmu yang bersanad sampai kepada Rasulullah SAW semakin sedikit.
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh. Kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [Al-Bukhari (100, 7307); Muslim (2673)]
Maka barang siapa di akhir zaman ini masih mencari dan mencoba mengistinbat hukum sendiri dari Quran dan Hadits yang paling sahih, maka dia tidak akan mendapatkan ilmu fiqih yang lebih baik dari 4 Imam Mazhab dan bahkan dia bisa tersesat. Sebab dia berada dalam zaman yang ilmu agamanya sedikit. Berbeda dengan Ilmu sains, sebab ilmu sains semakin ke sini semakin banyak, karena banyak ditemukan ilmu sains yang baru.

Mereka mengatakan Ulama bukanlah maksum, namun anehnya mereka tidak amalkan perkataan mereka ini pada ulama mereka sendiri. Mereka amat meyakini bahwa perkataan ulama mereka adalah pasti benar walaupun ulama mereka tidak maksum. Dan menganggap perkataan ulama lain yang berbeda dengan mereka adalah salah, sebab ulama bukan maksum.

Setelah melompati bagian yang penting itu, Ustad Adi Hidayat langsung membahas golongan sesat Rafidhoh (tertulis Rafidzah di halaman 15) yaitu golongan Syiah yang menolak dan membenci sebagian besar Shahabat radhiallahu anhum. Kemudian beliau menerangkan golongan yang menyimpang lainnya.

Banyak umat Islam di Indonesia sekarang ini yang tidak mengetahui pesan KH Hasyim Asy`ari yang telah dilompati oleh Ustad Adi Hidayat itu, sehingga banyak di antara mereka yang terjebak dalam pemahaman ulama-ulama yang menyimpang itu. Namun mereka merasa sebagai penganut Ahlussunnah wal Jama’ah.
Ustad Adi Hidayat berkata dalam video di atas (menit 6:55) bahwa KH Hasyim Asy’ari sudah mengingatkan sejak 108 tahun (Qomariyah) yang lalu, yaitu sejak tahun 1330 H (video di atas dan tulisan ini dibuat pada tahun 1438 H). Kalau diberi peringatan 1, 2 atau 3 hari, kalau lupa wajar tidak? tetapi ini diberi peringatan sejak 108 tahun, jadi dengan cara apalagi untuk mengingatkan? Itulah sebabnya kami menulis bab penting yang telah dilompati oleh Ustad Adi Hidayat ini.

Bagian penting yang tidak diterangkan dalam Kitab Risalah Ahlussunah Wal Jama’ah  terasa masih aktual hingga hari ini, terbukti dengan peristiwa yang terjadi baru-baru ini yaitu penolakan terhadap seorang Ustad yang berfahaman itu di Sidoarjo. Banyak orang fanatik membelanya tidak tahu mengapa muslim Ahlussunnah wal Jama’ah menolaknya.

Hasil scan Kitab asli yang berbahasa Arab telah dimuat di sini:

Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat (2)

Lihat juga:

Isyarat Rasulullah SAW membenarkan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy´ariyyah/Maturidiyah, berfiqih dengan bermazhab dan bertasauf

Hal penting dari Sultan Muhammad Al Fatih yang tidak diceritakan oleh Ustad Felix Siauw

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam

Setelah kita membahas tuduhan kelompok Tauhid 3 Serangkai (Wahab/Salafi) terhadap Ayah Rasulullah Shallallahu alahi wa alihi wassalam, sekarang mari kita membahas tuduhan mereka terhadap Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam.
Mereka berkeyakinan bahwa Ibu Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam juga termasuk kafir dan musyrik yang akan masuk neraka. Kita berlindung kepada Allah dari berkeyakinan dan tidak beradab terhadap Ibunda dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam seperti itu.

Dalil tuduhan mereka itu adalah Hadits sebagai berikut

“Nabi Shallallahu alaihi wa alihi wassalam pergi berziarah ke kubur ibundanya. Lalu beliau menangis sehingga membuat orang-orang yang disekitarnya ikut menangis pula. Beliau berkata: “Saya telah meminta kepada Rabbku agar saya diizinkan untuk memohon ampun baginya, namun Allah tidak mengizinkanku. Saya meminta kepada-Nya agar saya diizinkan untuk menziarahi kuburnya, dan Allah mengizinkanku.” [HR Muslim (976)]

Akibat Aqidah aneh mereka yang membuang Sifat Rahmat (Kasih Sayang), Sifat Utama Rububiyah Allah dari pembahasan Tauhid Rububiyah maka hilang pula rahmat mereka terhadap Ibunda dan mungkin juga terhadap Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam. (lihat Anomali Tauhid Asma Wa Sifat yang memahami sifat Allah sesuai lafaz zahir Asma dan Sifat Allah, kecuali Sifat Rububiyah) Sehingga mereka memahami hadits itu sebagai berikut:

(lihat http://dakwahquransunnah.blogspot.de/2013/04/akidah-kedua-orang-tua-nabi-muhammad_6041.html)

Hadits di atas dengan jelas menerangkan bahwa ibunda Rasulullah صلى الله عليه وسلم mati dalam keadaan kafir. Buktinya adalah karena Rasulullah dilarang untuk memintakan ampun bagi ibundanya.  Kalau seandainya dia seorang mukminah, maka tentunya beliau tidak akan dilarang untuk memintakan ampun untuk sang ibunda. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ta’ala di dalam Al Qur`an:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tidaklah boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam.” [QS At Taubah: 113]

Mereka menghubungkan larangan memohon ampun terhadap Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam dengan larangan Allah memohon ampun terhadap orang musyrik walaupun itu kerabatnya dalam QS At Taubah: 113.
Padahal larangan memohon ampun bukan hanya sebab kemusyrikan dan kekafiran. Banyak umat Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam yang telah meninggal yang kita tidak perlu memohonkan ampun untuknya sebab Allah sudah mengampunkannya dan bahkan ampunan Allah terhadap orang itu masih cukup untuk mengampunkan kita semua. Contoh para syuhada, bahkan seorang wanita umat Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam yang telah berzina kemudian bertaubat dan bersedia dihukum rajam taubatnya itu dapat mengampunkan 70 warga Madinah.

