Apa maksud “janganlah kalian berpikir tentang Dzat Allah, tapi pikirkanlah ciptaan-Nya”?

Larangan berpikir tentang Dzat Allah dan sebagai gantinya kita disuruh memikirkan ciptaan-Nya sudah sering kita dengar. Namun akhir-akhir ini ada ajaran Aqidah yang dikenal dengan Tauhid 3 serangkai (Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Sifat) yang justru secara tidak sadar telah membahas Dzat Allah itu dengan panjang lebar yang disebarkan melalui channel Youtube.

Ajaran Aqidah ini melawan fitrah akal manusia, karena secara tidak sadar telah membahas Dzat Allah yang jelas dilarang oleh Allah. Mengapa ajaran Aqidah ini secara tidak sadar telah membahas Dzat Allah? mari kita uraikan bersama-sama.

Kalau kita diminta menceritakan tentang sifat-sifat seseorang, kita dapat membagi pembahasan menjadi 2 bagian besar yaitu:

  1. Sifat jismnya (lahiriah/fisiknya), yaitu sifat yang berkaitan dengan dzatnya yang berjisim (bertubuh), karena manusia adalah makhluk dan makhluk selalunya mempunyai jisim (jasad). Misalnya orang itu tinggal di kota A, umurnya sekian tahun, tingginya sekian cm, beratnya sekian kg, warna kulitnya sawo matang, hidungnya mancung, matanya agak besar, tubuhnya kuat, dan sebagainya. Perlu ditambahkan disini bahwa makhluk ghaib seperti malaikat juga berjisim (bertubuh/bersosok), tetapi jisim (jasad) di alam ghaib.
  2. Sifat bathinnya, yaitu sifat yang berkaitan dengan jiwa atau fikirannya, misalnya orang itu pemurah, cerdas, suka membantu, sabar, rendah hati dan sebagainya.

Begitulah sifat yang ada pada makhluk. Kita dapat membahas sifat jism dzatnya (lahiriah) dan sifat bathinnya. Dengan menceritakan sifat-sifat lahir dan bathin seseorang kita akan mengenalnya lebih dekat. Kalau orang itu adalah orang yang dimuliakan Allah seperti Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, kita akan bertambah kenal dan cinta kepadanya. Itu sebabnya mengenal fisik dan bathin Rasulullah shallallahu alaihi wassalam termasuk disuruh dalam agama Islam agar kita lebih mengenal dan lebih mencintai beliau shallallahu alaihi wassalam.

Awaluddin ma’rifatullah, permulaan (ajaran) agama adalah mengenal Allah. Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sudah memberikan panduan berdasarkan dalil aqli (akal) selain dalil naqli (Quran dan Hadits) agar kita dapat mengenal Allah, Dzat yang kita sembah sebagai tujuan kita diciptakan.

Dalam Aqidah Ahlusunnah wal Jamaah, pengenalan kita tentang Allah dimulai dengan mempelajari Sifat Wajib Allah yang 20. Namun dalam ilmu Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah pembagian Sifat Allah bukan terdiri dari Sifat Jism (lahiriah) dan Sifat bathiniah, sebab Allah bukan makhluk yang terdiri dari jism (jasad/ tubuh/ sosok) dan bathin. Kita dikenalkan dengan Sifat Allah yang terdiri dari Sifat Nafsiyah, Sifat SalbiyahSifat Ma’ani dan Sifat Ma’nawiyah. Ini dilakukan agar kita umat Islam meyakini bahwa wujud Dzat Allah itu bukanlah berjism/ berjasad/ bersosok, sehingga kita terhindar dari memikirkan dan membahas Dzat Allah. Selain akal kita tidak akan mampu, juga hal ini melawan fitrah akal kita.

Kita disuruh mengenali Allah dengan memikirkan dan membahas Sifat Allah yang dapat kita lihat pada makhlukNya, sebagaimana firman Allah QS Ali Imran ayat 190-191:

Surat Ali Imran Ayat 190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Surat Ali Imran Ayat 191

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Ajaran Tauhid 3 Serangkai membahas Tauhid Asma Wa Sifat dengan makna zahir. Mereka katakan mereka tidak membahas Dzat Allah tetapi membahas Sifat Allah. Namun karena mereka memahaminya dengan makna asli yang zahir dari Sifat Allah itu dan makna zahir Sifat Allah itu berkaitan dengan Sifat Jism maka hakikatnya mereka membahas Dzat Allah secara tidak sadar. Padahal Allah bukanlah Dzat yang berjism (berjasad/ bersosok/ bertubuh). Itu sebabnya mereka disebut golongan Mujassimah, yaitu golongan yang meyakini Allah punya Jism (fisik/sosok tubuh), walaupun kemudian mereka nafikan bahwa Sifat (jism) Allah itu berbeda dengan jism makhluk.

Dalam pembahasan Tauhid Asma wa Sifat, mereka sebutkan secara eksplisit bahwa Allah punya sifat fisik dengan anggota badan seperti Tangan, Wajah dan Kaki secara makna zahirnya (lihat video ini di menit ke 4:30) , kemudian mereka katakan bahwa Tangan, Wajah dan Kaki Allah berbeda dengan tangan, wajah dan kaki makhluk. Mereka katakan Allah berada di atas dan bersemayam di atas Arasy, kemudian mereka katakan Allah “berada di atas” dan “bersemayam” di atas Arasy, berbeda dengan “berada di atas” dan bersemayamnya makhluk. Namun secara tidak sadar mereka telah membahas Sifat jisim (tubuh/ jasad/ sosok) dari Dzat Allah. Kalau membahas Dzat Allah tentu mereka berpikir tentang Dzat Allah itu, walaupun kemudian mereka berkata, jangan pikirkan bagaimana Tangan, Wajah, Kaki, bagaimana “bersemayam” dan bagaimana “berada di atas” bagi Allah.

