Perbedaan pemahaman “tidak mentakwil” golongan yang menamakan dirinya Salafi dengan pemahaman “tidak mentakwil” Ulama Salaf

Akhir-akhir ini banyak kita dengar golongan yang menamakan dirinya Salafi. Konon dengan nama “Salafi” mereka mengklaim bahwa pemahaman mereka sama dengan Ulama Salaf, yaitu Ulama yang hidup di tiga abad pertama Hijriyah, yaitu kurun terbaik Umat Islam sesuai dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wassalam:

خَيْرَ أُمَّتِـي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)

Golongan yang menamakan dirinya Salafi menyebarkan pemahaman Asma wa Sifat Allah dengan makna aslinya yang zahir tanpa takwil, karena kata mereka Ulama Salaf tidak mentakwil ayat-ayat Al Qur’an. Benarkah anggapan mereka ini?

Sebenarnya “tidak mentakwil”nya golongan yang menamakan dirinya Salafi berbeda jauh dengan “tidak mentakwil”nya Ulama Salaf. Apa perbedaannya?

Pemahaman “tidak mentakwil” golongan yang menamakan dirinya Salafi

Golongan yang menamakan dirinya Salafi sebenarnya menganut Aqidah Tauhid dibagi 3 yang disusun pertama kali oleh Ibnu Taimiyah dan di akhir zaman ini dipopulerkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi dan pengikutnya. Perlu diketahui bahwa Aqidah ini telah keluar dari Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Hal ini telah disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari dalam Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah pada bagian yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat.
“Tidak mentakwil”nya golongan ini berdasarkan Standard dalam Tauhid Asma wa Sifat yaitu mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif, tanpa ta’thil dan tanpa takyif.

Lihat muslim.or.id/makna tauhid, (hasil scan dibawah ini)

istawa_kuasa

Karena gigihnya mempertahankan makna asli yang zahir dari Asma wa Sifat Allah yang Mutasyabihat (yang samar maknanya), mereka tetap memahami istiwa yang artinya “bersemayam dan tidak ditakwil (dipalingkan maknanya) menjadi “menguasai”.

Mereka juga mengatakan tidak boleh pula melakukan tafwidh. Tafwidh adalah tidak membahas maknanya sama sekali dan menyerahkan maknanya kepada Allah semata.

Walaupun akibat memahami makna asli Sifat Allah “istawa” dengan bersemayam dengan makna zahir telah membuat pengajarnya menjadi tidak tahu bahwa Arasy adalah makhluk Allah. (lihat Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah?).

Jadi pemahaman mereka setelah membaca ayat tentang Asma dan Sifat Allah yaitu:

  1.  Memulai dengan menetapkan Asma wa Sifat Allah dengan makna asli yang zahir tanpa takwil, walaupun itu Asma wa Sifat dalam ayat Mutasyabihat. Mereka gigih mempertahankan makna asli yang zahir dari Asma wa Sifat Allah. Mereka beriman dan meyakini bahwa Ayat Mutasyabihat ini adalah dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Mereka mengatakan Allah punya tangan, Allah punya wajah, Allah bersemayam di atas Arasy dan pemahaman lain yang menyimpulkan Allah itu punya Sifat fisik atau Sifat Jasmani (Jisim) sehingga golongan ini disebut dengan golongan Mujassimah.
  2. Kemudian baru mensucikan Allah dari menyerupakan dengan makhluk. Yaitu dengan mengatakan Tangan, Wajah dan Bersemayamnya Allah di atas Arasy adalah berbeda dengan tangan, wajah dan bersemayamnya makhluk, ungkapan ini secara tidak sadar adalah sama dengan mereka berkata “sifat jism” Allah berbeda dengan sifat jism makhluk. Itulah sebabnya mereka dikatakan golongan Mujassimah, yaitu golongan yang meyakini Allah punya jisim.

Pemahaman “tidak mentakwil” Ulama Salaf

Para Ulama Salaf ada yang melakukan takwil dan sebagian besar tidak melalukan takwil Asma dan Sifat Allah dari ayat Mutasyabihat. Yang tidak mentakwil, mereka melakukan Tafwid yaitu tidak membahas maknanya sama sekali. Mereka mentanzih (mensucikan) Allah dari menyerupai makhluk terlebih dahulu, dan menyerahkan maknanya sepenuhnya kepada Allah semata. Ini sesuai dengan konsep Syahadat Tauhid yaitu kalimat Laa ilaaha Illallahu”, tiada tuhan selain Allah. Yaitu menolak terlebih dahulu adanya ilah yang patut disembah, kemudian baru menyatakan hanya Allah, Tuhan yang patut kita sembah. Jadi setelah mereka membaca ayat Mutasyabihat tentang Asma wa Sifat Allah

  1. Memulai dengan melakukan tanzih, yaitu mensucikan Allah dari menyerupakan dengan makhluk. Mereka membaca ayat Mutasyabihat sebagaimana lafaz bahasa Arab-nya. Karena melakukan tanzih (mensucikan Allah dari mnyerupai makhluk), mereka tidak memahami dan membahas makna zahirnya serta tidak pula memahami zahir terjemahannya.
    Mereka beriman dan meyakini bahwa Ayat Mutasyabihat ini adalah dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala,
  2. Kemudian mereka menyerahkan sepenuhnya makna sebenarnya dari ayat Mutasyabihat (yang samar maknanya) kepada Allah semata, sebab hanya Allah Yang Maha Mengetahui maknanya.

Kalau orang hanya melihat sepintas lalu kedua pemahaman itu, nampaknya sama. Namun bagi orang yang berakal, kita dapat melihat perbedaan yang besar antara kedua pemahaman itu.  Ulama Salaf jelas mensucikan Allah dari menyerupai makhluk dengan sempurna, sedangn golongan yang menamakan dirinya Salafi secara tidak sadar telah menyerupakan Allah dengan makhluk. Bagi yang masih belum faham perbedaan ini, marilah kita bahas bersama. Semoga Allah bantu kita untuk memahaminya.

Untuk itu marilah kita memahami apa itu ayat Mutasyabihat. Ayat Mutasyabihat adalah ayat yang kalau difahami makna zahirnya memungkinkan orang memahami Allah menyerupai makhlukNya, karena makna Sifat Allah dalam ayat Mutasyabihat adalah samar.

Kalau Sifat Allah dalam ayat Mutasyabihat difahami secara zahir, maka makna itu menjurus kepada menyerupakan makhluk atau menjurus pada Sifat makhluk yang lemah. Sedang Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Itu sebabnya perlu ditakwil (dipalingkan maknanya) dengan syarat ayat Muhkamat (yang jelas maknanya) yang menjelaskan makna takwil itu (lihat Bagaimana Ahlussunnah wal Jamaah memahami ayat-ayat Mutasyabihat).

Sedang kaidah Tauhid Asma wa Sifat dalam Tauhid dibagi 3 adalah sebaliknya. Mereka menetapkan dahulu Asma dan Sifat Allah dalam ayat Mutasyabihat dengan makna zahirnya, baru kemudian melakukan tanzih (mensucikan Allah dari menyerupai makhlukNya).

Hakikat pernyataan dengan makna zahir “Allah punya Tangan, punya Wajah, Bersemayam di atas Arasy tapi Tangan, Wajah dan BersemayamNya tidak sama dengan makhluk” adalah sama dengan kalimat “Allah punya “Sifat Jism” tapi “Sifat Jism” Allah tidak sama dengan Sifat Jism makhluk”.
Ini sama dengan keyakinan yang mengatakan pernyataan Tuhan punya anak tetapi anak Tuhan tidak seperti anak manusia. Atau Tuhan itu tiga, tapi “tiganya” Tuhan tidak sama dengan “tiganya” makhluk. Sehingga keluarlah pernyataan yang mereka sendiri tidak faham yaitu Tuhan itu tiga tapi satu dan satu tapi tiga.
Na’udzu billah min dzalik, semoga Allah lindungi kita dari keyakinan yang menyesatkan ini.
Bahaya pemahaman seperti ini dapat kita lihat dengan mengetahui Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah?.

Lihat juga:

Bahaya fahaman Mujassimah (3), Allah mempunyai sifat fisik?

Mengapa cara pembahasan Tauhid Rububiyah dalam ajaran Tauhid dibagi 3 justru dapat menjauhkan penganutnya dari makna penting Rububiyah Allah

Hakikat perbedaan ilmu yang bersanad dan ilmu tanpa sanad

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang ditakwil (dipalingkan maknanya) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Wallahu a´alam.

 

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

 

Iklan

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang ditakwil (dipalingkan maknanya) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Setelah kita membahas Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3. Marilah kita sama-sama membahas pula Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang ditakwil (dipalingkan maknanya) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3, sebagaimana yang tertulis dalam website mereka yang dikenal luas.

muslim.or.id

Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17).

Kemudian disebutkan hujjah dan dalil mereka bahwa tauhid rububiyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang adalah QS Az-Zukhruf:87

Surat Az-Zukhruf Ayat 87
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?,

Lihat  video ini menit ke-7, dan ayat Quran pada website muslim.or.id/makna tauhid, (setelah tulisan yang diberi tanda merah).

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

muslim-or-id-rbb

Lihatlah betapa mereka telah mentakwil (memalingkan makna) sebagian Sifat Rububiyah Allah yaitu “Menciptakan manusia” menjadi makna yang lain. Mari kita teliti bersama.
Dalam ayat diatas jelas disebutkan jika orang kafir jahiliyah ditanya “Siapa yang menciptakan mereka?”. mereka jawab “Allah”. Makna yang ditetapkan yang diakui oleh orang kafir jahiliyah dalam ayat tersebut adalah “Allah Menciptakan manusia”. Tetapi mereka telah mentakwil (memalingkan maknanya) menjadi “orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah”, seolah-olah Sifat Rububiyah Allah hanyalah “mencipta manusia”.

Demikian juga firman Allah dalam QS 29 Al Ankabut 61

29:61

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).

 

Dalam ayat diatas jelas disebutkan jika orang kafir jahiliyah ditanya “Siapa yang menciptakan langit dan bumi?”. mereka jawab “Allah”. Makna yang ditetapkan yang diakui oleh orang kafir jahiliyah dalam ayat tersebut adalah “Allah Menciptakan langit dan bumi”. Tetapi mereka telah mentakwil (memalingkan maknanya) menjadi “orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah”, seolah-olah Sifat Rububiyah Allah hanyalah “mencipta langit dan bumi”.  Padahal banyak Sifat Rububiyah Allah yang lain yang tidak diakui oleh orang kafir Jahiliyah.

Anehnya lagi dalam Tauhid Asma Wa Sifat, mereka amat teguh mempertahankan makna asli Asma dan Sifat Allah bahkan untuk ayat Mutasyabihat pun difahami dan ditetapkan dengan makna zahirnya, seperti Sifat istawa di atas arasy. Pantang mereka mentakwilnya. (lihat Anomali Tauhid Asma Wa Sifat yang memahami sifat Allah sesuai lafaz zahir Asma dan Sifat Allah, kecuali Sifat Rububiyah)

rumaysho.com

Rumaysho_org_musy_mengakui_Tau_Rub_box

Dalam website  rumaysho.com/3637 disebutkan dalil dan hujjah bahwa orang musyrik mengakui tauhid rububiyah adalah QS Al Mukminun; 84-89:

 

23:84
Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”
23:85

Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”

23:86

Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?”

23:87

Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”

23:88

Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”

23:89
Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?

 

Dalam QS Al Mukminun: 84-89 Sifat Allah yang ditetapkan – ketika orang kafir jahiliyah ditanya dengan pertanyaan tentang Sifat Allah – adalah sebagai berikut:

– Siapa Pemilik bumi dan seisinya
– Siapa Robb dari 7 langit dan Robb bagi Arasy yang besar
– Siapa Yang berkuasa atas segala sesuatu, sehingga tidak ada yang dapat berlindung dari-Nya
, kemudian mereka (orang kafir jahiliyah) menjawab “Allah”.
Perhatikan dengan teliti, pada pengakuan orang kafir dengan kata Robb, yang ditanya bukanlah Robb bagi mereka, tetapi Robb bagi 7 langit dan Robb bagi Arasy yang besar.
Sebagian Sifat Rububiyah Allah itu dengan mudahnya mereka takwil (palingkan maknanya) menjadi orang musyrik mengakui tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, pengatur alam semesta, dan penguasa jagad raya.
Seolah-olah hanya itu saja Sifat Rububiyah Allah. Padahal banyak Sifat Rububiyah Allah yang ditolak oleh orang musyrik. (lihat Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3. )

almanhaj.or.id

Dalam almanhaj.or.id/1978-tauhid-rububiyah-dan-pengakuan-orang-orang-musyrik-terhadapnya mereka juga menggunakan dalil QS Al Mukminun: 86-89. Lihat box merah dan box biru di snapshot di bawah.

