Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah.

Akhir-akhir ini kami banyak temukan Video youtube mengajarkan Aqidah Islam dengan judul “Di mana Allah”. Cara mengajarkan Aqidah Islam dengan thema “Di mana Allah” adalah ciri ajaran Aqidah yang membagi Tauhid menjadi 3. Itu adalah “thema andalan” mereka yang konon untuk membuktikan kebenaran ajaran Aqidah mereka,

Kelihatannya dengan banyaknya channel youtube, TV, Radio dan media lainnya, dakwah mereka ini menguntungkan mereka. Namun ketahuilah sebenarnya justru akan terjadi sebaliknya, karena mereka secara tidak sadar telah membuka kekeliruan keyakinan mereka yang cenderung kepada Mujassimah seperti apa adanya. Mujassimah adalah meyakini Dzat Allah berjism yaitu seperti benda fisik yang berbentuk dan bervolume yang menempati ruang atau tempat, na’udzubillahi min dzalik.

Itu sebabnya mereka selalu mengkaitkan setiap dalil naqli yang mutasyabihat yang dapat diartikan dengan jism (tubuh/sosok) – secara tidak sadar – mereka fahami dengan makna zahir “sifat Jism” Dzat Allah, baik “sifat Jism” yang terdiri dari beberapa “bagian Jism” maupun “sifat Jism” yang dapat berada dalam ruang/tempat. Seperti mereka katakan Allah punya tangan, Allah punya kaki, Allah punya Wajah. Walaupun mereka katakan tangan, kaki dan wajah Allah tidak serupa dengan yang punya makhluk. Hakikatnya kalimat itu sama dengan kalimat bahwa “sifat Jism Allah” berbeda dengan sifat jism makhluk. Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan yang demikian.

Mereka juga sering memojokkan ajaran Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah Asy’ariyah Maturidiyyah yang sudah lama dianut di Indonesia sejak Islam pertama kali datang ke Indonesia.
Padahal inilah Ahlussunnah Wal Jamaah yang sebenarnya yang meyakini Allah secara dalil Aqli (akal) selain dali Naqli (yang dinukil dari Kitabullah dan Sunnah). Inilah keyakinan yang sesuai fitrah kita, yang membersihkan keyakinan kita dari menyerupakan Allah dengan makhluk, menjauhkan kita dari fahaman ekstrim Jabariyah dan Qadariyah, Mujassimah dan Jahmiyah. Kalau kita faham Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah ini akan terasa keindahan ilmu Tauhid. Sangat rugi bagi mereka yang tidak mempelajari ini atau apalagi menjelekan golongan Ahlussunnah Wal Jamaah Asy’ariyah, seperti yang mereka sebarkan. Mungkin itu sebabnya mereka tidak dapat memahami ilmu Aqidah Ahlusunnah Wal Jamaah karena “durhaka” kepada Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan ulama-ulama Asy’ariyah. Mereka menolak Ilmu Mantiq (Logika) untuk memahami Aqidah. Itu sebabnya mereka juga menolak Ilmu Tauhid Sifat Wajib Allah yang 20.

Penjelasan makna “Allah ada dimana-mana” dan “Allah ada tanpa tempat”

Allah ada dimana-mana

Ungkapan “Allah ada di mana-mana” sebenarnya berasal dari pemahaman dari satu kalimat dalam terjemah QS Al Hadid:4 “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”

Surat Al Hadid Ayat 4
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

 

Contoh “kedurhakaan” mereka adalah memahami kata-kata Ulama Asy’ariyah “Allah ada di mana-mana” yang dipelintir, kemudian meremehkan dan bahkan mentertawakannya karena sebenarnya mereka tidak faham (lihat video ini menit ke 2:50). Ini adalah “kalimat mutasyabihat” samar artinya sebagaimana terjemah kalimat “Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” pada QS Al Hadid:4 di atas. Karena mereka berfahaman Mujassimah, yang mereka fahami adalah “Dzat Allah ada di mana-mana” sebagaimana mereka memahami Dzat Allah ada di atas Arasy (lihat ini). Bagi Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah kalimat “Allah ada dimana-mana” maksudnya bukan Dzat Allah yang ada di mana-mana, melainkan Sifat Allah ada dimana-mana. Maksudnya kita dapat mengenali ayat (tanda-tanda) Sifat Maha Besar Allah melalui makhlukNya (ciptaamNya) yang ada dimana-mana bagi orang yang berakal.

