Mengapa Ustad Adi Hidayat tidak menerangkan bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari?

Tulisan tentang “Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat” dan lanjutannya (bagian 2) sudah beberapa lama kami sampaikan. Bagian penting yang tidak diterangkan itu adalah:

1. Tentang mazhab Ahlussunah wal Jamaah satu-satunya di Jawa (Nusantara), yaitu dalam fiqih ikut Imam Syafei, dalam Aqidah (teologi) ikut Imam Abul Hasan Al Asy’ari, dalam Tasawwuf ikut Imam Ghazali dan Imam Abu Hasan Asy-Syadzili.

2. Tentang ajaran (Aqidah Tauhid dibagi 3) yang menyimpang dari Ahlussunnah Wal Jama’ah dimana disebutkan ulamanya di antaranya yaitu Muhammad bin Abdul Wahab al-Najdi dan Ahmad bin Taimiyah. Mereka megharamkan yang disunahkan kaum muslimin, yaitu perjalanan ziarah ke makam Nabi s.a.w. dan selalu menyalahi pendapat kelompok lainnya.

Kami menunggu dan mengharapkan semoga Allah luangkan waktu bagi beliau untuk menerangkan bagian yang penting itu, karena pada waktu itu beliau beralasan tidak dapat menerangkannya karena sempitnya waktu. Namun sampai saat tulisan ini ditulis kami belum mendengar atau menemukan rekaman kuliahnya tentang itu. Mohon kiranya kami diberitahu melalui komentar di bawah, jika ada pembaca kemudian menemukannya setelah tulisan ini keluar. Jazakumullahu khairan.

Kami mengeluarkan tulisan ini, karena kami secara tidak sengaja telah menemukan dalam satu kuliah pernyataan Ustad Adi Hidayat yang erat kaitannya dengan bagian penting yang telah dilewatkannya itu. Namun sangat kami sayangkan pernyataan yang disampaikan beliau itu secara tidak langsung berbeda dengan fakta yang disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari dalam Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah yang telah dilompatinya.

Ketika beliau melompati bagian penting Kitab Risalah wal Jamaah itu beliau sudah menerangkan bahwa sebelum tahun 1330 Hijriyah hanya ada satu mazhab di Jawa sesuai dengan tulisan KH Hasyim Asy’ari dalam Kitab Risalah Ahlussunah Wal Jamaah.

Setelah melompati bagian penting ini beliau menjelaskan lagi bahwa KH Hasyim Asy’ari sudah memberi peringatan bahwa sejak tahun 1330 H muncul aliran yang menyimpang. Kemudian beliau tegaskan lagi bahwa sekarang ini sudah tahun 1438 H (tahun beliau memberikan kuliah itu), jadi sudah 108 tahun yang lalu KH Hasyim Asy’ari memberi ingatan tentang aliran menyimpang yang masuk Nusantara. Kalau sudah sejak 108 tahun sudah diberitahu tidak faham juga, dengan cara apa lagi dapat diberi peringatan? Pertanyaan ini konflik dengan kenyataan bahwa beliau melompati bagian penting yang berisi peringatan dari KH Hasyim Asy’ari itu.

Namun dalam video di bawah ini, ternyata beliau secara tidak langsung menerangkan hal yang berbeda dengan yang disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari.

Perhatikan ucapan beliau dalam video di atas mulai di menit ke 13. Beliau menyebutkan tentang  4 Imam Mazhab fikih dalam Ahlussunnah wal Jamaah yang sekarang masih ada beserta daerah penyebaran Mazhab-Mazhab itu yaitu:

  1. Imam Abu Hanifah. Mazhab Hanafi menyebar di Asia Selatan, India, Pakistan sampai Timur Jauh di China
  2. Imam Malik bin Anas. Mazhab Maliki menyebar dulu di Madinah, terus menyebar ke Afrika Utara, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, Spanyol, Italia, Perancis
  3. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafei. Mazhab Syafei, menyebar di Syam, Syria, sebagian Mesir sampai Asia Tenggara.
  4. Imam Ahmad bin Hambal, Mazhab Hambali menyebar di kawasan Teluk terutama Arab Saudi.

Namun kemudian beliau bertanya (kira-kira di menit 13:40): Pertanyaannya orang Indonesia masuk kemana?

Pertanyaan ini sebenarnya cukup aneh, sebab ada konflik dengan pernyataan beliau sebelumnya bahwa Mazhab Syafei menyebar ke Syam (Syria), sebagian Mesir dan Asia Tenggara. Bukankah Indonesia terletak di Asia Tenggara? Mengapa perlu lagi menanyakan Mazhab apakah yang menyebar di Indonesia? Keterangan bahwa Mazhab Syafei adalah satu-satunya Mazhab di Nusantara sudah disebut oleh KH Hasyim Asy’ari dalam Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah.

Kemudian beliau menjelaskan bahwa orang tua kita luar biasa, semua negara-negara itu dikunjungi. Semua Mazhab dipelajari dan pulang membawa semua khazanah ilmu itu. Pernyataan ini juga aneh. Sebab sepengetahuan kami para Ulama Ahlussunnah wal Jamaah sangat arif dalam berdakwah. Mereka sangat menjaga kepentingan dakwah pada masyarakat awam. Tidak ada Ulama Ahlussunnah wal Jamaah ingin muridnya membawa Mazhab yang berbeda ke daerah yang sudah ada Mazhab.

Contoh Ulama Ahlussunnah wal Jamaah masih dapat dilihat hingga sekarang yang cukup dikenal adalah  Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawi Al Maliki di Rusaifah, Mekkah. Kakek beliau yaitu Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki adalah guru dari Kyai Maemun Zubair. Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki bermazhab Maliki namun Kyai Maemun Zubair bermazhab Syafei. Sampai sekarang Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawi Al Maliki tidak pernah menyuruh atau bahkan melarang muridnya yang datang dari Indonesia yang bermazhab Syafei untuk mengubah Mazhab menjadi Mazhab Maliki seperti yang dipegangnya. Bukti lain bahwa di Nusantara ini hanya ada Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang disebut oleh KH Hasyim Asy’ari, lihatlah bekas atau kerajaan Islam yang masih ada sekarang di Nusantara, termasuk di Brunei dan Malaysia. Bahkan di Brunei disebutkan dalam dasar negara bahwa landasan Islam yang mereka anut adalah beraqidah mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi serta berfikih mengikuti Mazhab Syafei.

Demikian juga kalau kita pelajari riwayat hidup Ulama-Ulama Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia dari awal Islam masuk Indonesia, termasuk para Wali Songo hingga di awal abad 20, mereka semua beraqidah mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan berfikih mengikuti Mazhab Syafei, dan bertasawuf bahkan umumnya mereka mempunyai Tariqat. Di antara ulama-ulama itu adalah:

1. Syeikh Yusuf Al Makassari
2. Pangeran Diponegoro
3. Syeikh Nawawi Al Bantani
4. Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari
5. Syeikh Muhammad Yasin Al Fadani
6. Syeikh Kholil Al Bangkalani
7. Syeikh Ahmad Khotib As-Sambasi
8. Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi
9. Syeikh Nuruddin Ar-Raniri
10. Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli
11. KH Ahmad Dahlan
12. KH Hasyim Asy’ari

Mengapa umat Islam di Asia Tenggara mayoritas berfiqih Mazhab Syafei, memegang Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy’ari (Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah) dan bertasauf dengan mengikuti Imam Ghazali?
Karena pembawa risalah dakwah Islam yang pertama kali dalam jangka cukup panjang hingga ratusan tahun umumnya berasal dari Hadhramaut, Yaman yang juga berfiqih Mazhab Syafei, memegang Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan bertasauf dengan mengikuti Imam Ghazali. Sampai hari ini di sana masih menjadi pusat menuntut 3 asas ilmu (Fiqih, Aqidah, Tasawuf) Ahlussunnah wal jamaah itu.  Kebanyakan mereka adalah para Habaib yaitu Ulama keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wassalam. Bahkan para Sultan Kerajaan Islam di Nusantara mayoritasnya adalah dari keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wassalam.
Sampai sekarang masih dapat kita lihat keturunan para Habaib di Indonesia. Hubungan antara Ulama Nusantara dan Hadhramaut, Yaman masih cukup intensif baik saling silaturahmi antara mereka yang masih bersaudara dan dalam pengajaran dan menuntut ilmu.

Kerajaam Usmaniyah yang mayoritas bermazhab fikih Hanafi dan beraqidah dan mengikuti Imam Abu Mansur Al Maturidi (Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Maturidiyah) ketika membantu para juru dakwah ke Indonesia dan membantu perjuangan melawan penjajah, tidak pernah menyuruh untuk menyebarkan Mazhab Hanafi di Indonesia, karena berfikih dengan mengikuti salah satu dati Imam Mazhab yang 4 (Hanafi, Maliki, Syafei, Hambali) dan beraqidah Asy’ariyah atau Maturidiyah sudah benar dan cukup, tidak perlu lagi mengubah Mazhab. Ulama dan Umara Ahlussunah wal Jamaah sangat arif dalam berdakwah.

Jadi sungguh aneh jika dikatakan ada orang Indonesia yang belajar di berbagai negara kemudian datang ke Indonesia membawa Mazhab yang berbeda dari Mazhab Syafei.

Kalau kita jujur dengan sejarah masuknya Islam di Indonesia, fenomena masuknya “Mazhab baru” ke Indonesia justru baru ada setelah tahun 1330 Hijriyah (catatan: 1 Muharam – 30 Dzulhijjah 1330 Hijriyah = 22 Desember 1911 – 10 Desember 1912 Masehi)  sebagaimana yang disebut oleh KH Hasyim Asy’ari. “Mazhab yang baru” ini masuk bersama dengan golongan Aqidah Tauhid 3 serangkai yaitu pengikut Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi. Maka keterangan Ustad Adi Hidayat ini secara tidak sadar telah membenarkan fakta tulisan KH Hasyim Asy’ari tentang “masuknya aliran yang menyimpang” di tahun 1330 H itu, namun dari sisi pandang yang berlawanan, yaitu disebutnya sebagai “semua Mazhab dipelajari dan pulang membawa semua khazanah ilmu itu semua“. Namun kemudian beliau sendiri mengakui bahwa mereka ini datang kadang menyampaikan ilmu tidak sempurna. Bahkan beliau sebut inilah sumber utama gagal faham dalam persoalan ini (menit 14:05).

Jadi yang awalnya beliau sebut “orang tua kita luar biasa, semua negara-negara itu dikunjungi. Semua Mazhab dipelajari dan pulang membawa semua khazanah ilmu itu”. Namun kemudian beliau bantah sendiri sebagai “karena menyampaikan ilmu yang tidak sempurna, menjadi sumber gagal faham dalam persoalan ini”. Maka jelas orang-orang yang disebut ini berbeda alirannya dari Ahlussunnah wal Jamaah yang dibawa pendakwah Islam yang pertama datang ke Indonesia yaitu yang dalam fiqih ikut Imam Syafei, dalam Aqidah (teologi) ikut Imam Abul Hasan Al Asy’ari, dalam Tasawwuf ikut Imam Ghazali dan Imam Abu Hasan Asy-Syadzili. Jadi tanpa sadar beliau menceritakan fakta datangnya aliran baru yang menyimpang yang datang sejak tahun 1330 H sebagaimana yang disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari.

Memang fakta, bahwa golongan yang baru datang ini sering menuduh bid’ah amalan Ahlussunnah wal Jamaah seperti ziarah kubur, tahlil, maulid, membaca Sayidina dan sebagainya bahkan menuduh sesat ilmu Tasawuf karena melihat orang yang mengaku mengamalkan Tasawuf yang tidak menjalankan Syariat Islam. Memang ada “penjahat” Tasawuf yaitu orang yang merasa cukup hatinya baik tetapi tidak lagi sholat atau tidak mengamalkan syariat yang lain. Semestinya untuk golongan ini perlu diberi peringatan sesuai dengan kesalahan yang dibuatnya yaitu agar kembali mengamalkan syariat, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Bukan justru menyalahkan ilmu Tasawuf. Ini adalah cara berfikir atau “modus” yang berbahaya. Orang yang menyalahkan Tasawuf seperti ini, adalah seperti fenomena musuh Islam yang menyalahkan Islam sebab ada orang yang mengaku Islam tetapi melakukan kekerasan atau terorisme mengatasnamakan Islam, seperti yang kita lihat di zaman fitnah ini.

Golongan yang suka menuduh bid’ah ini sering mengaku ikut Quran dan Sunnah, Mereka tidak mau ikut Imam Mazhab dengan mengatakan Ulama adalah bukan maksum. Namun secara tidak sadar meraka sangat fanatik dengan Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi dan ulama pengikutnya, seolah-olah mereka bukan maksum, Mereka tidak mau mengikuti satu dari 4 Mazhab dalam Ahlussunnah wal Jamaah, karena masih mentarjih fikih dari para Imam Mazhab itu, mana yang menurut mereka paling kuat. Padahal Imam Bukhari dan Imam Muslim walaupun mereka menyusun Kitab Hadits, mereka tetap mengikuti satu dari 4 Mazhab itu, yaitu mengikuti mazhab Syafei. Mereka tahu bahwa mereka adalah Ulama Hadits, dan bukan Ulama Fikih yang dapat mengistinbat hukum langsung dari Quran dan Hadits. Itu sebabnya kita tidak pernah mendengar ada Mazhab Imam Bukhari atau Mazhab Imam Muslim (lihat Mengapa Ahlussunnah Wal Jamaah mengikuti Imam Mazhab).