Allah menciptakan seluruh makhluk-Nya di atas fitrah pengakuan terhadap Rububiyyah-Nya. Bahkan orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dalam ibadah pun mengakui keesaan dan sifat Rububiyyah-Nya.

 

mhj_rbb_1_box

“Double Standard” ajaran Tauhid dibagi 3

Dari beberapa bukti di atas maka dapat disimpulkan bahwa pernyataan bahwa “orang musyrik mengakui Tauhid Rububiyah” adalah hasil mentakwil (memalingkan makna) dan menta’thil sebahagian Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang disebut dalam Al Qur’an yang makna zahirnya diyakini oleh orang kafir/musyrik. Ini juga bukti bahwa kaidah Tauhid dibagi 3 mempunyai “Double Standard” atau “Standar Ganda” yaitu:

 

Standard dalam Tauhid Rububiyah: mentakwil dan menta’thil Sifat Rububiyah Allah sehingga dapat membuat pernyataan “orang musyrik mengakui Tauhid Rububiyah”.

Sedang Standard Tauhid Asma wa Sifat: menetapkan nama bagi Allah sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dalam kitab-Nya dan ditetapkan oleh Rasul-Nya melalui lisannya, tanpa melakukan tahrif (takwil) dan ta’thil serta tanpa melakukan takyif dan tamtsil.

Mari kita teliti bersama (lihat juga video ini)

muslim.or.id

Lihat muslim.or.id/makna tauhid

Sedangkan Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif, tanpa ta’thil dan tanpa takyif.

Mereka amat teguh mempertahankan makna asli Asma dan Sifat Allah bahkan makna zahirnya, seperti Sifat istawa di atas arasy. Pantang mereka mentakwilnya dengan makna yang lain seperti “Menguasai”.

istawa_kuasa

rumaysho.com

Lihat rumaysho.com/908-di-manakah-allah-1

Mereka katakan hasil dari penelitian dan penyimpulan Al Qur’an dan As Sunnah, mereka mengatakan bahwa i’tiqod yang mesti diyakini seorang muslim adalah sebagai berikut.

Pertama: Hendaklah seseorang menetapkan nama bagi Allah sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dalam kitab-Nya dan ditetapkan oleh Rasul-Nya melalui lisannya.

Kedua: Penetapan nama dan sifat Allah di sini tanpa melakukan tahrif dan ta’thil serta tanpa melakukan takyif dan tamtsil.

 

Rumaysho_org_asma-wa-sifat

almanhaj.or.id

Lihat almanhaj.or.id/3263-tauhid-al-asma-wash-shifat-kaidah-tentang-sifat-sifat-allah-jalla-jalaluhu-menurut-ahlus-sunnah

Ahlus Sunnah menetapkan apa-apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tetapkan atas Diri-Nya, baik itu dengan Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mensucikan-Nya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita wajib menetapkan Nama dan Sifat Allah sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah, dan tidak boleh ditakwil.

 

Manhaj-or-id_asma_tanpa_takwil

Semoga Allah melindungi kita dari fitnah dan kekeliruan ajaran Tauhid dibagi 3 ini.

Lihat juga:

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Perbedaan mengakui Allah Yang Memberi Rezeki dengan dan tanpa mengaitkan dengan Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Perbedaan memahami Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan dengan dan tanpa Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Allah sebagai Maha Pencipta manusia di mata orang beriman dan orang musyrikin

Perbedaan pemahaman orang beriman dan orang kafir terhadap Allah sebagai Pencipta langit dan bumi

Hakikat perbedaan ilmu yang bersanad dan ilmu tanpa sanad

Wallahu a´lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Hakikat perbedaan ilmu yang bersanad dan ilmu tanpa sanad

Ajaran Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah berbeda jauh dari ajaran Tauhid dibagi 3 dalam banyak hal, yang mengakibatkan sikap dan pandangan ulama dan pengikutnya jauh berbeda. Lihat:

Penjelasan kekeliruan ajaran membagi Tauhid menjadi 3 (Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa Sifat).

Perbedaan memahami Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan dengan dan tanpa Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Benarkah mengatakan mari kembali kepada Qur´an dan Sunnah mendekatkan orang kepada Qur´an dan Sunnah?

Mengapa cara pembahasan Tauhid Rububiyah dalam ajaran Tauhid dibagi 3 justru dapat menjauhkan penganutnya dari makna penting Rububiyah Allah

Demikian juga dalam mengambil ilmu agama. Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah sangat mementingkan sanad dari mana ilmu itu didapat.

Jauh berbeda dari Ulama Tauhid dibagi 3 yang mengatakan bahwa ilmu sudah tertulis lengkap dari zaman salaf. Sanad hanya diperlukan di zaman salaf ketika menyampaikan Hadits. Katanya ilmu pengetahuan sudah berkembang sudah tertulis dalam buku. Jadi dengan membaca Kitab induk itu sudah cukup, tidak perlu pakai sanad yang sambung menyambung hingga ke penulis Kitabnya. Lihat video dibawah ini.

Berikut kami sampaikan beberapa perbedaan yang sangat ketara antara ilmu yang diperoleh dengan sanad yang bersambung melalui guru ke guru sampai kepada Shahabat radhiallahu anhum dan seterusnya kepada Rasulullahi shallallahu alaihi wassalam dibanding dengan ilmu yang diperoleh tanpa sanad.

  1. Perhatikan sebutan terhadap penganut Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya yaitu Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah. Ulama mereka langsung menyebut nama Ulama dari mana mereka menerima ilmu tentang Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu mengikuti kepada manhaj (methode) Imam Abul Hasan Al Asy’ari (wafat 324H) dan Imam Abu Mansur Al Maturidi (wafat 333H). Inilah Ulama yang menyusun secara lengkap susunan kaidah memahami Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah untuk menghadapi fitnah Aqidah ketika itu untuk mempertahankan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya. Mereka berdua memperoleh ilmu Aqidah itu dari guru-guru mereka yang bersambung hingga Shahabat radhiallahu anhum dan seterusnya kepada Rasulullahi shallallahu alaihi wassalam. Kemudian diteruskan oleh murid-muridnya secara sambung menyambung tanpa putus hingga sampai kepada kita.
    Demikian juga dengan ilmu Fiqih, Ahlussunnah wal Jamaah mengikuti salah satu dari Imam Mazhab yang 4, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafei dan Imam Ahmad bin Hanbal.
    Bagaimana dengan ajaran Tauhid dibagi tiga? Mereka tidak mau menyebut nama ulama yang pertama mengajarkan ajaran Aqidahnya pada nama fahamannya. Tetapi mereka langsung mengaku mengikuti ikut Quran dan Sunnah. Tapi tahukah anda, bahwa kalimat ini tidak lengkap, seharusnya mereka menyebut mengikuti Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Ulama yang mereka ikuti itu, yaitu Ibnu Taimiyah (wafat 728H) dan yang mempopulerkannya yaitu Muhammad bin Abdul Wahab (wafat 1110H) . Oleh sebab itu Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah mengatakan golongan ini dengan golongan Wahabi. Nama ini dahulu diakui oleh mereka sendiri dengan bangganya, namun karena nama ini sudah “tidak laku” di Indonesia, mereka ganti dengan Salafi atau dakwah Sunnah.
    Demikian juga dengan ilmu Fiqih, kaum Tauhid dibagi 3  selalu mengatakan ikut Quran dan Sunnah, tidak mau menyebut bahwa mereka mengikuti satu dari Imam Mazhab yang empat.

  2. Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah sangat mementingkan sanad ilmu, sebab mereka berkeyakinan ilmu agama itu ada dalam diri manusia yaitu pada hati dan akhlak para Ulama. Sedang Kitab adalah hanya catatan ilmu dari hati para Ulama, yang untuk memahaminya kita perlu kenal Ulama itu, agar pemahaman kita dalam membaca Kitab itu sama dengan yang difahami oleh Ulama yang menulisnya. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mengisyaratkan bahwa ilmu para Nabi memang diwariskan pada Ulama sebagaimana disebut dalam hadits berikut:

     العلماء ورثة الأنبياء 

    Ulama adalah pewaris Nabi

    Kemudian hadits berikut lebih menegaskan lagi bahwa ilmu ada pada ulama

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ الله لا يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعَاً يَنْتَزِعُهُ من العِبادِ ولَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حتَّى إذا لَمْ يُبْقِ عَالِمٌ اتَّخَذَ الناس رؤسَاً جُهَّالاً ، فَسُئِلوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا-البخاري

    Telah bersabda Rasulullahi shallallahu alaihi wassalam: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh. Kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [Al-Bukhari (100, 7307); Muslim (2673)]

    Itu sebabnya duduk dan bertemu bersama Ulama adalah media belajar dan menimba ilmu yang utama, selain membaca Kitabnya. Dengan bertemu, melihat dan duduk bersama Ulama, kita akan dapat melihat tauladan, merasakan suasana bersama Ulama yang tidak dapat diperoleh kecuali dengan bertemu dan duduk bersama Ulama. Bukankah seorang muslim yang bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan wafatnya dalam keadaan muslim mendapat gelar yang tidak diperoleh oleh muslim lain yaitu Shahabat radhiallahu anhum.
    Ulama yang Ilmunya bersanad, akan selalu bercerita kepada muridnya tentang gurunya. Bahkan Ulama itu sangat ingin agar murid menjumpai gurunya itu, agar muridnya itu memperoleh ilmu dan berkat sebagaimana yang diperoleh oleh Ulama itu. Demikianlah sikap para Ulama yang ilmunya bersanad.
    Bukankah doa yang selalu kita baca dalam Surat Al Fatihah, adalah meminta ditunjukkan oleh Allah, jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat. Nikmat yang dimaksud adalah tentu nikmat Iman dan Islam. Orang yang telah diberi nikmat itulah para guru dan Ulama, yang belajar dari gurunya yang belajar dari gurunya yang sambung menyambung tanpa putus hingga sampai kepada Sahabat dan seterusnya sampai kepada Rasulullah shallallahu alaih wassalam, puncak pimpinan dari golongan orang yang telah diberi nikmat Iman dan Islam oleh Allah.

    Itu pula sebabnya murid-murid sangat hormat pada gurunya, karena memuliakan ilmu warisan Rasulullah shallallahu alaih wassalam yang ada pada diri guru itu. Mereka sangat berterima kasih dan mendatangi gurunya ketika beliau masih hidup maupun sudah wafat dengan menziarahi makamnya. Murid-murid itu juga menziarahi makam Ulama-Ulama terdahulu yaitu guru dari guru mereka, karena begitulah gurunya memberi contoh kepada mereka. Menziarahi dengan tujuan selain untuk mengingati mati, juga untuk mendoakan, mengingati jasa dan untuk lebih mengenal pribadi Ulama itu untuk dapat mengikuti jejak para Ulama itu. Itu pula sebabnya pengikut Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah menjaga peninggalan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan para Ulamanya agar kita dapat mengenal pribadi, mencintai dan mengikuti jejak para pendahulu mereka. Kita selalu melihat bagaimana para murid menghadiahkan bacaan Al-Fatihah kepada guru-guru mereka, sebagai tanda terima kasih atas jasa para guru, dan berdoa kepada Allah seperti apa yang diminta dalam surat Al Fatihah agar ditunjukkan jalan seperti guru-guru mereka yang telah mendapatkan nikmat Iman dan Islam.

    Berbeda jauh dari golongan Tauhid dibagi 3 yang justru menghilangkan jejak dan peninggalan mereka itu, bahkan peninggalan Rasulullahu shallallahu alaihi wassalam –pun dihancurkan oleh mereka. Mereka merasa tidak perlu mengenal gurunya lebih dekat sebab ilmu agama menurut mereka ada pada Kitab tanpa perlu guru yang bersanad (lihat video di atas).