Imran bin al-Husain al-Khunza radhiallahu ‘anhu menceritakan bahwa ada seorang wanita dari Juhainah yang datang kepada Rasulullah Shollallahu alayhi wa Sallam dalam keadaan hamil karena berzina. Ia berkata,
“Wahai Rasulullah! Aku telah melanggar batas. Maka tegakkanlah hukum terhadapku.”
Kemudian Nabi memanggil salah seorang walinya agar memperlakukannya dengan baik. Beliau berkata,
“Perlakukan dia dengan baik. Jika ia telah melahirkan maka bawalah dia kepadaku.” Maka ia melakukannya. Nabi pun memerintahkan untuk menghadirkan wanita tersebut. Lalu bajunya diikatkan pada tubuhnya. Lalu beliau memerintahkan agar wanita itu dirajam. Lalu Rasulullah menshalatkannya. Umar radhiallahu ‘anhu berkata kepadanya,
“Apakah engkau menshalatkan dia wahai Rasulullah? Sedangkan ia telah berbuat zina?”
Rasulullah bersabda, “Ia telah melakukan taubat dengan taubat yang apabila dibagikan kepada 70 penduduk Madinah, niscaya mereka semua akan mendapatkan bagian. Apakah engkau mendapatkan keadaan yang lebih baik daripada ia yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah?” (HR. Muslim)

Larangan Allah terhadap Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam untuk meminta ampun untuk Ibunda beliau, justru menunjukkan kemuliaan Ibunda beliau. Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam  menangis boleh jadi disebabkan bahagia sebab Ibundanya sudah diampunkan seluruh dosanya oleh Allah sehingga beliau tidak perlu meminta ampun lagi. Atau boleh juga bersedih sebab dilarang untuk dapat selalu berbakti kepada Ibundanya dengan memintakan ampun untuknya. tetapi berbahagia diizinkan Allah, Kekasihnya menziarahi Ibunda beliau Shallallahu alaihi wa alihi wassalam. Kita tahu beliau Shallallahu alaihi wa alihi wassalam kehilangan Ibundanya ketika berusia 6 tahun, sehingga tidak pernah merasa telah membalas jasa pengorbanan Ibunda yang telah melahirkan beliau.
Maka karena dilarang meminta ampun kemudian beliau Shallallahu alaihi wa alihi wassalam meminta izin untuk menziarahi ibundanya, dan ini Allah izinkan. Kita perlu ingat bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam bukan berkata mengikuti hawa nafsunya.
Inilah bukti bahwa Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam adalah seorang mukminah, sebab Allah izinkan Rasulullah untuk menziarahi makamnya. Kalau Ibunda beliau seorang kafir pasti Allah melarangnya, sebagaimana firman Allah di QS At Taubah 84:

9:84
Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik

Dalam Tafsir Jalalain maksud berdiri di atas kuburnya adalah juga menziarahinya.
Mengapa Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam meminta izin dan ingin terus menziarahinya? Sebab Rasulullah ingin berbakti kepada Ibunya. Kalau meminta ampun tidak boleh, maka beliau ingin berbakti sebagai anak kepada Ibundanya dengan menziarahi makamnya. Kalau Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam selalu menziarahi makam Ibundanya tentulah beliau merawat makam Ibunda beliau. Jadi ini justru bukti lagi betapa Allah ingin memuliakan Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam. Tidak mungkin perbuatan Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam itu sia-sia, bahkan perbuatan beliau Shallallahu alaihi wa alihi wassalam selalu membawa berkat dan manfaat untuk rahmat seluruh alam.

Jika Rasulullah boleh mendoakan maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam dapat melakukan dari jauh, tetapi ini dilarang. Jadi kalau ingin berbakti kepada Ibunda, Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam dapat berziarah dan merawat makam Ibundanya. Ini menjelaskan pentingnya merawat makam orang-orang soleh seperti Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam agar dapat senantiasa diziarahi.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam selalu menziarahi makam Ibunda beliau adalah bentuk kasih sayang dan bakti Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam kepada Ibundanya di dunia. Ini juga bukti bahwa Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam adalah seorang mukminah. Karena kalau Ibunda beliau orang kafir musyrik tentu Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam tidak mungkin dapat berkasih sayang lagi dengan Ibundanya, sebagaimana firman Allah dalam QS Mujadilah : 22
Surat Al-Mujadilah Ayat 22
Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.

Wallahu a´lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Ayah Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam

Dengan maraknya dakwah tauhid 3 serangkai (Wahabi/Salafi) yang tidak memasukkan Sifat Rahmat (Kasih Sayang) sebagai Sifat utama Sifat Rububiyah dalam pembahasan Tauhid Rububiyah, marak pula kita dengar pernyataan mereka yang membuat kita terkejut sekaligus prihatin.
Mereka berkata di depan masyarakat umum bahwa hubungan keluarga tidak menjamin datangnya hidayah Allah, contohnya ayah dan ibu Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam, yang walaupun anak mereka seorang Rasul, tetapi mereka berdua musyrik dan masuk neraka. Kita berlindung kepada Allah dari berkeyakinan dan tidak beradab kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam seperti itu.
Mereka membuat kesimpulan atas dasar Hadits Sahih riwayat Imam Muslim,

”Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa alihi wassalam, `Dimana ayahku?`  Beliau shallallahu alaihi wa alihi wassalam bersabda,’Sesungguhnya ayahmu didalam neraka.’ Dan tatkala orang itu berpaling maka Nabi shallallahu alaihi wa alihi wassalam memanggilnya dan bersabda, ’Sesungguhnya ayahmu dan ayahku berada di neraka.”

Kefahaman mereka ini hanyalah pendapat Ulama mereka yang di akhir zaman ini semakin gencar mereka sebarkan. Mari kita bahas pernyataan mereka ini berdasarkan ajaran mereka sendiri yaitu agar jangan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam, sebab apa-apa yang dilakukan yang tidak ada contoh dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam adalah bid´ah yang sesat , sesuai dalil yang selalu mereka kemukakan:

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)

Perhatikan hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam tentang pertanyaan seorang Shahabat tentang nasib ayahnya di atas itu.
1. Pernyataan itu hanya diucapkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam di depan seorang Shahabat radhiallahu anhu yang ayahnya meninggal dalam keadaan kafir, Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam tidak berbicara seperti itu tanpa sebab.
2. Pernyataan itu diucapkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam kepada Shahabat beliau sebagai rasa empati melihat kesedihan yang nampak di wajah Sahabat setelah mengetahui ayahnya masuk neraka. Itu sebabnya beliau Shallallahu alaihi wa alihi wassalam  memanggilnya untuk menghiburnya dengan menjelaskan bahwa nasib Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam adalah senasib seperti shahabat itu, yaitu ayah mereka sama-sama masuk neraka. Mohon pembaca jangan berhenti membaca sampai disini, kami akan jelaskan nanti siapa “ayah” yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam itu.
3. Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam berkata “Abi (ayahku)” bukan “Abdullah bin Abdul Muthalib”. Makna “Abi (ayahku)” bukan mesti bermakna ayah kandung, tetapi dapat bermakna paman atau bapak asuh.