Kami menyampaikan ini untuk memberikan informasi yang sebenarnya tentang sejarah masuknya Islam di Indonesia, karena ada informasi mengelirukan yang memungkinkan orang memahami sebaliknya. Kalau informasi yang benar tidak disampaikan setelah mendengar ada orang menyampaikan informasi yang dikelirukan, maka kami khawatir  bahwa kami dianggap membiarkan saudara seiman kami mendapatkan informasi yang keliru, tanpa berusaha memperbaikinya dengan memberitahu. Semoga Allah menerima tulisan kami yang dhoif ini sebagai ibadah dalam usaha berbuat ihsan.

Perlu kami sampaikan disini, bahwa kami tidak bermaksud apa-apa terhadap Ustad Adi Hidayat atau siapapun yang menyampaikan informasi yang mengelirukan seperti beliau, kecuali kami hanya ingin menyampaikan kebenaran yang disampaikan oleh para ulama dan guru-guru kami yang sangat berjasa membawa Islam ke Nusantara, sehingga kita bangsa Indonesia khususnya dan Nusantara umumnya telah memeluk Islam sejak ratusan tahun yang lalu.  Ini juga bentuk syukur dan terima kasih kami kepada mereka. Sudah sepantasnya kita membesarkan dan menceritakan jasa mereka. Karena dengan itu kita mengajarkan kepada generasi setelah kita agar menjadi generasi yang tahu bersyukur dan berterima kasih. Semoga Allah mengekalkan nikmat Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang hakiki ini bagi bangsa Indonesia hingga akhir zaman.

Sebaliknya jika ada suatu golongan yang mencoba menceritakan masuknya Islam tapi berbeda dari fakta dan menutupi atau bahkan mengelirukan fakta sejarah ini, adalah seperti mengajarkan orang untuk berbuat serupa terhadap dirinya sendiri. Kita dapat mengajarkan bersyukur kepada anak didik kita, jika kita memberi contoh bagaimana bersyukur kepada orang yang sangat berjasa kepada kita. Kalau dengan orang-orang yang berjasa saja kita hapus sejarahnya atau dikelirukan, bagaimana kita dapat mendidik anak didik kita bersyukur?.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita dan memasukkan kita kepada golongan orang yang bersyukur kepada Allah dengan bersyukur kepada orang yang berjasa kepada kita. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda:

لا يشكر اللَّه من لا يشكر الناس

“Belum bersyukur kepada Allah siapa yang tidak bersyukur kepada manusia.”

Lihat juga:

Hal penting dari Sultan Muhammad Al Fatih yang tidak diceritakan oleh Ustad Felix Siauw

Isyarat Rasulullah SAW membenarkan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy´ariyyah/Maturidiyah, berfiqih dengan bermazhab dan bertasauf

Mengapa perkumpulan ASWAJA mesti mendeklarasikan Aqidah Asy´ariyah/Maturidiyah, bermazhab dan bertasawuf

Hakikat perbedaan ilmu yang bersanad dan ilmu tanpa sanad

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

 

Iklan

Perbedaan pemahaman “tidak mentakwil” golongan yang menamakan dirinya Salafi dengan pemahaman “tidak mentakwil” Ulama Salaf

Akhir-akhir ini banyak kita dengar golongan yang menamakan dirinya Salafi. Konon dengan nama “Salafi” mereka mengklaim bahwa pemahaman mereka sama dengan Ulama Salaf, yaitu Ulama yang hidup di tiga abad pertama Hijriyah, yaitu kurun terbaik Umat Islam sesuai dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wassalam:

خَيْرَ أُمَّتِـي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)

Golongan yang menamakan dirinya Salafi menyebarkan pemahaman Asma wa Sifat Allah dengan makna aslinya yang zahir tanpa takwil, karena kata mereka Ulama Salaf tidak mentakwil ayat-ayat Al Qur’an. Benarkah anggapan mereka ini?

Sebenarnya “tidak mentakwil”nya golongan yang menamakan dirinya Salafi berbeda jauh dengan “tidak mentakwil”nya Ulama Salaf. Apa perbedaannya?

Pemahaman “tidak mentakwil” golongan yang menamakan dirinya Salafi

Golongan yang menamakan dirinya Salafi sebenarnya menganut Aqidah Tauhid dibagi 3 yang disusun pertama kali oleh Ibnu Taimiyah dan di akhir zaman ini dipopulerkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi dan pengikutnya. Perlu diketahui bahwa Aqidah ini telah keluar dari Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Hal ini telah disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari dalam Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah pada bagian yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat.
“Tidak mentakwil”nya golongan ini berdasarkan Standard dalam Tauhid Asma wa Sifat yaitu mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif, tanpa ta’thil dan tanpa takyif.

Lihat muslim.or.id/makna tauhid, (hasil scan dibawah ini)

istawa_kuasa

Karena gigihnya mempertahankan makna asli yang zahir dari Asma wa Sifat Allah yang Mutasyabihat (yang samar maknanya), mereka tetap memahami istiwa yang artinya “bersemayam dan tidak ditakwil (dipalingkan maknanya) menjadi “menguasai”.

Mereka juga mengatakan tidak boleh pula melakukan tafwidh. Tafwidh adalah tidak membahas maknanya sama sekali dan menyerahkan maknanya kepada Allah semata.

Walaupun akibat memahami makna asli Sifat Allah “istawa” dengan bersemayam dengan makna zahir telah membuat pengajarnya menjadi tidak tahu bahwa Arasy adalah makhluk Allah. (lihat Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah?).

Jadi pemahaman mereka setelah membaca ayat tentang Asma dan Sifat Allah yaitu:

  1.  Memulai dengan menetapkan Asma wa Sifat Allah dengan makna asli yang zahir tanpa takwil, walaupun itu Asma wa Sifat dalam ayat Mutasyabihat. Mereka gigih mempertahankan makna asli yang zahir dari Asma wa Sifat Allah. Mereka beriman dan meyakini bahwa Ayat Mutasyabihat ini adalah dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Mereka mengatakan Allah punya tangan, Allah punya wajah, Allah bersemayam di atas Arasy dan pemahaman lain yang menyimpulkan Allah itu punya Sifat fisik atau Sifat Jasmani (Jisim) sehingga golongan ini disebut dengan golongan Mujassimah.
  2. Kemudian baru mensucikan Allah dari menyerupakan dengan makhluk. Yaitu dengan mengatakan Tangan, Wajah dan Bersemayamnya Allah di atas Arasy adalah berbeda dengan tangan, wajah dan bersemayamnya makhluk, ungkapan ini secara tidak sadar adalah sama dengan mereka berkata “sifat jism” Allah berbeda dengan sifat jism makhluk. Itulah sebabnya mereka dikatakan golongan Mujassimah, yaitu golongan yang meyakini Allah punya jisim.

Pemahaman “tidak mentakwil” Ulama Salaf

Para Ulama Salaf ada yang melakukan takwil dan sebagian besar tidak melalukan takwil Asma dan Sifat Allah dari ayat Mutasyabihat. Yang tidak mentakwil, mereka melakukan Tafwid yaitu tidak membahas maknanya sama sekali. Mereka mentanzih (mensucikan) Allah dari menyerupai makhluk terlebih dahulu, dan menyerahkan maknanya sepenuhnya kepada Allah semata. Ini sesuai dengan konsep Syahadat Tauhid yaitu kalimat Laa ilaaha Illallahu”, tiada tuhan selain Allah. Yaitu menolak terlebih dahulu adanya ilah yang patut disembah, kemudian baru menyatakan hanya Allah, Tuhan yang patut kita sembah. Jadi setelah mereka membaca ayat Mutasyabihat tentang Asma wa Sifat Allah

  1. Memulai dengan melakukan tanzih, yaitu mensucikan Allah dari menyerupakan dengan makhluk. Mereka membaca ayat Mutasyabihat sebagaimana lafaz bahasa Arab-nya. Karena melakukan tanzih (mensucikan Allah dari mnyerupai makhluk), mereka tidak memahami dan membahas makna zahirnya serta tidak pula memahami zahir terjemahannya.
    Mereka beriman dan meyakini bahwa Ayat Mutasyabihat ini adalah dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala,
  2. Kemudian mereka menyerahkan sepenuhnya makna sebenarnya dari ayat Mutasyabihat (yang samar maknanya) kepada Allah semata, sebab hanya Allah Yang Maha Mengetahui maknanya.

Kalau orang hanya melihat sepintas lalu kedua pemahaman itu, nampaknya sama. Namun bagi orang yang berakal, kita dapat melihat perbedaan yang besar antara kedua pemahaman itu.  Ulama Salaf jelas mensucikan Allah dari menyerupai makhluk dengan sempurna, sedangn golongan yang menamakan dirinya Salafi secara tidak sadar telah menyerupakan Allah dengan makhluk. Bagi yang masih belum faham perbedaan ini, marilah kita bahas bersama. Semoga Allah bantu kita untuk memahaminya.

Untuk itu marilah kita memahami apa itu ayat Mutasyabihat. Ayat Mutasyabihat adalah ayat yang kalau difahami makna zahirnya memungkinkan orang memahami Allah menyerupai makhlukNya, karena makna Sifat Allah dalam ayat Mutasyabihat adalah samar.

Kalau Sifat Allah dalam ayat Mutasyabihat difahami secara zahir, maka makna itu menjurus kepada menyerupakan makhluk atau menjurus pada Sifat makhluk yang lemah. Sedang Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Itu sebabnya perlu ditakwil (dipalingkan maknanya) dengan syarat ayat Muhkamat (yang jelas maknanya) yang menjelaskan makna takwil itu (lihat Bagaimana Ahlussunnah wal Jamaah memahami ayat-ayat Mutasyabihat).

Sedang kaidah Tauhid Asma wa Sifat dalam Tauhid dibagi 3 adalah sebaliknya. Mereka menetapkan dahulu Asma dan Sifat Allah dalam ayat Mutasyabihat dengan makna zahirnya, baru kemudian melakukan tanzih (mensucikan Allah dari menyerupai makhlukNya).

Hakikat pernyataan dengan makna zahir “Allah punya Tangan, punya Wajah, Bersemayam di atas Arasy tapi Tangan, Wajah dan BersemayamNya tidak sama dengan makhluk” adalah sama dengan kalimat “Allah punya “Sifat Jism” tapi “Sifat Jism” Allah tidak sama dengan Sifat Jism makhluk”.
Ini sama dengan keyakinan yang mengatakan pernyataan Tuhan punya anak tetapi anak Tuhan tidak seperti anak manusia. Atau Tuhan itu tiga, tapi “tiganya” Tuhan tidak sama dengan “tiganya” makhluk. Sehingga keluarlah pernyataan yang mereka sendiri tidak faham yaitu Tuhan itu tiga tapi satu dan satu tapi tiga.
Na’udzu billah min dzalik, semoga Allah lindungi kita dari keyakinan yang menyesatkan ini.
Bahaya pemahaman seperti ini dapat kita lihat dengan mengetahui Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah?.

Lihat juga:

Bahaya fahaman Mujassimah (3), Allah mempunyai sifat fisik?

Mengapa cara pembahasan Tauhid Rububiyah dalam ajaran Tauhid dibagi 3 justru dapat menjauhkan penganutnya dari makna penting Rububiyah Allah

Hakikat perbedaan ilmu yang bersanad dan ilmu tanpa sanad

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang ditakwil (dipalingkan maknanya) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Wallahu a´alam.

 

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

 

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang ditakwil (dipalingkan maknanya) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Setelah kita membahas Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3. Marilah kita sama-sama membahas pula Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang ditakwil (dipalingkan maknanya) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3, sebagaimana yang tertulis dalam website mereka yang dikenal luas.

muslim.or.id

Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17).

Kemudian disebutkan hujjah dan dalil mereka bahwa tauhid rububiyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang adalah QS Az-Zukhruf:87

Surat Az-Zukhruf Ayat 87
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?,

Lihat  video ini menit ke-7, dan ayat Quran pada website muslim.or.id/makna tauhid, (setelah tulisan yang diberi tanda merah).

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

muslim-or-id-rbb

Lihatlah betapa mereka telah mentakwil (memalingkan makna) sebagian Sifat Rububiyah Allah yaitu “Menciptakan manusia” menjadi makna yang lain. Mari kita teliti bersama.
Dalam ayat diatas jelas disebutkan jika orang kafir jahiliyah ditanya “Siapa yang menciptakan mereka?”. mereka jawab “Allah”. Makna yang ditetapkan yang diakui oleh orang kafir jahiliyah dalam ayat tersebut adalah “Allah Menciptakan manusia”. Tetapi mereka telah mentakwil (memalingkan maknanya) menjadi “orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah”, seolah-olah Sifat Rububiyah Allah hanyalah “mencipta manusia”.

Demikian juga firman Allah dalam QS 29 Al Ankabut 61

29:61

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).