  3. Salah satu sebab pentingnya belajar bersanad adalah untuk memastikan bahwa ilmu yang disampaikan dan diterima dari Ulama dari satu generasi ke Ulama di generasi berikutnya adalah sama sebagaimana ilmu itu diterimanya dari Ulama di generasi sebelumnya. Hal ini sangat penting, sebab cara penyampaian seperti ini menjamin kebenaran pemahaman ilmu yang diwariskan.
    Sedang ilmu yang disampaikan dengan hanya membaca Kitab dari Ulama Salaf tanpa sanad ilmu, sangat memungkinkan ilmu yang diterima sudah dimasukkan oleh pemahaman dari dirinya sendiri dan terpengaruh hawa nafsunya. Belum lagi kalau Kitab itu sudah dipalsukan textnya, sebagaimana yang terjadi pada Kitab-Kitab Ulama Muktabar, Atau diberi catatan kaki yang menyesatkan yang sama sekali tidak jelas sanad asalnya. Bahkan catatan kaki yang menyesatkan ini juga ada pada Kitab terjemah Al Qur’an.

Dengan 3 point ini saja kita dapat melihat pentingnya sanad ilmu dan bagaimana akibatnya kalau belajar agama tanpa sanad.

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Mengapa cara pembahasan Tauhid Rububiyah dalam ajaran Tauhid dibagi 3 justru dapat menjauhkan penganutnya dari makna penting Rububiyah Allah

Tauhid Rububiyah dalam ajaran Tauhid dibagi 3 didefinisikan dengan mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi. (lihat muslim.or.id/6615-makna-tauhid).
Fokus dari definisi ini adalah bersandar pada ayat Quran tentang pengakuan orang kafir terhadap sebagian kecil Rububiyah Allah (lihat  Orang kafir mengakui adanya Allah bukan sebagai Robb mereka). Kemudian dengan definisi yang sempit itu muncul pula kesimpulan yang sempit yaitu orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah.

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

Definisi seperti ini sebenarnya telah memalingkan (mentakwil) makna penting Rububiyah Allah, yang akar katanya sama dengan kata Robb (Tuhan Yang Memelihara), Murobbi (Pendidik akhlak) dan Robbayani (dalam do’a untuk orang tua kita), yang bermakna memelihara/mendidik yang sangat erat kaitannya dengan sifat rahmat (kasih sayang). Dan kasih sayang adalah Sifat Utama dari Maha Memelihara/Mendidik. Lihat

Tauhid Rububiyah dalam ajaran 3 Tauhid melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri

Sifat Rahmat (Kasih Sayang) adalah Sifat Utama Rububiyah Allah

Mengapa Sifat Rahmat sangat penting dalam Sifat Rububiyah dan Uluhiyah Allah

Dikatakan dalam definisi di atas bahwa Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah. Kejadian penting apakah yang hanya dapat dilakukan oleh Allah kepada kita hambaNya? Sebelum kita jawab pertanyan ini mari kita bertanya kepada diri kita, nikmat apakah yang terbesar yang Allah berikan kepada kita?

Kita sudah mengetahui bahwa nikmat Allah yang terbesar yang diberikan kepada kita adalah Iman. Sesuai dengan doa yang selalu kita baca dalam Surat Al Fatihah yaitu:

Al-Fatiah Ayat 6
Tunjukilah kami jalan yang lurus,
Al-Fatiah Ayat 7
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

 

Sesuai definisi Tauhid Rububiyah di atas, maka hanya Allah yang dapat memberikan nikmat ini. Hanya Allah yang dapat membuat kejadian ini terjadi. Nikmat yang besar ini kita dapatkan karena rahmat Allah. Bagaimana Allah melimpahkan rahmatNya kepada seluruh makhlukNya?

Jawabnya adalah dengan Mengutus Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Allah berfirman:

Firman Allah dalam QS Al Anbiya 107

21:107
Dan tiadalah Kami mengutus mu (Rasulullah), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

 

Firman Allah dalam QS Al Ahzab:21
Surat Al Ahzab Ayat 21
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

 

Itu sebabnya tidak dapat disebut beriman, kecuali kita mencintai Rasulullah shallalahu alaihi wassalam melebihi orang lain termasuk diri kita sendiri.
Kalau kita mengikuti definisi Tauhid Rububiyah di atas, maka semestinya pembahasan Sifat Rububiyah Allah adalah yang terpenting dan utama yaitu diutusnya Rasulullah shallalahu alaihi wassalam. Dengan sebab beliaulah kita semua mendapatkan rahmat Allah, dengan sebab rahmat Allah itulah kita mendapat hidayah, dengan sebab hidayah Allah kita mengenal Islam dan Iman. Sifat Rahmat atau Sifat Utama Rububiyah ini tak diakui oleh orang kafir, bahkan orang kafir berputus asa terhadap rahmat Allah.
Fokus pengakuan kita kepada Tauhid Rububiyah semestinya adalah kepada Sifat Rububiyah Allah yang utama ini. Siapakah yang mampu menciptakan dan mengutus Rasulullah shallalahu alaihi wassalam – manusia yang paling mulia – kalau bukan Allah?

Sebagaimana makna Rububiyah, Allah Memelihara dan Mendidik manusia dengan Sifat Utama RububiyahNya adalah Kasih Sayang. Allah ciptakan manusia untuk beribadah kepadaNya dan menjadi khalifah di muka bumi. Selama hidupnya manusia akan berbuat dosa, kecuali Nabi dan Rasul, karena mereka ma’shum, terpelihara dari dosa. Siapakah Yang Memelihara mereka dari dosa kalau bukan Allah?
Setelah mati di dunia manusia yang mukallaf harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya. Siapakah yang dapat mengampunkan dosa manusia selain Allah?
Di antara manusia itu akan diampunkan oleh Allah adalah atas syafa’at dari para Nabi dan Rasul khususnya Rasulullah shallalahu alaihi wassalam. Siapakah yang mengizinkan memberikan syafa’at kalau bukan Allah?
Akhirnya manusia yang mendapat syafa’at dan ampunan dimasukan ke syurga karena Rahmat Allah.
Inilah bukti bahwa Sifat Utama Rububiyah Allah adalah Rahmat Allah.

Disini kita lihat perbedaan yang menyolok karena fokus pembahasan Rububiyah yang berbeda. Dalam Tauhid dibagi 3 fokus Rububiyah Allah yang dibahas adalah sebagian kecil Rububiyah yang di dalam Quran disebutkan jika orang kafir ditanya, mereka menjawab “Allah”.
Sedang bagi Ahlussunnah wal Jamaah fokus Rububiyah (Pemeliharaan) Allah terhadap makhlukNya adalah makna penting Rububiyah itu sendiri yakni Memelihara dengan Sifat Rahmat (Kasih Sayang) Allah yang menjadi fokusnya, dan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam adalah perwujudan dari Kasih Sayang Allah. Maka akibat fokus pembahasan berbeda maka sikap dan pandanganpun jauh berbeda. Mari kita bahas satu dua contoh sebagai berikut:

1. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam adalah rahmat bagi kita semua termasuk alam semesta keseluruhannya. Maka beradab dan sikap ta’zhim kepada beliaushallallahu alaihi wassalam dan Ulama pewaris beliau adalah suatu keharusan, agar kita dapat limpahan rahmat Allah dan sekaligus meneruskan rahmat Allah yang kita peroleh kepada makhluk Allah yang lain. Maka banyak amalan yang dibuat oleh Ulama Ahlussunnah wal Jamaah banyak dikaitkan untuk lebih mengenal Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, Ini sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wassalam ajarilah anakmu 3 perkara:
1. Cinta kepada Nabimu (Rasulullah shallallahu alaihi wassalam)
2. Cinta kepada keluarga Nabimu
3. Membaca Al Qur’an
Hadits ini menekankan bahwa mengajar anak untuk mencintai Nabi adalah yang paling utama. Ini bukan berarti mengajarkan Al Quran tidak penting, melainkan kalau kita tahu bahwa mengajarkan Al Quran itu sangat penting, maka mengajarkan mencintai Nabi dan keluarganya adalah lebih penting. Mengapa?
Kita tentu pernah mendengar tentang golongan Khawarij. Diceritakan golongan ini adalah penghafal Al Qur’an, ibadah sholat dan puasanya luar biasa, termasuk diantara mereka adalah Abdurrahman ibn Muljam pembunuh Sayidina Ali karamallahu wajhahu. Sayidina Ali adalah termasuk 10 Shahabat yang dijanjikan Syurga, Khalifah dan termasuk keluarga terdekat Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, yang disebut oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bahwa beliau adalah pintunya ilmu, maksudnya tentulah ilmu Al Qur’an yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Sudah tentu beliau adalah Ulama. Pewaris ilmu dari Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Ini juga bukti bahwa ilmu Al Qur’an bukan pada buku, tetapi ada pada diri Ulama pewaris Nabi. Salah satu ciri Ulama pewaris Nabi adalah mengenal dan mencintai Nabi dan keluarga Nabi, karena itu mereka mengenal Al Qur’an dengan benar. Ciri-ciri yang ketara dari Ulama pewaris Nabi adalah mempunyai sifat kasih sayang yang besar sebagaimana Nabi dan keluarganya.
Orang Khawarij hafal lafaz Qur’an saja tetapi tidak mengenal nilai Al Qur’an sebab tak mengenal dan mencintai Nabi dan keluarga Nabi, hingga hilang sifat kasih sayang pada dirinya.

Mereka tidak memahami Al Qur’an sebagaimana Rasulullah, keluarganya dan Shahabatnya memahami. Mengapa?
Jawabnya adalah karena mereka tidak kenal Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dengan sebenarnya, sebab itu pula mereka tidak cinta kepada Rasulullah dengan sebagaimana para Shahabat mencintai Rasulullah. Jadi disini bertambah Jelas bahwa mencintai Nabi shallallahu alaihi wassalam dan keluarganya adalah satu-satunya jalan untuk memahami Al Qur’an, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Ulama pewaris Nabi sangat memahami dan menghayati Al Qur’an, karena mereka mengenal Nabi dan keluarganya shallallahu alaihi wa alihi wassalam.

Itulah sebabnya Shahabat mengajarkan kepada anak-anaknya tentang sirah Nabi shallallahu alaihi wassalam sebagaimana mengajarkan membaca Al-Qur’an,

Sayidina Abu Bakar Siddiq radhiallahu anhu berkata: menyambungkan silaturahmi kepada kerabat Rasulullah shallallahu alaihi wassalam lebih aku sukai dari pada menyambungkan silaturahmi kepada keluargaku.
Maksudnya kalau dengan keluarga sendiri saja silaturahmi tidak boleh putus, apalagi terhadap keluarga Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.
Para ulama telah mengajarkan bagaimana cara mengenal dan mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wassalam di antaranya
– dengan menghafal nama-nama keluarga nabi shallallahu alaihi wassalam.
– silaturahmi dengan keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam (para Habaib).
– membaca maulid yang berisi puji-pujian dan sirah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam secara teratur.
Begitulah para ulama mengajarkan bagaimana mengenal dan mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.

Hassan bin Tsabit radhiallahu anhu selalu memuji Rasul saw didalam masjid Nabawi, maka ketika ia sedang asyik bernasyid (nasyid, syair, qasidah, sama saja dalam bahasa arab yaitu puji-pujian pada Allah dan Rasul saw), ia sedang melantunkan syair puji-pujian pada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.

Tiba-tiba Umar ra mendelikkan matanya kepada Hassan, maka berkatalah Hassan bin tsabit ra : Aku sudah memuji beliau (saw) ditempat ini (masjid) dan saat itu ada yang lebih mulia dari engkau (Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melihatnya dan tidak melarang).

Bandingkan dengan Ulama Tauhid dibagi 3 yang telah mengatakan memperingati maulid Nabi itu bid’ah.

– menziarahi makam Rasulullah shallallahu alaihi wassalam di Mesjid Nabawi. Para Ulama bahkan mengatakan, kalau kita ziarah ke sana, adalah seolah-olah kita memang mengunjungi bertamu ke rumah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Sesuai firman Allah dalam QS Ali Imran: 169

Surat Ali Imran Ayat 169

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.

 

Di zaman kerajaan Usmaniyah, pegawai yang bekerja di sekitar “rumah” Rasulullah shallallahu alaihi wassalam diharuskan hafiz Qur’an dan orang yang mengenal adab, sehingga ketika berada di dekat “rumah” Rasulullah shallallahu alaihi wassalam benar-benar menjaga adab, tidak berkata dan berbuat yang tidak layak.