Jadi ucapan Ulama dan pengikut Tauhid 3 serangkai (Wahabi/Salafi) itu sudah melanggar landasan mereka sendiri, yaitu mereka telah melakukan bid´ah sesat yang mereka definisikan sendiri. Bid´ah yang mereka lakukan adalah

1. Mereka mengucapkan ayah Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam masuk neraka di depan masyarakat umum, bukan sebab adanya seorang teman muslim mereka yang ayahnya meninggal dalam keadaan kafir. Jadi mereka telah menta´thil (menolak/menghilangkan) adanya sebab teman muslim yang ayahnya meninggal dalam keadaan kafir.
2. Apa maksud mereka berkata begitu? Tujuan mereka mengucapkan itu bukan untuk menghibur atau menunjukkan rasa empati kepada orang Islam yang ayahnya meninggal dalam keadaan kafir, tetapi ditakwil (diganti) menjadi bertujuan sebagai contoh bahwa hubungan keluarga tidak dapat menyelamatkan orang yang kafir dari neraka. Selain itu ucapan mereka itu telah melukai banyak ulama dan kaum muslimin yang berkeyakinan bahwa ayah dan ibu Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam adalah selamat dari neraka. Beda jauh sekali dari tujuan Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam mengucapkan pernyataan itu.
3. Mereka juga telah mentahrif (mengubah) makna hadits “Abi (ayahku)” menjadi “Abdullah bin Abdul Muthalib”. Disini kelihatan jelas mereka telah melanggar aturan Tauhid mereka sendiri. Inilah akibat anomali Tauhid Asma Wa Sifat yang memahami sifat Allah sesuai lafaz zahir Asma dan Sifat Allah, kecuali Sifat Rububiyah. Mereka begitu berpegang teguh dengan makna zahir Quran dan Hadits. Ketika memahami Allah istawa (bersemayam) di atas arasy mereka benar-benar memahami Allah beristawa (bersemayam) di atas arasy tahrif (mengubah), ta´thil (menghilangkan) dan takwil (mengganti) dan takyif (bertanya bagaimana). Mengapa untuk kata “Abi (ayahku)” dalam hadits di atas diubah menjadi “Abdullah bin Abdul Muthalib” ?

Mereka menyandarkan pemahaman itu konon dari Imam Nawawi. Beliau memang menerangkan tentang hadits itu bahwa hubungan keluarga tidak dapat menolong orang yang kafir. Yang dimaksud oleh Imam Nawawi dalam hadits itu tentang ayah dari Shahabat dan “ayah” Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam sebagaimana yang  Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam maksudkan. Imam Nawawi tidak pernah mentahrif  (mengubah) maksud  “ayah” Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam menjadi Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah kandung Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam. Beliau dikenal sebagai Ulama bermazhab Syafei yang mempunyai kaidah ushul fiqih tertentu yang di antaranya mengatakan, jika ditemukan dalil-dalil yang dapat menjadikannya bertentangan, maka diambil jalan tengah yang tidak menyalahi satupun dari dalil-dalil itu.

Jadi mereka secara tidak sadar telah melakukan bid´ah yang mereka fahami dan melanggar kaidah ajaran Aqidah mereka sendiri yaitu untuk memahami makna Quran dan Hadits sesuai makna zahirnya tanpa tahrif (mengubah), ta´thil (menghilangkan) takwil (mengganti) dan dan takyif (bertanya bagaimana) (lihat muslim.or.id/6615-makna-tauhid).

Apakah tidak ada contoh lain tentang tidak manfaatnya hubungan keluarga terhadap datangnya hidayah Allah yang disepakati semua golongan Islam? seperti anak dan istri nabi Nuh serta istri nabi Luth?

Apakah mereka tidak tahu bahwa banyak ulama dan kaum muslimin yang meyakini bahwa ayah dan ibu Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam adalah selamat dari neraka?

Sekarang kami ingin menjelaskan apa yang dimaksud “ayah” oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam dalam hadits itu menurut ulama Ahlussunnah Wal Jamaah.

Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah dari zaman Shahabat, Salafus Shalih dan Ulama Muktabar tidak ada yang berpendapat seperti mereka. Ulama Ahlusunnah Wal Jamaah membahas hadits tentang ayah Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam dengan sangat hati-hati dan menjaga akhlak.
Hadits di atas memang shahih, tetapi mutasyabihat (samar/syubhat), maka jangan kita memahami makna zahirnya supaya tidak melanggar dalil Quran dan Hadits yang lain (lihat Bagaimana ASWAJA memahami ayat-ayat Mutasyabihat), sebab tidak mungkin dalil Qur´an dan Hadits saling bertentangan seperti ajaran Aqidah Tauhid 3 Serangkai, dimana Tauhid Rububiyah dalam ajaran 3 Tauhid melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri.

Ada 3 pendapat Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah
1. Ayah dan Ibu kandung Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam termasuk beragama Tauhid yang selamat.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam pernah bersabda:
Sesungguhnya Allah telah memilih Ibrahim dan Ismail dari kalangan anak-cucu Adam, memilih Bani Kinanah dari keturunan Ismail, memilih suku Quraisy dari kalangan anak-cucu keturunan Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy, dan memilihku dari keturunan Bani Hasyim.”
Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim ini menjelaskan Rasululullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam berasal dari orang-orang pilihan Allah. Orang-orang yang menjadi pilihan Allah itu sudah barang tentu tidak mungkin memiliki sifat-sifat kafir atau musyrik yang akan masuk neraka. Allah menjelaskan bahwa orang musyrik adalah najis (keyakinan/aqidahnya) dalam QS At Taubah 28

9:28
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Kata al-ab (Abi, Abuka, Abaka, Abihi dan semacamnya) dalam bahasa Arab sering pula digunakan untuk makna ‘paman’ di samping ‘ayah’. Dari situ, sangat boleh jadi yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam dengan kata Abi dalam hadits ini adalah ‘pamanku´. Paman Nabi yang jelas masuk neraka adalah Abu Lahab. Abu Lahab sangat gembira atas kelahiran Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam seperti kelahiran anaknya. Sehingga ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam lahir, budak wanita Abu Lahab yang bernama Tsuwaibah dibebaskan karena memberitakan berita kelahiran Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam. Tsuwaibah ini kemudian menjadi ibu susu Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam sebelum dibawa oleh Siti Halimah ke kampung Bani Sa´ad.
Demikian juga Azar yang disebut “Abihi” (ayah Nabi Ibrahim) dalam QS Al An´am 74, bukanlah ayah kandung, tetapi bapak asuh atau paman Nabi Ibrahim. Ini ditegaskan dalam doa nabi Ibrahim dalam QS Ibrahim : 41.

14:35
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.

14:36
 Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

14:37
 Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

14:38
 Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.

14:39
 Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.

14:40
 Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

14:41
Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.

Perhatikan doa Nabi Ibrahim yang menggunakan kata “walidain” yang sudah pasti bermakna kedua ayah dan ibu kandungnya. Doa ini diucapkan setelah kelahiran Nabi Ismail dan Nabi Ishak (lihat ayat 39 di atas), yaitu di kala usia Nabi Ibrahim sudah sangat tua. Jauh setelah Nabi Ibrahim meninggalkan Azar (bapak asuhnya) yang ditinggalkan ketika Nabi Ibrahim masih sangat muda dan belum menikah. Walidain (kedua ayah dan ibu) dalam doa Nabi Ibrahim itulah ayah (dan ibu) yang sebenarnya yang beriman dan bukan bapak asuhnya Azar. Dijelaskan Nabi Ibrahim sudah berlepas diri dari Azar sebagaimana disebut dalam QS At Taubah : 114.