 

Dalam ayat diatas jelas disebutkan jika orang kafir jahiliyah ditanya “Siapa yang menciptakan langit dan bumi?”. mereka jawab “Allah”. Makna yang ditetapkan yang diakui oleh orang kafir jahiliyah dalam ayat tersebut adalah “Allah Menciptakan langit dan bumi”. Tetapi mereka telah mentakwil (memalingkan maknanya) menjadi “orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah”, seolah-olah Sifat Rububiyah Allah hanyalah “mencipta langit dan bumi”.  Padahal banyak Sifat Rububiyah Allah yang lain yang tidak diakui oleh orang kafir Jahiliyah.

Anehnya lagi dalam Tauhid Asma Wa Sifat, mereka amat teguh mempertahankan makna asli Asma dan Sifat Allah bahkan untuk ayat Mutasyabihat pun difahami dan ditetapkan dengan makna zahirnya, seperti Sifat istawa di atas arasy. Pantang mereka mentakwilnya. (lihat Anomali Tauhid Asma Wa Sifat yang memahami sifat Allah sesuai lafaz zahir Asma dan Sifat Allah, kecuali Sifat Rububiyah)

rumaysho.com

Rumaysho_org_musy_mengakui_Tau_Rub_box

Dalam website  rumaysho.com/3637 disebutkan dalil dan hujjah bahwa orang musyrik mengakui tauhid rububiyah adalah QS Al Mukminun; 84-89:

 

23:84
Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”
23:85

Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”

23:86

Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?”

23:87

Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”

23:88

Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”

23:89
Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?

 

Dalam QS Al Mukminun: 84-89 Sifat Allah yang ditetapkan – ketika orang kafir jahiliyah ditanya dengan pertanyaan tentang Sifat Allah – adalah sebagai berikut:

– Siapa Pemilik bumi dan seisinya
– Siapa Robb dari 7 langit dan Robb bagi Arasy yang besar
– Siapa Yang berkuasa atas segala sesuatu, sehingga tidak ada yang dapat berlindung dari-Nya
, kemudian mereka (orang kafir jahiliyah) menjawab “Allah”.
Perhatikan dengan teliti, pada pengakuan orang kafir dengan kata Robb, yang ditanya bukanlah Robb bagi mereka, tetapi Robb bagi 7 langit dan Robb bagi Arasy yang besar.
Sebagian Sifat Rububiyah Allah itu dengan mudahnya mereka takwil (palingkan maknanya) menjadi orang musyrik mengakui tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, pengatur alam semesta, dan penguasa jagad raya.
Seolah-olah hanya itu saja Sifat Rububiyah Allah. Padahal banyak Sifat Rububiyah Allah yang ditolak oleh orang musyrik. (lihat Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3. )

almanhaj.or.id

Dalam almanhaj.or.id/1978-tauhid-rububiyah-dan-pengakuan-orang-orang-musyrik-terhadapnya mereka juga menggunakan dalil QS Al Mukminun: 86-89. Lihat box merah dan box biru di snapshot di bawah.

Allah menciptakan seluruh makhluk-Nya di atas fitrah pengakuan terhadap Rububiyyah-Nya. Bahkan orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dalam ibadah pun mengakui keesaan dan sifat Rububiyyah-Nya.

 

mhj_rbb_1_box

“Double Standard” ajaran Tauhid dibagi 3

Dari beberapa bukti di atas maka dapat disimpulkan bahwa pernyataan bahwa “orang musyrik mengakui Tauhid Rububiyah” adalah hasil mentakwil (memalingkan makna) dan menta’thil sebahagian Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang disebut dalam Al Qur’an yang makna zahirnya diyakini oleh orang kafir/musyrik. Ini juga bukti bahwa kaidah Tauhid dibagi 3 mempunyai “Double Standard” atau “Standar Ganda” yaitu:

 

Standard dalam Tauhid Rububiyah: mentakwil dan menta’thil Sifat Rububiyah Allah sehingga dapat membuat pernyataan “orang musyrik mengakui Tauhid Rububiyah”.

Sedang Standard Tauhid Asma wa Sifat: menetapkan nama bagi Allah sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dalam kitab-Nya dan ditetapkan oleh Rasul-Nya melalui lisannya, tanpa melakukan tahrif (takwil) dan ta’thil serta tanpa melakukan takyif dan tamtsil.

Mari kita teliti bersama (lihat juga video ini)

muslim.or.id

Lihat muslim.or.id/makna tauhid

Sedangkan Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif, tanpa ta’thil dan tanpa takyif.

Mereka amat teguh mempertahankan makna asli Asma dan Sifat Allah bahkan makna zahirnya, seperti Sifat istawa di atas arasy. Pantang mereka mentakwilnya dengan makna yang lain seperti “Menguasai”.

istawa_kuasa

rumaysho.com

Lihat rumaysho.com/908-di-manakah-allah-1

Mereka katakan hasil dari penelitian dan penyimpulan Al Qur’an dan As Sunnah, mereka mengatakan bahwa i’tiqod yang mesti diyakini seorang muslim adalah sebagai berikut.

Pertama: Hendaklah seseorang menetapkan nama bagi Allah sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dalam kitab-Nya dan ditetapkan oleh Rasul-Nya melalui lisannya.

Kedua: Penetapan nama dan sifat Allah di sini tanpa melakukan tahrif dan ta’thil serta tanpa melakukan takyif dan tamtsil.

 

Rumaysho_org_asma-wa-sifat

almanhaj.or.id

Lihat almanhaj.or.id/3263-tauhid-al-asma-wash-shifat-kaidah-tentang-sifat-sifat-allah-jalla-jalaluhu-menurut-ahlus-sunnah

Ahlus Sunnah menetapkan apa-apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tetapkan atas Diri-Nya, baik itu dengan Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mensucikan-Nya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita wajib menetapkan Nama dan Sifat Allah sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah, dan tidak boleh ditakwil.

 

Manhaj-or-id_asma_tanpa_takwil

Semoga Allah melindungi kita dari fitnah dan kekeliruan ajaran Tauhid dibagi 3 ini.

Lihat juga:

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Perbedaan mengakui Allah Yang Memberi Rezeki dengan dan tanpa mengaitkan dengan Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Perbedaan memahami Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan dengan dan tanpa Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Allah sebagai Maha Pencipta manusia di mata orang beriman dan orang musyrikin

Perbedaan pemahaman orang beriman dan orang kafir terhadap Allah sebagai Pencipta langit dan bumi

Hakikat perbedaan ilmu yang bersanad dan ilmu tanpa sanad

Wallahu a´lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3 menyebutkan bahwa Tauhid ini diakui oleh orang kafir atau musyrikin. Namun sebenarnya kesimpulan ini dibuat disebabkan dalam pembahasannya telah menta’thil (mengingkari) banyak Sifat Rububiyah Allah. Tulisan ini menjabarkan beberapa Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang dita’thil itu, sebagaimana yang tertulis dalam website dari ajaran Tauhid dibagi 3 yang dikenal luas.

muslim.or.id

Dalam ajaran Tauhid dibagi 3 menyebutkan bahwa Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17).

Kemudian disebutkan bahwa tauhid rububiyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang (Lihat  video ini menit ke-7, dan snapshot di bawah ini yang ada pada website mereka muslim.or.id/makna tauhid, tulisan yang diberi tanda merah ).

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

rumaysho.com

Rumaysho_org_musy_mengakui_Tau_Rub_box

Lihat text yang dalam box merah  rumaysho.com/3637 di atas.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa orang musyrik mengakui tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, pengatur alam semesta, dan penguasa jagad raya.

almanhaj.or.id

Lihat juga Tauhid Rububiyah dalam almanhaj.or.id/1978-tauhid-rububiyah-dan-pengakuan-orang-orang-musyrik-terhadapnya di bawah ini (lihat box merah di snapshot dibawah ini)

Tauhid Rububiyah dan pengakuan orang-orang musyrik terhadapnya (terhadap Tauhid Rububiyah)

Makna Tauhid Rububiyah:
Yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala perbuatanNya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk

 

mhj_rbb_box
mhj_rbb_1_box

Dalam Al Qur’an

Pernyataan orang musyrik mengakui Tauhid Rububiyah sebenarnya telah menta’thil banyak Sifat Rububiyah Allah, karena banyak Sifat Rububiyah Allah yang tidak diakui oleh orang kafir/musyrikin. Berikut ini kami sampaikan bukti Sifat Rububiyah yang disebutkan dalam Al Quran yang tidak diakui oleh orang kafir/musyrikin.
  1. Sifat Utama Rububiyah Allah adalah Rahmat (kasih sayang). Ini sesuai dengan makna Rububiyah yang akar katanya sama dengan Tarbiyah (Pendidikan akhlak), Murobbi (Pendidik akhlak) dan Robbayani (dalam doa untuk orang tua).  Sifat Rububiyah (Mendidik/Memelihara) erat sekali dengan Rahmat (Kasih Sayang). Siapa yang tidak mendapat pendidikan/pemeliharaan yang baik hakikatnya tidak mendapat kasih sayang.
    Dengan rahmat Allah, manusia dimasukkan ke dalam syurgaNya. Siapakah yang mempu memberikan rahmat yang demikian besar ini kalau bukan Allah.
    Orang kafir/musyrik tidak mengakui dan bahkan putus asa terhadap rahmat Allah sebagaimana disebut dalam Surat Al Ankabut 23

    Surat Al 'Ankabut Ayat 23
    Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.

  2. Sifat Rububiyah Allah mengutus Rasulullah shallallahu alahi wassalam sebagai rahmat untuk seluruh alam. Siapakah yang dapat mengutus Nabi dan Rasul kalau bukan Allah? Sifat Rububiyah Allah ini disebutkan dalam  QS Al Anbiya 107
    21:107
    Dan tiadalah Kami mengutus mu (Rasulullah), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

    Tetapi kaum kafir/musyrikin tidak mengakui Sifat Rububiyah Allah ini, bahkan menuduh para Rasul itu adalah ahli sihir dan pendusta, sebagaimana firman Allah dalam QS Shaad:4.

    Surat Shaad Ayat 4

    Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”.

     

    Maka tidak heran jika orang kafir atau musyrikin yang menolak Rasulullah shallallahu alahi wassalam sebagai rahmat Allah, akhirnya menjadi putus asa terhadap rahmat Allah,

  3. Sifat Rububiyah Allah menghidupkan manusia di akhirat.
    Siapakah yang mampu menghidupkan manusia di akhirat setelah mematikannya di dunia selain  Allah? QS Al Qiyamah: 40

    Surat Al-Qiyamah Ayat 40

    Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?

     
    Sifat Rububiyah Allah ini diingkari oleh orang kafir/musyrikin
    , sebagaimana firman Allah dalam QS An-Naziat: 10-11

    Surat An-Nazi´at Ayat 10
    (Orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?
    Surat An-Nazi´at Ayat 11
    Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?”

  4. Sifat Rububiyah Allah menurunkan Al Qur’an. Siapakah yang dapat menurunkan Al Qur’an kalau bukan Allah? Firman Allah dalam QS Al Hijr:9
    15:9

     

    Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

    Sifat Rububiyah Allah ini tidak diakui oleh orang kafir/musyrikin. Allah menceritakan dalam QS Al Anfal:32
    8:32
    Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”.

    Dalam ayat di atas, bahkan orang kafir dalam ayat di atas menantang, minta di adzab jika benar Quran itu adalah dari Allah subhanallahu wa ta’ala. Na’udzu billah min dzalik.

 

Masih banyak Sifat Rububiyah Allah yang tidak diakui olah orang kafir/musyrikin dan tidak dibahas sama sekali dalam Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3. Seperti  Allah Maha Pengampun, Allah Maha Adil, Allah Maha Pemberi Hidayah, Allah Maha Memberi adzab, Menciptakan syurga, Menciptakan neraka, dan lain-lain.
Jadi kalau satu saja Sifat Rububiyah ini tidak dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3 tentu pernyataan  “orang kafir/musyrik mengakui Tauhid Rububiyah” tidak dapat dibenarkan. Namun begitulah ajaran Tauhid dibagi 3 yang aneh dan saling bertentangan. Ini bukti bahwa ajaran Tauhid dibagi 3 tidak punya manhaj (methode) yang jelas serta double standards.

Standard dalam Tauhid Asma wa Sifat mereka menetapkan Asma wa Sifat Allah dengan makna zahir tanpa takwil dan tanpa ta’thil. Namun standard dalam Tauhid Rububiyah justru menetapkan Sifat Rububiyah dengan menta’thil banyak Sifat Allah hanya agar dapat mengeluarkan pernyataan “orang kafir/musyrik mengakui Tauhid Rububiyah”.
Di sisi lain pernyataan “orang kafir/musyrik mengakui Tauhid Rububiyah” sebenarnya adalah hasil mentakwil sebagian Sifat-Sifat Rububiyah yang diakui orang kafir.

Semoga Allah melindungi kita dari fitnah dan kekeliruan ajaran Tauhid dibagi 3 ini.

Lihat juga:

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang ditakwil (dipalingkan maknanya) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Perbedaan mengakui Allah Yang Memberi Rezeki dengan dan tanpa mengaitkan dengan Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Perbedaan memahami Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan dengan dan tanpa Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Allah sebagai Maha Pencipta manusia di mata orang beriman dan orang musyrikin

Perbedaan pemahaman orang beriman dan orang kafir terhadap Allah sebagai Pencipta langit dan bumi

Hakikat perbedaan ilmu yang bersanad dan ilmu tanpa sanad

Wallahu a´lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Hakikat perbedaan ilmu yang bersanad dan ilmu tanpa sanad

Ajaran Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah berbeda jauh dari ajaran Tauhid dibagi 3 dalam banyak hal, yang mengakibatkan sikap dan pandangan ulama dan pengikutnya jauh berbeda. Lihat:

Penjelasan kekeliruan ajaran membagi Tauhid menjadi 3 (Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa Sifat).

