Apa maksud “janganlah kalian berpikir tentang Dzat Allah, tapi pikirkanlah ciptaan-Nya”?

Larangan berpikir tentang Dzat Allah dan sebagai gantinya kita disuruh memikirkan ciptaan-Nya sudah sering kita dengar. Namun akhir-akhir ini ada ajaran Aqidah yang dikenal dengan Tauhid 3 serangkai (Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Sifat) yang justru secara tidak sadar telah membahas Dzat Allah itu dengan panjang lebar yang disebarkan melalui channel Youtube. Bukti nyata cara pengajaran Aqidah yang menyimpang itu adalah mengakibatkan seorang Ustad bergelar Doktor yang menyampaikan ajaran Aqidah ini justru menjadi lupa dan tidak tahu lagi salah satu pokok Aqidah Islam bahwa yang selain Allah Yang Maha Pencipta adalah pasti makhluk (yang diciptakan), termasuk juga Arasy (lihat  video ini dan video ini di menit ke 3:15 ;sayang video ini (di menit ke 3:15) sudah dihapus oleh adminnya).

Ini menunjukkan ajaran Aqidah ini melawan fitrah akal manusia, karena secara tidak sadar telah membahas Dzat Allah yang jelas dilarang oleh Allah. Mengapa ajaran Aqidah ini secara tidak sadar telah membahas Dzat Allah? mari kita uraikan bersama-sama.

Kalau kita diminta menceritakan tentang sifat-sifat seseorang, kita dapat membagi pembahasan menjadi 2 bagian besar yaitu:

  1. Sifat jismnya (lahiriah/fisiknya), yaitu sifat yang berkaitan dengan dzatnya yang berjisim (bertubuh), karena manusia adalah makhluk dan makhluk selalunya mempunyai jisim (jasad). Misalnya orang itu tinggal di kota A, umurnya sekian tahun, tingginya sekian cm, beratnya sekian kg, warna kulitnya sawo matang, hidungnya mancung, matanya agak besar, tubuhnya kuat, dan sebagainya. Perlu ditambahkan disini bahwa makhluk ghaib seperti malaikat juga berjisim (bertubuh/bersosok), tetapi jisim (jasad) di alam ghaib.
  2. Sifat bathinnya, yaitu sifat yang berkaitan dengan jiwa atau fikirannya, misalnya orang itu pemurah, cerdas, suka membantu, sabar, rendah hati dan sebagainya.

Begitulah sifat yang ada pada makhluk. Kita dapat membahas sifat jism dzatnya (lahiriah) dan sifat bathinnya. Dengan menceritakan sifat-sifat lahir dan bathin seseorang kita akan mengenalnya lebih dekat. Kalau orang itu adalah orang yang dimuliakan Allah seperti Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, kita akan bertambah kenal dan cinta kepadanya. Itu sebabnya mengenal fisik dan bathin Rasulullah shallallahu alaihi wassalam termasuk disuruh dalam agama Islam agar kita lebih mengenal dan lebih mencintai beliau shallallahu alaihi wassalam.

Awaluddin ma’rifatullah, permulaan (ajaran) agama adalah mengenal Allah. Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sudah memberikan panduan berdasarkan dalil aqli (akal) selain dalil naqli (Quran dan Hadits) agar kita dapat mengenal Allah, Dzat yang kita sembah sebagai tujuan kita diciptakan.

Dalam Aqidah Ahlusunnah wal Jamaah, pengenalan kita tentang Allah dimulai dengan mempelajari Sifat Wajib Allah yang 20. Namun dalam ilmu Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah pembagian Sifat Allah bukan terdiri dari Sifat Jism (lahiriah) dan Sifat bathiniah, sebab Allah bukan makhluk yang terdiri dari jism (jasad/ tubuh/ sosok) dan bathin. Kita dikenalkan dengan Sifat Allah yang terdiri dari Sifat Nafsiyah, Sifat SalbiyahSifat Ma’ani dan Sifat Ma’nawiyah. Ini dilakukan agar kita umat Islam meyakini bahwa wujud Dzat Allah itu bukanlah berjism/ berjasad/ bersosok, sehingga kita terhindar dari memikirkan dan membahas Dzat Allah. Selain akal kita tidak akan mampu, juga hal ini melawan fitrah akal kita.

Kita disuruh mengenali Allah dengan memikirkan dan membahas Sifat Allah yang dapat kita lihat pada makhlukNya, sebagaimana firman Allah QS Ali Imran ayat 190-191:

Surat Ali Imran Ayat 190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Surat Ali Imran Ayat 191

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Ajaran Tauhid 3 Serangkai membahas Tauhid Asma Wa Sifat dengan makna zahir. Mereka katakan mereka tidak membahas Dzat Allah tetapi membahas Sifat Allah. Namun karena mereka memahaminya dengan makna asli yang zahir dari Sifat Allah itu dan makna zahir Sifat Allah itu berkaitan dengan Sifat Jism maka hakikatnya mereka membahas Dzat Allah secara tidak sadar. Padahal Allah bukanlah Dzat yang berjism (berjasad/ bersosok/ bertubuh). Itu sebabnya mereka disebut golongan Mujassimah, yaitu golongan yang meyakini Allah punya Jism (jasad/sosok/bertubuh), walaupun kemudian mereka nafikan bahwa Sifat (jism) Allah itu berbeda dengan jism makhluk.