Allah berfirman dalam Qur´an surat Ali Imran ayat 190-191:
Surat Ali Imran Ayat 190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Surat Ali Imran Ayat 191

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

 

Bahkan tanda-tanda (Sifat Kekuasaan) Allah itu ada dalam diri kita, sebagaimana firman Allah dalam QS Adz-Dzariyaat: 20-21

Surat Adz-Dzariyat ayat 20
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.
Surat Adz-Dzariyat ayat 21
dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

 

Sifat yang dimaksud adalah Sifat MaknawiyahNya bukan Sifat Jism, seperti yang difahami oleh kaum Mujassimah. Perhatikan beberapa contoh ayat Muhkamat di bawah ini yang menunjukkan bahwa Sifat Allah dapat kita rasakan ada dimana-mana.

QS Al Hajj:70

Surat Al Hajj ayat 70
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.

 

Dalam QS Al Hajj:70 jelas disebutkan bahwa Allah Maha Mengetahui apa saja yang ada di langit dan bumi: Maka jelas disini bahwa Sifat Maha Mengetahui Allah ada di mana pun di langit dan di bumi. Tiada tempat dan ruang dimanapun kecuali Allah Mengetahuinya.

QS Maryam:65

Surat Maryam Ayat 65

Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?

Dalam QS Maryam:65 jelas disebutkan bahwa Allah adalah Robb (Tuhan Yang Maha Memelihara, Maha Berkuasa, Maha Pencipta, Maha Memiliki) bagi langit dan bumi dan diantara keduanya, tentu maksudnya Sifat Allah Maha Memelihara, Maha Berkuasa, Maha Pencipta, Maha Memiliki ada di mana pun di langit dan di bumi. Tidak ada tempat dan ruang dimanapun yang Allah tidak Memelihara, Berkuasa, Mencipta, Memilikinya.

Dan banyak lagi ayat yang menunjukkan Sifat Allah yang lain yang dapat kita lihat pada makhlukNya dan kita rasakan ada dimana-mana, seperti Sifat Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengawasi, maha Mencipta dan sebagainya. Sebagai orang beriman dapat merasakan bahwa Sifat Allah itu ada di mana-mana atau dimanapun kita berada. Tidak ada satu ruang dan tempat kecuali Allah Melihat, Mendengar, Mengawasi dan Allah yang Menciptakannya.

Demikian juga tentang maksud Dia (Allah) bersemayam di atas Arasy, bukanlah Dzat Allah yang bersemayam di atas Arasy, sebagaimana yang diyakini oleh kaum Mujassimah. melainkan Sifat Maknawiyah Allah yang mengatasi Arasy. Kalau memaknainya sebagai Dzat Allah hakikatnya sama dengan memahaminya sebagai Sifat Jism Allah, sedang Allah bukanlah Jism seperti makhluk. Kita berlindung kepada Allah dari fitnah kaum Mujassimah.

Ada 2 cara Ulama Ahlussunah wal Jamaah dalam memahami Ayat Mutasyabihat, yaitu

1. Melakukan Tafwid yaitu menyerahkan sepenuhnya kepada Allah apa maknanya sebab hanya Allah yang Maha Mengetahui apa maksud sebenarnya.

2. Melakukan Takwil yaitu mengalihkannya dengan membahasnya ayat Muhkamat yang berkaitan dengan ayat Mutasyabihat itu, sebagai contoh:

QS At Taubah:129
9:129Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Robb (Tuhan yang Memelihara /Memiliki) ‘Arsy yang agung

 

Dalam surat At Taubah:129 jelas disebut bahwa Allah adalah Robb (Tuhan Yang Maha Memelihara, Maha Menguasai, Maha Memiliki) ‘Arsy yang agung, Maksudnya Sifat Allah Maha Memelihara, Maha Menguasai, Maha Memiliki ada mengatasi Arsy. Inilah diantara maksud “Dia (Allah) bersemayam di atas Arasy”. (Lihat juga bagaimana Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah menjelaskan ayat-ayat Mutasyabihat ini).

Allah ada tanpa tempat

Sedang maksud “Allah ada tanpa tempat” adalah “Dzat Allah” itu Wujud tanpa memerlukan tempat, karena memang Dzat Allah bukanlah Jism seperti makhluk. Wujud Dzat Allah itu tidak berawal dan tidak ada akhirnya, Allah tidak terikat waktu. Wujud Allah tidak serupa sama sekali dengan makhlukNya. Wujud Dzat Allah itu Esa dan ditegaskan lagi dapat berdiri sendiri tanpa tergantung pada makhlukNya. Waktu dan tempat adalah termasuk makhluk Allah. Oleh sebab itu Allah tidak tergantung dan tidak terikat pada waktu dan tempat. (Lihat Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 1: Sifat Nafsiyah dan Sifat Salbiyah) )

Kita melihat betapa kokoh kaidah/metode yang diajarkan oleh Ulama Tauhid Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi dalam memahami Aqidah. Metode ini mudah difahami dan sesuai fitrah akal kita.