Bandingkan dengan Ulama Tauhid dibagi 3 telah mengharamkan ziarah makam Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, dikatakannya kalau datang ke Madinah, ziarahilah mesjid Nabawi saja.

2. Ketika Rasulullah telah wafat, para Shahabat mengenalkan Nabi kepada anak-anak mereka adalah dengan menunjukkan bekas dan jejak Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Para Shahabat menceritakan sirah Nabi sehingga anak-anak Shahabat itu mendatangi tukang masak Rasulullah. Kemudian anak-anak itu meminta dibuatkan makanan sebagaimana dahulu tukang masak itu memasak untuk Rasulullah shallallahu alaihi wassalam agar bertambah cintanya kepadanya.
Ketika Sultan Muhammad Al Fatih membuka Konstantinopel (Istanbul), diantara yang pertama dilakukan yang menunjukkan kecintaan dan rasa ta´zhim beliau kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam adalah mencari makam Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam Sayidina Abu Ayyub Al Anshori yang syahid di depan benteng. Makam yang telah hilang lebih 700 tahun akhirnya ditemukan melalui mimpi dari guru Mursyid dari Sultan yaitu Ak Syamsudin. Begitu makam itu ditemukan, beliau perintahkan untuk memelihara makam, dengan membangun atap di atas makam, dan mesjid di sebelah makam yang dinamakan Mesjib Ayub Sultan untuk kemudahan peziarah dari jauh jika hendak sholat fardhu ataupun sunat.

Bandingkan dengan suatu kerajaan yang baru menguasai Hejaz di awal abad 20. Diantara perkara yang pertama dilakukannya adalah menghancurkan makam Shahabat dan menghilangkan jejak peninggalan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan Shahabat, termasuk tempat bekas rumah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan Siti Khadijah.

Lihat juga

Hakikat perbedaan ilmu yang bersanad dan ilmu tanpa sanad

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang ditakwil (dipalingkan maknanya) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

 

 

 

 

Bahaya fahaman Mujassimah (4), Allah ada di atas?

Setelah kita membahas:

Bahaya fahaman Mujassimah (1); Allah ada di comberan?

Bahaya fahaman Mujassimah (2); Allah ada di luar alam?

Bahaya fahaman Mujassimah (3), Allah mempunyai sifat fisik?

Kali ini kita bahas Video seorang Ustad yang berfaham Mujassimah yang konon ingin mengenalkan lebih dekat Aqidah Asy’ariyah dengan maksud ingin menunjukkan kekeliruannya. Namun karena beliau sebenarnya tidak faham Aqidah Asy’ariyah/Maturidiyah, maka yang terjadi adalah sebaliknya, beliau justru menerangkan hakikat fahaman Mujassimah dalam ajaran yang membagi Tauhid menjadi 3.
Aqidah Asy’ariyah/Maturidiyah adalah Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya yang dianut oleh mayoritas umat Islam dari dahulu hingga sekarang.

Beliau mengatakan bahwa Allah berada di atas dengan makna zahirnya, Lihat video dibawah pada menit 11:50 hingga 13:00

 

Bahkan beliau menyindir pemahaman Aqidah Asy’ariyah dengan mengatakan:

“Saya tidak pernah mendengar mereka berkata kita serahkan kepada yang ada dimana-mana. Saya tidak pernah mendengar kita serahkan kepada yang tidak di atas dan yang tidak dibawah.”

Secara tidak sadar pernyataan telah menjelaskan fahaman Mujassimahnya itu. Kaum Mujassimah jika mendengar ayat atau hadits yang menyatakan Sifat Allah yang berkaitan dengan tempat, mereka langsung memahaminya dengan makna zahirnya. Karena mereka memahami Dzat Allah itu berjisim (bertubuh/ fisik/ benda), maka yang mereka fahami dari pernyataan “Allah ada dimana-mana”, adalah jisim Dzat Allah ada di mana-mana. Padahal yang dimaksud bukanlah Dzat Allah berada dimana-mana, melainkan tanda-tanda Sifat Keagungan Allah ada di mana-mana.

Demikian juga mereka tidak faham pernyataan “Allah tidaklah berada di atas dan tidak pula di bawah”. Kaum Mujassimah tidak dapat memahami bahwa Dzat Allah bukan jisim. Karena Dzat Allah bukan jisim maka Allah tidak memiliki sifat jisim. Sifat jisim hanya ada pada makhluk. Jisim memerlukan tempat/ruang.
Makna zahir “di atas” dapat dikatakan “di atas” karena ada jism lain yang berada di bawahnya. Sifat jisim berada di atas ini pun hanya dapat dikatakan oleh jisim lain yang berada di bawahnya. Jadi makna zahir di atas tergantung dari sesuatu yang berada di bawahnya. Kalau tidak ada sesuatupun di bawah benda itu, maka tidak dapat dikatakan benda itu berada di atas.
Jadi Mustahil Allah “di atas” difahami dengan makna zahirnya, karena Allah bukan jisim yang tergantung pada yang lain.

(lihat juga Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah )

Kaum Mujassimah benar-benar memahami Ayat Quran yang Mutasyabihat dengan makna zahirnya, tanpa takwil dan tanpa takwil. Karena begitulah kaidah Tauhid Asma wa Sifat dalam Tauhid dibagi 3. Namun anehnya ketika membahas Tauhid Rububiyah mereka justru melanggar kaidah ini, karena banyak Sifat Allah yang ditakwil dan di ta’thil (lihat Bagaimana menjelaskan konflik antara kaidah Tauhid Rububiyah dan kaidah Tauhid Asma wa Sifat dalam ajaran Tauhid dibagi 3 dengan kaidahnya sendiri). Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah telah menjelaskan Bagaimana memahami ayat-ayat Mutasyabihat.

Makna Allah di atas yang disebut di dalam hadits jariyah yang sering mereka sebutkan, sebenarnya bukanlah makna zahirnya. Kalau kita ingin membahas makna di atas maka kita perlu takwil (mengalihkan makna) dari makna zahir hadits yang Mutasyabihat (samar) kepada makna yang pasti yang pada Ayat Muhkamat (yang jelas maknanya).

Untuk memudahkan kita faham makna “di atas” bukan dengan makna zahir, kita uraikan sebagai berikut. Kalau kita melihat ada orang berkuasa, kita yakin pasti ada orang lain yang “di atasnya” yang lebih berkuasa dari pada orang itu. “Di atas” orang inipun pasti ada orang lain lagi yang lebih berkuasa. Dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya “Yang mengatasi” semua makhluk ini adalah Allah yang Maha Berkuasa. Kalau orang yang berkuasa memerlukan ada orang lain atau benda yang dikuasainya, sedang Allah tidak memerlukan makhluk yang dikuasaiNya. Allah tetap Maha Kuasa dan Kuasa Allah sama sekali tidak bertambah dan berkurang baik ketika makhluk itu belum, setelah diciptakan, maupun jika ditiadakan kembali. Ini sesuai dengan Firman Allah di QS Al Baqarah:20

 

Surat Al-Baqarah Ayat 20
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

 

Kalau kita melihat ada orang kaya, tentu kita yakin pasti ada orang yang “di atas”nya yang lebih kaya dari pada orang itu. “Di atas” orang inipun pasti ada orang lain lagi yang lebih kaya. Dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya “Yang mengatasi” semua makhluk ini adalah Allah yang Maha Kaya. Kalau orang yang kaya memerlukan adanya orang lain atau benda yang menjadi kekayaannya, sedang Allah tidak memerlukan makhluk yang dimilikiNya. Bahkan kekayaan Allah sama sekali tidak bertambah dan berkurang baik ketika makhluk itu belum atau setelah diciptakan, maupun jika ditiadakan kembali. Ini sesuai dengan Firman Allah di QS Al Ankabut:6

Surat Al 'Ankabut Ayat 6

Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Demikian juga kalau kita melihat ada orang yang berilmu, tentu kita yakin pasti ada orang lain yang “di atas”nya yang lebih banyak ilmunya dari pada orang itu. “Di atas” orang inipun pasti ada orang lain lagi yang lebih berilmu. Dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya “Yang mengatasi” semua makhluk ini adalah Allah yang Maha Berilmu (Mengetahui). Kalau orang yang berilmu dikatakan berilmu karena ada orang lain yang lebih sedikit ilmunya dari dirinya. Artinya orang berilmu itu memerlukan adanya orang lain yang lebih bodoh darinya, sedang Allah tidak memerlukan makhluk. Allah tetap disebut Maha Mengetahui, IlmuNya sama sekali tidak bertambah dan tidak berkurang baik ketika makhluk itu belum atau setelah diciptakan, maupun jika ditiadakan kembali. Ini sesuai dengan Firman Allah di QS Al Hasyr:22

 

Surat Al-Hasyr Ayat 22

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 

Mengapa kita menengadahkan tangan ke atas ketika berdoa?

Tangan kita menengadah ke atas ketika berdoa adalah memang fitrah. Menurut Ahlussunnah Wal Jama´ah Asy´ariyyah/Maturidiyah bukanlah berarti Dzat Allah berada di atas seperti yang difahami oleh ulama Tauhid 3 serangkai, melainkan difahami bahwa kiblat berdoa kita adalah ke atas. Ini menunjukan hinanya kita sebagai hamba Allah yang lemah dan Maha Agung dan MuliaNya Allah sebagai Tuhan Maha Pencipta.

Mengapa kita perlu kiblat (arah) dalam beribadah kepada Allah? Sebab kita ini makhluk Allah yang terikat tempat dan waktu. Karena kita terikat tempat maka kita mempunyai 6 arah mata angin utama (atas, bawah, depan, belakang, kiri dan kanan). Allah adalah Khaliq yang tidak serupa dengan makhluk dan tidak bergantung pada makhluk. Allah Wujud tanpa memerlukan dan terikat dengan waktu dan tempat. Waktu dan tempat adalah makhluk Allah.

Dalam ibadah berdoa arah kiblat kita adalah ke atas, dalam ibadah sholat arah kiblat kita adalah Ka´bah. Oleh sebab itu ketika kita berdoa berjama´ah kita duduk atau berdiri melingkar sambil menengadahkan tangan ke atas, karena kiblat berdoa adalah ke atas, tapi bukan berarti Dzat Allah berada di atas. Demikian juga ketika kita sholat berjamaah, kita berdiri berbaris bershaf-shaf untuk sama-sama menghadap kiblat sholat yaitu Ka´bah di Mekkah, tetapi bukan berarti Dzat Allah berada di dalam Ka´bah.

Jadi kalau kita memahami Sifat Salbiyah yang kita pelajari dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah, adalah sangat jelas dan “smart” dalam memahami Sifat-Sifat Allah yang indah itu (Asmaul Husna). Sangat rugi mereka yang tidak dikenalkan dengan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah, apalagi jika mereka justru menganggap remeh ajaran Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah. Mereka menjadi tidak kenal dengan Ulama-ulama Ahlussunnah wal Jamaah dan tidak mengenal betapa hebat Ulama-Ulama itu. Mereka jadi tidak dapat mensyukuri jasa Ulama yang membawa Islam sehingga sampai kepada kita.

Kalau mereka tidak kenal Ulama yang bersambung ilmunya kepada Ulama Salaf dan seterusnya para Shahabat radhiallahu anhum dan seterusnya Rasulullah shallallahu alaih wassalam, bagaimana mereka dapat kenal kepada Rasulullah?

Allah menyuruh kita berdoa agar terlindung dari fitnah orang yang hatinya condong pada kesesatan karena mengikuti makna zahir Ayat Mutasyabihat (QS Ali Imran:8)

 

Surat Ali Imran Ayat 8
(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

 

Wallahu a´alam.
Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Bagaimana menjelaskan konflik antara kaidah Tauhid Rububiyah dan kaidah Tauhid Asma wa Sifat dalam ajaran Tauhid dibagi 3 dengan kaidahnya sendiri

Dalam ajaran Tauhid dibagi 3, Tauhid terdiri dari

  1. Tauhid Rububiyah
  2. Tauhid Uluhiyah
  3. Tauhid Asma wa Sifat

Ajaran ini menerangkan kaidah-kaidah Tauhid ini dengan urutan yang disebut di atas. Namun kalau kita jeli mendalaminya, sebenarnya ada konflik antara kaidah Tauhid Rububiyah dan kaidah Tauhid As wa Sifat. Kita dapat dengan mudah mengetahui konflik kaidah antara kedua Tauhid ini, jika kita mulai dari memahami kaidah Tauhid Asma wa Sifat dan baru kemudian membahas kaidah Tauhid Rububiyah.