9:114
Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.

Janji Nabi Ibrahim untuk memohon ampun untuk bapak asuhnya Azar ada dalam QS Maryam:47
Surat Maryam Ayat 42

Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?

Surat Maryam Ayat 43

Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.

Surat Maryam Ayat 44

Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.

Surat Maryam Ayat 45

Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”.

Surat Maryam Ayat 46

Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”.

Surat Maryam Ayat 47

Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.

Surat Maryam Ayat 48

Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.


QS Mumtahanah : 4 Allah berfirman bahwa pada diri Nabi Ibrahim ada suri tauladan, kecuali  perkataan janji Nabi Ibrahim untuk memintakan ampun bapak asuhnya Azar yang kafir.
Surat Al Mumtahanah Ayat 4
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”.

2. Ayah dan Ibu kandung Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam wafat di zaman fatrah yaitu zaman ketika belum didatangkannya Rasul. Oleh sebab itu mereka berdua selamat sesuai QS al-Isra’ : 15

17:15
Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.

3. Tawaquf (berdiam diri). Tidak memberi pendapat apapun tentang ayah dan ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam, maksud sebenarnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah dan RasulNya Shallallahu alaihi wa alihi wassalam. Kembali kepada Imam Nawawi, jika memperhatikan kaidah ushul fiqih beliau, paling jauh beliau adalah termasuk golongan yang ke 3 ini.

(Lihat juga Orang tua Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam di Mutiara Zuhud)

Mereka semua menjaga akhlak khususnya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam, karena ini adalah hal yang sensitif. Untuk mudah memahami apa yang dimaksud dengan menjaga akhlak, kami ingin bertanya apakah jika ada tetangga anda non muslim yang meninggal dunia, apakah anda akan berkata kepada anaknya, “turut berduka cita, ayah anda bakal masuk neraka”? Jika ini anda lakukan, maka anda akan dikenal sebagai orang yang tidak punya akhlak atau tidak punya hati.

Jika ternyata hati nurani anda tidak tega mengatakan itu kepada anak tetangga anda itu, apakah anda tega mengatakan hal yang sama di hadapan Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam? Apalagi jika itu tidak benar?

Selanjutnya kami akan menjelaskan  Ibunda Rasulullah Shallallahu alahi wa alihi wassalam.

Wallahu a’lam
Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Mengapa perkumpulan ASWAJA mesti mendeklarasikan Aqidah Asy´ariyah/Maturidiyah, bermazhab dan bertasawuf

Dalam perjalanan kehidupan perjuangan umat Islam Ahlussunnah Wal Jama´ah (ASWAJA) telah mengalami naik dan turun. Banyak pengalaman pahit yang menjadi pelajaran agar pengalaman pahit itu tidak terulang lagi, tetapi ada juga pengalaman pahit yang dilupakan sehingga kejadian yang tidak diinginkan itu terus berulang.
Salah satu pengalaman pahit yang dilupakan itu adalah keterbukaan kelompok Ahlussunnah Wal Jama´ah terhadap golongan lain tetapi tidak begitu menegaskan 3 landasan Ahlussunnah Wal Jama´ah yang sering disebut juga 3 rukun agama (Iman, Islam, Ihsan) yaitu:

1. Beraqidah Ahlussunnah Wal Jama´ah Asy´ariyyah/Maturidiyyah (Iman)
2. Berfiqih dengan mengikuti satu dari 4 Mazhab (Islam)
3. Bertawasuf dengan berguru atau bertariqat  dengan mempunyai Murobbi (Ihsan)

Penegasan landasan Ahlussunnah Wal Jama´ah ini dipandang tidak penting atau sebab umat Islam ASWAJA sungkan/malu sebab khawatir menyinggung perasaan umat Islam yang lain. Namun dari pengalaman kehidupan organisasi umat ASWAJA, hal itu justru berbalik menjadi suatu hal merugikan mereka sendiri dan kita umat Islam ASWAJA pada umumnya. Mengapa?

Karena umat Islam lain terutama dari pengikut Tauhid 3 serangkai (Wahabi) tidak merasa sungkan/malu dalam menyebarkan fahaman mereka yang berlawanan dengan keyakinan Ahlussunnah Wal Jama´ah. Mereka tidak segan menyinggung perasaan umat Islam Ahlussunnah Wal Jama´ah. Ketawadhukan umat Islam Ahlussunnah Wal Jama´ah dengan tidak mendeklarasikan landasannya menjadi kesempatan bagi pengikut Tauhid 3 Serangkai (Wahabi) untuk memasukkan orang-orangnya dan fahamannya sedikit demi sedikit ke perkumpulan itu sehingga akhirnya menguasai dan mengubah landasan perkumpulan itu dengan ajaran mereka yang bertentangan dengan Ahlussunnah Wal Jama´ah yaitu:

1. beraqidah Tauhid 3 Serangkai (Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma Wa Sifat)
2. berfikih tanpa ikut satu Mazhab dari 4 Mazhab, tetapi mengatakan mengikuti dalil yang paling sahih dari Quran dan Sunnah menurut (mazhab) ulama mereka
3. Menolak tasawuf dan menolak Tariqat. Dianggap Tasawuf dan Tariqat adalah bid´ah yang sesat.

Apa bukti mereka telah pernah mempengaruhi landasan perkumpulan Ahlussunnah Wal Jama´ah dengan fahaman mereka?

Bagi kita di Indonesia tentu kita pernah mendengar organisasi Muhammadiyah yang didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan (https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammadiyah). Beliau mendirikan organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912. Gerakan Muhammadiyah berciri semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat yang lebih maju dan terdidik. Menampilkan ajaran Islam bukan sekadar agama yang bersifat pribadi dan statis, tetapi dinamis dan berkedudukan sebagai sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya.

KH Ahmad Dahlan beraqidah ASWAJA Asy´ariyyah Maturidiyah, berfiqih dengan mengikuti Mazhab Syafei, serta bertasawuf, sama dengan umat Islam ASWAJA lainnya. Beliau berijtihad untuk memperjuangkan Islam melalui pendidikan baik agama maupun yang umum serta memberikan perkhidmatan kepada masyarakat secara luas.
Pergerakan beliau adalah pembaharuan yang luar biasa yang membuka mata umat Islam di waktu itu sehingga cepat berkembang di seluruh Nusantara.