Aqidah Tauhid dibagi 3 adalah rapuh dan tidak punya kaidah/metode yang pasti

Aqidah mereka itu sebenarnya sangat rapuh dan tidak punya kaidah atau metode yang pasti. Kaidah mereka kadang mereka langgar sendiri tanpa mereka sadar, ini menunjukkan Ulama mereka sebenarnya tidak mengikut Ulama salaf. Jauh sekali dari kealiman dan kecerdasan Ulama salaf yang sebenarnya.

Sebagai contoh, kaidah Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif (mengubah arti), tanpa ta’thil (menolak/menghilangkan arti) dan tanpa takyif (menanyakan bagaimana) (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul). (lihat muslim.or.id/6615-makna-tauhid).

Kemudian mereka menyebut definisi Tauhid Rububiyah dalam Tauhid 3 serangkai menyebutkan:
Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Dengan definisi Ini dengan mudahnya mereka membuat kesimpulan: Dan perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang,

(Lihat tulisan yang diberi tanda merah dalam muslim.or.id/6615-makna-tauhid di bawah ini dan lihat juga menit ke 7 video ini).

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

Disini saja mereka sudah lupa atau tanpa sadar telah menta’thil (menolak) sebahagian Sifat Rububiyah bahwa hanya Allah yang dapat menghidupkan manusia setelah matinya di akhirat nanti. sebagaimana firman Allah dalam QS Al Muthaffiffin: 4-6

Surat Al-Muthaffifin Ayat 4
Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,
Surat Al-Muthaffifin Ayat 5
pada suatu hari yang besar,
Surat Al-Muthaffifin Ayat 6
(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

Banyak sekali ayat Qur’an yang menyebutkan bahwa orang kafir tidak mengakui Sifat Rububiyah Allah yang akan menghidupkan mereka lagi setelah mereka mati di dunia. Diantaranya QS Al-Isra: 49

17:49
Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?”

Jadi keyakinan mereka yang mengatakan orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah jelas melanggar aturan Tauhid Asma wa Sifat dan melanggar Al Qur’an. Begitulah rapuhnya kaidah dan methode pemahaman mereka.

Kembali pada thema “Allah dimana”. Mereka mengatakan Allah berada di atas, atau Allah bersemayam di atas Arasy. Mereka benar-benar meyakini bahwa Dzat Allah itu berada di atas atau besemayam di atas Arasy. Untuk dalil Quran dan Hadits yang mengatakan Allah di atas dan bersemayam di Arasy mereka pegang teguh makna zahirnya.

Tapi untuk ayat tertentu mereka tidak yakini makna zahirnya, seperti dalam QS Al Fajr:14

Surat Al-Fajr Ayat 14

sesungguhnya Tuhanmu benar-benar dalam al-mirshod

 

Makna al-mirshod itu adalah tempat/menara pengawas tertentu. Mereka tidak lagi memahami makna zahir, bahwa Allah ada dalam tempat/menara pengawas. Kebanyakan terjemah Al Quran sudah ditakwil dengan “sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi”, karena ulama ingin memudahkan umat Islam memahami.

QS Ash-Shaffat:99

Surat Ash Shaffat Ayat 99

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.

 

Ketika itu Nabi Ibrahim akan pergi ke Palestina. Beliau berkata pergi menuju Tuhannya. Tetapi mereka tidak lagi memahami Allah ada di Palestina. Ulama memterjemahkan Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku” untuk memudahkan kita faham. Ini membuktikan secara fitrah kalau disebut Allah maka kita langsung memahami bahwa itu adalah Sifat Maknawiyah bukan Sifat Jism yang zahir.

Keyakinan Mujassimah jelas bertentangan dengan fitrah. Mereka akan menjadi bingung sendiri. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, sudah memperingatkan agar jangan membahas tentang Dzat Allah, tapi bicaralah tentang Asma dan Sifat Allah. Sifat Allah yang dimaksud disini adalah Sifat yang maknawiyah, bukan Sifat jism yang zahir. Kalau membahas Sifat Jism yang zahir maka sama dengan membahas Dzat Allah, Akal dan hati tambah tidak faham dan akan bingung. Sedang membahas Sifat maknawiyah, akal dan hati akan tentram dan faham, karena sesuai fitrah manusia.