Cara pengajaran Tauhid dibagi 3 dengan urutan seperti di atas telah “membungkus” kejanggalan dan konflik kaidah Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma wa Sifat. Lihat video di bawah ini dan tulisan di muslim.or.id/6615-makna-tauhid. Di situ diterangkan kaidah jenis-jenis Tauhid sesuai urutan pembagian Tauhid di atas.

Berikut ini penjelasan konflik dan kejanggalan kaidah Tauhid dibagi 3 dengan kita membahas kaidah Tauhid Asma wa Sifat terlebih dahulu dan kemudian membahas Tauhid Rububiyah.

istawa_kuasa

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

Kaidah Tauhid Asma wa Sifat

Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif (mengubah), tanpa ta’thil (mengingkari) dan tanpa takyif (bertanya bagaimana) (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul).

Tahrif/Takwil adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna zhahir-nya menjadi makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata ‘istiwa’ yang artinya ‘bersemayam’ dipalingkan menjadi ‘menguasai’.

Ta’thil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat Allah. Sebagaimana sebagian orang yang menolak bahwa Allah berada di atas langit dan mereka berkata Allah berada di mana-mana.

Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah sama sekali tidak serupa dengan makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang mampu menggambarkan hakikat wujudnya. Misalnya sebagian orang berusaha menggambarkan bentuk tangan Allah,bentuk wajah Allah, dan lain-lain.

Adapun penyimpangan lain dalam tauhid asma wa sifat Allah adalah tasybih dan tafwidh.

Kaidah Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi,

Dan perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang.

Pelanggaran Kaidah Tauhid Asma wa Sifat pada pembahasan Tauhid Rububiyah

Mentakwil (memalingkan) Sifat Allah

Contoh Sifat Allah yang ditakwil (dipalingkan maknanya) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah (lihat muslim.or.id/6615-makna-tauhid dan screen shot di atas)

  • QS Az-Zukhruf: 87

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Az Zukhruf: 87)

Di situ jelas ditulis ketika orang kafir ditanya siapakah “Siapa yang menciptakan mereka?”. Orang kafir menjawab: Allah. Sifat yang ditetapkan di situ adalah. Orang kafir mengakui bahwa Allah Menciptakan mereka. Ditakwil (dipalingkan maknanya) menjadi orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah.

  • QS. Al Ankabut 61

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjalankan matahari juga bulan?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Al Ankabut 61)

Di situ jelas ditulis ketika orang kafir ditanya “Siapa yang menciptakan langit dan bumi?”. Orang kafir menjawab: Allah. Sifat yang ditetapkan di situ adalah. Orang kafir mengakui bahwa Allah Menciptakan langit dan bumi. Ditakwil (dipalingkan maknanya) menjadi orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah.

Menta’thil (mengingkari/menolak) Sifat Allah

Banyak Sifat Allah yang dita’thil (diingkari) dalam Tauhid Rububiyah. Telah ditetapkan dalam pembahasan Tauhid Rububiyah, bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah. Padahal banyak Sifat Rububiyah Allah yang disebut dalam Qur’an yang tidak diakui oleh orang kafir. Contoh:

  • QS An Naziat 10-11
Surat An-Nazi´at Ayat 10
(Orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?
Surat An-Nazi´at Ayat 11
Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?”

 

Allah akan menghidupkan manusia di akhirat setelah mematikan mereka di dunia. Orang kafir tidak mengakui. Jadi kalau Sifat ini saja tidak dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah, tentu tidak dapat menyimpulkan bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah.

  • QS Al Ankabut 23
Surat Al 'Ankabut Ayat 23
Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.

Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Maha Pengasih dan Penyayang. Ini adalah Sifat Utama Rububiyah Allah. Rububiyah maknanya Memelihara / Mendidik. Sifat Utama Mendidik adalah Kasih Sayang. SIfat ini tidak diakui oleh orang kafir. Mereka berputus asa terhadap Rahmat (Kasih Sayang) Allah. Jadi kalau Sifat ini tidak dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah, tentu tidak dapat dikatakan  bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah.

Mengapa kaidah Tauhid Rububiyah melanggar kaidah Tauhid Asma wa Sifat? Karena ingin membenarkan pernyataan “orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah” yang mereka tetapkan di awal.

Wallahu a´alam

Baca juga:

Penjelasan kekeliruan ajaran membagi Tauhid menjadi 3 (Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa Sifat).

Tauhid Rububiyah dalam ajaran 3 Tauhid melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang ditakwil (dipalingkan maknanya) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Orang kafir mengakui adanya Allah bukan sebagai Robb mereka

Sifat Rahmat (Kasih Sayang) adalah Sifat Utama Rububiyah Allah

Mengapa Sifat Rahmat sangat penting dalam Sifat Rububiyah dan Uluhiyah Allah

Jika seseorang mengakui Allah sebagai Robb baginya.

Perbedaan memahami Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan dengan dan tanpa Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Allah sebagai Maha Pencipta di mata orang beriman dan orang musyrikin

Al Qur´an membantah bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah

Anomali Tauhid Asma Wa Sifat yang memahami sifat Allah sesuai lafaz zahir Asma dan Sifat Allah, kecuali Sifat Rububiyah

Perbedaan pemahaman orang beriman dan orang kafir terhadap Allah sebagai Pencipta langit dan bumi

Anomali pengikut Tauhid 3 serangkai yang percaya dengan ahlinya kecuali kepada Imam Mazhab

Kekeliruan Tauhid 3 serangkai membawa kepada kerancuan

Sajak Muhasabah Anehnya Tauhid 3 Serangkai

Orang kafir berputus asa terhadap Sifat Utama Rububiyah yakni Rahmat Allah

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Bahaya fahaman Mujassimah (3), Allah mempunyai sifat fisik?

Setelah membahas:

Kali ini kita tidak perlu lagi menerangkan panjang lebar bahwa ajaran Tauhid 3 serangkai itu berfahaman Mujassimah, karena dalam video di atas, ustad berfahaman Mujassimah sudah mengatakan secara eksplisit bahwa Allah mempunyai sifat fisik, Sifat fisik inilah yang disebut Jism atau jasmani.

Jadi adanya video mereka yang mereka buat dan upload di Youtube adalah bukti nyata kepada yang masih ragu bahwa ajaran Aqidah Tauhid 3 serangkai mempunyai fahaman Mujassimah.

Dalam video di atas (kita-kira di menit ke 4:30) jelas disebutkan bahwa Allah mempunyai sifat fisik (jisim) seperti telapak kaki, tangan, kaki, mata dan wajah. Bahkan disebutkan juga perbuatan “fisik” Allah ini yaitu

  • Allah meletakkan telapak kakiNya ke dalam neraka yang membuat neraka mengkerut.
  • Allah menggenggam langit dan bumi pada hari kiamat dengan telapak tangan kananNya.
  • Allah turun ke bumi untuk melimpahkan rahmat dan mengabulkan doa.

Secara dalil Aqli ini jelas Mustahil, sebab Allah itu Maha Esa bukan jism yang terdiri dari organ-organ Dzat, bukan yang bergerak turun dan naik, seperti makhluk. Demikian juga keyakinan ini melanggar firman Allah dalam Quran Surat Ali Imran:47 sebagai dalil Naqli-nya :

Surat Ali Imran Ayat 47

Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun”. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.

Dalil Naqli dalam QS Ali Imran:47 di atas, Allah berfirman bahwa jika Allah menghendaki sesuatu cukup dengan berkata jadi maka jadilah. Maka pemahaman Mujassimah yang menyatakan perbuatan “fisik” Allah untuk melaksanakan KehendakNya sudah terbantahkan.

Konflik dalam faham Mujassimah tentang apa yang dimaksud berbicara di Dzat Allah

Disini mereka secara tidak sadar telah membicarakan Dzat Allah. Padahal dalam ceramah tentang Aqidah yang lain (lihat Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah?), ketika ditanya apakah Arasy itu makhluk atau bukan, dijawab tidak tahu alasannya Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melarang berbicara di Dzat Allah. Disini kita lihat konflik dalam ajaran mereka, di satu sisi ketika berbicara tentang Arasy dikira berbicara di Dzat Allah, di sisi lain mereka berbicara “organ-organ” dari Dzat Allah secara gamblang dan leluasa sampai disebut secara eksplisit “Allah mempunyai sifat fisik”. Maha Suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan itu.
Maksud awalnya tidak ingin mentakwil (mengalihkan makna) Sifat Allah dengan memegang teguh makna zahir ayat Mutasyabihat (yang samar maknanya), yang terjadi justru mentakwil pemahaman Dzat Allah dari tidak serupa dengan makhluk menjadi Dzat Allah yang mempunyai sifat fisik (jisim), yang syubhat karena menyerupakan Allah dengan makhluk. Na’udzu billahi min dzalik.

Ketahuilah ini adalah fahaman yang amat berbahaya, karena telah menafikan Sifat Wahdaniyah (Maha Esa) Allah. Suatu dzat yang terdiri dari organ-organ dzat adalah Jism (fisik), sebagaimana yang disebutkan oleh mereka secara eksplisit bahwa Allah mempunyai sifat fisik (jism), walaupun kemudian mereka katakan “organ-organ” Dzat Allah itu berbeda dengan organ-organ dzat mahkluk. Mengapa keterangan ini disebut menafikan Sifat Wahdaniyah Allah?
Karena secara fitrah, akal memahami dzat yang terdiri dari organ-organ dzat adalah:

  • organ-organ dzat itu adalah berbeda satu dengan yang lain dan saling berhubungan membentuk satu dzat. Maka dzat itu tidak lagi Esa (tunggal), tetapi lebih dari satu dan berbeda-beda. Maha Suci Allah dari yang mereka sifatkan itu
  • Antara satu organ dzat dengan organ dzat yang lain mempunyai kesetaraan yaitu
    • sama-sama makhluk: tangannya, wajahnya, kakinya dan organ-organ lainnya adalah semuanya setarasama-sama makhluk”
      atau
    • sama-sama bukan makhluk: tangannya, wajahnya, kakinya dan organ-organ lainnya adalah semuanya setara “sama-sama bukan makhluk”. Kita tahu yang selain makhluk adalah Dzat Allah.

Maka Dzat Allah itu terdiri dari beberapa Dzat yang berbeda yang kesemuanya adalah Tuhan. Maha Suci Allah dari yang mereka sifatkan itu. Ini jelas mustahil.

Untuk “membungkus” faham Mujassimah ini mereka mengatakan:

  • Allah punya mata tapi berbeda dengan mata makhluk
  • Allah punya wajah tapi berbeda dengan wajah makhluk
  • Allah punya fisik tapi berbeda dengan fisik makhluk.
  • Allah turun ke bumi, tapi berbeda dengan turunnya makhluk
  • Allah punya organ-organ Dzat tapi berbeda dengan organ-organ dzat makhluk. Maha Suci Allah dari yang mereka sifatkan itu.
  • Bandingkan dengan pernyataan ini:
    • “Tuhan punya anak. tapi anak Tuhan berbeda dengan anak manusia”.
    • “Tuhan itu punya tiga pribadi tapi tiga pribadi yang tidak seperti tiga pribadi makhluk.”

Na’udzu billahi min dzalik, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.

Maka betapa ngerinya keyakinan yang seperti ini, yang dapat mengeluarkan orang dari iman, sebab telah menyekutukan Allah. Secara fitrah saja, mari kita tanya hati nurani kita, adakah kita menjadi lebih takut dan gentar terhadap sifat Allah yang yang mempunyai sifat fisik organ-organ Dzat yang demikian? Apa perlunya membahas Dzat Allah secara demikain?
Bukankah hati kita lebih takut dan bergetar ketika mendengar Sifat Maha Kuasa Allah dan Maha Berkehandak Allah?

Konflik Tauhid Asma wa Sifat dan Tauhid Rububiyah.
(Tauhid Rububiyah dalam ajaran 3 Tauhid melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri )

Anehnya di satu sisi ketika membahas Nama dan Sifat Allah, mereka begitu fanatik dan teguh memahami makna asil yang zahir

  • tanpa ta’thil (menolak sebagian atau seluruh makna)
  • tanpa takwil (mengalihkan makna)
  • tanpa takyif (bertanya bagaimana)
  • tanpa tahrif (mengubah makna)

Di sisi lain ketika membahas Nama “Robb” dan Sifat “Rububiyah” dalam pembahasan Tauhid Rububiyah, mereka menyandarkan makna Robb dan Sifat Rububiyah mengikut pengakuan orang kafir yang disebut dalam Al Qur’an, padahal yang diakui orang kafir itu hanyalah sebagian Sifat Rububiyah.