Perbedaan memahami Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan dengan dan tanpa Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Benarkah mengatakan mari kembali kepada Qur´an dan Sunnah mendekatkan orang kepada Qur´an dan Sunnah?

Mengapa cara pembahasan Tauhid Rububiyah dalam ajaran Tauhid dibagi 3 justru dapat menjauhkan penganutnya dari makna penting Rububiyah Allah

Demikian juga dalam mengambil ilmu agama. Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah sangat mementingkan sanad dari mana ilmu itu didapat.

Jauh berbeda dari Ulama Tauhid dibagi 3 yang mengatakan bahwa ilmu sudah tertulis lengkap dari zaman salaf. Sanad hanya diperlukan di zaman salaf ketika menyampaikan Hadits. Katanya ilmu pengetahuan sudah berkembang sudah tertulis dalam buku. Jadi dengan membaca Kitab induk itu sudah cukup, tidak perlu pakai sanad yang sambung menyambung hingga ke penulis Kitabnya. Lihat video dibawah ini.

Berikut kami sampaikan beberapa perbedaan yang sangat ketara antara ilmu yang diperoleh dengan sanad yang bersambung melalui guru ke guru sampai kepada Shahabat radhiallahu anhum dan seterusnya kepada Rasulullahi shallallahu alaihi wassalam dibanding dengan ilmu yang diperoleh tanpa sanad.

  1. Perhatikan sebutan terhadap penganut Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya yaitu Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah. Ulama mereka langsung menyebut nama Ulama dari mana mereka menerima ilmu tentang Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu mengikuti kepada manhaj (methode) Imam Abul Hasan Al Asy’ari (wafat 324H) dan Imam Abu Mansur Al Maturidi (wafat 333H). Inilah Ulama yang menyusun secara lengkap susunan kaidah memahami Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah untuk menghadapi fitnah Aqidah ketika itu untuk mempertahankan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya. Mereka berdua memperoleh ilmu Aqidah itu dari guru-guru mereka yang bersambung hingga Shahabat radhiallahu anhum dan seterusnya kepada Rasulullahi shallallahu alaihi wassalam. Kemudian diteruskan oleh murid-muridnya secara sambung menyambung tanpa putus hingga sampai kepada kita.
    Demikian juga dengan ilmu Fiqih, Ahlussunnah wal Jamaah mengikuti salah satu dari Imam Mazhab yang 4, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafei dan Imam Ahmad bin Hanbal.
    Bagaimana dengan ajaran Tauhid dibagi tiga? Mereka tidak mau menyebut nama ulama yang pertama mengajarkan ajaran Aqidahnya pada nama fahamannya. Tetapi mereka langsung mengaku mengikuti ikut Quran dan Sunnah. Tapi tahukah anda, bahwa kalimat ini tidak lengkap, seharusnya mereka menyebut mengikuti Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Ulama yang mereka ikuti itu, yaitu Ibnu Taimiyah (wafat 728H) dan yang mempopulerkannya yaitu Muhammad bin Abdul Wahab (wafat 1110H) . Oleh sebab itu Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah mengatakan golongan ini dengan golongan Wahabi. Nama ini dahulu diakui oleh mereka sendiri dengan bangganya, namun karena nama ini sudah “tidak laku” di Indonesia, mereka ganti dengan Salafi atau dakwah Sunnah.
    Demikian juga dengan ilmu Fiqih, kaum Tauhid dibagi 3  selalu mengatakan ikut Quran dan Sunnah, tidak mau menyebut bahwa mereka mengikuti satu dari Imam Mazhab yang empat.

  2. Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah sangat mementingkan sanad ilmu, sebab mereka berkeyakinan ilmu agama itu ada dalam diri manusia yaitu pada hati dan akhlak para Ulama. Sedang Kitab adalah hanya catatan ilmu dari hati para Ulama, yang untuk memahaminya kita perlu kenal Ulama itu, agar pemahaman kita dalam membaca Kitab itu sama dengan yang difahami oleh Ulama yang menulisnya. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mengisyaratkan bahwa ilmu para Nabi memang diwariskan pada Ulama sebagaimana disebut dalam hadits berikut:

     العلماء ورثة الأنبياء 

    Ulama adalah pewaris Nabi

    Kemudian hadits berikut lebih menegaskan lagi bahwa ilmu ada pada ulama

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ الله لا يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعَاً يَنْتَزِعُهُ من العِبادِ ولَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حتَّى إذا لَمْ يُبْقِ عَالِمٌ اتَّخَذَ الناس رؤسَاً جُهَّالاً ، فَسُئِلوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا-البخاري

    Telah bersabda Rasulullahi shallallahu alaihi wassalam: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh. Kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [Al-Bukhari (100, 7307); Muslim (2673)]

    Itu sebabnya duduk dan bertemu bersama Ulama adalah media belajar dan menimba ilmu yang utama, selain membaca Kitabnya. Dengan bertemu, melihat dan duduk bersama Ulama, kita akan dapat melihat tauladan, merasakan suasana bersama Ulama yang tidak dapat diperoleh kecuali dengan bertemu dan duduk bersama Ulama. Bukankah seorang muslim yang bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan wafatnya dalam keadaan muslim mendapat gelar yang tidak diperoleh oleh muslim lain yaitu Shahabat radhiallahu anhum.
    Ulama yang Ilmunya bersanad, akan selalu bercerita kepada muridnya tentang gurunya. Bahkan Ulama itu sangat ingin agar murid menjumpai gurunya itu, agar muridnya itu memperoleh ilmu dan berkat sebagaimana yang diperoleh oleh Ulama itu. Demikianlah sikap para Ulama yang ilmunya bersanad.
    Bukankah doa yang selalu kita baca dalam Surat Al Fatihah, adalah meminta ditunjukkan oleh Allah, jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat. Nikmat yang dimaksud adalah tentu nikmat Iman dan Islam. Orang yang telah diberi nikmat itulah para guru dan Ulama, yang belajar dari gurunya yang belajar dari gurunya yang sambung menyambung tanpa putus hingga sampai kepada Sahabat dan seterusnya sampai kepada Rasulullah shallallahu alaih wassalam, puncak pimpinan dari golongan orang yang telah diberi nikmat Iman dan Islam oleh Allah.

    Itu pula sebabnya murid-murid sangat hormat pada gurunya, karena memuliakan ilmu warisan Rasulullah shallallahu alaih wassalam yang ada pada diri guru itu. Mereka sangat berterima kasih dan mendatangi gurunya ketika beliau masih hidup maupun sudah wafat dengan menziarahi makamnya. Murid-murid itu juga menziarahi makam Ulama-Ulama terdahulu yaitu guru dari guru mereka, karena begitulah gurunya memberi contoh kepada mereka. Menziarahi dengan tujuan selain untuk mengingati mati, juga untuk mendoakan, mengingati jasa dan untuk lebih mengenal pribadi Ulama itu untuk dapat mengikuti jejak para Ulama itu. Itu pula sebabnya pengikut Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah menjaga peninggalan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan para Ulamanya agar kita dapat mengenal pribadi, mencintai dan mengikuti jejak para pendahulu mereka. Kita selalu melihat bagaimana para murid menghadiahkan bacaan Al-Fatihah kepada guru-guru mereka, sebagai tanda terima kasih atas jasa para guru, dan berdoa kepada Allah seperti apa yang diminta dalam surat Al Fatihah agar ditunjukkan jalan seperti guru-guru mereka yang telah mendapatkan nikmat Iman dan Islam.

    Berbeda jauh dari golongan Tauhid dibagi 3 yang justru menghilangkan jejak dan peninggalan mereka itu, bahkan peninggalan Rasulullahu shallallahu alaihi wassalam –pun dihancurkan oleh mereka. Mereka merasa tidak perlu mengenal gurunya lebih dekat sebab ilmu agama menurut mereka ada pada Kitab tanpa perlu guru yang bersanad (lihat video di atas).

  3. Salah satu sebab pentingnya belajar bersanad adalah untuk memastikan bahwa ilmu yang disampaikan dan diterima dari Ulama dari satu generasi ke Ulama di generasi berikutnya adalah sama sebagaimana ilmu itu diterimanya dari Ulama di generasi sebelumnya. Hal ini sangat penting, sebab cara penyampaian seperti ini menjamin kebenaran pemahaman ilmu yang diwariskan.
    Sedang ilmu yang disampaikan dengan hanya membaca Kitab dari Ulama Salaf tanpa sanad ilmu, sangat memungkinkan ilmu yang diterima sudah dimasukkan oleh pemahaman dari dirinya sendiri dan terpengaruh hawa nafsunya. Belum lagi kalau Kitab itu sudah dipalsukan textnya, sebagaimana yang terjadi pada Kitab-Kitab Ulama Muktabar, Atau diberi catatan kaki yang menyesatkan yang sama sekali tidak jelas sanad asalnya. Bahkan catatan kaki yang menyesatkan ini juga ada pada Kitab terjemah Al Qur’an.

Dengan 3 point ini saja kita dapat melihat pentingnya sanad ilmu dan bagaimana akibatnya kalau belajar agama tanpa sanad.

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Mengapa cara pembahasan Tauhid Rububiyah dalam ajaran Tauhid dibagi 3 justru dapat menjauhkan penganutnya dari makna penting Rububiyah Allah

Tauhid Rububiyah dalam ajaran Tauhid dibagi 3 didefinisikan dengan mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi. (lihat muslim.or.id/6615-makna-tauhid).
Fokus dari definisi ini adalah bersandar pada ayat Quran tentang pengakuan orang kafir terhadap sebagian kecil Rububiyah Allah (lihat  Orang kafir mengakui adanya Allah bukan sebagai Robb mereka). Kemudian dengan definisi yang sempit itu muncul pula kesimpulan yang sempit yaitu orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah.

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

Definisi seperti ini sebenarnya telah memalingkan (mentakwil) makna penting Rububiyah Allah, yang akar katanya sama dengan kata Robb (Tuhan Yang Memelihara), Murobbi (Pendidik akhlak) dan Robbayani (dalam do’a untuk orang tua kita), yang bermakna memelihara/mendidik yang sangat erat kaitannya dengan sifat rahmat (kasih sayang). Dan kasih sayang adalah Sifat Utama dari Maha Memelihara/Mendidik. Lihat

Tauhid Rububiyah dalam ajaran 3 Tauhid melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri

Sifat Rahmat (Kasih Sayang) adalah Sifat Utama Rububiyah Allah

Mengapa Sifat Rahmat sangat penting dalam Sifat Rububiyah dan Uluhiyah Allah

Dikatakan dalam definisi di atas bahwa Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah. Kejadian penting apakah yang hanya dapat dilakukan oleh Allah kepada kita hambaNya? Sebelum kita jawab pertanyan ini mari kita bertanya kepada diri kita, nikmat apakah yang terbesar yang Allah berikan kepada kita?

Kita sudah mengetahui bahwa nikmat Allah yang terbesar yang diberikan kepada kita adalah Iman. Sesuai dengan doa yang selalu kita baca dalam Surat Al Fatihah yaitu:

Al-Fatiah Ayat 6
Tunjukilah kami jalan yang lurus,
Al-Fatiah Ayat 7
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

 

Sesuai definisi Tauhid Rububiyah di atas, maka hanya Allah yang dapat memberikan nikmat ini. Hanya Allah yang dapat membuat kejadian ini terjadi. Nikmat yang besar ini kita dapatkan karena rahmat Allah. Bagaimana Allah melimpahkan rahmatNya kepada seluruh makhlukNya?

Jawabnya adalah dengan Mengutus Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Allah berfirman:

Firman Allah dalam QS Al Anbiya 107

21:107
Dan tiadalah Kami mengutus mu (Rasulullah), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

 

Firman Allah dalam QS Al Ahzab:21
Surat Al Ahzab Ayat 21
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

 

Itu sebabnya tidak dapat disebut beriman, kecuali kita mencintai Rasulullah shallalahu alaihi wassalam melebihi orang lain termasuk diri kita sendiri.
Kalau kita mengikuti definisi Tauhid Rububiyah di atas, maka semestinya pembahasan Sifat Rububiyah Allah adalah yang terpenting dan utama yaitu diutusnya Rasulullah shallalahu alaihi wassalam. Dengan sebab beliaulah kita semua mendapatkan rahmat Allah, dengan sebab rahmat Allah itulah kita mendapat hidayah, dengan sebab hidayah Allah kita mengenal Islam dan Iman. Sifat Rahmat atau Sifat Utama Rububiyah ini tak diakui oleh orang kafir, bahkan orang kafir berputus asa terhadap rahmat Allah.
Fokus pengakuan kita kepada Tauhid Rububiyah semestinya adalah kepada Sifat Rububiyah Allah yang utama ini. Siapakah yang mampu menciptakan dan mengutus Rasulullah shallalahu alaihi wassalam – manusia yang paling mulia – kalau bukan Allah?

