Bahaya fahaman Mujassimah (1), Allah ada di comberan?

Setelah kami mengamati video-video yang beredar dari para penganut Tauhid 3 serangkai yang menerangkan Aqidah Asy’ariyah yang mereka fahami, kami merasa sampai saatnya kami menjelaskkan bagaimana kekeliruan pemahaman mereka itu, disebabkan oleh pemahaman Mujassimah mereka. Mujassimah adalah pemahaman Allah itu berjism/bersosok/bertubuh yang menempati suatu ruang, sehingga menyerupakan Allah dengan makhluk.  Na’udzu billah min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari keyakinan seperti itu.

Mereka sebenarnya tidak faham Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, tapi merasa telah menjelaskan kekeliruan Aqidah Asy’ariyah. Akhirnya menjadi berbalik justru membuka kekeliruan fahaman Mujassimah mereka sendiri.

Insya Allah, karena kalau ditulis dalam satu artikel akan cukup panjang maka kami akan jawab satu per satu sehingga menjadi beberapa artikel.

Mereka tidak faham perkataan “Allah ada dimana-mana”, (lihat juga Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah)

Dalam video ini menit ke 2:50 (lihat Video di atas) Ustad berfahaman Mujassimah menceritakan sedang berdialog dengan seorang Ahlussunah wal Jamaah Asy’ariyah.

Ustad Mujassimah bertanya : Jadi menurut bapak, Allah itu ada dimana?

Pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah : “Allah ada di mana-mana”

Ustad Mujassimah: Jadi di comberan ada? Diam dia

Pengikut  Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyyah: “Iya nggak, (Allah) di tempat bersih.”

Ustad Mujassimah: Lho katanya ada dimana-mana?

Para pendengar tertawa. Mereka merasa lebih pandai, tapi sebenarnya secara tidak sadar justru menunjukkan kekeliruan pemahaman mereka sendiri. Dari dialog tersebut justru menjelaskan hakikat fahaman Mujassimah Ustad tersebut. Mengapa?

Pada awalnya orang Asy’ariyah tidak terfikir bahwa pertanyaan “Allah ada dimana” adalah mempertanyalan Dzat ada Allah dimana“, karena menurut keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah, Dzat Allah bukan jism.  Mustahil Allah berjism, hanya makhluk yang berjism.
Padahak pertanyaan “Allah ada dimana” yang dimaksud Ustad berfaham Mujassimah, adalah pertanyaan dengan makna zahir yaitu  mempertanyakan “posisi” Dzat Allah di dimensi ruang. Sesuatu yang menempati ruang pasti suatu jism/sosok/tubuh dan menyerupai makhluk. Inilah hakikat pemahaman Mujassimah. Pada fikirannya telah tertanam keyakinan bahwa Allah itu berjism. Berjism tentu memerlukan ruang atau tempat. Walaupun kemudian mereka katakan sifat jism Allah itu berbeda dengan sifat Jism makhluk dengan maksud untuk mengelak disebut berfaham Mujassimah. Namun pemahaman ini tetap melawan fitrah akal manusia,

Pemahaman Mujassimah itu bertambah jelas ketika Ustad itu bertanya: Kalau Allah ada dimana-mana,  jadi Allah ada di comberan?

Perhatikan, Ustad itu bermaksud membodohi dan menjebak orang Asy’ariyah agar bingung dengan kekeliruan fahaman Mujassimah yang mereka ungkapkan dalam pertanyaan itu.
Jelas maksud dari pertanyaan itu sebenarnya adalah:  Jadi “Jism” Allah ada di comberan?

Orang Asy’ariyah itu sekarang faham bahwa Ustad itu berfaham Mujassimah, yang  bertanya dengan makna zahirnya maka dia kemudian menjawab Allah tidak ada di mana mana. Maksudnya sebenarnya adalah (Dzat) Allah tidak menempati mana-mana tempat, karena Allah bukanlah Jism seperti pemahaman mereka.

Begitulah perbedaan antara fahaman Mujassimah dan fahaman Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah.

Pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah tidak pernah meyakini Allah itu berjism seperti pemahaman kaum Mujassimah. Mustahil Allah berjism. Dalam  Ilmu Tauhid Ahlussunnah wal Jamaah tentang SIfat Salbiah dijelaskan bahwa Dzat Allah bukan makhluk dan tidak serupa sama sekali dengan makhluk. Dzat Allah bukan jism yang menempati ruang dan terikat waktu. Dzat Allah ada tanpa tempat dan tidak terikat waktu. Sedang fahaman Mujassimah adalah meyakini Allah itu berjism dan menempati ruang, maka timbullah pertanyaan “Allah di mana?” dengan makna zahir dalam ajaran Aqidah mereka.