Dalam Tauhid Rububiyah mereka

  • menta’thil banyak Sifat Rububiyah, diantaranya
    • Allah menghidupkan manusia di akhirat setelah manusia dimatikan di dunia
    • Allah Memelihara manusia dengan Sifat Rahmat (kasih sayang)

Orang kafir tidak mengakui akan dihidupkan lagi di akhirat dan putus asa terhadap Rahmat Allah. Jadi mereka

  • mentakwil/mentahrif (mengalihkan/mengubah) makna Sifat Mencipta langit dan bumi, Mengatur; Memberi Rezeki dan Mengatur alam semesta menjadi Sifat Rububiyah, seolah-olah itulah keseluruhan Sifat Rububiyah Allah.

Dengan tujuan agar dapat mengeluarkan pernyataan : orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah seperti orang beriman.

(Lihat menit ke 7 video ini, dan tulisan dalam muslim.or.id tentang makna tauhid, yang diberi tanda merah dibawah ini)

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

 

Begitu kalau Aqidah disusun tanpa kaidah yang benar, bahkan menolak Ulama Tauhid dari zaman Salaf. Akhirnya Ilmu Aqidah dengan kaidah yang kacau itu membuat kacau cara berfikir dan sikap mereka sendiri. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua dan melindungi kita dari fitnah kaum Mujassimah.

Bersambung

Bahaya fahaman Mujassimah (4), Allah ada di atas?

Lihat juga

Orang kafir mengakui adanya Allah bukan sebagai Robb mereka

Sifat Rahmat (Kasih Sayang) adalah Sifat Utama Rububiyah Allah

Mengapa Sifat Rahmat sangat penting dalam Sifat Rububiyah dan Uluhiyah Allah

Jika seseorang mengakui Allah sebagai Robb baginya.

Perbedaan memahami Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan dengan dan tanpa Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Allah sebagai Maha Pencipta di mata orang beriman dan orang musyrikin

Al Qur´an membantah bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah

Akibat ajaran Tauhid Rububiyah dari ajaran 3 Tauhid yang menyandarkan pada ayat Quran untuk orang kafir

Anomali Tauhid Asma Wa Sifat yang memahami sifat Allah sesuai lafaz zahir Asma dan Sifat Allah, kecuali Sifat Rububiyah

Bagaimana ASWAJA memahami ayat-ayat Mutasyabihat

Perbedaan pemahaman orang beriman dan orang kafir terhadap Allah sebagai Pencipta langit dan bumi

Anomali pengikut Tauhid 3 serangkai yang percaya dengan ahlinya kecuali kepada Imam Mazhab

Kekeliruan Tauhid 3 serangkai membawa kepada kerancuan

Sajak Muhasabah Anehnya Tauhid 3 Serangkai

Orang kafir berputus asa terhadap Sifat Utama Rububiyah yakni Rahmat Allah

Mengapa pernyataan orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah adalah mustahil

Mengapa Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah tidak dapat dipisahkan

Benarkah mengatakan mari kembali kepada Qur´an dan Sunnah mendekatkan orang kepada Qur´an dan Sunnah?

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

 

Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arasy adalah makhluk Allah?

Dalam suatu video youtube seorang Ustad bergelar Doktor penganut Tauhid 3 serangkai, yang sedang mengajar Aqidah Islam ketika ditanya apakah Arasy itu makhluk? Beliau menjawab tidak tahu. Ketika beliau memberi kuliah tentu banyak yang mendengar, bahkan nampaknya ada tim khusus yang merekam dan mengupload video itu. Namun dari sekian banyak yang hadir baik murid maupun gurunya sama-sama tidak sensitif dengan keyakinan yang amat syubhat itu.

(lihat video di atas di menit ke 3 dan detik ke 15)

Ini text yang diucapkan dalam video itu:
“.. tentang apakah Arasy itu makhluk ya… Allahu a’lam, Ini saya tidak bisa jawab apakah Arasy itu makhluk atau tidak. Allahu a’lam gitu khan.. karena Arasy ini adalah tempat Allah subhanahu wa ta’ala bersemayam. Semua yang berhubungan dengan Allah dan DzatNya itu lebih cenderung ulama mengatakan seseorang tidak berbicara. Karena ada sabda Nabi shallallahu alaihi wassalam yang berbunyi berbicaralah di Nama-Nama dan Sifat Allah dan jangan berbicara di DzatNya Allah, karena DzatNya Allah kita tidak akan mampu membicarakan masalah-masalah sampai di sana”

Ucapan beliau itu menunjukkan jalan pemikiran beliau akibat memahami ayat Mutasyabihat dengan makna zahirnya. Beliau tidak dapat menjawab bahwa Arsy itu makhluk atau bukan, alasannya adalah karena:

  1. Arasy ini adalah tempat Allah subhanahu wa ta’ala bersemayam, maka Arasy adalah berhubungan dengan Allah dan DzatNya.
  2. Ada sabda Nabi shallallahu alaihi wassalam yang berbunyi berbicaralah di Nama-Nama dan Sifat Allah dan jangan berbicara di DzatNya Allah, karena DzatNya Allah kita tidak akan mampu membicarakan masalah-masalah sampai di sana. Jadi beliau mengira jika berbicara apakah Arasy itu makhluk atau bukan adalah sama dengan berbicara di Dzat Allah.

    Maha Suci Allah dari apa yang telah disifatkan itu.

Bagi orang Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang telah belajar Ilmu Tauhid Sifat 20 dari kecil tahu bahwa yang selain Allah adalah makhluk, termasuk Arasy adalah makhluk.

Dari informasi yang kami terima, sebenarnya beliau berasal dari lingkungan dan keluarga Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah/Matudiriyah sebagaimana sebagian besar Umat Islam Indonesia. Dan memang Umat islam Indonesia dari dahulu, dari sejak masuknya Islam ke Indonesia adalah beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah/Matudiriyah, bermazhab Syafei dan bertasawuf mengikuti Ulama Tasawuf seperti Imam Ghazali, Imam Junaid Al Baghdadi dan Imam Hasan Al Syadzili. Hal ini telah ditulis oleh KH Hasyim Asy’ari dalam Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah (lihat Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat).

Mengapa beliau kemudian menjadi tidak tahu bahwa yang selain Allah adalah makhluk, termasuk Arasy adalah makhluk Allah?

Konflik antara makna zahir istawa dengan Sifat Allah menurut dalil Aqli dan Naqli

Inilah bukti adanya konflik dalam ajaran Tauhid 3 serangkai, karena menolak ilmu Tauhid Sifat 20 yang telah disusun oleh Ulama Tauhid Ahlussunnh wal Jamaah yang berdasarkan dalil Naqli dan Aqli. Ajaran Tauhid 3 serangkai menolak Ilmu Mantiq (logika), sedangkan ilmu Mantiq ini sangat diperlukan agar kita tidak keliru dalam menggunakan akal, sebagaimana pentingnya ilmu Tajwid agar kita tidak keliru membaca Al Quran.
Meyakini yang selain Allah adalah makhluk, dan yang selain makhluk itu adalah Allah adalah satu perkara pokok Aqidah yang amat mendasar. Setiap orang yang berakal pasti dapat dengan mudah memahaminya. Selain dengan dalil Naqli sebagaimana disebut dalam QS Al-Ikhlash, juga dengan dalil aqli (akal) pun kita dapat mudah memahaminya, karena ini sesuai dengan fitrah akal.

Surat Al-Ikhlas Ayat 1
 Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
Surat Al-Ikhlas Ayat 2
 Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Surat Al-Ikhlas Ayat 3
 Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
Surat Al-Ikhlas Ayat 4
dan tidak ada seorang/sesuatupun yang setara dengan Dia”.

 

Sehingga sudah semetinya keyakinan ini sudah sebati dengan keyakinan kita. Beliau itu Ustad bergelar Doktor yang telah belajar agama bertahun-tahun, namun mengapa demikian?
Mengapa ajaran Tauhid dibagi 3 membuat beliau menjadi tidak tahu bahwa Arasy adalah makhluk? Bagaimana jika yang belajar itu orang awam?

Akal kita mempunyai fitrah yang tidak dapat kita nafikan. Kalau suatu ajaran melawan fitrah akal, walaupun diajarkan dengan sistem dogma secara berulang-ulang, tetap saja akal yang masih sehat dan sesuai fitrahnya akan menolak, akal dan hati akan merasa tertekan dan tidak puas. Contoh ada agama yang mengajarkan Tuhan mempunyai anak, walaupun diajarkan bertahun-tahun dengan “dalil aqli yang diada-adakan”, tanpa Ilmu Mantiq (logika), yaitu:

  • Allah itu Maha Kuasa dapat melakukan apa saja, termasuk punya anak.
  • anak Tuhan berbeda dengan anak manusia yang melalui proses biologis.

Namun di bawah sadarnya akal menolak dan tidak merasa puas, karena ada konflik dalam ajarannya itu. Fitrah akal memahami bahwa dzat anak adalah setara dengan dzat sang ayah,

  • sifat dzat anak selalu mewarisi sifat dzat ayahnya
  • suatu saat dzat sang anak akan menjadi seperti dzat ayahnya

Karena mereka gigih “mempertahankan” dan “memaksakan” Tuhan punya anak, maka pada akhirnya mereka mengangkat “anak” Tuhan – yang tadinya disebutnya berbeda dengan anak manusia – menjadi “bagian dari Tuhan”. Maka Tuhan yang mereka sifatkan itu tidak lagi Maha Esa, Subhanallah, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.

Untuk “membungkus” pemahaman yang sudah kacau ini mereka katakan: Tuhan itu tiga tapi satu, satu tapi tiga, yang hingga sekarang akal dan hati mereka sendiri tidak terima. Mereka katakan imani saja, inilah rahasia keimanan.

Sebenarnya dalil Aqli (lihat Sifat Salbiyah dalam Sifat 20) sudah dapat menjawab bahwa mustahil Allah punya anak, selain dalil Naqli yang disebut dalam QS Al Ikhlash.

Demikian juga ajaran Tauhid 3 serangkai. Dalam Tauhid Asma wa Sifat, mereka sangat fanatik dan gigih mempertahankan makna asli yang zahir dari ayat Mutasyabihat (yang samar maknanya) walaupun itu melawan fitrah akalnya.
Mereka mempertahankan makna istawa dengan terjemahan bersemayam dengan makna zahirnya dalam QS Thaha:5

Surat Thaahaa 20:5
(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.

 

Bahkan menolak takwil (mengalihkan makna) dengan kata menguasai (lihat mulism.or.id tentang makna-tauhid).

istawa_kuasa

Walaupun ada ayat Muhkamat (yang jelas maknanya) yang menyatakan Allah Menguasai Arasy, seperti disebut dalam QS At-Taubah:129

9:129

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Robb (Tuhan Yang Menguasai, Memiliki, Mencipta, Memelihara)  ‘Arsy yang agung“.

Sebenarnya Allah sudah memberikan panduan bagaimana kita mesti memahami ayat-ayat Mutasyabihat, Pertama dengan Tafwid yaitu menyerahkan sepenuhnya kepada Allah atau dengan cara Takwil yaitu dengan memalingkan dari membahas makna yang samar dalam ayat Mutasyabihat ke ayat yang jelas maknanya dalam ayat Muhkamat.

Karena gigihmempertahankan” dan “memaksakan” makna asli yang zahir dari ayat Mutasyabihat dengan dalih tidak ingin mentakwil dengan memalingkan arti istawa, akibatnya mereka justru telah mentakwil (memalingkan) pemahaman Arasy dari “makhluk Allah” menjadi mengira “bagian dari Dzat Allah”, Na’udzu billahi min dzalik.

Sebagaimana agama yang meyakini Tuhan punya anak tadi, mereka juga punya “dalil aqli yang diada-adakan” tanpa Ilmu Mantiq (logika), mereka katakan

  • Allah itu Maha Kuasa, tentu Dzat Allah mampu melakukan istawa (bersemayam) dengan makna zahir di atas Arasy.
  • Bersemayamnya Dzat Allah berbeda dengan bersemayamnya makhluk

Namun di bawah sadarnya akal sebenarnya tidak terima, karena ada konflik dalam pemahaman demikian.