Sebagaimana makna Rububiyah, Allah Memelihara dan Mendidik manusia dengan Sifat Utama RububiyahNya adalah Kasih Sayang. Allah ciptakan manusia untuk beribadah kepadaNya dan menjadi khalifah di muka bumi. Selama hidupnya manusia akan berbuat dosa, kecuali Nabi dan Rasul, karena mereka ma’shum, terpelihara dari dosa. Siapakah Yang Memelihara mereka dari dosa kalau bukan Allah?
Setelah mati di dunia manusia yang mukallaf harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya. Siapakah yang dapat mengampunkan dosa manusia selain Allah?
Di antara manusia itu akan diampunkan oleh Allah adalah atas syafa’at dari para Nabi dan Rasul khususnya Rasulullah shallalahu alaihi wassalam. Siapakah yang mengizinkan memberikan syafa’at kalau bukan Allah?
Akhirnya manusia yang mendapat syafa’at dan ampunan dimasukan ke syurga karena Rahmat Allah.
Inilah bukti bahwa Sifat Utama Rububiyah Allah adalah Rahmat Allah.

Disini kita lihat perbedaan yang menyolok karena fokus pembahasan Rububiyah yang berbeda. Dalam Tauhid dibagi 3 fokus Rububiyah Allah yang dibahas adalah sebagian kecil Rububiyah yang di dalam Quran disebutkan jika orang kafir ditanya, mereka menjawab “Allah”.
Sedang bagi Ahlussunnah wal Jamaah fokus Rububiyah (Pemeliharaan) Allah terhadap makhlukNya adalah makna penting Rububiyah itu sendiri yakni Memelihara dengan Sifat Rahmat (Kasih Sayang) Allah yang menjadi fokusnya, dan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam adalah perwujudan dari Kasih Sayang Allah. Maka akibat fokus pembahasan berbeda maka sikap dan pandanganpun jauh berbeda. Mari kita bahas satu dua contoh sebagai berikut:

1. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam adalah rahmat bagi kita semua termasuk alam semesta keseluruhannya. Maka beradab dan sikap ta’zhim kepada beliaushallallahu alaihi wassalam dan Ulama pewaris beliau adalah suatu keharusan, agar kita dapat limpahan rahmat Allah dan sekaligus meneruskan rahmat Allah yang kita peroleh kepada makhluk Allah yang lain. Maka banyak amalan yang dibuat oleh Ulama Ahlussunnah wal Jamaah banyak dikaitkan untuk lebih mengenal Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, Ini sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wassalam ajarilah anakmu 3 perkara:
1. Cinta kepada Nabimu (Rasulullah shallallahu alaihi wassalam)
2. Cinta kepada keluarga Nabimu
3. Membaca Al Qur’an
Hadits ini menekankan bahwa mengajar anak untuk mencintai Nabi adalah yang paling utama. Ini bukan berarti mengajarkan Al Quran tidak penting, melainkan kalau kita tahu bahwa mengajarkan Al Quran itu sangat penting, maka mengajarkan mencintai Nabi dan keluarganya adalah lebih penting. Mengapa?
Kita tentu pernah mendengar tentang golongan Khawarij. Diceritakan golongan ini adalah penghafal Al Qur’an, ibadah sholat dan puasanya luar biasa, termasuk diantara mereka adalah Abdurrahman ibn Muljam pembunuh Sayidina Ali karamallahu wajhahu. Sayidina Ali adalah termasuk 10 Shahabat yang dijanjikan Syurga, Khalifah dan termasuk keluarga terdekat Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, yang disebut oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bahwa beliau adalah pintunya ilmu, maksudnya tentulah ilmu Al Qur’an yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Sudah tentu beliau adalah Ulama. Pewaris ilmu dari Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Ini juga bukti bahwa ilmu Al Qur’an bukan pada buku, tetapi ada pada diri Ulama pewaris Nabi. Salah satu ciri Ulama pewaris Nabi adalah mengenal dan mencintai Nabi dan keluarga Nabi, karena itu mereka mengenal Al Qur’an dengan benar. Ciri-ciri yang ketara dari Ulama pewaris Nabi adalah mempunyai sifat kasih sayang yang besar sebagaimana Nabi dan keluarganya.
Orang Khawarij hafal lafaz Qur’an saja tetapi tidak mengenal nilai Al Qur’an sebab tak mengenal dan mencintai Nabi dan keluarga Nabi, hingga hilang sifat kasih sayang pada dirinya.

Mereka tidak memahami Al Qur’an sebagaimana Rasulullah, keluarganya dan Shahabatnya memahami. Mengapa?
Jawabnya adalah karena mereka tidak kenal Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dengan sebenarnya, sebab itu pula mereka tidak cinta kepada Rasulullah dengan sebagaimana para Shahabat mencintai Rasulullah. Jadi disini bertambah Jelas bahwa mencintai Nabi shallallahu alaihi wassalam dan keluarganya adalah satu-satunya jalan untuk memahami Al Qur’an, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Ulama pewaris Nabi sangat memahami dan menghayati Al Qur’an, karena mereka mengenal Nabi dan keluarganya shallallahu alaihi wa alihi wassalam.

Itulah sebabnya Shahabat mengajarkan kepada anak-anaknya tentang sirah Nabi shallallahu alaihi wassalam sebagaimana mengajarkan membaca Al-Qur’an,

Sayidina Abu Bakar Siddiq radhiallahu anhu berkata: menyambungkan silaturahmi kepada kerabat Rasulullah shallallahu alaihi wassalam lebih aku sukai dari pada menyambungkan silaturahmi kepada keluargaku.
Maksudnya kalau dengan keluarga sendiri saja silaturahmi tidak boleh putus, apalagi terhadap keluarga Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.
Para ulama telah mengajarkan bagaimana cara mengenal dan mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wassalam di antaranya
– dengan menghafal nama-nama keluarga nabi shallallahu alaihi wassalam.
– silaturahmi dengan keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam (para Habaib).
– membaca maulid yang berisi puji-pujian dan sirah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam secara teratur.
Begitulah para ulama mengajarkan bagaimana mengenal dan mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.

Hassan bin Tsabit radhiallahu anhu selalu memuji Rasul saw didalam masjid Nabawi, maka ketika ia sedang asyik bernasyid (nasyid, syair, qasidah, sama saja dalam bahasa arab yaitu puji-pujian pada Allah dan Rasul saw), ia sedang melantunkan syair puji-pujian pada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.

Tiba-tiba Umar ra mendelikkan matanya kepada Hassan, maka berkatalah Hassan bin tsabit ra : Aku sudah memuji beliau (saw) ditempat ini (masjid) dan saat itu ada yang lebih mulia dari engkau (Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melihatnya dan tidak melarang).

Bandingkan dengan Ulama Tauhid dibagi 3 yang telah mengatakan memperingati maulid Nabi itu bid’ah.

– menziarahi makam Rasulullah shallallahu alaihi wassalam di Mesjid Nabawi. Para Ulama bahkan mengatakan, kalau kita ziarah ke sana, adalah seolah-olah kita memang mengunjungi bertamu ke rumah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Sesuai firman Allah dalam QS Ali Imran: 169

Surat Ali Imran Ayat 169

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.

 

Di zaman kerajaan Usmaniyah, pegawai yang bekerja di sekitar “rumah” Rasulullah shallallahu alaihi wassalam diharuskan hafiz Qur’an dan orang yang mengenal adab, sehingga ketika berada di dekat “rumah” Rasulullah shallallahu alaihi wassalam benar-benar menjaga adab, tidak berkata dan berbuat yang tidak layak.

Bandingkan dengan Ulama Tauhid dibagi 3 telah mengharamkan ziarah makam Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, dikatakannya kalau datang ke Madinah, ziarahilah mesjid Nabawi saja.

2. Ketika Rasulullah telah wafat, para Shahabat mengenalkan Nabi kepada anak-anak mereka adalah dengan menunjukkan bekas dan jejak Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Para Shahabat menceritakan sirah Nabi sehingga anak-anak Shahabat itu mendatangi tukang masak Rasulullah. Kemudian anak-anak itu meminta dibuatkan makanan sebagaimana dahulu tukang masak itu memasak untuk Rasulullah shallallahu alaihi wassalam agar bertambah cintanya kepadanya.
Ketika Sultan Muhammad Al Fatih membuka Konstantinopel (Istanbul), diantara yang pertama dilakukan yang menunjukkan kecintaan dan rasa ta´zhim beliau kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam adalah mencari makam Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam Sayidina Abu Ayyub Al Anshori yang syahid di depan benteng. Makam yang telah hilang lebih 700 tahun akhirnya ditemukan melalui mimpi dari guru Mursyid dari Sultan yaitu Ak Syamsudin. Begitu makam itu ditemukan, beliau perintahkan untuk memelihara makam, dengan membangun atap di atas makam, dan mesjid di sebelah makam yang dinamakan Mesjib Ayub Sultan untuk kemudahan peziarah dari jauh jika hendak sholat fardhu ataupun sunat.

Bandingkan dengan suatu kerajaan yang baru menguasai Hejaz di awal abad 20. Diantara perkara yang pertama dilakukannya adalah menghancurkan makam Shahabat dan menghilangkan jejak peninggalan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan Shahabat, termasuk tempat bekas rumah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan Siti Khadijah.

Lihat juga

Hakikat perbedaan ilmu yang bersanad dan ilmu tanpa sanad

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang ditakwil (dipalingkan maknanya) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

 

 

 

 

Hal penting dari Sultan Muhammad Al Fatih yang tidak diceritakan oleh Ustad Felix Siauw

Muh_Fatih_Felix_Siauw_1

Ustad Felix Siauw adalah seorang Muslim yang amat fenomenal yang dahulunya adalah seorang Mualaf. Beliau menemukan Islam dari hasil pencarian beliau kepada kebenaran, yang akhirnya beliau dapatkan ketika beliau kuliah di IPB melalui Jamaah Hizbut Tahrir Indonesia. Jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang maka tidak ada apapun yang dapat menyesatkan. Sebaliknya jika Allah biarkan seseorang itu sesat karena kekesatan hatinya, maka tidak dapat seorangpun memberikan hidayah kepadanya.

Dalam waktu yang relatif singkat beliau telah berubah dari seorang Mualaf – yaitu orang yang baru masuk Islam yang hatinya perlu diberikan “ulfah” atau kasih sayang khusus – menjadi seorang Mukallaf yang tidak hanya memikul beban syariat tetapi juga seorang yang memikul beban dakwah. Semoga Allah melindungi dan memimpin beliau dalam melaksanakan tugas berdakwah di jalanNya.

Dalam dakwahnya itu beliau terkenal diantaranya karena sering meng“highlight” kisah perjuangan Sultan Muhammad II, salah seorang Sultan dari kerajaan Usmaniyah yang mendapat gelar Al Fatih, karena beliaulah yang berhasil melakukan Futuh (membuka) Konstantinopel (Istanbul) pada tahun 1453 M.

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الْاَمِيرُ اَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

“Sungguh akan terjadi Futuh Kota Konstantinopel di tangan Islam. Pemimpin yang berhasil melaksanakan Futuh itu adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”[Hadits Konstantinopel]

Muh_Fatih_Felix_Siauw_2

Beliau telah menulis sebuah buku tentang perjuangan Sultan Muhammad Al Fatih. Kamipun tertarik untuk membeli dan membaca buku itu.
Dalam buku itu, beliau menerangkan secara detail bagaimana Muhammad Al Fatih kecil dididik oleh ayahnya Sultan Murad II dengan mencarikan guru-guru terbaik, sehingga menjadikannya menjadi pejuang tangguh, pemimpin terbaik yang memimpin pasukan terbaik, sesuai dengan Hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tentang pembukaan (Futuh) Kontantinopel. Bahkan beliau menulis secara detail strategi dan alat perang yang digunakan dengan panjang lebar.

Namun sayang sekali kami tidak menemukan perkara yang amat penting dari Sultan Muhammad Al Fatih yang semestinya beliau juga “highlight“kan dalam bukunya itu. Yaitu landasan agama Islam yang dipegang oleh Sultan Muhammad Al Fatih dan kerajaan Usmaniyah. Kalau Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sudah memuji tentulah apa-apa yang ada pada orang itu dalam hal beragama adalah benar dan tidak diragukan lagi, sehingga patut untuk kita jadikan tauladan. Demikian juga Sultan Muhammad Al Fatih. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sudah memujinya bahkan dengan bala tentaranya sebelum mereka dilahirkan (lihat Isyarat Rasulullah SAW membenarkan Aqidah ASWAJA Asy´ariyyah/Maturidiyah, berfiqih dengan bermazhab dan bertasauf).

Sekarang ini banyak golongan mengaku beragama Islam dan mengaku Ahlussunnah wal Jamaah. Namun Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya punya ciri khas tersendiri yang telah diketahui dan disepakati oleh Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jamaah dari zaman ke zaman. Ciri khas itu adalah landasan agamanya yang dikenal dengan tiga Rukun Agama dalam Ahlussunnah wal Jamaah yaitu: Islam, Iman dan Ihsan. Tiga rukun agama ini diambil dari Hadits yang terkenal yang sering juga disebut dengan Hadits Jibril:

“Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khatthab RA, beliau berkata, ‘Pada suatu hari, di saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, tiba-tiba muncullah seorang laki-laki yangsangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, dan tidak terlihat bekas-bekas bahwa dia datang dari jauh, dan tidak ada seorang pun diantara kami yang mengenalinya, sampai dia duduk di depan Nabi shallallahu alaihi wassalam, dan menempelkan kedua lututnya dengan kedua lutut Nabi, seraya meletakkan kedua telapak tangannya di kedua paha beliau. Kemudian dia berkata, ‘Ya Muhammad, jelaskan kepadaku tentang Islam?’