Akibat memikirkan Dzat Allah tanpa sadar dan melawan fitrah menjadikan Ustad bergelar doktor menjadi tidak tahu lagi bahwa Arasy adalah makhluk, bahkan dikiranya adalah bagian dari Arasy (lihat  video ini atau video ini di menit ke 3:15). Maha Suci Allah dari yang disifatkan itu.
Anehnya ketika Ustad itu menyampaikan seluruh pendengar dan tim dokumentasi yang telah merekam juga tidak sadar akan keyakinan yang syubhat ini, bahkan kemudian mengupload video itu. Sedang sudah kita pelajari dari kecil bahwa yang selain Allah itu pasti makhluk. Ucapan Ustad bergelar doktor itu adalah keluar dari hatinya tanpa sadar. Jadi apa yang dibayangkannya tentang Arasy jika beliau berkata demikian? Na’udzu billahi min dzalik.

(lihat Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah? )

Mereka berhujah, Allah sendiri yang berkata bahwa Allah bersemayam di atas Arasy, seperti Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Disini kelihatan bahwa mereka tidak dapat membedakan Sifat Jism dan Sifat Ma’nawiyah. Mereka mengira makna Mendengar dan Melihat adalah sama dengan makna zahir istawa (bersemayam). Mendengar dan Melihat adalah Sifat Ma’nawiyah yang tidak mesti dikaitkan dengan jism (jasad), sedang bersemayam secara makna zahir adalah erat sekali dengan makna jisim/sosok/jasad.

Mari kita bahas apa itu Sifat Ma’nawiyah dan Sifat Jism untuk lebih memahami perbedaan antara keduanya, Sifat Ma’nawiyah dapat difahami tanpa terikat dengan Sifat Jism. Sifat Jism (fisik) selalu terikat oleh waktu dan ruang/tempat). Sifat Ma’nawiyah Allah adalah bersifat

  • Qidam (tidak ada permulaan) dan Baqa (tidak ada akhir) yang menegaskan tidak terikat oleh waktu
  • Mukhalafatu lil hawadits (berbeda dengan yang baharu/makhluk) dan Qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri tanpa tergantung kepada makhluk) yang menegaskan tidak terikat oleh ruang/tempat (lihat Sifat Salbiyah).

Allah Melihat dan Mendengar seluruh makhluk tanpa terikat oleh waktu dan tempat. Allah Melihat dan Mendengar seluruh makhluk baik ketika makhluk itu belum diciptakan, ketika makhluk itu ada, maupun setelah makhluk itu ditiadakan kembali atau dibiarkan kekal (seperti syurga dan neraka).

Berbeda dengan Sifat Jism (fisik) yang terikat oleh waktu dan ruang/tempat. Sebagai contoh ayat Mutasyabihat (ayat yang samar artinya) yang paling sering mereka jadikan dalil yaitu “Istawa alal Arsy” yang artinya bersemayam di atas Arasy, Bersemayam di atas Arasy dengan makna zahir hanya dapat dilakukan setelah Arasy diciptakan, sebelum diciptakan tidak mungkin dapat bersemayam di atasnya.

Namun jika Sifat Istawa difahami dengan Sifat Ma’nawiyah berdasarkan ayat Muhkamat (ayat yang jelas artinya) (lihat Bagaimana Ahlussunnah wal Jam’ah memahami ayat-ayat Mutasyabihat) seperti disebut dalam QS At-Taubah:129

9:129

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Robb (Tuhan Yang Menguasai, Memiliki, Mencipta, Memelihara)  ‘Arsy yang agung“.

maka Sifat Maha Kuasa Allah terhadap Arasy dapat difahami akal, baik ketika Arasy itu belum ada, setelah Arasy diciptakan ataupun jika Arasy kembali ditiadakan, sebagaimana Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar seluruh makhlukNya. Allah Melihat, Mendengar dan Berkuasa atas semua makhlukNya, baik sebelum makhluk itu diciptakan, setelah diciptakan, maupun setelah kembali ditiadakan. Bahkan akal juga faham bahwa Mustahil Allah baru dapat Melihat, Mendengar dan Berkuasa hanya setelah makhluk itu ada atau diciptakan.

Itu sebabnya sekali lagi kami sampaikan mengapa orang yang membahas Sifat Allah bersemayam di atas Arasy dengan makna zahir melawan fitrah akal, sehingga menjadikannya tidak tahu lagi bahwa Arasy adalah makhluk Allah. Sedang ketika di awal kita belajar Aqidah, kita diberitahu bahwa yang selain Allah Yang Maha Pencipta (Al Khaliq) adalah pasti makhluk, keyakinan ini tidak boleh meleset. Kalau ada orang yang sampai tidak tahu bahwa Arasy yang selain Allah itu makhluk (diciptakan), maka bahaya bagi orang itu mungkin menjadi ragu karena membayangkan bahwa Arasy itu adalah bagian dari Dzat Allah. Na’udzubillah min dzalik.

Wallahu a´lam

Lihat juga:

Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah

Bahaya fahaman Mujassimah (1); Allah ada di comberan?

Bahaya fahaman Mujassimah (2); Allah ada di luar alam?

Bahaya fahaman Mujassimah (3), Allah mempunyai sifat fisik?

Artikel lain ada dalam Daftar Isi
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s