KH Ahmad Dahlan wafat tahun 1923, tak lama setelah itu kota Mekkah dan Madinah mulai dikuasai orang yang berfahaman Tauhid 3 serangkai (Wahabi). Mereka mulai melarang dan membid’ahkan amalan Ahlussunnah Wal Jamaah seperti Maulid, mengeraskan suara ketika berdzkir, ziarah kubur dan lain-lain. Mereka menghancurkan dan meratakan makam para Shahabat, makam Rasulullah shallallahu alahi wa alihi wassalam dan keluarganya.
Pada waktu itu faham Tauhid 3 Serangkai (Wahabi) sudah mulai masuk ke Indonesia, mereka banyak bergabung di Muhammadiyah, sebab dalam dasar organisasi tidak disebutkan 3 landasan ASWAJA tentang Aqidah, Fiqih dan Tasawuf. Muhammadiyah yang tadinya merupakan pergerakan Islam untuk membangun melalui pendidikan dan perkhidmatan kepada masyarakat luas ikut terpengaruh oleh fahaman ini (lihat  REINTERPRETASI DOKTRIN TAUHID DALAM MUHAMMADIYAH yang menunjukkan masih mencari-cari interpretasi doktrin tauhid), sehingga menjadi seperti pergerakan mengubah landasan ASWAJA kepada fahaman Tauhid 3 Serangkai. Maka timbul issue membid´ahkan amalan ASWAJA seperti ziarah kubur, tahlil, maulid, qunut ketika sholat Shubuh, terawih 20 raka´at  dan sebagainya.

Ulama ASWAJA mulai melihat bahaya meluasnya fahaman Wahabi (Tauhid 3 Serangkai) ini karena telah mempengaruhi umat Islam ASWAJA, maka akhirnya Kyai Haji Hasyim Asy´ari perlu menghimpun ulama ASWAJA untuk mendirikan Nahdhlatul Ulama pada tanggal 31 Januari 1926 untuk mengingatkan penguasa di Hejaz yang berfahaman Tauhid 3 serangkai agar tetap menerima amalan Ahlussunnah Wal Jama’ah di Hejaz dan untuk menangkal masuknya fahaman ini ke Indonesia.

Untuk kita dapat berkaca, mari kita lihat perjuangan Islam ASWAJA di negara Turki. Di sana berkat perjuangan kerajaan Usmaniyah selama hampir 700 tahun, landasan ASWAJA telah lebih mengakar, dan bahaya ajaran yang menyesatkan seperti Syiah dan Wahabi (fahaman Tauhid 3 Serangkai) sudah diketahui oleh umat Islam ASWAJA di Turki.
Oleh sebab itu penyesatan umat Islam melalui Syiah dan Wahabi sangat dapat ditekan, sehingga hampir tidak ada fahaman itu di negara Turki hingga sekarang.
Di Turki semua gerakan Islam, baik yang melalui partai politik, yang melalui pendidikan, yang bertariqat dan sebagainya semua mempunyai landasan yang sama yaitu beraqidah ASWAJA Asy´ariyyah/Maturidiyyah, berfikih dengan bermazhab dan bertasawuf. Sehingga tidak ada issue bid´ah yang berarti.

Marilah kita umat Islam ASWAJA belajar dari pengalaman, belajar dari saudara-saudara kita di Turki. Kalau kita membentuk kelompok untuk kita berjuang, jangan kita ragu dan takut untuk mendeklarasikan landasan perjuangan kita yaitu beraqidah ASWAJA Asy´ariyyah/Maturidiyyah, berfikih dengan bermazhab dan bertasawuf.

Pengalaman telah mengajarkan kepada kita, bahwa suatu perkumpulan Islam ASWAJA yang tidak memasukkan 3 landasan ASWAJA dalam anggaran dasarnya, dan kemudian tidak memegang teguh 3 landasan ini, cepat atau lambat akan kemasukan fahaman yang bertentangan dengan ASWAJA.

Wallahu a´lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Isyarat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam membenarkan Aqidah ASWAJA Asy´ariyyah/Maturidiyah, berfiqih dengan bermazhab dan bertasauf

Umat Islam dan Ulama ASWAJA berpegang pada 3 ilmu dasar Islam yaitu
– Beraqidah ASWAJA Asy´ariyyah/Maturidiyah (Iman).
Berfiqih dengan mengikuti salah satu dari 4 Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafei, Hambali)  (Islam) dan
– Bertasauf dengan bimbingan seorang Murobbi (Ihsan).
Inilah jalan yang ditempuh oleh Umat Islam ASWAJA dari zaman Salafus Soleh hingga sekarang yang diajarkan secara sambung menyambung melalui Ulama-Ulama pewaris Nabi.
Musuh Islam terus berusaha mempengaruhi ajaran ASWAJA yang kokoh ini dengan berbagai cara, sehingga ada di antara sedikit Umat Islam yang terpengaruh dengan ajaran menyesatkan.

Mereka yang mencoba menyesatkan umat Islam ASWAJA sudah berusaha dengan berbagai cara, bahkan dengan cara yang dipakai oleh para pemuka agama Yahudi dan Nasrani dahulu yaitu dengan memalsukan kitab pegangan umat. Jika pemuka kaum Yahudi dan Nasrani dapat memalsukan Kitab Suci Taurat dan Injil, karena Allah tidak menjamin keaslian Kitab Suci ini, maka mereka mengelirukan umat Islam dengan memalsukan Kitab-Kitab Ulama Mu´tabar ASWAJA ( link di pemudade.wordpress / pdf download ) atau dengan  catatan kaki  baik dalam mushaf Al Qur´an maupun Kitab Ulama Mu´tabar ASWAJA untuk menyokong ajaran mereka yang menyimpang dan rapuh itu.

Namun Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wassallam telah memberi isyarat kepada kita semua akan kebenaran ASWAJA dengan suatu bukti nyata yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun, kecuali oleh mereka yang menutup dirinya dari kebenaran.
Isyarat yang telah diberikan oleh Allah dan Rasulullah SAW adalah sebuah hadits yang terkenal

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الْاَمِيرُ اَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

“Sungguh akan terjadi Futuh Kota Konstantinopel di tangan Islam. Pemimpin yang berhasil melaksanakan Futuh itu adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”[Hadits Konstantinopel]

Hadits ini juga disebutkan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya no. 8300 dan beliau menilai sahih sanad hadits tersebut, diikuti juga oleh adz-Dzahabi dalam Talkhis al-Mustadraknya. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabirnya : 1216. Al-Bukhari dalam at-Tarikh al-Kabirnya : 1760. Al-Haitsami juga menyebutkan dalam Majma’ az-Zawaidnya : 10384 dan mengatakan para perowinya tsiqah (terpercaya). Ibnu Abdil Barr juga menyebutkan dalam al-isti’abnya dan menilainya sanadnya hasan. As-Suyuthi juga menyebutkan hadits ini dalam al-Jami’ ash-Shagirnya : 7227 dan menilai hadits ini sahih.

Sudah diketahui bersama bahwa hadits ini sudah terbukti kebenarannya bahwa Konstantinopel sudah dibuka (futuh) oleh Umat Islam di bawah pimpinan Sultan Muhammad II yang digelari Al Fatih, yaitu Sultan ke-7 dari Kerajaan Usmaniyah pada tanggal 29 Mei 1453. Kota Konstatinopel kemudian diubah namanya menjadi Islambol (Islampol = kota Islam), yang sekarang dikenal dengan Istanbul. Sultan Muhammad Al Fatih dan tentaranya itulah yang disebut dan dipuji Rasulullah SAW 800 tahun sebelumnya. Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam telah memuji seseorang atau suatu kelompok, tentulah benar Aqidahnya, kemas syariatnya dan elok pula akhlaknya.