Mengapa ada konflik pemahaman dalam fitrah akal di bawah sadarnya? Sebab fitrah akal memahami suatu dzat yang bersemayam dengan makna zahir di atas dzat yang lain, adalah jika dua dzat ini setara. Setara yang dimaksud adalah sama sifat dzatnya. Yakni

  • sama-sama mempunyai jisim (tubuh, benda, bervolume) 
  • jism itu wujud (ada) pada waktu yang bersamaan.

Di satu sisi untuk dapat dikatakan bersemayam, kedua jism (tubuh) Allah dan Arasy harus sama-sama wujud. Di sisi lain, Arasy itu bukan Allah, kalau bukan Allah tentu Arasy itu pernah tidak ada, jadi batal sifat bersemayam bagi Jism Allah karena Jism Arasy belum ada. Disinilah konflik akal yang menyebabkan Ustad bergelar Doktor tidak dapat menjawab apakah Arasy itu makhluk atau bukan, alasannya Arasy ini adalah tempat Allah subhanahu wa ta’ala bersemayam. Beliau mengira kalau menjawab apakah Arasy itu makhluk atau bukan, sama dengan bicara di Dzat Allah. Secara tak sadar akalnya menganggap ada kesetaraan antara Allah dan Arasy.  Na’udzu billahi min dzalik.

Sebenarnya sudah dapat diketahui bahwa pemahaman makna asli yang zahir “istawa” (bersemayam) menurut dalil Aqli (lihat Sifat Salbiyah dalam Sifat 20), adalah mustahil berlaku pada Dzat Allah, Selain dalil Naqli bahwa tidak ada seorang/sesuatupun yang setara dengan Dia” (QS Al Ikhlas). Makna istawa (bersemayam) dengan makna zahir adalah perbuatan Jism (tubuh/benda/volume). Mustahil Allah bersifat jism (tubuh, benda, bervolume), sebab jism/tubuh/volume memerlukan ruang untuk dapat menampungnya, sedang ruang adalah makhluk yang pernah tidak ada. Artinya Allah yang mereka sifatkan itu memerlukan tempat/ruang dan Arasy. Subhanallah, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.

Untuk “membungkus” pemahaman yang kacau ini, mereka katakan Allah bersemayam di atas Arasy tetapi Allah tidak perlu Arasy. Namun video di atas menunjukkan bahwa akal bawah sadar mereka tidak faham dengan pernyataan itu, sehingga Ustad bergelar Doktor beserta seluruh pendengar dan tim dokumentasi yang merekam dan mengupload video itu sama-sama tidak sensitif dengan pernyataan “tidak tahu bahwa Arasy itu makhluk atau bukan”. Bukankah ini meng”kultus”kan makhluk Allah yang bernama Arasy, bahkan syubhat mengira bahwa Arasy adalah bagian dari Dzat Allah. Na’udzu billahi min dzalik.

Konon mereka ingin memurnikan ajaran Islam, namun justru mengotori keyakinannya dengan mempunyai Aqidah yang sangat syubhat.

Konflik Tauhid Rububiyah dengan Tauhid Asma wa Sifat

(lihat Bagaimana menjelaskan konflik antara kaidah Tauhid Rububiyah dan kaidah Tauhid Asma wa Sifat dalam ajaran Tauhid dibagi 3 dengan kaidahnya sendiri).

Dalam ajaran Tauhid 3 serangkai ada konflik antara definisi Tauhid Rububiyah dengan Tauhid Asma wa Sifat. Di satu sisi mereka gigih mempertahankan makna asli Nama dan Sifat Allah dalam Tauhid  Asma wa Sifat. Di sisi lain dalam Tauhid Rububiyah mereka semaunya membuat definisi Sifat Rububiyah tanpa melihat sama sekali makna asli Nama “Robb” dan Sifat “Rububiyah” yang berarti Pemelihara yang erat dengan Sifat Rahman (Kasih Sayang). Akhirnya dalam Tauhid Rububiyah keluar pernyataan  yang menabrak Tauhid Asma wa Sifat, bahwa Tauhid Rububiyah ini diyakini semua orang baik mukmin maupun kafir dari dulu hingga sekarang.

(Lihat menit ke 7 video ini, dan tulisan dalam muslim.or.id tentang makna tauhid, yang diberi tanda merah dibawah ini)

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

Kalau kita melihat definisi Tauhid Rububiyah yang mereka buat sendiri (lihat snapshot di atas) yaitu:

Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka

Salah satu kejadian yang hanya dapat dilakukan Allah adalah menghidupkan manusia di akhirat setelah mematikannya di dunia. Kejadian ini orang kafir jelas menolak mengakuinya, seperti disebut dalam QS Al-Isra:49

17:49
Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?”

 

Jadi Sifat Rububiyah Allah “Menghidupkan manusia di Akhirat” ini dita’thil (ditolak) dalam Tauhid Rububiyah hanya untuk membenarkan pernyataan “Tauhid Rububiyah ini diyakini semua orang baik mukmin maupun kafir dari dulu hingga sekarang“. Dengan keterangan ringkas ini saja sudah dapat dijelaskan konflik yang berlaku pada ajaran Tauhid 3 serangkai yaitu Tauhid Rububiyah melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri.

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Bahaya fahaman Mujassimah (2), Allah ada di luar alam?

Setelah kita membahas Bahaya fahaman Mujassimah (1); Allah ada di comberan? Mari kita lanjutkan dialog antara ustad berfaham Mujassimah dengan orang Asy’ariyah. (lihat video di atas menit ke 4:00 atau video dibawah ini)

Ustad Mujassimah berkata : Yang namanya di dunia alam ini tidak lepas dari dua lho pak, di dalam alam dan di luar alam

Lihat pernyataan di atas. Ini lebih menjelaskan bahwa dalam fikirannya sudah tidak dapat lepas dari keyakinan bahwa Allah berjisim (benda/volume) seperti alam. Padahal dia sudah berkata bahwa di dunia alam ini. Kita tahu yang disebut dunia alam adalah ciptaan Allah. Memang panca indera kita hanya dapat menangkap adanya sesuatu itu secara lahiriah kalau sesuatu itu berupa jisim/sosok/benda. Jika sesuatu itu tidak berada di dalam suatu benda, maka sesuatu itu berada di luarnya. Disini sudah kelihatan jelas pemahaman Mujassimahnya. Allah bukan jism/benda karena Allah berbeda dengan makhluk. Makhluk adalah jism/sosok/benda yang berbentuk, termasuk makhluk di alam ghaib, seperti Malaikat.

Kemudian Ustad Mujassimah melanjutkan: Kalau bapak mengatakan Allah tidak ada di mana-mana maksudnya adalah Allah tidak ada di dalam alam saya setuju sama bapak, berarti Allah berada di luar alam, tapi kalau bapak katakan Allah tidak ada dimana-mana maksudnya adalah tidak ada di dalam alam dan tidak ada di luar alam, berarti bapak atheis, karena bapak sama saja mengatakan bahwa Allah tidak ada, Langsung pergi dia pak (pendengar tertawa).

Di sini sang Ustad ingin memperlihatkan “kehebatanya” telah menang berdebat dan membuat “yang dikalahkannya” pergi. Padahal sang Ustad tidak tahu bahwa dia sedang menelanjangi penyimpangan ajaran Mujassimahnya sendiri. Mengapa?

Penganut Mujassimah tidak dapat mempercayai dan memahami bahwa Allah itu bukan jisim/sosok/benda. Mereka selalu “menempatkan” posisi Allah dengan makna zahir, sehingga kalau Allah itu tidak di dalam alam maka Allah berada di luar alam. Ini adalah sifat jism yaitu sifat makhluk. Itu sebabnya ketika dikatakan Allah tidak ada di dalam tapi tidak juga di luar alam, mereka langsung terfikir bahwa jisim/sosok Allah tidak ada. Inilah hakikat Mujassimah.
Karena pemahaman Mujassimah itulah, mereka tidak tahu bahwa jika disebut Allah tidak ada di dalam tapi tidak juga di luar alam bukan berarti Allah yang tidak ada melainkan keberadaan alam termasuk diri kita ini tidak berpengaruh apapun terhadap Dzat Allah. Bukankah Sifat Allah itu Baqa (tetap, tidak berubah), tidak terikat waktu. Allah tidak tergantung dengan makhluk dan tidak memerlukan yang lain. Yang selain Allah adalah pasti makhluk dan Allah tidak serupa dengan makhlukNya. Jangankan pengaruh jism/lahiriah makhluk, pengaruh bathiniah makhluk pun tidak berarti apa-apa bagi Allah,

Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman:

يا عبادي ! لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم . كانوا على أتقى قلب رجل واحد منكم . ما زاد ذلك في ملكي شيئا . يا عبادي ! لو أن أولكم وآخركم . وإنسكم وجنكم . كانوا على أفجر قلب رجل واحد . ما نقص ذلك من ملكي شيئا

Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bertaqwa, hal itu sedikitpun tidak menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat, hal itu sedikitpun tidak mengurangi kekuasaan-Ku” (HR. Muslim, no.2577)

Mungkin anda yang baru mendengar ini juga agak susah untuk faham. Mari sama-sama kita fahamkan, semoga Allah bantu. Telah disebut dalam Sifat Salbiyah, bahwa Allah Qidam (tidak berawal) dan Baqa (tetap, tidak berubah, tidak ada akhirnya). Maksudnya Allah tidak terikat oleh waktu. Waktu adalah ciptaan Allah
Allah adalah mukholafatuhu lil hawadits (tidak serupa dengan yang baharu/makhluk) dan Qiyamuhu bi nafsihi (tidak tergantung dengan yang lain). Maksudnya Allah tidak tergantung dengan tempat/ruang. Tempat/ruang adalah juga ciptaan Allah.

Sifat “dalam” dan “luar” adalah sifat jisim/sosok benda yang diciptakan (makhluk). Sifat yang memerlukan perbandingan dengan benda lain yang setara (sama-sama jism/benda). Firman Allah dalam QS Al Ikhlash: 4

Surat Al-Ikhlas Ayat 4
dan tidak ada seorang/sesuatu pun yang setara dengan Dia”.

Sesuatu jisim/benda dapat berada di “luar” kalau ada benda lain yang mempunyai volume. Kalau jisim itu berada di posisi yang dibatasi oleh batas luar benda yang bervolume tadi, maka dikatakan jisim ada di dalam benda tadi. Sedang sebaliknya kalau jisim itu berada di posisi yang tidak dibatasi oleh batas luar benda bervolume tadi, maka jism itu dikatakan berada di luar.

Sedang kita tahu bahwa alam yang bervolume ini dahulunya pernah tidak ada, yaitu ketika alam ini belum diciptakan oleh Allah. Itulah yang disebut dalam istilah Aqidah disebut zaman Azali. Di zaman itu alam yang terikat waktu dan ruang ini belum diciptakan. Waktu dan ruang itu juga makhluk yang belum ada. Jadi di zaman Azali itu, Allah tidak berada di “luar” dan tidak pula berada di “dalam” alam sebab alam belum ada, yang ada hanya Allah yang Maha Esa.

Maka ketika alam sudah diciptakan, Sifat dan Dzat Allah adalah tetap sebagaimana ketika alam ini belum ada. Karena Allah bersifat Baqa (tidak berubah). Mustahil Allah tiba-tiba berada di “luar” alam, setelah adanya alam. Keadaan Allah tidak terikat oleh waktu. Bagi orang yang belum melepaskan diri dari pengaruh Mujassimah akan sulit memahami ini, namun dengan hidayah Allah, Allah akan mudahkan kita memahaminya. Semoga Allah berikan kefahaman yang semestinya sebagaimana pemahaman yang Allah redhoi. Itulah pemahaman Aqidah Ahlussunah wal Jamaah.

Itu sebabnya dikatakan, Dzat Allah tidak terpisah dari alam tetapi juga tidak menyentuh atau melebur dengan alam. Sebab sifat “terpisah” dan “menyentuh/melebur” (hulul) dengan makna zahir adalah sifat jisim yang memerlukan jisim lain agar dapat disebut “terpisah” atau “menyentuh/melebur” yang setara yaitu sama-sama jism/benda. Sedang Dzat Allah bukan jisim/benda. Inilah diantara Sifat Allah yang tidak serupa dengan makhluk. Seperti disebut dalam QS Al Ikhlash:4, tidak ada sesuatu/seorangpun yang setara dengan Allah.