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Islam ialah hendaknya angkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah rasul-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan melaksanakan haji jika engkau mampu.’

Laki-laki itu berkata, ‘Engkau benar’. Maka kami pun merasa heran terhadap laki-laki itu, dia bertanya tapi dia juga membetulkan (jawabannya). Selanjutnya dia berkata, ‘Terang pula kepadaku tentang Iman?’

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Iman ialah hendaknya engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan buruknya.’

‘Engkau benar’, kata laki-laki itu. Seterusnya dia berkata, ‘Jelaskan kepadaku tentang Ihsan?’

Nabi shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Ihsan ialah hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.’

Laki-laki itu berkata, ‘Jelaskan pula kepadaku tentang hari kiamat?.’

Nabi shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.’

Laki-laki itu berkata lagi, ‘Katakan kepadaku tentang tanda-tandanya (kiamat)?’

Nabi shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘(Tanda-tandanya ialah) jikaseorang budak perempuan telah melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang, papa, dan penggembala kambing, berlomba-lomba membangun rumah-rumah yang tinggi.’

Untuk mempelajari ketiga rukun agama itu, Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah menjabarkannya menjadi ilmu Fiqih, Ilmu Tauhid dan Ilmu Tasawuf *) sbb:

  1. Ilmu Fiqih, yaitu ilmu tentang hukum-hukum syariat yang diwajibkan oleh Allah untuk dilaksanakan oleh kaum muslim dan muslimat. Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah bersepakat bahwa dalam ilmu fiqih, umat Islam Ahlussunnah wal Jama´ah mengikuti satu dari 4 Mazhab yang mu´tabar yaitu Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafei dan Mazhab Hambali. (lihat Mengapa Ahlussunnah wal Jamaah mengikuti Imam Mazhab).
  2. Ilmu Tauhid atau Aqidah, yaitu hal-hal yang wajib diyakini oleh seorang mukallaf (orang yang telah dewasa yang wajib menjalankan hukum agama), yang terdiri dari ketuhanan, kenabian, dan hal-hal yang sam’iyyat (masalah-masalah ghaib). Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah bersepakat bahwa jika disebut Aqidah Ahlussunnah wal Jama´ah adalah Aqidah yang disusun oleh Imam Abul Hasan Al Asy´ari (wafat 324 H) dan Imam Abu Mansur Al Maturidi (wafat 333 H). Oleh sebab itu disebut juga Aqidah Ahlussunnah wal Jama´ah Asy´ariyyah dan Maturidiyah. (lihat Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 1: Sifat Nafsiyah dan Sifat Salbiyah)).
  3. Ilmu Tasawuf, yaitu ilmu tentang akhlak bathin dimana sifat yang baik (mahmudah) wajib dijadikan hiasan oleh seorang hamba, dan sifat yang buruk mazmumah mesti dibuang dan ditinggalkan. Di antara Imam yang telah menyusun Kitab Tasawwuf dari Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah adalah Imam Junaid Al Baghdadi, Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani, Imam Ghazali, Ibnu Athoilah As-sakandari dan banyak lagi.
    (lihat Sejarah ditulisnya ilmu-ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama´ah ).

Inilah pegangan Sultan Muhammad Al Fatih dan Kerajaan Usmaniyah. Dalam hal fiqih, orang Turki pada umumnya bermazhab Hanafi. Aqidahnya mengikuti Imam Abu Mansur Al Maturidi yang juga bermazhab Hanafi. Umat Islam yang bermazhab Maliki dan Syafei pada umumnya Aqidahnya mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy’ari. Pengikut Mazhab Maliki mengatakan bahwa Imam Abul Hasan Al Asy’ari bermazhab Maliki, dan pengikut Mazhab Syafei mengatakan beliau bermazhab Syafei. Hal ini bukan masalah sebab memang di zaman itu, masih banyak Ulama yang menguasai lebih dari satu Mazhab. Ilmu Aqidah Ahlussunnah wal Jama´ah yang disusun oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Maturidi adalah sama pada pokoknya. Hanya ada perbedaan kecil yang tidak menyangkut pokok, seperti pada cara pendefinsian. Misalnya dalam ajaran Imam Abul Hasan Al Asy´ari sifat wajib Rasul ada 4 yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah. Sifat Ma´shum (tidak melakukan dosa) sudah termasuk di dalam 4 Sifat itu. Dalam ajaran Imam Abu Mansur Al Maturidi, sifat wajib Rasul ada 5 yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah dan ‘Ishmah (Ma´shum).
Pengikut Mazhab Hambali sebagiannya mengikuti Aqidah Asy’ariyah dan Maturidiyah, sebagiannya mengikut Aqidah yang disusun oleh Ibnu Taimiyah (wafat 728H) yang sekarang kemudian dikenal dengan Tauhid dibagi 3  yang kaidahnya saling bertentangan antara Tauhid Rububiyah dan Tauhid al Asma was Sifat. Ibnu Taimiyah memang dikenal sebagai Ulama yang banyak pendapatnya keluar dari Jumhur Ulama Ahlussunah wa Jamaah.
Umat Islam pada zaman kerajaan Usmaniyah pada umumnya bertasawuf dengan mengikuti Tariqat sebagai jalan untuk mendidik akhlaknya. Bahkan guru dari Sultan Muhammad Al Fatih adalah bertariqat Naqsibandiyah. Pada umumnya para Sultan dari Kerajaan Usmaniyah memang bertariqat Naqsibandiyah.

Mengapa menyebutkan 3 Rukun agama ini sangat penting? Kalau kita membuka Kitab-kitab Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang terdahulu, seperti Imam Ghazali, Imam As Suyuti, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Zakaria Al Anshari, Imam Fahrurrazi, Imam Ahmad Ad-Dardir dan lain-lain. Mereka selalu menuliskan pada awal Kitabnya itu tentang pegangan mereka dalam Aqidah, madzhab fikih dan tidak jarang mereka sebut pula Tariqatnya. Ini menunjukkan bahwa perkara ini amat penting. Kita Umat Islam Ahlusssunnah wal Jamaah akan segera tahu bahwa penulis buku itu adalah Ulama Ahlussunnah wal Jamaah, sehingga timbul kecintaan dan ta’zhim kepadanya karena kesamaan guru yaitu para Imam Ahlussunnah wal Jamaah.

Kita lebih dapat memahami maksud mereka mendeklarasikan pegangannya dalam Kitab-Kitab mereka dengan melihat keadaan zaman sekarang ini. Karena di zaman inilah banyak orang mengaku mengikuti Qur’an dan Hadits tetapi tanpa menyebut darimana mereka memperoleh ilmu Qur’an dan Hadits. Yaitu ilmu yang berkaitan dengan perkara Aqidah, Fiqih dan Tasawwuf sebagai penjabaran Hadits Jibril di atas dalam kehidupan, yang telah disepakati oleh Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jamaah.
Kalau mereka tidak menuliskan dari siapa mereka belajar sebagai rasa syukur dan mengingat jasa guru, bagaimana mereka dapat mendidik orang lain agar bersyukur dan mengingat jasa gurunya?

Oleh sebab itu di akhir zaman ini mendeklarasikan bahwa kita berpegang pada Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah di saat orang menganggap remeh perkara ini adalah suatu dakwah dan syiar Islam. Mengatakan kita berpegang pada satu dari 4 Mazhab yang Muktabar (Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafei dan Mazhab Hambali) di kala orang mengabaikan Mazhab adalah dakwah dan syiar Islam. Mengatakan kita mengikuti Ulama Tasawuf yang Muktabar di waktu orang mengatakan tasawuf itu bid’ah adalah dakwah dan syiar Islam.

Insya Allah umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah akan kembali berjaya sebentar lagi, karena semakin banyak orang yang melakukan dakwah dan syiar Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah. Dengan itu di satu sisi akan semakin banyak pula umat Islam yang mengenal dan melihat kehebatan dan kecerdasan Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah, di sisi lain semakin nampak kelemahan dan keanehan ajaran Islam yang menyimpang, terutamanya ajaran Aqidah yang membagi Tauhid menjadi 3 yang didukung oleh suatu negara Petrodollar. Sebagaimana dahulu Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi mengembalikan Umat Islam dari aliran Aqidah menyimpang Muktazilah yang juga disponsori oleh suatu kerajaan Islam. Mereka memenangi perjuangan mereka bukan dengan politik, tetapi melalui dakwah dan penyampaian kepada Umat Islam yang memperlihatkan kehebatan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Perjuangan Sultan Muhammad Al Fatih inilah Isyarat Rasulullah shallallahu alaihi wassalam membenarkan Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah Asy´ariyyah/Maturidiyah, berfiqih dengan bermazhab dan bertasauf.

Satu hal yang jarang diketahui oleh mayoritas Umat Islam Indonesia bahwa Umat Islam Turki berpegang pada Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariah/Maturidiyah hingga sekarang. Kalau anda datang ke Mesjid yang dikelola oleh pemerintah atau oleh organisasi Islam Turki baik di dalam negeri maupun di luar negara Turki anda akan melihat bahwa mereka semua berpegang pada Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariah/Maturidiyah. Setiap Mesjidnya selalu ada Hojah (Ustad) yang bertugas berkhidmat di Mesjid, Tidak ada Mesjid didirikan tanpa Hojah. Para Hojah inilah yang menjaga pegangan Ahlussunnah wal Jamaah di Mesjid itu. Inilah keunggulan masyarakat Islam Turki dibanding Umat Islam bangsa lain sekarang ini.

Pengaruh pengikut Tauhid dibagi 3 dan golongan orang yang mengkafirkan Shahabat hampir-hampir tidak ada. Ini juga berkat warisan dari Kerajaan Usmaniyah yang telah berkhidmat selama hampir 700 tahun memegang amanah Khilafah kepada umat Islam.

Banyak muslim Indonesia yang menokohkan President Turki sekarang, tetapi hanya melihat dari sisi politik, karena mungkin merasa sama-sama berjuang melalui Partai Islam. Namun kekuatan Islam di Turki bukanlah kekuatan partai politik saja, melainkan yang terpenting adalah kesamaan pegangan Ahlussunnah wal Jamaah pada masyarakat Islam Turki pada umumnya. Semua Mesjid baik yang dikelola oleh pemerintah maupun dari berbagai organisasi Islam, mereka sama-sama memperingati hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi, Malam Rajaib (malam Jumat pertama di bulan Rajab), Baraat Kandili (malam Nisyfu Sya’ban), hari Asyura (10 Muharam), Isra’ Mi’raj dan lain-lain. Mereka merayakan Hari Raya Idul Adha dan Idul Fithri pada hari yang sama sesuai dengan keputusan pemerintahnya. Tidak ada issue bid’ah membid’ahkan di antara mereka. Perkara ini kelihatannya remeh temeh, tapi inilah kekuatan pemersatu Umat islam Turki yang luar biasa. Oleh sebab itu kami ingin “highlight”kan hal penting dari Sultan Muhammad Al Fatih yang tidak diceritakan oleh ustad Felix Siauw dalam buku dan pengajian-pengajiannya.
Hal penting ini sampai saat ini masih menjadi kekuatan utama persatuan Umat Islam di Turki. Agar kalau kita ingin benar-benar menjadikan Sultan Muhammad Al Fatih sebagai tauladan perjuangan kita, maka mulai dari bagian mana dari Sultan Muhammad Al Fatih yang ingin kita tiru? Tentulah kita mulai dari landasan agamanya, yaitu Aqidahnya, fikihnya dan tasawufnya. Bukankah beliau telah dipuji oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Tentulah beliau termasuk orang yang telah diberi ni’mat, yaitu orang yang ingin kita ikuti, seperti do’a kita dalam surat Al Fatihah yang selalu kita baca, bahwa kita minta ditunjukkan jalan yang lurus yaitu jalan orang yang telah Allah beri ni’mat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang tersesat. Amin Allahumma amin.

Wallahu a´lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

*) KH Hasyim Asy’ari sudah mengingatkan kepada Umat Islam Indonesia tentang pentingnya pegangan Ahlussunnah wal Jamaah ini – yang menjadi pegangan Umat Islam Nusantara dari awal datangnya Islam ke Nusantara – dalam Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ustad Adi Hidayat telah menjelaskan sebagiannya, namun sayang justru tidak menjelaskan 2 bagian pentingnya  yaitu

  1. Apa itu Ahlussunnah wal Jamaah yaitu
    a. Islam, ilmunya disebut ilmu Fiqih dengan mengikut satu dari 4 Imam Mazhab (dalam hal ini di Indonesia, mayoritas bermazhab Syafei)
    b. Iman, ilmunya disebut ilmu Tauhid/Aqidah yang merujuk kepada Imam Abul Hasan Al Asy’ari (dan Imam Abu Mansur Al Maturidi.
    c. Ihsan, ilmunya disebut Ilmu Tasawuf/Akhlak mengikuti Ulama Tasawuf seperti Imam Ghazali dan Imam Junaid Al Baghdadi
  2. Kekeliruan ajaran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab yang membagi Tauhid menjadi 3 (Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Sifat).