Aqidah Kerajaan Usmaniyyah adalah Ahlusunnah Wal Jama´ah Asy´ariyyah/Maturidiyyah. Umat Islam dalam menjalankan syariat di semua wilayah pemerintahannya mengikut salah satu dari Imam Mazhab. Dalam kerajaan diangkat Mufti dari setiap Mazhab untuk tempat bertanya bagi Umat Islam sesuai dengan Mazhabnya. Umat Islam hidup bertoleransi dalam berfiqih. Tidak pernah ada perpecahan sebab perbedaan Mazhab. Pengajian tasauf dan tariqat sangat banyak, bahkan para Sultan dan pembesar kerajaan pada umumnya bertariqat dengan bimbingan seorang Mursyid sebagai Murobbi.

Hampir 700 tahun Kerajaan Usmaniyah berdiri, wilayahnya berdiri di 3 benua di pusat peradaban manusia ketika itu. Mereka disegani kawan maupun lawan. Pengaruh mereka cukup besar terhadap perkembangan Islam dan kerajaan Islam di Indonesia.

Memalsukan Kitab-Kitab Ulama Mu´tabar ASWAJA dan menambah catatan kaki dalam mushaf Al Qur´an adalah jalan yang sangat efektif untuk menyesatkan dan mengelirukan umat, seperti dahulu pemuka Yahudi dan Nasrani yang ingin menipu umatnya memalsukan Kitab Taurat dan Injil. Dengan memalsukan kitab Ulama ASWAJA yang mu´tabar, pemuka Tauhid 3 serangkai menjadikan hujjah utk menguatkan ajarannya yang rapuh. Selain dapat mengelirukan umat Islam dari ajaran ASWAJA yang sebenarnya sekaligus mengatakan bahwa Ulama ASWAJA yang Mu´tabar itu dari zaman dahulu telah beraqidah seperti mereka. Bahkan kisah hidup Imam Abul Hasan Al Asy´ari Ulama ASWAJA yang menyusun Aqidah ASWAJA dipalsukan, dengan mengatakan dalam riwayat hidupnya beliau melalui 3 phase, yaitu phase Muktazilah, phase ASWAJA dan phase mengikuti Aqidah seperti mereka, sehingga banyak umat Islam yang terkelabui. Sesungguhnya beliau hanya melalui 2 phase yang awal saja.
Namun Hadits Rasulullah SAW dan bukti  sejarah futuhnya Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al Fateh  tidak mungkin dapat mereka palsukan dan tutupi. Bukti kebenaran sejarah terlalu banyak di antaranya 2 point penting dibawah ini.

  1.  Suatu perjuangan yang haq yang didasari atas Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam mengandung banyak pelajaran. Dalam sejarah diceritakan ada lebih kurang 29 Sultan atau pemimpin Islam yang telah mengirim pasukan untuk membuka Kontantinopel untuk membuktikan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam dari zaman Shahabat (Kerajaan Bani Umayah)  hingga Kerajaan Usmaniyah. Ini juga menunjukan kecintaan pemimpin Islam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam dalam bentuk meyakini ucapan Rasulullah SAW, yang mereka buktikan dengan bersungguh-sungguh melaksanakan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam. Mereka berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin dan pasukan yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam. Bahkan Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam yaitu Abu Ayyub Al Anshori yang berumur sudah lebih dari 80 tahun ikut serta berjuang di garis yang paling depan, hingga beliau Syahid di depan benteng.  Ternyata ucapan Rasulullah SAW terbukti lebih kurang 800 tahun kemudian. Kisah perjuangan pembukaan Konstantinopel ini diceritakan dengan terbuka dan dibanggakan oleh umat Islam agar menjadi contoh bagi kita.
  2. Ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam terbukti bukan saja dengan terbukanya Konstantinopel, tetapi juga pemimpin dan pasukan yang berhasil membukanya memang pemimpin dan tentara yang bertaqwa. Diantaranya seluruh tentaranya tidak pernah meninggalkan Sholat yang wajib setelah mereka baligh bahkan Sultan Muhammad Al Fatih tidak hanya tidak pernah meninggalkan sholat wajib, beliau juga tidak pernah meninggalkan sholat sunat rawatib dan sholat malam. Ini menunjukkan perjuangan mereka dilandasi oleh taqwa yang menjadi sebab datangnya bantuan Allah.
    Satu hal yang menunjukkan kecintaan dan rasa ta´zhim beliau kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam adalah mencari makam Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam Sayidina Abu Ayyub Al Anshori yang syahid di depan benteng. Makam yang telah hilang lebih 700 tahun akhirnya ditemukan melalui mimpi dari guru Mursyid dari Sultan yaitu Ak Syamsudin. Begitu makam itu ditemukan, beliau perintahkan untuk memelihara makam, dengan membangun atap di atas makam, dan mesjid di sebelah makam yang dinamakan Mesjib Ayub Sultan untuk kemudahan peziarah dari jauh jika hendak sholat fardhu ataupun sunat. Sampai saat ini makam itu selalu diziarahi, bahkan Mesjid Ayub Sultan selalu dipenuhi jemaah di 5 sholat fardhu dari seperti sholat Jum´at. Mereka yang berziarah adalah penganut ASWAJA Asy´ariyah/Maturidiyah yang rindu dan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam. Mereka mengobati rindu mereka dengan menziarahi Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam, sebagai rasa cinta dan ta´zhim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam. Orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam akan mencintai orang yang dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam. Itu keberkatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam yang mengalir kepada Shahabat r.a. tauladan kita dalam mencintai Rasululllah shallallahu ‘alaihi wassallam yang terus mengalir kepada orang yang mencintainya.
    Di zaman Kerajaan Usmaniyyah selain makam para Sahabat dan pejuang Islam, semua tempat peninggalan Rasulullah SAW dan sejarah Islam yang lain yang dikenal, dirawat dengan baik oleh Kerajaan agar mudah diziarahi untuk dijadikan iktibar bagi umat Islam yang datang kemudian, seperti rumah Rasulullah SAW dan Siti Khadijah di Mekkah,

Dengan bukti ini siapapun tidak dapat memungkiri bahwa Aqidah Sultan Muhammad Al Fatih, pemimpin yang dipuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam adalah ASWAJA Asy´ariyah/Maturidiyah. Sejarah tidak dapat diubah seperti kitab, apalagi mengubah sikap dan perlakuan terhadap peninggalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam dan sejarah Islam yang lain serta makam Shahabat radhiallahu anhum yang masih dapat dilihat hingga sekarang.