Makhluk adalah berjisim, Alam adalah juga makhluk dan berjisim. Jism berada di dalam atau di luar alam. Yang dimaksud alam disini juga mencakup alam lahiriah dan alam ghaib. Sedang Allah bukanlah alam, bukan berada baik di dalam maupun di luar alam lahiriah. Bukan pula berada baik di dalam maupun di luar alam ghaib.

Itulah sebabnya kita dilarang memikirkan Dzat Allah, Kita hanya disuruh mengingati (berdzkir) Nama Allah. Kita hanya disuruh memikirkan makhluk Allah, sebab disitulah dapat kita kenali Sifat-Sifat Allah. QS Ali Imran: 190-191

Surat Ali Imran Ayat 190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Surat Ali Imran Ayat 191

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Kalau kita sudah faham bahwa Allah bukan jisim maka ketika kita baca Sifat dan Nama Allah dalam Al Qur’an, kita langsung faham yang dimaksud pasti bukan Sifat jism/fisik. Misalnya ayat yang sering menjadi perbahasan oleh penganut Tauhid dibagi 3 yang dipegang Ustad Mujassimah tadi.

QS Thaha: 5
Surat Thaahaa 20:5
(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.

 

Maka yang dimaksud bukanlan Jism Allah bersemayam di atas Arasy, melainkan Sifat Maknawiyah yang tidak berkaitan dengan jism. Ayat ini disebut ayat Mutasyabihat yaitu ayat yang samar maknanya. Kalau kita ingin membahas artinya, kita perlu penjelasan dari ayat yang Muhkamat (ayat yang jelas), misalnya QS At-Taubah ayat 1299:129

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Robb (Tuhan Yang Menguasai, Memiliki, Mencipta, Memelihara)  ‘Arsy yang agung“.

Di ayat ini disebut Allah adalah Robbul Arasy yang artinya Tuhan Yang Menguasai, Memiliki, Mencipta, Memelihara Arasy, yaitu Sifat Maknawiyah yang tidak terkait sama sekali dengan Jism. Sifat Maknawiyah ini Qidam dan Baqa. Allah telah menjadi Tuhan dari Arasy ketika Arasy belum ada, ketika ada dan ketika Arasy sudah ditiadakan lagi, jika Allah Menghendaki.

Sebaliknya kalau orang memahaminya sebagai Jism Allah bersemayam di atas Arasy sebagai mana zahirnya seperti yang difahami kaum Mujassimah, walaupun mereka berkata, bersemayamNya Allah di atas Arasy berbeda dengan bersemayamnya makhluk, tetap saja syubhat menyerupakan Allah dengan makhluk, karena hakikat perkataan itu sebenarnya bermakna “Sifat Jism bersemayamNya Dzat Allah berbeda dengan sifat jism bersemayamnya dzat makhluk”,
Ini melawan akal manusia. Akal manusia menjadi “error” dan tidak akan faham, sebab secara tidak sadar orang yang berkata begitu telah membahas dan memikirkan Dzat Allah yang telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Ini amat berbahaya. Akibatnya seorang Ustad bergelar doktor menjadi tidak tahu hal pokok agama bahwa yang selain Allah adalah makhluk, termasuk Arasy adalah makhluk Allah (lihat Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah?).

Bersambung

Wallahu a’lam

Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua.

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Bahaya fahaman Mujassimah (1), Allah ada di comberan?

Setelah kami mengamati video-video yang beredar dari para penganut Tauhid 3 serangkai yang menerangkan Aqidah Asy’ariyah yang mereka fahami, kami merasa sampai saatnya kami menjelaskkan bagaimana kekeliruan pemahaman mereka itu, disebabkan oleh pemahaman Mujassimah mereka. Mujassimah adalah pemahaman Allah itu berjism/bersosok/bertubuh yang menempati suatu ruang, sehingga menyerupakan Allah dengan makhluk.  Na’udzu billah min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari keyakinan seperti itu.

Mereka sebenarnya tidak faham Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, tapi merasa telah menjelaskan kekeliruan Aqidah Asy’ariyah. Akhirnya menjadi berbalik justru membuka kekeliruan fahaman Mujassimah mereka sendiri.

Insya Allah, karena kalau ditulis dalam satu artikel akan cukup panjang maka kami akan jawab satu per satu sehingga menjadi beberapa artikel.

Mereka tidak faham perkataan “Allah ada dimana-mana”, (lihat juga Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah)

Dalam video ini menit ke 2:50 (lihat Video di atas) Ustad berfahaman Mujassimah menceritakan sedang berdialog dengan seorang Ahlussunah wal Jamaah Asy’ariyah.

Ustad Mujassimah bertanya : Jadi menurut bapak, Allah itu ada dimana?

Pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah : “Allah ada di mana-mana”

Ustad Mujassimah: Jadi di comberan ada? Diam dia

Pengikut  Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyyah: “Iya nggak, (Allah) di tempat bersih.”

Ustad Mujassimah: Lho katanya ada dimana-mana?

Para pendengar tertawa. Mereka merasa lebih pandai, tapi sebenarnya secara tidak sadar justru menunjukkan kekeliruan pemahaman mereka sendiri. Dari dialog tersebut justru menjelaskan hakikat fahaman Mujassimah Ustad tersebut. Mengapa?

Pada awalnya orang Asy’ariyah tidak terfikir bahwa pertanyaan “Allah itu ada dimana?” adalah mempertanyalan Dzat ada Allah dimana?“, karena menurut keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah, Dzat Allah bukan jism.  Mustahil Allah berjism, hanya makhluk yang berjism.
Padahal pertanyaan “Allah ada dimana?” yang dimaksud Ustad berfaham Mujassimah, adalah pertanyaan dengan makna zahir yaitu  mempertanyakan “posisi” Dzat Allah di dimensi ruang. Sesuatu yang menempati ruang pasti suatu jism/sosok/tubuh dan menyerupai makhluk. Inilah hakikat pemahaman Mujassimah. Pada fikirannya telah tertanam keyakinan bahwa Allah itu berjism. Berjism tentu memerlukan ruang atau tempat. Walaupun kemudian mereka katakan sifat jism Allah itu berbeda dengan sifat Jism makhluk dengan maksud untuk mengelak disebut berfaham Mujassimah. Namun pemahaman ini tetap melawan fitrah akal manusia,

Pemahaman Mujassimah itu bertambah jelas ketika Ustad itu bertanya: Kalau Allah ada dimana-mana,  jadi Allah ada di comberan?

Perhatikan, Ustad itu bermaksud membodohi dan menjebak orang Asy’ariyah agar bingung dengan kekeliruan fahaman Mujassimah yang mereka ungkapkan dalam pertanyaan itu.
Jelas maksud dari pertanyaan itu sebenarnya adalah:  Jadi “Jism” Allah ada di comberan?

Orang Asy’ariyah itu sekarang faham bahwa Ustad itu berfaham Mujassimah, yang  bertanya dengan makna zahirnya maka dia kemudian menjawab Allah tidak ada di mana mana. Maksudnya sebenarnya adalah (Dzat) Allah tidak menempati mana-mana tempat, karena Allah bukanlah Jism seperti pemahaman mereka.

Begitulah perbedaan antara fahaman Mujassimah dan fahaman Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah.

Pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah tidak pernah meyakini Allah itu berjism seperti pemahaman kaum Mujassimah. Mustahil Allah berjism. Dalam  Ilmu Tauhid Ahlussunnah wal Jamaah tentang SIfat Salbiah dijelaskan bahwa Dzat Allah bukan makhluk dan tidak serupa sama sekali dengan makhluk. Dzat Allah bukan jism yang menempati ruang dan terikat waktu. Dzat Allah ada tanpa tempat dan tidak terikat waktu. Sedang fahaman Mujassimah adalah meyakini Allah itu berjism dan menempati ruang, maka timbullah pertanyaan “Allah di mana?” dengan makna zahir dalam ajaran Aqidah mereka.

Perlu kami jelaskan bahwa pernyataan Allah ada di mana-mana, adalah bukan makna zahir Dzat Allah ada di mana-mana. Maksudnya adalah Sifat Allah ada di mana-mana. Sifat Allah dimaksud adalah Sifat Maknawiyah Allah bukan Sifat “Jism” seperti difahami kaum Mujassimah. Sifat Maknawiyah Allah tanda-tandanya dapat dilihat pada makhluk Allah. Dan makhluk Allah itu ada di mana-mana. Tidak ada suatu ruang dan tempat, kecuali itu adalah makhluk Allah di situ.

Jadi pertanyaan “Allah ada di comberan?”,  kalau kita fahami secara maknawiyah, sebenarnya bisa juga dijawab dengan  “iya benar (tanda-tanda Kekuasaan) Allah ada juga di comberan tidak hanya di tempat bersih.

Allah berfirman dalam Qur´an surat Ali Imran ayat 190-191:
Surat Ali Imran Ayat 190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Surat Ali Imran Ayat 191

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

 

Comberan itu ada di bumi, maka tentulah disitu ada tanda-tanda Kekuasaan Allah. Comberan yang kotor yang banyak penyakitpun adalah tanda-tanda Kekuasaan Allah, Bahkan diceritakan bahwa air sungai Nil berubah menjadi darah adalah termasuk Mu’jizat Nabi Musa alaihi salam. Mu’jizat adalah tanda Sifat Maha Kuasa Allah yang dinampakkan pada makhlukNya untuk membuktikan kenabian.

Kalau kaum Mujassimah meyakini Allah tidak ada ditempat kotor dengan makna zahir, maka sesungguhnya Allah juga tidak ada ditempat bersih dengan makna zahirnya, sebab Allah bukan jism yang menempati tempat. Mengapa?
Kalau mereka yakin Allah tidak ada di tempat kotor dan hanya ada di tempat bersih dengan makna zahir, maka menjadikan bentuk “jism” seperti itu adalah seperti keju yang berlubang-lubang, dimana keju adalah tempat bersih dan yang lubang itu adalah tempat kotor. Na’udzu billah min dzalik. Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan seperti itu.

Pemahaman Mujassimah ini berbahaya. Ketika mereka membaca Ayat Mutasyabihat QS Thaha ayat 5, “Arrahmanu ‘alal ‘Arsy istawa”, “(Allah) Yang Maha Pengasih beristawa di atas Arasy.” Merekapun langsung memahami “Jism” Allah memang benar-benar bersemayam di atas Arasy sebagaimana makna zahirnya, walaupun kemudian mereka katakan tidak serupa dengan jism makhluk.
Namun tetap melawan fitrah akal manusia, sehingga seorang Ustad bergelar Doktor, tidak dapat menjawab pertanyaan apakah Arasy itu makhluk atau bukan (video ini atau video ini pada menit ke 3:15).. Padahal kita waktu kecil sudah belajar bahwa yang selain Allah adalah makhluk, termasuk Arasy adalah makhluk.
Karena mereka memahami Allah perlu tempat, sedang tempat itu terikat dengan waktu, maka itulah yang menyebabkan Ustad bergelar Doktor itu bingung ketika ditanya Arasy itu makhluk atau bukan.
Kalau dia sebut Arasy itu makhluk, maka Arasy terikat waktu, yaitu pernah tidak ada. Kalau tidak ada Arasy, maka “Jism” Allah yang mereka yakini itu bersemayam dimana?
Sebaliknya kalau disebut bukan makhluk, jadi Arasy itu apa?
Na’udzu billah min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari keyakinan yang demikian.
(lihat Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah? )

Bertambahlah kita yakin akan suruhan Allah agar kita berdoa minta perlindungan kepada Allah dari hati yang cenderung pada kesesatan karena mengikuti makna zahir ayat Mutasyabihat, setelah diberi hidayah Islam. Doa ini disebut dalam QS Ali Imran ayat 8. (lihat Bagaimana Ahlussunah wal Jamaah memahami ayat-ayat Mutasyabihat)

Surat Ali Imran Ayat 8
(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

 

Jadi jelas bahwa pemahaman Mujassimah ini berbahaya dan melawan fitrah akal. Tujuan mereka untuk menjatuhkan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah yang haq dihadapan manusia, namun niat mereka itu justru berbalik kepada mereka, yaitu membongkar kekeliruan fahaman Mujassimah mereka sendiri.

Bersambung

Wallahu a’lam

Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua.

Artikel lain ada dalam Daftar Isi