Ustad yang menjadi tidak tahu bahwa Arasy adalah makhluk, karena membahas Allah di atas Arasy dengan makna zahir

Bagaimana membicarakan Sifat Jism yang zahir dapat membuat akal jadi bingung dan melawan fitrah akal manusia? Silakan anda saksikan video ini atau video ini pada menit ke 3:15). Seorang Ustad bergelar Doktor, tidak dapat menjawab apakah Arasy itu makhluk atau bukan. Sekian lama beliau belajar, bahkan di Timur Tengah, tempat para Ulama berlajar dan mengajar, tetapi pulang ke Indonesia menjadi lupa dan tidak tahu lagi hal pokok yang amat penting dalam Islam, bahwa yang selain Allah adalah pasti makhluk. Na’udzubillahi min dzalik. Mohon sekiranya ada dikalangan orang dekatnya dapat memberitahukannya agar beliau menjadi yakin kembali bahwa memang Arasy itu makhluk Allah dan mengkoreksi pernyataannya dalam Youtube.

Kita yang belajar Islam Ahlusunnah wal Jama’ah di Indonesia tentu sudah belajar dari kecil ketika usia SD bahwa yang selain Allah pasti makhluk. Para guru-guru kita yang mulia sudah memperingatkan sejak dahulu tentang pentingnya hal ini. Keyakinan ini tidak boleh meleset sama sekali, sebab ini berkaitan dengan keimanan.

Jika seorang Ustad yang cerdas dan telah belajar hingga mencapai gelar Doktor pun karena mempelajari ajaran itu menjadi lupa dan tidak tahu lagi bahwa Arasy itu makhluk, salah satu ajaran pokok yang semestinya sudah diketahui sejak kecil, bagaimana orang awam yang mempelajarinya?

Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua.

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Iklan

2 pemikiran pada “Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah.

  1. Assalaamu’alaikum ustad,

    Saya mau bertanya, apakah yg dimaksud “sifat Alloh secara maknawiyah ? seperti penjelasan artikel diatas. Tolong diberikan contohnya, ustad, karena saya masih kurang faham maksudnya.

    Jazaakalloohu khoir….

    Suka

    1. Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuhu. Tuan/Puan mayaprada, terimakasih telah mengunjungi tulisan kami dan memberi komentar, Jazakumullahu khairan.

      Maksud Sifat maknawiyah adalah Sifat yang dapat kita fahami tanpa mengkaitkan dengan makna fisk/jisim.
      Misalnya dia adalah orang besar. Kalau kita faham ini secara maknawiyah maksudnya dia adalah orang yang terhormat. Tanpa dibayangkan badannya besar.
      Kalau contoh mudah ini kita faham. Maka ketika kita mendengar Allahu Akbar, Allah Maha Besar, kita tidak sama sekali mengkaitkan Sifat Maha Besar itu dengan Jisim/fisik yang besar, tetapi Keagungan, Kehebatan, Besarnya Kekuasaan, Besarnya Kemampuan Allah dll.

      Ini penting untuk kita faham Aqidah. Sifat yang menolak untuk mengkaitkan Sifat Allah dengan fisik/jisim dalam Sifat 20 disebut Sifat Salbiyah. (Sifat yang menolak segala sifat kelemahan yang tidak layak bagi Allah. Karena sifat kelemahan itu hanya ada pada makhluk

      Lihat https://pemudade.wordpress.com/2016/05/16/mari-menyelami-sifat-wajib-allah-yang-20-bagian-1-sifat-nafsiyah-dan-sifat-salbiyah/

      Salah satu sifat yang tidak layak itu adalah Sifat Jism/fisik. Sifat Jism/fisik adalah juga terikat dengan waktu, inipun ditolak dalam Sifat Salbiyah.

      Allah bukan Jism/fisk, Itu sebabnya ketika kita membaca Ayat Mutasyabihat yang samar artinya yang dapat difahami dengan fisik/jism, Kita langsung meyakini, bahwa yang dimaksud itu pasti bukan sifat fisik/jism, tetapi Sifat Maknawiyah.

      Orang yang memahami dengan Sifat Jisim disebut golongan Mujassimah. Walaupun mereka katakan Sifat Jism Allah berbeda dengan Sifat Jism makhluk.

      Contoh yang terkenal adalah QS Thaha: 5 Allah Yang Maha Rahman beristawa di atas Arasy. Istawa maknanya semayam. Kita tidak boleh memahami dengan makna zahir/jism, walaupun kemudia dikatakan bersemayamNya Allah berbeda dengan bersemayamnya makhluk. Ini tetap syubhat dan menjurus kepada faham Mujassimah.

      selanjutnya silakan baca
      https://pemudade.wordpress.com/2015/11/21/bagaimana-aswaja-memahami-ayat-ayat-mutasyabihat/

      Contoh bahaya pemahaman Mujassimah ini adalah dapat menjadikan seorang Ustad tergelincir karena mamahami makna zahir ayat Mutasyabihat yang menjadikannya tidak tahu hal pokok agama Islam yaitu yang selain Allah masti makhluk, termasuk Arasy adalah makhluk Allah.
      Na’udzubillah min dzalik

      Mohon maaf, semoga bermanfaat

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s