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Mengapa ASWAJA mengikut Imam Mazhab

Ahlusunnah Wal Jama´ah dalam melaksanakan ibadah dan syariat mengikuti salah satu dari Imam Mazhab yang 4, yaitu Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafei dan Mazhab Hambali.
Kita mengikuti salah satu Imam Mazhab bukan beriktiqad bahwa istinbat hukum Imam yang kita ikut itu yang paling sahih, melainkan kita yakin bahwa Imam Mazhab itu mempunyai ketaqwaan dan ilmu yang cukup serta dipercaya sehingga mampu dan layak mengistinbat hukum langsung dari Qur´an dan Sunnah.

Semua Imam Mazhab berpesan kepada muridnya, jika engkau menemukan dalil yang lebih sahih dari pendapatku maka ambillah dalil yang sahih itu dan tinggalkan pendapatku. (Wasiat 4 Imam Mazhab).
Bagi penganut Ahlussunnah Wal Jama´ah ucapan para Imam Mazhab bukan menjadi dalil untuk kita menggali lagi Qur´an dan Hadits untuk menentukan mana hukum yang lebih sahih untuk kita ikuti, melainkan difahami sebagai berikut:

  1. Menunjukkan bahwa mereka mengistinbat hukum berdasarkan Qur´an dan Sunnah.
  2. Menunjukkan ketawadhu´an para Imam Mazhab. Mereka mengajarkan dan memberi contoh agar kita berakhlak mulia dan terus belajar ilmu agama yang tujuannya adalah untuk mencari dan memperbaiki kesalahan kita sendiri bukan untuk mencari kesalahan orang lain.
  3. Dalam masalah fiqih (syariat) ada perbedaan penafsiran dan pemahaman walaupun hadits atau yang disampaikan oleh Rasulullah SAW adalah persis sama. Perbedaan fiqih syariat ini dibolehkan dalam agama Islam. Pernah ada 2 pemahaman dan pengamalan yang berbeda oleh Sahabat ra dari satu sabda Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW membenarkan keduanya.
  4. Agar para pengikutnya bersikap toleran dalam perbedaan fiqih dalam cara beribadah/bersyariat.
  5. Tujuan kita beribadah adalah untuk meningkatkan taqwa dan akhlaq kita. Syariat dan ibadah adalah wasilah untuk mencapai tujuan itu. Jadi walaupun syariat itu sangat penting tetapi fokus kita beribadah adalah untuk mendapatkan taqwa dan memperbaiki hati dan akhlaq.

Pengikut Ahlusunnah Wal Jama´ah dilarang mencoba mencari mana hasil istinbat hukum dari Imam Mazhab itu yang paling sahih. Karena kalau ada orang berbuat seperti itu, secara tidak sadar dia telah mensetarakan dirinya atau gurunya yang mengajarkan itu sama dengan Imam Mazhab atau bahkan merasa lebih berilmu dari para Imam Mazhab itu sehingga dapat menilai, yang ini lebih sahih dan yang lain tidak.
Dalam agama Islam ada istilah fardhu kifayah dan fardhu ´ain. Fardhu kifayah adalah kewajiban yang jika salah seorang dari umat Islam telah melaksanakan kewajiban itu, maka gugurlah kewajiban itu bagi umat Islam. Sedang fardhu ´ain adalah kewajiban yang setiap muslim melaksanakannya.
Mengistinbat hukum dari Qur´an dan Sunnah dan menyusun ilmu fiqih ibadah dan syariat adalah termasuk fardhu kifayah, dan para Imam Mazhab telah menyusunnya beserta kaidah ushul fiqihnya. Mereka ketika menyusun ilmu fiqih itu adalah atas dasar keperluan umat Islam di tempat dan zaman mereka berada.
Oleh jumhur ulama Ahlusunnah wal Jama´ah, penyusunan ilmu fiqih ini sudah selesai di abad ke 3 Hijriyah. Oleh sebab itu tidak ada lagi ulama yang menyusun Mazhab baru setelahnya. Ulama-ulama di zaman berikutnya mengikuti fiqih salah satu dari Imam Mazhab itu. Mereka terus menyusun ilmu-ilmu lain yang ada dalam fardhu kifayah untuk menyelesaikan masalah umat yang ada setelah itu.

Seorang muslim yang mengikut suatu hukum syariat tanpa bersandar kepada Imam Mazhab adalah keliru. Dia akan menjadi lebih keliru dan lebih berbahaya jika beriktiqad mengikuti suatu hukum karena menganggap hukum ini dari Qur´an dan Sunnah yang paling sahih. Bahkan masih ada di zaman ini orang yang masih mencari-cari mana syariat yang paling sahih dari Quran dan Sunnah.
Mengapa ini berbahaya? Alasannya adalah:

  1. Ketahuilah ilmu agama tidak seperti ilmu sains. Ilmu agama semakin lama semakin sedikit, sebab ulama-ulama yang berilmu dengan ilmu yang bersanad sampai kepada Rasulullah SAW semakin sedikit.
    “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh. Kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [Al-Bukhari (100, 7307); Muslim (2673)]
    Maka barang siapa di akhir zaman ini masih mencari dan mencoba mengistinbat hukum sendiri dari Quran dan Hadits yang paling sahih, maka dia tidak akan mendapatkan ilmu fiqih yang lebih baik dari 4 Imam Mazhab dan bahkan dia bisa tersesat. Sebab dia berada dalam zaman yang ilmu agamanya sedikit. Berbeda dengan Ilmu sains, sebab ilmu sains semakin ke sini semakin banyak, karena banyak ditemukan ilmu sains yang baru.
  2. Ada juga orang yang berpendapat untuk mengambil hukum syariat dangan cara mencampur hukum syariat dari 4 Mazhab, Konon dia mencari dalil dari Quran dan Sunnah untuk menilai syariat dari 4 Mazhab. Untuk bab A dia ambil Mazhab Hanafi, untuk bab B dia ambil Mazhab Syafei, untuk bab C dia ikut Mazhab Maliki,  untuk bab D dia ambil Mazhab Hambali, karena menurutnya bab-bab yang dia pilih itu dia temukan dalil Qur´an dan Hadits yang paling sahih. Hal ini juga berbahaya, secara tidak sadar dia telah mendirikan Mazhab baru dengan kaidah ushul fiqih yang dia susun sendiri. Untuk dapat mengistinbat hukum tidak cukup hanya mengetahui Hadits sahih dan mutawatir, tetapi juga ilmu alat yang banyak, seperti ilmu bahasa Arab, ilmu hadits, ilmu mantiq dan lain-lain, sehingga dia mesti membuat kaidah ushul fiqih untuk “Mazhab” dia yang baru itu. Belum lagi syarat ketaqwaan yang rasanya sulit untuk dicapai.
    Ketahuilah setelah 4 Mazhab itu tidak pernah ada ulama-ulama besar yang membuat mazhab baru. Imam Abu Ja´far At-Thahawi, Imam Abul Hasan Al Asy´ari, Imam Abu Mansur Al Maturidi, Imam Ghazali, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al Asqolani, bahkan Imam Bukhari dan Imam Muslim penyusun hadits yang terkenal mengikut satu dari 4 Mazhab. Apakah kita merasa lebih hebat dari Imam-Imam ini?
  3. Akan timbul kesombongan dan merasa dirinya saja yang paling benar karena telah merasa melaksanakan hukum /syariat yang paling sahih dari Qur´an dan Sunnah. Sehingga menganggap bid´ah dan rendah orang lain sebab masih ikut syariat dan Mazhab yang kurang atau tidak sahih.