Dalam pembahasan Tauhid Asma wa Sifat, mereka sebutkan Allah punya jism (tubuh/ jasad/ sosok) dengan anggota badan seperti Tangan, Wajah dan Kaki secara makna zahirnya (lihat video ini) , kemudian mereka katakan bahwa Tangan, Wajah dan Kaki Allah berbeda dengan tangan, wajah dan kaki makhluk. Mereka katakan Allah berada di atas dan bersemayam di atas Arasy, kemudian mereka katakan Allah “berada di atas” dan “bersemayam” di atas Arasy, berbeda dengan “berada di atas” dan bersemayamnya makhluk. Namun secara tidak sadar mereka telah membahas Sifat jisim (tubuh/ jasad/ sosok) dari Dzat Allah. Kalau membahas Dzat Allah tentu mereka berpikir tentang Dzat Allah itu, walaupun kemudian mereka berkata, jangan pikirkan bagaimana Tangan, Wajah, Kaki, bagaimana “bersemayam” dan bagaimana “berada di atas” bagi Allah.

Sebagai bukti bahwa mereka sudah memikirkan Dzat Allah tanpa sadar, dan melawan fitrah mereka adalah menjadikan Ustad penganutnya secara tidak sadar menjadi tidak tahu lagi bahwa Arasy adalah makhluk, seperti yang telah kami sampaikan di atas (lihat  video ini atau video ini di menit ke 3:15). Sedang sudah kita pelajari dari kecil bahwa yang selain Allah itu pasti makhluk. Ucapan Ustad bergelar doktor itu adalah keluar dari hatinya tanpa sadar. Jadi apa yang dibayangkannya tentang Arasy jika beliau berkata demikian? Na’udzu billahi min dzalik.

Mereka berhujah, Allah sendiri yang berkata bahwa Allah bersemayam di atas Arasy, seperti Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Disini kelihatan bahwa mereka tidak dapat membedakan Sifat Jism dan Sifat Ma’nawiyah. Mereka mengira makna Mendengar dan Melihat adalah sama dengan makna zahir istawa (bersemayam). Mendengar dan Melihat adalah Sifat Ma’nawiyah yang tidak mesti dikaitkan dengan jism (jasad), sedang bersemayam secara makna zahir adalah erat sekali dengan makna jisim/sosok/jasad.

Untuk lebih memahami apa beda Sifat Ma’nawiyah dan Sifat Jism, mari kita bahas sebagai berikut. Sifat Ma’nawiyah dapat difahami tanpa terikat dengan jisim. Sifat Ma’nawiyah Allah adalah bersifat Qidam (tidak ada permulaan) dan Baqa (tidak ada akhir) yang menegaskan tidak terikat dengan waktu (lihat Sifat Salbiyah). Allah Melihat dan Mendengar seluruh makhluk tanpa tergantung oleh waktu. Allah Melihat dan Mendengar seluruh makhluk baik ketika makhluk itu belum diciptakan, ketika makhluk itu ada, maupun setelah makhluk itu ditiadakan kembali atau dibiarkan kekal (seperti syurga dan neraka).

Berbeda dengan Sifat Jism bersemayam di atas Arasy, Bersemayam dengan makna zahir hanya dapat dilakukan setelah Arasy diciptakan, sebelum diciptakan tidak mungkin dapat bersemayam. Namun jika Sifat Istawa difahami dengan Sifat Ma’nawiyah seperti Maha Kuasa, berdasarkan QS At-Taubah:129 di akhir ayatnya “Dan Dia (Allah) adalah Robbul (Tuhan yang Menguasai) Arsy yang agung”, maka Sifat Maha Kuasa Allah terhadap Arasy dapat difahami akal, baik ketika Arasy itu belum ada maupun setelah Arasy diciptakan (lihat Bagaimana Ahlussunnah wal Jam’ah memahami ayat-ayat Mutasyabihat). Allah Maha Kuasa atas semua makhlukNya, baik sebelum diciptakan, setelah diciptakan, maupun setelah kembali ditiadakan.

Itu sebabnya sekali lagi kami sampaikan mengapa orang yang membahas Sifat Allah bersemayam di atas Arasy dengan makna zahir melawan fitrah akal, sehingga menjadikannya tidak tahu lagi bahwa Arasy adalah makhluk Allah. Sedang ketika di awal kita belajar Aqidah, kita diberitahu bahwa yang selain Allah Yang Maha Pencipta (Al Khaliq) adalah pasti makhluk, keyakinan ini tidak boleh meleset. Kalau ada orang yang sampai tidak tahu bahwa Arasy yang selain Allah itu makhluk (diciptakan), maka bahayanya orang itu mungkin menjadi ragu karena membayangkan bahwa Arasy itu termasuk makhluk atau bagian dari Dzat Allah. Na’udzubillah min dzalik.

Wallahu a´lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s