Perlu kami jelaskan bahwa pernyataan Allah ada di mana-mana, adalah bukan makna zahir Dzat Allah ada di mana-mana. Maksudnya adalah Sifat Allah ada di mana-mana. Sifat Allah dimaksud adalah Sifat Maknawiyah Allah bukan Sifat “Jism” seperti difahami kaum Mujassimah. Sifat Maknawiyah Allah tanda-tandanya dapat dilihat pada makhluk Allah. Dan makhluk Allah itu ada di mana-mana. Tidak ada suatu ruang dan tempat, kecuali itu adalah makhluk Allah di situ.

Jadi pertanyaan “Allah ada di comberan?”,  kalau kita fahami secara maknawiyah, sebenarnya bisa juga dijawab dengan  “iya benar (tanda-tanda Kekuasaan) Allah ada juga di comberan tidak hanya di tempat bersih.

Allah berfirman dalam Qur´an surat Ali Imran ayat 190-191:
Surat Ali Imran Ayat 190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Surat Ali Imran Ayat 191

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

 

Comberan itu ada di bumi, maka tentulah disitu ada tanda-tanda Kekuasaan Allah. Comberan yang kotor yang banyak penyakitpun adalah tanda-tanda Kekuasaan Allah, Bahkan diceritakan bahwa air sungai Nil berubah menjadi darah termasuk Mu’jizat Nabi Musa alaihi salam. Mu’jizat adalah tanda Sifat Maha Kuasa Allah yang dinampakkan pada makhlukNya untuk membuktikan kenabian.

Kalau kaum Mujassimah meyakini Allah tidak ada ditempat kotor dengan makna zahir, maka sesungguhnya Allah juga tidak ada ditempat bersih dengan makna zahirnya, sebab Allah bukan jism yang menempati tempat. Mengapa?
Kalau mereka yakin Allah tidak ada di tempat kotor dan hanya ada di tempat bersih dengan makna zahir, maka menjadikan bentuk “jism” seperti itu adalah seperti keju yang berlubang-lubang, dimana keju adalah tempat bersih dan yang lubang itu adalah tempat kotor. Na’udzu billah min dzalik. Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan seperti itu.

Pemahaman Mujassimah ini berbahaya. Ketika mereka membaca Ayat Mutasyabihat QS Thaha ayat 5, “Arrahmanu ‘alal ‘Arsy istawa”, “(Allah) Yang Maha Pengasih beristawa di atas Arasy.” Merekapun langsung memahami “Jism” Allah memang benar-benar bersemayam di atas Arasy sebagaimana makna zahirnya, walaupun kemudian mereka katakan tidak serupa dengan jism makhluk.
Namun tetap melawan fitrah akal manusia, sehingga seorang Ustad bergelar Doktor dari sebuah Universitas di Timur Tengah, tidak dapat menjawab pertanyaan apakah Arasy itu makhluk atau bukan (video ini atau video ini pada menit ke 3:15).. Padahal kita waktu kecil sudah belajar bahwa yang selain Allah adalah makhluk, termasuk Arasy adalah makhluk.
Karena mereka memahami Allah perlu tempat, sedang tempat itu terikat dengan waktu, maka itulah yang menyebabkan Ustad bergelar Doktor itu bingung ketika ditanya Arasy itu makhluk atau bukan.
Kalau dia sebut Arasy itu makhluk, maka Arasy terikat waktu, yaitu pernah tidak ada. Kalau tidak ada Arasy, maka “Jism” Allah yang mereka yakini itu bersemayam dimana?
Sebaliknya kalau disebut bukan makhluk, jadi Arasy itu apa?
Na’udzu billah min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari keyakinan yang demikian.

Bertambahlah kita yakin akan suruhan Allah agar kita berdoa minta perlindungan kepada Allah dari hati yang cenderung pada kesesatan karena mengikuti makna zahir ayat Mutasyabihat, setelah diberi hidayah Islam. Doa ini disebut dalam QS Ali Imran ayat 8. (lihat Bagaimana Ahlussunah wal Jamaah memahami ayat-ayat Mutasyabihat)

Surat Ali Imran Ayat 8
(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

 

Jadi jelas bahwa pemahaman Mujassimah ini berbahaya dan melawan fitrah akal. Tujuan mereka untuk menjatuhkan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah yang haq dihadapan manusia, namun niat mereka itu justru berbalik kepada mereka, yaitu membongkar kekeliruan fahaman Mujassimah mereka sendiri.

Wallahu a’lam

Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua.

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s