Tugas mengistinbat hukum dan menyusun ilmu fiqih sudah selesai dilakukan oleh Imam Mazhab. Kita tinggal ikut saja. Marilah kita menyibukkan diri dengan hal lain yang menjadi tugas kita untuk membantu menyelesaikan masalah umat yang lain, yang juga menjadi masalah kita dan keluarga kita bersama.

Wallahu a´alam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

 

Sejarah ditulisnya ilmu-ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama´ah

Semua Ilmu islam berasal dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam. Di zaman Shahabat r.a ilmu Islam belum perlu ditulis dan disusun seperti sekarang, sebab ilmu Islam sudah hidup dan melekat pada diri Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam dan Shahabat r.a. yang dapat dipelajari hanya dengan hidup bersama mereka. Seterusnya Ilmu Islam berkembang kepada generasi Tabi´in dari generasi Sahabat r.a sebagaimana berkembangnya Islam dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam kepada Shahabat r.a yaitu dengan hidup dan bergaul bersama mereka. Seterusnya Islam berkembang seperti itu juga di zaman Tabi´ut Tabi´ín.

Lama kelamaan ulama menyadari perlunya Ilmu Islam ini dtulis dan disusun secara terstruktur agar mudah dipelajari oleh umat islam di generasi berikutnya, sebab jumlah umat islam semakin banyak, sedang jumlah “ilmu Islam hidup” yaitu para Sahabat, Tabi´in dan Tabi´ut Tabi´in semakin sedikit.
Ilmu-ilmu itu ditulis oleh ulama karena keperluan mendesak untuk kemaslahatan masyarakat Islam di waktu itu.

Ilmu-ilmu yang disusun dan ditulis di zaman salafus sholeh di antaranya

– Ilmu Bahasa Arab dan Ilmu Nahu Sharaf sudah mulai ditulis di zaman Shahabat r.a dan tabi´in agar umat Islam tidak salah dalam memahami  bahasa Arab Al Qur´an
– Ilmu Tajwid juga mulai ditulis dan disusun di zaman Shahabat r.a dan Tabi´in, agar umat Islam tidak salah dalam membaca Al Qur´an yang dapat mengubah arti Al Qur´an, Ketika ini penyusunan Ilmu fiqih belum mendesak diperlukan, sebab masyarakat masih alim-alim belaka dalam hal fiqih syariat.
– ilmu Fiqih syariat yang lengkap mulai ditulis di zaman Tabi´in atau Tabi´ut Tabi´in hingga abad 3 H, yang kemudian dikenal dengan fiqih mazhab dari Imam Mujtahid Mutlak, yaitu Imam yang dapat berijtihad dan mengistinbat hukum dengan merujuk pada Qur´an dan Hadits.
Fiqih Mazhab yang masih ada pengikutnya hingga sekarang adalah dari mazhab
-Imam Hanafi (wafat 150H) , kemudian
-Imam Maliki (wafat 179H),
-Imam Syafei (wafat 201H), dan
-Imam Hambali (wafat 243H).
Di zaman itu Aqidah sesat baru mulai meluas, Imam-Imam Mazhab sudah menulis ilmu Aqidah tetapi belum lengkap. Aqidah sesat terutama Muktazilah masih dapat meluas hingga dianut oleh kalangan pemerintah kerajaan di zaman Imam Hambali.
– Ilmu Tasawuf (membersihkan hati) sudah mulai ditulis secara khusus di abad 2 H. Di antaranya yang terkenal adalah ditulis oleh Imam Junaid Al Bagdadi, beliau berguru kepada murid langsung Imam Syafei.
– Ilmu Aqidah yang lengkap ditulis di akhir abad 3 dan awal abad 4. Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah (ASWAJA) disusun oleh Imam Abul Hasan Al Asy´ari (wafat 324H) dan Imam Abu Mansur Al Maturidi (wafat 333H).
Imam Abul Hasan Al Asy´ari bermazhab Syafei, berjuang hingga wafat di Bagdad sedang Imam Abu Mansur Al Maturidi bermazhab Hanafi, berjuang hingga wafat di Samarkand (Uzbekistan). Mereka berdua tidak pernah bertemu, tetapi ilmu Aqidah yang disusun mereka adalah sama intinya, berbeda dalam beberapa istilah dan pembagiannya.
Misalnya dalam ajaran Imam Abul Hasan Al Asy´ari sifat wajib Rasul ada 4 yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah. Sifat Ma´shum (tidak melakukan dosa) sudah termasuk di dalam 4 sifat itu. Dalam ajaran Imam Abu Mansur Al Maturidi, sifat wajib ada 5 yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah dan ‘Ishmah (Ma´shum). Ilmu aqidah juga disusun agar umat Islam tidak keliru dalam beriktiqad dan memahami rukun Iman, karena keperluan mendesak menghadapi aliran aqidah sesat yang menyebar dalam masyarakat Islam waktu itu.
Dengan aqidah yang disusun mereka berdua, penganut aqidah Muktazilah dan aqidah sesat lainnya semakin berkurang dan seterusnya melemah, sehingga Aqidah ASWAJA ini diakui dan diikuti oleh mayoritas umat Islam.
Sesuai dengan nama kedua Imam itu, maka ajaran Aqidah ASWAJA ini dikenal juga dengan ASWAJA Asy´ariyyah/Maturidiyyah.
Jumhur ulama ASWAJA mengatakan jika disebut aqidah ASWAJA maka itu adalah Aqidah Asy´ariyyah/Maturidiyyah, Aqidah ini sesuai dengan Aqidah yang diajarkan Rasulullah SAW, para Shahabat, Tabi`in, Tabi´ut Tabi´in dan para Salafus shalih.

Ulama-ulama yang datang kemudian sepakat bahwa Ilmu dasar Islam yaitu Aqidah dan Fiqih sudah selesai ditulis, sehingga tidak perlu menulis Ilmu dasar Islam itu kecuali untuk lebih memudahkan pengajaran ilmu-ilmu itu di zaman berikutnya berdasarkan kaidah yang telah disusun dalam Fiqih Mazhab dan Aqidah ASWAJA.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam telah memberi isyarat kepada kita membenarkan Aqidah ASWAJA Asy´ariyyah/Maturidiyah, berfiqih dengan bermazhab dan bertasawuf.

Wallahu a’lam
Artikel lain ada dalam Daftar Isi