(Lihat Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat

Mengapa Ustad Adi Hidayat tidak menerangkan bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari?).

Bahaya fahaman Mujassimah (4), Allah ada di atas?

Setelah kita membahas:

Bahaya fahaman Mujassimah (1); Allah ada di comberan?

Bahaya fahaman Mujassimah (2); Allah ada di luar alam?

Bahaya fahaman Mujassimah (3), Allah mempunyai sifat fisik?

Kali ini kita bahas Video seorang Ustad yang berfaham Mujassimah yang konon ingin mengenalkan lebih dekat Aqidah Asy’ariyah dengan maksud ingin menunjukkan kekeliruannya. Namun karena beliau sebenarnya tidak faham Aqidah Asy’ariyah/Maturidiyah, maka yang terjadi adalah sebaliknya, beliau justru menerangkan hakikat fahaman Mujassimah dalam ajaran yang membagi Tauhid menjadi 3.
Aqidah Asy’ariyah/Maturidiyah adalah Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya yang dianut oleh mayoritas umat Islam dari dahulu hingga sekarang.

Beliau mengatakan bahwa Allah berada di atas dengan makna zahirnya, Lihat video dibawah pada menit 11:50 hingga 13:00

 

Bahkan beliau menyindir pemahaman Aqidah Asy’ariyah dengan mengatakan:

“Saya tidak pernah mendengar mereka berkata kita serahkan kepada yang ada dimana-mana. Saya tidak pernah mendengar kita serahkan kepada yang tidak di atas dan yang tidak dibawah.”

Secara tidak sadar pernyataan telah menjelaskan fahaman Mujassimahnya itu. Kaum Mujassimah jika mendengar ayat atau hadits yang menyatakan Sifat Allah yang berkaitan dengan tempat, mereka langsung memahaminya dengan makna zahirnya. Karena mereka memahami Dzat Allah itu berjisim (bertubuh/ fisik/ benda), maka yang mereka fahami dari pernyataan “Allah ada dimana-mana”, adalah jisim Dzat Allah ada di mana-mana. Padahal yang dimaksud bukanlah Dzat Allah berada dimana-mana, melainkan tanda-tanda Sifat Keagungan Allah ada di mana-mana.

Demikian juga mereka tidak faham pernyataan “Allah tidaklah berada di atas dan tidak pula di bawah”. Kaum Mujassimah tidak dapat memahami bahwa Dzat Allah bukan jisim. Karena Dzat Allah bukan jisim maka Allah tidak memiliki sifat jisim. Sifat jisim hanya ada pada makhluk. Jisim memerlukan tempat/ruang.
Makna zahir “di atas” dapat dikatakan “di atas” karena ada jism lain yang berada di bawahnya. Sifat jisim berada di atas ini pun hanya dapat dikatakan oleh jisim lain yang berada di bawahnya. Jadi makna zahir di atas tergantung dari sesuatu yang berada di bawahnya. Kalau tidak ada sesuatupun di bawah benda itu, maka tidak dapat dikatakan benda itu berada di atas.
Jadi Mustahil Allah “di atas” difahami dengan makna zahirnya, karena Allah bukan jisim yang tergantung pada yang lain.

(lihat juga Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah )

Kaum Mujassimah benar-benar memahami Ayat Quran yang Mutasyabihat dengan makna zahirnya, tanpa takwil dan tanpa takwil. Karena begitulah kaidah Tauhid Asma wa Sifat dalam Tauhid dibagi 3. Namun anehnya ketika membahas Tauhid Rububiyah mereka justru melanggar kaidah ini, karena banyak Sifat Allah yang ditakwil dan di ta’thil (lihat Bagaimana menjelaskan konflik antara kaidah Tauhid Rububiyah dan kaidah Tauhid Asma wa Sifat dalam ajaran Tauhid dibagi 3 dengan kaidahnya sendiri). Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah telah menjelaskan Bagaimana memahami ayat-ayat Mutasyabihat.

Makna Allah di atas yang disebut di dalam hadits jariyah yang sering mereka sebutkan, sebenarnya bukanlah makna zahirnya. Kalau kita ingin membahas makna di atas maka kita perlu takwil (mengalihkan makna) dari makna zahir hadits yang Mutasyabihat (samar) kepada makna yang pasti yang pada Ayat Muhkamat (yang jelas maknanya).

Untuk memudahkan kita faham makna “di atas” bukan dengan makna zahir, kita uraikan sebagai berikut. Kalau kita melihat ada orang berkuasa, kita yakin pasti ada orang lain yang “di atasnya” yang lebih berkuasa dari pada orang itu. “Di atas” orang inipun pasti ada orang lain lagi yang lebih berkuasa. Dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya “Yang mengatasi” semua makhluk ini adalah Allah yang Maha Berkuasa. Kalau orang yang berkuasa memerlukan ada orang lain atau benda yang dikuasainya, sedang Allah tidak memerlukan makhluk yang dikuasaiNya. Allah tetap Maha Kuasa dan Kuasa Allah sama sekali tidak bertambah dan berkurang baik ketika makhluk itu belum, setelah diciptakan, maupun jika ditiadakan kembali. Ini sesuai dengan Firman Allah di QS Al Baqarah:20

 

Surat Al-Baqarah Ayat 20
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

 

Kalau kita melihat ada orang kaya, tentu kita yakin pasti ada orang yang “di atas”nya yang lebih kaya dari pada orang itu. “Di atas” orang inipun pasti ada orang lain lagi yang lebih kaya. Dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya “Yang mengatasi” semua makhluk ini adalah Allah yang Maha Kaya. Kalau orang yang kaya memerlukan adanya orang lain atau benda yang menjadi kekayaannya, sedang Allah tidak memerlukan makhluk yang dimilikiNya. Bahkan kekayaan Allah sama sekali tidak bertambah dan berkurang baik ketika makhluk itu belum atau setelah diciptakan, maupun jika ditiadakan kembali. Ini sesuai dengan Firman Allah di QS Al Ankabut:6

Surat Al 'Ankabut Ayat 6

Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Demikian juga kalau kita melihat ada orang yang berilmu, tentu kita yakin pasti ada orang lain yang “di atas”nya yang lebih banyak ilmunya dari pada orang itu. “Di atas” orang inipun pasti ada orang lain lagi yang lebih berilmu. Dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya “Yang mengatasi” semua makhluk ini adalah Allah yang Maha Berilmu (Mengetahui). Kalau orang yang berilmu dikatakan berilmu karena ada orang lain yang lebih sedikit ilmunya dari dirinya. Artinya orang berilmu itu memerlukan adanya orang lain yang lebih bodoh darinya, sedang Allah tidak memerlukan makhluk. Allah tetap disebut Maha Mengetahui, IlmuNya sama sekali tidak bertambah dan tidak berkurang baik ketika makhluk itu belum atau setelah diciptakan, maupun jika ditiadakan kembali. Ini sesuai dengan Firman Allah di QS Al Hasyr:22

 

Surat Al-Hasyr Ayat 22

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 

Mengapa kita menengadahkan tangan ke atas ketika berdoa?

Tangan kita menengadah ke atas ketika berdoa adalah memang fitrah. Menurut Ahlussunnah Wal Jama´ah Asy´ariyyah/Maturidiyah bukanlah berarti Dzat Allah berada di atas seperti yang difahami oleh ulama Tauhid 3 serangkai, melainkan difahami bahwa kiblat berdoa kita adalah ke atas. Ini menunjukan hinanya kita sebagai hamba Allah yang lemah dan Maha Agung dan MuliaNya Allah sebagai Tuhan Maha Pencipta.

Mengapa kita perlu kiblat (arah) dalam beribadah kepada Allah? Sebab kita ini makhluk Allah yang terikat tempat dan waktu. Karena kita terikat tempat maka kita mempunyai 6 arah mata angin utama (atas, bawah, depan, belakang, kiri dan kanan). Allah adalah Khaliq yang tidak serupa dengan makhluk dan tidak bergantung pada makhluk. Allah Wujud tanpa memerlukan dan terikat dengan waktu dan tempat. Waktu dan tempat adalah makhluk Allah.

Dalam ibadah berdoa arah kiblat kita adalah ke atas, dalam ibadah sholat arah kiblat kita adalah Ka´bah. Oleh sebab itu ketika kita berdoa berjama´ah kita duduk atau berdiri melingkar sambil menengadahkan tangan ke atas, karena kiblat berdoa adalah ke atas, tapi bukan berarti Dzat Allah berada di atas. Demikian juga ketika kita sholat berjamaah, kita berdiri berbaris bershaf-shaf untuk sama-sama menghadap kiblat sholat yaitu Ka´bah di Mekkah, tetapi bukan berarti Dzat Allah berada di dalam Ka´bah.

Jadi kalau kita memahami Sifat Salbiyah yang kita pelajari dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah, adalah sangat jelas dan “smart” dalam memahami Sifat-Sifat Allah yang indah itu (Asmaul Husna). Sangat rugi mereka yang tidak dikenalkan dengan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah, apalagi jika mereka justru menganggap remeh ajaran Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah. Mereka menjadi tidak kenal dengan Ulama-ulama Ahlussunnah wal Jamaah dan tidak mengenal betapa hebat Ulama-Ulama itu. Mereka jadi tidak dapat mensyukuri jasa Ulama yang membawa Islam sehingga sampai kepada kita.

Kalau mereka tidak kenal Ulama yang bersambung ilmunya kepada Ulama Salaf dan seterusnya para Shahabat radhiallahu anhum dan seterusnya Rasulullah shallallahu alaih wassalam, bagaimana mereka dapat kenal kepada Rasulullah?

Allah menyuruh kita berdoa agar terlindung dari fitnah orang yang hatinya condong pada kesesatan karena mengikuti makna zahir Ayat Mutasyabihat (QS Ali Imran:8)

 

Surat Ali Imran Ayat 8
(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

 

Wallahu a´alam.
Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Bagaimana menjelaskan konflik antara kaidah Tauhid Rububiyah dan kaidah Tauhid Asma wa Sifat dalam ajaran Tauhid dibagi 3 dengan kaidahnya sendiri

Dalam ajaran Tauhid dibagi 3, Tauhid terdiri dari

  1. Tauhid Rububiyah
  2. Tauhid Uluhiyah
  3. Tauhid Asma wa Sifat

Ajaran ini menerangkan kaidah-kaidah Tauhid ini dengan urutan yang disebut di atas. Namun kalau kita jeli mendalaminya, sebenarnya ada konflik antara kaidah Tauhid Rububiyah dan kaidah Tauhid As wa Sifat. Kita dapat dengan mudah mengetahui konflik kaidah antara kedua Tauhid ini, jika kita mulai dari memahami kaidah Tauhid Asma wa Sifat dan baru kemudian membahas kaidah Tauhid Rububiyah.

Cara pengajaran Tauhid dibagi 3 dengan urutan seperti di atas telah “membungkus” kejanggalan dan konflik kaidah Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma wa Sifat. Lihat video di bawah ini dan tulisan di muslim.or.id/6615-makna-tauhid. Di situ diterangkan kaidah jenis-jenis Tauhid sesuai urutan pembagian Tauhid di atas.

Berikut ini penjelasan konflik dan kejanggalan kaidah Tauhid dibagi 3 dengan kita membahas kaidah Tauhid Asma wa Sifat terlebih dahulu dan kemudian membahas Tauhid Rububiyah.

istawa_kuasa

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

Kaidah Tauhid Asma wa Sifat

Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif (mengubah), tanpa ta’thil (mengingkari) dan tanpa takyif (bertanya bagaimana) (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul).

Tahrif/Takwil adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna zhahir-nya menjadi makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata ‘istiwa’ yang artinya ‘bersemayam’ dipalingkan menjadi ‘menguasai’.

Ta’thil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat Allah. Sebagaimana sebagian orang yang menolak bahwa Allah berada di atas langit dan mereka berkata Allah berada di mana-mana.

Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah sama sekali tidak serupa dengan makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang mampu menggambarkan hakikat wujudnya. Misalnya sebagian orang berusaha menggambarkan bentuk tangan Allah,bentuk wajah Allah, dan lain-lain.

Adapun penyimpangan lain dalam tauhid asma wa sifat Allah adalah tasybih dan tafwidh.

Kaidah Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi,

Dan perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang.

Pelanggaran Kaidah Tauhid Asma wa Sifat pada pembahasan Tauhid Rububiyah

Mentakwil (memalingkan) Sifat Allah

Contoh Sifat Allah yang ditakwil (dipalingkan maknanya) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah (lihat muslim.or.id/6615-makna-tauhid dan screen shot di atas)

  • QS Az-Zukhruf: 87

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Az Zukhruf: 87)

Di situ jelas ditulis ketika orang kafir ditanya siapakah “Siapa yang menciptakan mereka?”. Orang kafir menjawab: Allah. Sifat yang ditetapkan di situ adalah. Orang kafir mengakui bahwa Allah Menciptakan mereka. Ditakwil (dipalingkan maknanya) menjadi orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah.

  • QS. Al Ankabut 61

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjalankan matahari juga bulan?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Al Ankabut 61)

Di situ jelas ditulis ketika orang kafir ditanya “Siapa yang menciptakan langit dan bumi?”. Orang kafir menjawab: Allah. Sifat yang ditetapkan di situ adalah. Orang kafir mengakui bahwa Allah Menciptakan langit dan bumi. Ditakwil (dipalingkan maknanya) menjadi orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah.

Menta’thil (mengingkari/menolak) Sifat Allah

Banyak Sifat Allah yang dita’thil (diingkari) dalam Tauhid Rububiyah. Telah ditetapkan dalam pembahasan Tauhid Rububiyah, bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah. Padahal banyak Sifat Rububiyah Allah yang disebut dalam Qur’an yang tidak diakui oleh orang kafir. Contoh:

  • QS An Naziat 10-11
Surat An-Nazi´at Ayat 10
(Orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?
Surat An-Nazi´at Ayat 11
Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?”

 

Allah akan menghidupkan manusia di akhirat setelah mematikan mereka di dunia. Orang kafir tidak mengakui. Jadi kalau Sifat ini saja tidak dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah, tentu tidak dapat menyimpulkan bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah.

  • QS Al Ankabut 23
Surat Al 'Ankabut Ayat 23
Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.

Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Maha Pengasih dan Penyayang. Ini adalah Sifat Utama Rububiyah Allah. Rububiyah maknanya Memelihara / Mendidik. Sifat Utama Mendidik adalah Kasih Sayang. SIfat ini tidak diakui oleh orang kafir. Mereka berputus asa terhadap Rahmat (Kasih Sayang) Allah. Jadi kalau Sifat ini tidak dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah, tentu tidak dapat dikatakan  bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah.

Mengapa kaidah Tauhid Rububiyah melanggar kaidah Tauhid Asma wa Sifat? Karena ingin membenarkan pernyataan “orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah” yang mereka tetapkan di awal.

Wallahu a´alam

Baca juga:

Penjelasan kekeliruan ajaran membagi Tauhid menjadi 3 (Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa Sifat).

Tauhid Rububiyah dalam ajaran 3 Tauhid melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Sifat-Sifat Rububiyah Allah yang ditakwil (dipalingkan maknanya) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid dibagi 3

Orang kafir mengakui adanya Allah bukan sebagai Robb mereka

Sifat Rahmat (Kasih Sayang) adalah Sifat Utama Rububiyah Allah

Mengapa Sifat Rahmat sangat penting dalam Sifat Rububiyah dan Uluhiyah Allah

Jika seseorang mengakui Allah sebagai Robb baginya.

Perbedaan memahami Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan dengan dan tanpa Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Allah sebagai Maha Pencipta di mata orang beriman dan orang musyrikin

Al Qur´an membantah bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah

Anomali Tauhid Asma Wa Sifat yang memahami sifat Allah sesuai lafaz zahir Asma dan Sifat Allah, kecuali Sifat Rububiyah

Perbedaan pemahaman orang beriman dan orang kafir terhadap Allah sebagai Pencipta langit dan bumi

Anomali pengikut Tauhid 3 serangkai yang percaya dengan ahlinya kecuali kepada Imam Mazhab

Kekeliruan Tauhid 3 serangkai membawa kepada kerancuan

Sajak Muhasabah Anehnya Tauhid 3 Serangkai

Orang kafir berputus asa terhadap Sifat Utama Rububiyah yakni Rahmat Allah

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Bahaya fahaman Mujassimah (3), Allah mempunyai sifat fisik?

Setelah membahas:

Kali ini kita tidak perlu lagi menerangkan panjang lebar bahwa ajaran Tauhid 3 serangkai itu berfahaman Mujassimah, karena dalam video di atas, ustad berfahaman Mujassimah sudah mengatakan secara eksplisit bahwa Allah mempunyai sifat fisik, Sifat fisik inilah yang disebut Jism atau jasmani.

Jadi adanya video mereka yang mereka buat dan upload di Youtube adalah bukti nyata kepada yang masih ragu bahwa ajaran Aqidah Tauhid 3 serangkai mempunyai fahaman Mujassimah.

Dalam video di atas (kita-kira di menit ke 4:30) jelas disebutkan bahwa Allah mempunyai sifat fisik (jisim) seperti telapak kaki, tangan, kaki, mata dan wajah. Bahkan disebutkan juga perbuatan “fisik” Allah ini yaitu

  • Allah meletakkan telapak kakiNya ke dalam neraka yang membuat neraka mengkerut.
  • Allah menggenggam langit dan bumi pada hari kiamat dengan telapak tangan kananNya.
  • Allah turun ke bumi untuk melimpahkan rahmat dan mengabulkan doa.

Secara dalil Aqli ini jelas Mustahil, sebab Allah itu Maha Esa bukan jism yang terdiri dari organ-organ Dzat, bukan yang bergerak turun dan naik, seperti makhluk. Demikian juga keyakinan ini melanggar firman Allah dalam Quran Surat Ali Imran:47 sebagai dalil Naqli-nya :

Surat Ali Imran Ayat 47

Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun”. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.

Dalil Naqli dalam QS Ali Imran:47 di atas, Allah berfirman bahwa jika Allah menghendaki sesuatu cukup dengan berkata jadi maka jadilah. Maka pemahaman Mujassimah yang menyatakan perbuatan “fisik” Allah untuk melaksanakan KehendakNya sudah terbantahkan.

Konflik dalam faham Mujassimah tentang apa yang dimaksud berbicara di Dzat Allah

Disini mereka secara tidak sadar telah membicarakan Dzat Allah. Padahal dalam ceramah tentang Aqidah yang lain (lihat Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah?), ketika ditanya apakah Arasy itu makhluk atau bukan, dijawab tidak tahu alasannya Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melarang berbicara di Dzat Allah. Disini kita lihat konflik dalam ajaran mereka, di satu sisi ketika berbicara tentang Arasy dikira berbicara di Dzat Allah, di sisi lain mereka berbicara “organ-organ” dari Dzat Allah secara gamblang dan leluasa sampai disebut secara eksplisit “Allah mempunyai sifat fisik”. Maha Suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan itu.
Maksud awalnya tidak ingin mentakwil (mengalihkan makna) Sifat Allah dengan memegang teguh makna zahir ayat Mutasyabihat (yang samar maknanya), yang terjadi justru mentakwil pemahaman Dzat Allah dari tidak serupa dengan makhluk menjadi Dzat Allah yang mempunyai sifat fisik (jisim), yang syubhat karena menyerupakan Allah dengan makhluk. Na’udzu billahi min dzalik.

Ketahuilah ini adalah fahaman yang amat berbahaya, karena telah menafikan Sifat Wahdaniyah (Maha Esa) Allah. Suatu dzat yang terdiri dari organ-organ dzat adalah Jism (fisik), sebagaimana yang disebutkan oleh mereka secara eksplisit bahwa Allah mempunyai sifat fisik (jism), walaupun kemudian mereka katakan “organ-organ” Dzat Allah itu berbeda dengan organ-organ dzat mahkluk. Mengapa keterangan ini disebut menafikan Sifat Wahdaniyah Allah?
Karena secara fitrah, akal memahami dzat yang terdiri dari organ-organ dzat adalah:

  • organ-organ dzat itu adalah berbeda satu dengan yang lain dan saling berhubungan membentuk satu dzat. Maka dzat itu tidak lagi Esa (tunggal), tetapi lebih dari satu dan berbeda-beda. Maha Suci Allah dari yang mereka sifatkan itu
  • Antara satu organ dzat dengan organ dzat yang lain mempunyai kesetaraan yaitu
    • sama-sama makhluk: tangannya, wajahnya, kakinya dan organ-organ lainnya adalah semuanya setarasama-sama makhluk”
      atau
    • sama-sama bukan makhluk: tangannya, wajahnya, kakinya dan organ-organ lainnya adalah semuanya setara “sama-sama bukan makhluk”. Kita tahu yang selain makhluk adalah Dzat Allah.

Maka Dzat Allah itu terdiri dari beberapa Dzat yang berbeda yang kesemuanya adalah Tuhan. Maha Suci Allah dari yang mereka sifatkan itu. Ini jelas mustahil.

Untuk “membungkus” faham Mujassimah ini mereka mengatakan:

  • Allah punya mata tapi berbeda dengan mata makhluk
  • Allah punya wajah tapi berbeda dengan wajah makhluk
  • Allah punya fisik tapi berbeda dengan fisik makhluk.
  • Allah turun ke bumi, tapi berbeda dengan turunnya makhluk
  • Allah punya organ-organ Dzat tapi berbeda dengan organ-organ dzat makhluk. Maha Suci Allah dari yang mereka sifatkan itu.
  • Bandingkan dengan pernyataan ini:
    • “Tuhan punya anak. tapi anak Tuhan berbeda dengan anak manusia”.
    • “Tuhan itu punya tiga pribadi tapi tiga pribadi yang tidak seperti tiga pribadi makhluk.”

Na’udzu billahi min dzalik, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.

Maka betapa ngerinya keyakinan yang seperti ini, yang dapat mengeluarkan orang dari iman, sebab telah menyekutukan Allah. Secara fitrah saja, mari kita tanya hati nurani kita, adakah kita menjadi lebih takut dan gentar terhadap sifat Allah yang yang mempunyai sifat fisik organ-organ Dzat yang demikian? Apa perlunya membahas Dzat Allah secara demikain?
Bukankah hati kita lebih takut dan bergetar ketika mendengar Sifat Maha Kuasa Allah dan Maha Berkehandak Allah?

Konflik Tauhid Asma wa Sifat dan Tauhid Rububiyah.
(Tauhid Rububiyah dalam ajaran 3 Tauhid melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri )

Anehnya di satu sisi ketika membahas Nama dan Sifat Allah, mereka begitu fanatik dan teguh memahami makna asil yang zahir

  • tanpa ta’thil (menolak sebagian atau seluruh makna)
  • tanpa takwil (mengalihkan makna)
  • tanpa takyif (bertanya bagaimana)
  • tanpa tahrif (mengubah makna)

Di sisi lain ketika membahas Nama “Robb” dan Sifat “Rububiyah” dalam pembahasan Tauhid Rububiyah, mereka menyandarkan makna Robb dan Sifat Rububiyah mengikut pengakuan orang kafir yang disebut dalam Al Qur’an, padahal yang diakui orang kafir itu hanyalah sebagian Sifat Rububiyah.

Dalam Tauhid Rububiyah mereka

  • menta’thil banyak Sifat Rububiyah, diantaranya
    • Allah menghidupkan manusia di akhirat setelah manusia dimatikan di dunia
    • Allah Memelihara manusia dengan Sifat Rahmat (kasih sayang)

Orang kafir tidak mengakui akan dihidupkan lagi di akhirat dan putus asa terhadap Rahmat Allah. Jadi mereka

  • mentakwil/mentahrif (mengalihkan/mengubah) makna Sifat Mencipta langit dan bumi, Mengatur; Memberi Rezeki dan Mengatur alam semesta menjadi Sifat Rububiyah, seolah-olah itulah keseluruhan Sifat Rububiyah Allah.

Dengan tujuan agar dapat mengeluarkan pernyataan : orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah seperti orang beriman.

(Lihat menit ke 7 video ini, dan tulisan dalam muslim.or.id tentang makna tauhid, yang diberi tanda merah dibawah ini)

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

 

Begitu kalau Aqidah disusun tanpa kaidah yang benar, bahkan menolak Ulama Tauhid dari zaman Salaf. Akhirnya Ilmu Aqidah dengan kaidah yang kacau itu membuat kacau cara berfikir dan sikap mereka sendiri. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua dan melindungi kita dari fitnah kaum Mujassimah.

Bersambung

Bahaya fahaman Mujassimah (4), Allah ada di atas?

Lihat juga

Orang kafir mengakui adanya Allah bukan sebagai Robb mereka

Sifat Rahmat (Kasih Sayang) adalah Sifat Utama Rububiyah Allah

Mengapa Sifat Rahmat sangat penting dalam Sifat Rububiyah dan Uluhiyah Allah

Jika seseorang mengakui Allah sebagai Robb baginya.

Perbedaan memahami Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan dengan dan tanpa Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Allah sebagai Maha Pencipta di mata orang beriman dan orang musyrikin

Al Qur´an membantah bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah

Akibat ajaran Tauhid Rububiyah dari ajaran 3 Tauhid yang menyandarkan pada ayat Quran untuk orang kafir

Anomali Tauhid Asma Wa Sifat yang memahami sifat Allah sesuai lafaz zahir Asma dan Sifat Allah, kecuali Sifat Rububiyah

Bagaimana ASWAJA memahami ayat-ayat Mutasyabihat

Perbedaan pemahaman orang beriman dan orang kafir terhadap Allah sebagai Pencipta langit dan bumi

Anomali pengikut Tauhid 3 serangkai yang percaya dengan ahlinya kecuali kepada Imam Mazhab

Kekeliruan Tauhid 3 serangkai membawa kepada kerancuan

Sajak Muhasabah Anehnya Tauhid 3 Serangkai

Orang kafir berputus asa terhadap Sifat Utama Rububiyah yakni Rahmat Allah

Mengapa pernyataan orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah adalah mustahil

Mengapa Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah tidak dapat dipisahkan

Benarkah mengatakan mari kembali kepada Qur´an dan Sunnah mendekatkan orang kepada Qur´an dan Sunnah?

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi