Mengapa Masyarakat Muslim Ahlussunnah wal Jama’ah menolak Ustad Khalid Basalamah

Baru-baru ini ada peristiwa penolakan terhadap Ustad Khalid Basalamah yang sedang memberikan ceramah di Sidoarjo oleh masyarakat Islam dari kalangan Ahlussnunnah wal Jama’ah. Mereka menuntut agar beliau diganti sebagai penceramah karena dianggap meresahkan masyarakat. Berita tentang peritiwa ini cukup tersebar di Indonesia. Ada pihak yang pro, ada yang kontra dan ada pula yang menyayangkan terjadinya peristiwa itu tanpa pro dan kontra terhadap Ustad Khalid Basalamah.

Mengapa Ustad Khalid Basalamah ditolak dan diusir? Mungkin ada diantara mereka yang hanya fanatik membela tanpa tahu apa sebab beliau ditolak. Ini dapat dilihat dari komentar mereka. Mereka sama sekali tidak membahas penyebab sebenarnya. Disini izinkan kami untuk menjelaskan mengapa beliau ditolak oleh masyarakat Islam Ahlussunah wal Jamaah, mudah-mudahan dapat menambahkab wawasan agama kita.

Sebenarnya KH Hasyim Asy’ari sudah mengingatkan kekeliruan Aqidah yang dianut oleh Ustad Khalid Basalamah dalam buku Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ustad Adi Hidayat telah menjelaskan sebagiannya, namun sayang justru tidak menjelaskan 2 bagian penting dari Kitab itu, yaitu

  1. Apa itu Ahlussunnah wal Jamaah yaitu
    a. Islam, ilmunya disebut ilmu Fiqih dengan mengikut satu dari 4 Imam Mazhab (dalam hal ini di Indonesia, mayoritas bermazhab Syafei)
    b. Iman, ilmunya disebut ilmu Tauhid/Aqidah yang merujuk kepada Imam Abul Hasan Al Asy’ari (dan Imam Abu Mansur Al Maturidi.
    c. Ihsan, ilmunya disebut Ilmu Tasawuf/Akhlak mengikuti Ulama Tasawuf seperti Imam Ghazali dan Imam Junaid Al Baghdadi
  2. Kekeliruan ajaran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab yang membagi Tauhid menjadi 3 (Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Sifat).

(Lihat Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat).

Berikut ini beberapa kekeliruan mendasar dengan bukti berupa Video Youtube, mudah-mudahan Video ini tidak dihapus setelah terbitnya tulisan ini, kecuali jika karena beliau sudah mengubah pendirianya yang kembali memegang pegangan Ahlussunnah wal Jama’ah yang dikenal oleh umat Islam pada umumnya yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah Maturidiyah

1.Pemahaman makna zahir Asma wa Sifat yang membawa faham mujassimah, (lihat Bahaya fahaman Mujassimah (1))

a. Meyakini Allah berada di atas langit atau di atas Arasy, Allah punya tangan, Allah punya kaki (menit ke 3:00 video di bawah) sebagaimana makna zahir Asma wa Sifat itu.

Ada pemahaman syubhat yang cukup berbahaya dalam video di atas:

(lihat juga penjelasan Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah.)

Pernyataan ini menunjukkan keyakinan Mujassimah, yaitu meyakini Allah berjisim (berjasad, bertubuh, mempunyai volume dan bentuk di alam zahir atau di alam ghaib), walaupun mereka katakan tidak serupa dengan makhluk. Keyakinan ini berbahaya sebab menyerupakan Allah dengan makhluk. Allah tidak menempati suatu tempat baik di alam zahir maupun alam ghaib. Alam zahir dan alam ghaib adalah makhluk yang pernah tidak ada. Sedang Allah adalah bersifat Qidam (sedia ada, tanpa didahului dengan tidak ada). Disini kita makin sadar Mengapa Ilmu Mantiq diperlukan untuk memahami Aqidah agar tidak keliru menggunakan akal. Ilmu Mantiq adalah ilmu alat untuk menggunakan akal dengan benar dalam memahami Aqidah, sebagaimana ilmu Tajwid yang mesti kita pelajari agar tepat dan tidak keliru dalam membaca Al Quran. Ayat Quran seperti itu adalah ayat Mutasyabihat yang samar artinya. Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah telah  menjelaskan bagaimana memahami ayat-ayat Mutasyabihat.

Syubhat mengatakan Allah mempunyai anggota badan seperti tangan, kaki dan wajah adalah sangat berbahaya, sebab menafikan Sifat Wahdaniyah (Maha Esa). Walaupun mereka katakan tangan, kaki dan wajah Allah tidak serupa dengan makhluk. Secara tidak sadar mereka berkeyakinan bahwa Dzat Allah terdiri dari bagian-bagian yang berbilang (lebih dari satu), sehingga tidak lagi Esa. Hal ini menjadi rancu karena meyakini Dzat Allah terdiri dari bagian-bagian tetapi Esa, Dzat Allah itu Esa tetapi terdiri dari bagian-bagian, sebagaimana golongan yang mengatakan Tuhan itu satu tapi tiga, tiga tapi satu. Na’udzubillahi min dzalik.

Perlu kita ketahui bahwa suatu dzat yang terdiri dari beberapa bagian adalah dzat yang berjisim/bertubuh. Itu sebabnya pentingnya kita memahami Sifat Wahdaniyah, Allah adalah Esa, tidak dapat dibagi, dan tidak terdiri dari bagian-bagian, agar kita meyakini bahwa Allah bukanlah berjisim seperti makhluk yang perlu tempat (yang zahir maupun yang ghaib). Lihat Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 1: Sifat Nafsiyah dan Sifat Salbiyah).

Untuk ayat Mutasyabihat mereka gigih memegang teguh makna asli Asma wa Sifat, tetapi anehnya untuk Sifat Rububiyah dalam Tauhid Rububiyah mereka tidak lagi berpegang teguh pada makna asli dari Rububiyah yang akar katanya sama dengan Tarbiyah, Murobbi dan Robbayani (doa untuk orang tua). Robb berarti Tuhan yang Maha Memelihara.
Misalnya ketika membaca surat Lukman ayat 25

31:25

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

(Lihat menit ke 7 video ini, bukan Ustad Khalid Basalamah, tetapi yang sefaham dengan beliau dan tulisan dalam muslim.or.id tentang makna tauhid, yang diberi tanda merah dibawah ini)

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

Mereka langsung memahami orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah, seolah-olah mencipta langit dan bumi itu adalah keseluruhan Sifat Rububiyah, padahal

b. Tidak mengetahui apakah Arasy adalah makhluk  atau bukan adalah tanda tidak memahami bahwa selain Allah adalah makhluk (menit 3:15 video di bawah ini).

(Lihat juga penjelasan Apa maksud “janganlah kalian berpikir tentang Dzat Allah, tapi pikirkanlah ciptaan-Nya”? )

Padahal beliau menyebut disitu tentang sabda Nabi Shallallahu alaihi wassalam, bicaralah tentang Nama dan Sifat-Sifat Allah dan jangan bicara tentang Dzat Allah. Arasy bukanlah Dzat Allah, Arasy adalah selain Allah. Semua yang selain Allah adalah makhluk. Makhluk termasuk juga Arasy adalah diciptakan sedang Dzat Allah adalah Qidam (sedia ada tanpa didahului oleh tidak ada).
Kalau pernyataan ini berasal dari orang yang tidak dikenal sebagai Ustad, mungkin biasa saja karena tidak akan berdampak kepada masyarakat luas. Tetapi kalau pernyataan ini berasal dari seorang Ustad panutan maka amat berbahaya, karena akan diikuti oleh pengikutnya. Kalau seorang Ustad tidak tahu bahwa Arasy yang selain Allah adalah makhluk maka bagaimana dapat mengenalkan Allah kepada pengikutnya.

Sesungguhnya pertanyaan dimana Allah tidak sepatutnya dibahas sedemikian rupa yang menggambarkan “posisi” Allah dalam dimensi tempat, karena Allah bukan makhluk yang perlu dengan makhluk lain (tempat adalah juga makhluk).
Jawaban pertanyaan dimana Allah konon ada dalilnya yaitu diambil dari suatu Hadits yang terkenal, bukanlah bermakna mempertanyakan posisi Allah di dalam dimensi tempat.
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam yang bertanya kepada seorang budak sama-sama faham maknawiyah dari pertanyaan dan jawabannnya. Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bertanya “Dimana Allah?”. Budak itu memahami pertanyaan itu dengan maksud “bagaimana keyakinanmu terhadap Allah?”, maka dijawab “Di langit”. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam memahami maksud jawaban budak itu bahwa dia yakin bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Besar, Maha Tinggi, Maha Agung yang patut disembah. “Di langit” dapat bermakna Allahu Akbar, Allah Maha Tinggi atau Allah Maha Agung, sebagaimana sering kita dengar dalam bahasa kita, “ilmunya selangit”, maksudnya ilmunya sangat tinggi.

Ada kisah Sayidina Umar bin Khattab radhiallahu anhu yang ingin menguji seorang penggembala ketika membujuknya agar menjual satu ekor domba kepada beliau dan mengatakan kepada penggembala itu bahwa pemilik domba itu tidak akan tahu bahwa dombanya hilang satu. Lalu penggembala itu berkata kepada Sayidina Umar radhiallahu anhu: “Fa ainallahu (kalau begitu di mana Allah?)”. Pertanyaan ini jelas bukan mempertanyakan posisi Allah di dimensi tempat, tetapi difahami, “bagaimana keyakinanmu terhadap Allah, apakah engkau tidak yakin bahwa Allah Maha Mengetahui semua perbuatan kita?”. Sayidina Umar radhiallahu anhu menangis terharu sebab rakyatnya yang dari kalangan penggembala pun memahami  Iman Islam dan Ihsan secara baik.

c. Pemahaman Allah tidak dapat dilihat sebab Allah terlalu Besar secara makna zahir.

Menjawab Allah tidak bisa dilihat sebab Allah Maha Besar melebihi besarnya fisik alam semesta dengan makna zahir (lihat video di atas menit pertama). Ini satu bukti lagi keyakinan Mujassimah. Ajaran ini memahami Allah itu berjisim (berjasad, bervolume). Dalam video itu digambarkan “BesarNya” Dzat Allah, diceritakan secara panjang lebar besarnya dimensi bumi, langit, bintang dan alam semesta, untuk membandingkan dengan besarnya Dzat Allah. Bahkan disebutkan dalam menit ke 6:50 bahwa Kursi (diambil dari ayat kursi) adalah pijakan kakinya Allah. Na’udzubillah min dzalik. Subhanallahu, Maha Suci Allah dari apa yang disifatkan itu.

(lihat juga Ulama Tauhid 3 serangkai memasukan fahamannya melalui catatan kaki Mushaf Al Qur´an)

Ahlussunnah Wal Jama’ah memahami bahwa Allah  berbeda dengan makhluk secara total baik makhluk yang zahir maupun makhluk ghaib. Dzat Allah tidak dapat dilihat sebab Allah bukan makhluk, Allah bukan berjisim/bertubuh. Jisim/tubuh perlu tempat (baik di alam zahir maupun alam ghaib). Allah tidak memerlukan makhlukNya. Temasuk makhluk adalah tempat dan waktu. Allah tidak terikat dan tidak terpengaruh dengan tempat dan waktu. Kehebatan, Kebesaran, Kemuliaan Allah dapat diceritakan bagaimana Allah menciptakan makhluk hanya dengan “Kun Fa Yakun”.

Allah menciptakan makhluk yang kecil seperti nyamuk sama mudahnya dengan makhluk yang besar sepert arasy, cukup dengan “Kun fa yakun”. Demikian juga bagi Allah waktu penciptaan nyamuk yang hanya beberapa hari adalah sama singkatnya dengan masa penciptaan bumi dan langit serta alam semesta keseluruhannya. Dan semua itu Allah ciptakan dari bahan yang tidak ada sebelumnya!! Subhanallah betapa Hebat dan AgungNya Allah.

2. Pemahaman aneh mengatakan bekas sujud di wajah dengan makna zahir adalah sama dengan tanda hitam di dahi (dari menit pertama video di bawah ini).

Surat Al Fath ayat 29:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…” (QS. Al Fath: 29)

Memahami bekas sujud adalah dahi menjadi hitam adalah aneh, sebab dahi menjadi hitam adalah akibat alas sholat kasar atau keras yang membekas pada dahi.
Dalam surat Al Fath, disebutkan betapa bagi orang beriman ada bekas sujud pada wajahnya (bukan disebut pada dahi atau keningnya). Ini menggambarkan wajah yang bercahaya yang menyenangkan dan menenangkan kalau dilihat, karena mengingatkan kita kepada Allah. Karena itu adalah pancaran Iman dari hatinya. Dalam agama kita mengenal 3 rukun agama yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Sujud yang dimaksud adalah sujud karena Iman, yang sesuai dengan tata cara syariat Islam dengan disertai hati yang khusyu, karena Ihsan yaitu merasakan Allah selalu menyaksikan dirinya, sehingga ia selalu dalam keadaan takut dan harap kepada Allah. Orang yang seperti inilah yang pada wajahnya akan terlihat cahaya bekas sujud karena pancaran Iman, Islam dan Ihsan dari hatinya, dahinya mungkin menjadi hitam oleh bekas alas sholat atau mungkin juga tidak.

Sebaliknya dahi menjadi hitam, tidak harus dikaitkan Iman. Islam dan Ihsan, karena itu hanyalah bekas lahir pada dahi yang sensitif sebab terkena alas yang kasar dan keras.

3. Membaca Sayidina kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam dianggap merendahkan dibanding dengan panggilan Nabi dan Rasul (lihat video di bawah ini)

Mengatakan bahwa membaca Sayidina dianggap menurunkan derajat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam dengan dalih bahwa Sayidina boleh diberikan kepada orang lain, sedang Nabi dan Rasul hanya kepada Rasulullah. Ini adalah pemahaman keliru atau salah kaprah yang jauh dari konteks maksud kita memanggil Sayidina kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Ucapan Sayidina adalah memuliakan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, karena Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sendiri yang mengatakan bahwa dirinya adalah Sayid (pemimpin) dari seluruh Bani Adam, termasuk Bani Adam adalah Nabi dan Rasul. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam adalah juga Sayidul Anbiya dan Mursalin.  Jadi kita memanggil Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dengan Sayidina, adalah untuk lebih memuliakan beliau. Jauh sekali dari pandangan merendahkan kalau dibandingkan dengan panggilan Nabi dan Rasul. Kalau kita hubungkan dengan dalih Sayidina bisa diberikan pada orang lain, sekarang kita tanya bolehkah kita gunakan panggilan Sayid dari seluruh bani Adam kepada semua orang? tentu tidak, hanya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam yang boleh menggunakannya, bahkan Nabi dan Rasul yang lain tidak boleh. Panggilan Sayidina ini sudah beratus-ratus tahun biasa dilakukan bahkan di seluruh dunia Islam. Maka pernyataan dalam video di atas hanya menimbulkan banyak mudharat di masyarakat Islam di Indonesia.

4. Mengatakan bahwa jika tidak menemukan dalilnya dari Quran dan Hadits maka berkesimpulan bahwa amalan itu tidak ada dalilnya, seolah-olah sudah mengetahui seluruh dalil Quran dan Hadits. (menit ke 2:50)

Pernyataan beliau yang cukup memprihatinkan adalah memberi komentar negativ yang bersifat fatwa tentang amalan Ahlussunnah wal Jamaah yang sudah dijalankan ratusan tahun dalam perjalanan dakwah di Indonesia yang tentu saja ada dasar dan dalilnya yang sesuai dengan Quran dan Hadits, serta Ijma dan Qiyas. Beliau mengatakan bahwa jika suatu amalan  tidak ditemukan dalilnya dari Quran dan Hadits olehnya maka berkesimpulan bahwa amalan itu tidak ada dalilnya, seolah-olah beliau sudah mengetahui seluruh dalil Quran dan Hadits. Ini menunjukkan sikap yang tidak terpuji terhadap ulama terdahulu. Kalau kita memahami mengapa adanya Mazhab Fiqih dalam Islam adalah suatu rahmat dan keniscayaan dalam perjalanan sejarah Islam, tentu beliau tidak akan mengeluarkan pernyataan itu. (lihat Mengapa ASWAJA mengikuti Imam Mazhab).

Imam Mazhab adalah suri tauladan kita. Kalau istinbat hukum Imam yang satu berbeda dengan Imam Mazhab sebelumya, tidak pernah Imam yang kemudian mengeluarkan pernyataan bahwa istinbat hukum Imam lain itu keliru atau tidak ada dalilnya. Bahkan mereka semua berpesan, jika engkau menemui hadits yang lebih shohih dari Mazhabku, maka ambillah hadits itu dan tinggalkan Mazhabku. Lihat Imam Mazhab itu berkata “Mazhabku” dan mereka bukan berkata “ikut Quran dan Hadits” – karena tawadhuk mereka – walaupun yang disebut “Mazhabku” itu adalah hasil ijtihad mereka berdasarkan Quran dan Hadits. Sebaliknya Ulama akhir zaman yang menolak Mazhab, mengatakan kalau amalan yang diajarkan oleh ulama lain tidak ditemukan dalilnya maka tinggalkanlah dan katakan kepada mereka amalan itu tidak ada dalilnya, yang benar adalah Quran dan Hadits (menurut “Mazhabku”). Kami sengaja memberi tanda kurung untuk dua kata terakhir (menurut “Mazhabku”), karena ulama akhir zaman hanya berhenti sampai Quran dan Hadits, namun sebenarnya mereka hanyalah ikut Quran Sunnah yang sesuai dengan “Mazhabku”.

Nampak jauh beda sikap ulama akhir zaman dengan akhlak mulia para Imam Mazhab yang mendidik kita agar terus belajar untuk melihat kesalahan diri bukan untuk mencari kesalahan orang lain.

5. Tentang orang tua Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. 

Lihat

Ayah Rasulullah Shallallahu alahi wa alihi wassalam

Ibunda Rasulullah Shallallahu alahi wa alihi wassalam

6. Mengatakan kesalahan Tarikat dan Tasawuf berdasarkan kekeliruan oknum dalam Tarikat dan Tasawuf.

Penyampaian dalam video tentang tarikat dan tasawuf yang memojokkan tasawuf dan tarikat agar umat Islam menganggap tarikat dan tasawuf itu salah berdasarkan kekeliruan oknum pengamal tarikat dan tasawuf, tanpa mengetengahkan amalan tasawuf dan tarikat yang benar atau bertanya kepada ahlinya. Kalau melihat kesalahan itu, mengapa tidak membetulkan yang salah itu saja bukan melarang Tarikat dan Tasawuf dengan dalil kesalahan sebagian oknum.
Apakah boleh kita mengatakan bahwa ilmu kedokteran itu salah, hanya karena ada beberapa oknum dokter melanggar hukum?

Cara berfikir seperti ini adalah cara berfikir orang yang memusuhi Islam, seperti yang kita saksikan sekarang. Mereka dengan mudah mengatakan agama Islam adalah agama kekerasan, hanya karena ada kelompok kecil oknum yang memakai nama Islam tetapi berbuat melanggar ajaran Islam dengan ekstrimisme atau kekerasan.

Kita sebenarnya menjadi kasihan kepada beliau dengan kekeliruan yang disebut di atas apalagi menyangkut keyakinan yang mendasar, kalau beliau belum juga menyadari ini, kita doakan bersama semoga beliau segera menyadari dan memperbaikinya. Dan pendengar atau pengikut beliau dapat mengambil manfaat dari kuliah beliau yang bermanfaat dan menyaring pernyataan beliau yang keliru, yang sebagiannya telah disebutkan di atas.

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Iklan

37 pemikiran pada “Mengapa Masyarakat Muslim Ahlussunnah wal Jama’ah menolak Ustad Khalid Basalamah

  1. Dadang

    Pemikiran kritis…..Tapi mohon juga dibaca tulisan saya…Kebenaran hanya milik Alloh:
    1. Penulis menyampaikan sayyidina hanya boleh digunakan pada Nabi Muhammad saja. Namun, penulis juga menggunakan sayyidina Ali sebagai contoh. Cari lagi hadis beliau mau tidak dipanggil seperti itu
    2. Coba lihat lagi tentang video Zakir Naik tentang wasilah dsb….Dia minta maaf jika ada amalan yang tidak ditemukan dalam AlQur’an dan Hadist…Jadi tidak bisa menerangkan. Pertanyaan…Apa Dr. Zakir naik kurang menguasai Al Qur’an dan Hadist?
    3. Dalam video Adi Hidayat dijelaskan bahwa masih banyak yg belum disampaikan dari buku Hasyim Asy’ari( saya yakin masalah durasi)….Apakah itu berarti beliau sengaja menyembunyikan/ melewati bagian tertentu?
    4. Saya yakin 4 Mahzhab ada benar berdasar ajaran Rasulullah….Ada yang beda cara, dsb. Kurang elok menghakimi 1 Mazhab paling benar karena diajarkan mayoritas dan sampai di Nusantara,yang lain salah/ kurang. Coba objektif cari Imam Syafi’i menangis saat ke Mekkah karena sebagian ajarannya kurang sesuai. Beliau begitu bijaknya suruh kembalikan ke hadist yang lebih kuat
    5. Seorang cendikiawan muslim membagi tipikal Islam di Indonesia ada 5: 1. Sinkritisme 2. Sofitisme 3. Tekstualisme 4. Kontekstualisasi. 5. Liberalisme ( disesatkan MUI). Kalau ada perbedaan di kalangan ummat, kembalikan ke Al Qur’an dan hadist (pesan Nabi)
    6. Pertimbangkan juga penyebaran Islam Nusantara oleh wali songo,,, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan satu Sunan lain sempat khawatir akan kerancuan mana Islam mana budaya saluran penyebaran akan membingungkan umat kemudian hari..

    Disukai oleh 1 orang

    1. Terimakasih Tuan Dadang telah memberi komentar. Kami jawab no 1 dulu ya.
      Mohon dibaca ulang dan pelan pelan. Gelar yg dimaksud bukan Sayidina tetapi Sayid dari seluruh Bani Adam. Gelar ini hanya untuk Rasulullah Shallallahu alahi wassalam. Sedang Sayidina boleh buat semua orang.

      Suka

    2. no 2. Semua Ulama mengaku ikut Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahamannya, yang didapat dari gurunya. Jadi kalau ada Ulama yang jelas sanad ilmunya (dari guru yang bersambung dengan Rasulullah) yang mengatakan suatu amalan dibolehkan atau disunahkan, tentu itu ada dalilnya.

      Sudah kami sampaikan di atas, Semestinya Ulama itu meniru akhlak Imam Mazhab, yang berkata kalau engkau menemui dalil yang lebih sahih ambillah dan tinggalkan “Mazhabku”, padahal yang dimaksud “Mazhabku” itu adalah hasil Ijtihad Imam Mazhab itu berdasarkan Quran dan Hadits. Bahkan Hadits yang dimaksud adalah Kitab Hadits kumpulan Imam Mazhab itu sendiri yang ditashih sendiri mana yang sahih mana yang bukan. Bukan dari Kitab Hadits Ulama lain, itu sebabnya Imam Mazhab disebut Mujtahid Mutlak, sebab tidak bersandar dengan Ulama lain. Begitu tawadhuknya mereka.

      Ulama akhir zaman yang menolak mazhab, biasanya berkata sebaliknya, kalau engkau lihat amalan yang tidak ditemukan dalilnya dari Quran dan Sunnah (menurut “Mazhabku”), maka tinggalkan dan katakan kepadanya itu tidak ada dalilnya, seolah-olah Ulama itu sudah mengatahui seluruh dalil Quran dan Sunnah. Kata (menurut “Mazhabku”) sengaja kami beri tanda kurung sebab sering tidak diucapkan oleh Ulama itu, mereka hanya berkata sampai Quran dan Sunnah.
      Akhlak seperti ini meniru siapa?

      Suka

    3. no 3. Kami tidak tahu, mengapa Ustad Adi Hidayat dengan waktu yang sedikit itu justru melewati 2 bagian yang penting itu. Apakah disengaja atau tidak, Wallahu A’lam,
      Tapi kalau beliau berniat menerangkan semuanya karean beliau anggap penting, tentu beliau akan menyempatkan menyampaikannya di lain waktu, kita tunggu saja.
      Itu sebabnya kami sangka baik saja, kalaupun Ustad Adi tidak sempat lagi oleh sebab tertentu, Kami sudah menyampaikan dalam Blog kami ini sebagai pelengkap.
      Bagaimanapun Ustad Adi sudah berjasa mengetengahkan Kitab Risalah Ahlussunah Wal Jamaah tulisan KH Hasyim Asyari.
      Sesama orang beriman saling melengkapi, walaupun masih jauh dari sempurna. Kami harap ada yang lebih baik lagi menyampaikannya.

      Suka

    4. No 4. Lihat jawaban no 2. Kami tidak menyalahkan, kami hanya membela Ulama terdahulu yang dituduh mengamalkan sesuatu tanpa dalil. Padahal merekalah yang telah berjasa mengislamkan Indonesia sehingga, sekarang Indonesia adalah negara dengan mayoritas Islam terbesar di dunia.
      Kalau ada kekurangan atau kesalahan dalam pengamalan misalnya acara Dzikir Tahlilan setelah kematian, tapi merepotkan keluarga si mayit yang menyediakan makanan, cukup perbaiki yang itu saja, jangan salahkan Dzikir Tahlilnya.
      Namun sepanjang pengalaman kami, dalam lingkunan keluarga besar kami tidak pernah ada keluarga si mayit repot mengurus makanan untuk tamu, karena keluarga besar ikut membantu tanpa diminta. Tamu yang datangpun semua ikut bantu. Begitu juga yang kami tahu dari kawan-kawan kami. Memberi makan adalah perintah Rasulullah SAW. Kalau melarang berarti melarang suruhan Rasulullah.
      Kami tidak tahu mengapa kasus yang sedikit yang dilakukan oknum, jadi dalil untuk melarang

      Sudah kami sampaikan di atas, kalau ada oknum yang buat salah jangan salahkan amalannya. Coba anda bayangkan kalau cara penyelesaian masalah seperti itu, tentu Departement Agama dibubarkan sebab ada korupsi di sana, atau umrah ditiadakan sebab ada orang yang umrah yang menipu, dan lain lain

      Suka

    5. no. 5. Memang benar kalau ada perbedaan kita mesti kembali kepada Quran dan Sunnah.
      Menurut Ahlussunnah wal Jamaah kembali kepada Quran dan Sunnah adalah ikut Ulama Salaf yang bersambung ilmunya dengan Rasulullah SAW. mereka telah menyusun Ilmu dari Quran dan Sunnah untuk memudahkan kita beramal yaitu 3 Rukun agama, Islam. Iman dan Ihsan (dari Hadits Jibril)
      1. Islam, ilmunya disebut ilmu Fiqih mengikut 1 dari 4 Imam Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafei, Hambali)
      2. Iman, ilmunya disebut ilmu Tauhid/Aqidah merujuk kepada Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturudi
      3. Ihsan, ilmunya disebut Ilmu Tasawuf/Akhlak mengikuti Ulama Tasawuf diantaranya Imam Junaid Al Baghdadi dan Imam Ghazali.

      Golongan yang anda sebut juga sudah ada dalam Kitab Risalah Ahlussunah Wal Jamaah tulisan KH Hasyim Asy’ari. Bahkan sudah diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat

      Suka

    6. no. 6 Lihat no 5. Kalau kita berpegang pada 3 Rukun Agama itu dan memperjuangkannya. Umat Islam tidak akan rancu dan bingung.
      Ulama kita yang terdahulu sudah memberi panduan, diantaranya Kitab Risalah Ahlussunah Wal Jamaah tulisan KH Hasyim Asy’ari. Kita tinggal mengamalkan dan memperjuangkannya saja.
      Wallahu a’lam

      Suka

    1. Terima kasih tuan aaa atas komentar anda.
      Kami terus menuntut ilmu, karena menuntut ilmu adalah kewajiban seluruh muslimin dan muslimat sampai akhir hayat.
      Kami khawatir kalau kami berhenti menuntut ilmu, berarti kami menyia-nyiakan umur, apalagi diakhir zaman yang banyak fitnah, karena terlalu mengikuti ayat mutasyabihat (Ali Imran ayat 7), sehingga ada seorang Ustad bergelar doktor yang mengajar Aqidah pun tidak tahu lagi pokok agama bahwa yang selain Allah itu adalah makhluk, termasuk Arasy.
      ALlah adalah Robb, Tuhan Pemelihara dan Pemilik Arasy yang agung (QS At-Taubah ayat 129 dan Surat Al Buruj ayat 15).
      https://pemudade.wordpress.com/2015/11/21/bagaimana-aswaja-memahami-ayat-ayat-mutasyabihat/

      Suka

  2. Lanjutkan perjuangan sampeyan sodaraku pemuda desa….terimakasih semoga Allah menjaga dan merahmati.kalo antum butuh tenaga saya untuk berjihad melawan para Mujassim dan para penghina orang tua nabi ini ana siap jiwa raga.karna setiap mereka menyebut orang tua nabi dineraka ana menangis sejadi jadinya. Ana cuma punya tenaga karna ana bodo……alhamdulillah tulisan sampeyan menambah ilmu buat ana yg fakir ilmu ini

    Disukai oleh 1 orang

    1. Terima kasih tuan Imam, alhamdulillah jika tulisan kami bermanfaat. Komentar anda juga memberi semangat kepada kami.
      Kalau ingin ikut berjuang membantu kami, tolong share tulisan kami sebanyak-banyaknya.
      semoga Allah menolong perjuangan Ahlussunnah Wal Jamaah.
      Jazakumullahu khairan

      Suka

  3. ustadz khalid juga Ahlussunnah wal Jama’ah, beliau mempelajari 4 mahzab di perkuliahan nya di madinah,,,dan pernyataan2 beliau disertakan dalil2 sahih dan rujukan2 dari ulama2 yang masyur….dan juga beliau menguasai bahasa arab fasih….beliau menjelaskan melalui berbagai metode termasuk metodologi bahasa arab,,,seperti kata sayyidina….dll
    dan untuk video2 diatas,,,kayanya ente mesti tonton berkali2,,sampe paham,,atau tonton versi ceramah yang full….

    Suka

    1. Terimakasih tuan Iyus, telah membaca tulisan kami.
      Untuk pengetahuan anda, kami telah mendengarkan video Ustad Khalid Basalamah berkali-kali dengan hati-hati agar kami dapat benar-benar memahami apa yang beliau maksudkan.
      Dan kenyataannya banyak yang menyimpang dari keyakinan Ahlusunnah wal Jamaah seperti yang kami sebut di atas. Sekarang giliran anda agar membaca tulisan kami pelan-pelan dan berulang-ulang agar anda faham yang kami maksud.
      Contoh hal pokok dalam agama yang cukup fatal adalah bahwa beliau tidak tahu bahwa yang selain Allah itu pasti makhluk atau ciptaan Allah, termasuk Arasy.
      Bagaimana ini bisa terjadi pada seorang Ustad yang cerdas bergelar doktor tentu kuliah bertahun-tahun, kalau bukan karena ajaran Aqidah yang menyimpang?

      Suka

  4. Tuan Ryan terima kasih telah membaca tulisan kami. Ada banyak dalil yang Sahih tentang panggilan Sayyidina, diantaranya
    Didasarkan pada hadits Nabi SAW:

    عن أبي هريرةقا ل , قا ل ر سو ل الله صلي الله عليه وسلم أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ

    “Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk memberikan syafa’at.” (Shahih Muslim, 4223).

    Suka

  5. Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

    Terima kasih atas tulisan saudara yang banyak memberikan wawasan mengenai asal muasalal kejadian Sidoarjo.

    Mohon maaf sebelumnya saya hanya orang awam dan sedang belajar agar menjadi lebih baik dalam iman dan taqwa kepada Allah.

    Sebagai awam, saya melihat perkembangan dakwah yang ada sekarang mengapa banyak berisi pertentangan dan perbedaan antara ustadz yang satu dengan yang lain. Dan sayangnya cara yang digunakan sering kali rasanya tidak sesuai dengan nilai nilai yang ada dalam Islam itu sendiri, sebagaimana yang beliau-beliau itu sering sampaikan pada dakwah mereka.

    Apakah ada dalam aqidah, bagaimana cara menanggapi jika ada pemahaman yang berbeda antar ulama atau ustadz ? Apakah dengan cara kekerasan, datang gerombolan teriak-teriak atas nama masyarakat, nah lalu yg ribuan pada duduk mau ikutin ceramah itu bukan masyarakat ? Atau dengan cara buat video atau tulisan bantahan bahkan celaan kemudian disebarkan ke media sosial agar seluruh umat bisa melihat dan kemudian menjadi bingung ?

    Bukankah jika sorang muslim berbuat salah, tugas saudaranya adalah mengingatkan dan meluruskannya ? dan caranya apakah seperti yang sekarang banyak terjadi ? Tidak adakah lagi yang namanya silaturahmi ,tabayun anatar orang ber-ilmu yang lebih enak dilihat oleh orang awam seperti saya dan mungkin kebanyakan orang lain, atau bahkan umat agama lain yang sedang asyik riang gembira tertawa melihat perpecahan Muslim di negeri ini.

    Banyak orang yang mungkin tidak seberuntung Penulis, atau yang lain yang sejak lahir bukan pada keluarga yang paham agama dengan baik. Mereka hanya mengikuti apa yang orang tua ajarkan. Dan banyak dari mereka yang tidak mendapat kesempatan untuk belajar agama lebih dalam di pesantren, sekolah, atau lembaga lainnya. Karena keadaan dan kondisi mereka mungkin hanya bisa belajar dari kajian-kajian di televisi, koran, majalah, khutbah jumat, pengajian lingkungan, dsb. Menurut anda apa yang mereka peroleh dari adanya perbedaan pendapat yang disajikan oleh ustadz-ustadz mereka ? Menurut saya 1. Bingung, 2. Ikut-ikutan mencaci dan men-sesatkan sana sini, 3. masa bodoh. Ketiga hal di atas sepertinya tidak ada dalam tujuan dakwah setiap ulama atau ustadz. Tapi itulah yang terjadi…

    Demikian sedikit tanggapan dari saya, mohon maaf sekiranya ada tulisan yang tidak berkenan…

    Terima kasih
    Wassalam mu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

    Suka

    1. Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuhu. Tuan Abdi Haris, terima kasih telah membaca tulisan kami dan memberi tanggapan yang baik. Kami masih selalu belajar, juga dari komentar-komentar yang masuk. Semoga Allah membalasnya dengan ganjaran yang berlipat ganda.

      Tulisan ini kami buat untuk memberikan masukan kepada siapa yang memerlukan dan mencari penjelasan tentang suatu masalah yang berkenaan dengan fitnah terutamanya yang dlakukan oleh orang-orang yang sekarang ini mengaku ikut Quran dan Sunnah, tetapi meninggalkan ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya. Sebenarnya mereka itu hanyalah mengajak orang mengikut Quran dan Sunnah yang mereka atau ulama mereka fahami.

      Pesan kami jika anda ingin terus belajar, maka yang pertama carilah guru yang jelas mengikuti Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah, yaitu

      1. Islam, ilmunya disebut ilmu Fiqih mengikut 1 dari 4 Imam Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafei, Hambali)
      2. Iman, ilmunya disebut ilmu Tauhid/Aqidah merujuk kepada Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturudi
      3. Ihsan, ilmunya disebut Ilmu Tasawuf/Akhlak mengikuti Ulama Tasawuf diantaranya Imam Junaid Al Baghdadi dan Imam Ghazali.

      Selain terus menuntut ilmu, tidak lupa pula agar selalu berdoa minta kepada Allah agar ditunjukkan guru tersebut.
      Anda sebenarnya sudah senantiasa berdoa dalam Surat Al FAtihah, yang minta ditunjukkan jalan yang lurus yaitu jalan orang telah Allah beri nikmat. Orang yang telah diberi nikmat itulah guru yang membawa kita kepada Allah.

      Mohon maaf

      Suka

  6. Ahmad S

    Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh..
    Sudahkah tim anda mengajak dialog dgn ustad Khalid… biar semuanya menjadi lebih indah, mudah2an semua bisa menerima semua masukan (termasuk saya yg sangat awam). Mohon maaf terima kasih

    Suka

    1. Wa alaikum salam wa Rahmatullahi wa barakatuhu. Terimakasih Tuan Ahmad S..
      Sebenarnya secara tidak langsung Tim kami sdh mengajak beliau bertemu. Misalnya ketika Peristiwa di Sidoarjo. Kalau beliau ingin tahu mengapa beliau ditolak, beliau tinggal datang saja ke pimpinan atau Kyai yg ada di sana. Tapi kenyataan nya beliau komentar yg mengesankan beliau dizalimi.
      Itulah sebabnya tulisan ini ditulis agar ada informasi yg seImbang. Sebagai contoh fanatiknya pengikut yg membela walau jelas keanehan sikap Ustad Khalid yg membahas hal yg kurang penting yaitu ttg orang tua Rasulullah saw sehingga melupakan yg amat penting yaitu tidak tahu bahwa Arasy itu makhkluk Allah.
      Lebih baik diam ttg orang tua Rasulullah SAW daripada diam /tidak tahu bahwa Arasy yg selain Allah adalah makhluk.
      Lihat video ini dan komentar nya.

      Suka

      1. Ingin Masuk Surga

        Wahai sodaraku yang baik. Kenapa tidak anda duluan yang datang untuk menasehati, kenapa harus menunggu?

        Terima Kasih

        Suka

      2. Tuan Ingin Masuk Surga, Kami tidak menunggu, begitu mengetahui kami langsung memberitahu melalui salah seorang kawan yang cukup sering mengikuti pengajian beliau.
        Namun kawan itu tidak memberikan keterangan kepada kami, setelah kami beritahu tentang itu.

        Karena hal ini berkaitan dengan Aqidah yang cukup berbahaya, kami beritahukan melalui tulisan secara terbuka, karena beliau pun menyatakan itu (tidak tahu bahwa Arasy itu makhluk) secara terbuka dalam kajian Aqidah Islam. Agar orang awam mengetahui dengan pasti bahwa Arasy adalah makhluk.

        Sekaligus memberitahukan bahayanya membicarakan Dzat Allah yang jelas dilarang seperti yang dilakukan oleh ajaran Aqidah yang membahas ayat Mutasyabihat dengan makna zahir secara tidak sadar..

        https://pemudade.wordpress.com/2017/05/01/janganlah-kalian-berpikir-tentang-dzat-allah-tapi-pikirkanlah-ciptaan-nya/

        https://pemudade.wordpress.com/2017/04/08/pembahasan-di-mana-allah-secara-makna-zahir-dapat-menjerumuskan-ke-pemahaman-mujassimah/

        Suka

      3. Assalamualaikum,,
        Jujur, tulisan ini sebenarnya membuatku bingung,, mana yang benar, dan mana yang salah..
        Ada yang perlu juga saya koreksi,, Bahwa Ust. Khalid Tidak Menyebutkan bahwa Allah mempunyai tangan dan kaki, dia tidak “meyakini” tetapi dia mengatakan dia “mengimani” wahyu yang mengatakannya di mana terdapat dalam AlQuran dan Hadits.. jadi dibedakan yah antara mengimani dan meyakini, hal ini bisa jadi merujuk ke fitnah..
        Sebagai contoh, firman Allah ta’ala,
        بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ
        “(Tidak demikian), tetapi kedua tangan Allah terbentang. Dia menafkahkan sebagaimana dia kehendaki” ( QS. Al Ma’idah)

        Maka dia mengimani apa yang di Firmankan Allah,,

        Sedangkan merubahnya quran dari makna dzahir merupakan perbuatan terlarang, karena ini termasuk berkata tentang Allah tanpa dasar ilmu. Allah berfirman,
        قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ (٣٣)
        “Katakanlah: ‘Rabbku mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui” (Al A’raf: 33)

        Wallahualam,,
        Kalau menurut saya tidak etis postingan ini dibuat hanya untuk mengomentari seseorang,, karena pasti hanya akan menimbulkan perpecahan dan perbedaan pendapat antar sesama muslim,, jikalau benar” berniat untuk meluruskan, datangilah yang bersangkutan dan ajak untuk dialog,, kalaupun beliau mengakui kesalahannya, dia pasti akan mengklarifikasinya,, bukankah ini metode yang di Pakai Rasulullah Nabi Muhmammad S.A.W,, dibandingkan dengan mengumumkannya ke media, Datangi dulu lah saja beliau,, sebelum membagikan postingan seperti ini,, Kalau pun beliau tidak mau untuk bertemu,, dan sahabat ingin meluruskan sesuai dengan pendapat sahabat.. buatlah postingan yang tidak menyinggung satu sama lain,, buatlah pendapat sahabat yang bersifat independent. walaupun hal itu membahas tentang apa yang dikatakan oleh ust. Khalid, tapi jangan memasukkan nama Ust. Khalid,, hal itu hanya akan mengundang perpecahan, karena pasti kedua belah pihak akan berpegang teguh pada pemahamannya sendiri,, Memang sesama muslim kita harus wajib mengingatkan, tapi kita juga harus menjaga persatuan,,
        Terus terang judul dari Artikel ini “Mengapa Masyarakat Muslim Ahlussunah Waljamaah…” seandainya saya berada di pihak Ust.Khalid, akan merasa tidak sennang dan tersinggung, seolah-olah Antum adalah orang yang berada di jalan yang benar… Memang postingan seperti dapat memaksimalkan pengunjung untuk tertarik membaca, karena saya juga seorang Blogger,, tapi, Jangan menyangkutpautkan hal tersebut apabila Ingin membahas Agama..
        Selebihnya mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan,, saya hanya memberikan masukkan sebagai sesama muslim untuk saling mengingatkan,, saya juga tidak merasa benar, karena saya masih kurang jauh ilmunya dibanding antum-antum..
        Wassalamualakum

        Suka

      4. Wa alaikum salam wa Rahmatullahi wa barakatuhu. Tuan Dan Manoso.
        Terimakasih atas komentar anda. Kami hanya ingin menjelaskan bahwa pemahaman makna zahir aqidah yg dianut Ust KHB ini sangat berbahaya. Karena menyebabkan orang membahas Dzat Allah secara tidak sadar. Padahal itu dilarang. Jadi aqidah inI telah menjerumuskan org melakukan hal terlarang secara tidak sadar. Puncaknya orang yg mengajarkan menjadi jahil (tidak tahu) bahwa yg selain Allah itu pasti makhluk, termasuk juga Arasy.
        Kita sdh belajar hal ini dari kecil. Tapi Ustad yg mengajar Aqidah ini sampaI sekolah mencapai gelar doktor menjadi tidak tahu bahwa Arasy itu makhluk. Berapa lama lagi mesti belajar?

        Suka

  7. Dian

    Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh, mas pemuda desa.

    Saya cm org biasa, tdk pernah mengeyam pendidikan pesantren dan sy sangat berterima kasih sekali atas ilmu yg diberikan kepada saya serta kepada sesama saudara kita yang muslim. Ada yg mengganjal hati sy selama ini dan ingin sy tanyakan :
    1. Apakah sy jika ber-sholawat dg sholawat Burdah dan dengan sholawat2 yg lain spt di kitab barzanzi. Apakah salah?
    2.Sy terbiasa membaca Surah Yasin setiap malam Jumat (hadiah pahala) dan pernah merutinkan membaca Surah Yasin dg tujuan agar sakit sy sembuh. Krn sy dl sering sakit dan jrg msk kerja. Dan Alhamdulillah, sekarang sy merasa lebih baik dan sakit sy sembuh. Sampai suatu saat sy merasa kangen dg Surah Yasin. Apakah salah mas, jika sy membaca utk tujuan tsb. Mohon mantapkan saya dg dalil mas, agar sy tdk ragu.
    3. KH. Hasyim Asy’ari adalah salah satu ulama yg sy kagumi. Mengenai paragraf yg tdk disebutkan oleh Ust. Adi Hidayat, apakah benar terjemahannya seperti itu(mengenai aliran2 sesat pd saat itu). Sy ingin beli bukunya namun sy takut tdk sesuai dg kitab kuning nya(Ahli sunnah wal jamaah karya KH.HASYIM ASY’ARI). mohon sarannya agar sy tdk salah beli kita nya, sertakan penerbit nya yg sesuai dg kitab kuning nya.
    4. Bagaimana sikap kita saat dihadapkan kepada Ayat2 Al Quran yg mutasyabihat. Apakah ada ilmu2 tersendiri? Krn terkadang sy bingung ttg tdk memperbolehkan nya men-takwil ayat2 mutasyabihat.
    5. Sy pernah mendengar dlm suatu kajian bahwa ada pertemuan para sunan (walisongo) yg mengajak org2 dahulu agar mengisi dg tahlil dan yasinan pada saat kematian. Apakah ada pernyataan/bukti tertulis bahwa para walisongo berharap agar ajarannya beliau ttg yasin tahlil agar diluruskan kembali oleh penerus2 beliau.
    5. Sy pernah membaca salah satu web, yg isi nya adalah Sunan Ampel bermimpi didatangi oleh Rosulullah agar agama ini dibawa ke Indonesia krn ditanah kelahirannya…….. Apakah benar ttg mimpi ini, jikalau benar pendapat para ulama di indonesia seperti apa?

    Semoga ALLAH senantiasa memberikan rahmat dan di ampuni segala dosa2 kepada muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat. Serta amal2 dan ibadahnya diterima ALLAH. Aamiin

    Jika ada tutur kata yg kurang berkenan, saya selaku manusia yg tak luput dr dosa memohon maaf sebesar besarnya. Karena KESEMPURNAAN dan KE-AGUNGAN hanya milik ALLAH semata.

    Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh

    Suka

    1. Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuhu
      Terima kasih mbak Dian telah membaca tulisan kami.

      1. Burdah adalah kumpulan sajak ttg sholawat dan pujian kepada Nabi kita shallallahu alahi wassalam yang ditulis oleh seorang waliullah yang bernama Imam Al Busiri dari Mesir. Kami pernah mendapat syarah kuliah (penjelasan) dari Sajak Burdah tersebut. Sajak itu menceritakan akhlak mulia Rasulullah shallallahu alahi wassalam. Manfaatnya banyak sekali, diantaranya untuk menghafal akhlak Rasulullah. Membaca sholawat adalah perintah Allah. Makin sering diulang dan dibaca, kita makin kenal dengan Rasulullah shallallahu alahi wassalam. Makin kenal, makin cinta. Mencintai Rasulullah shallallahu alahi wassalam adalah perintah Allah. Jadi membaca Burdah (dan shalawat yang lain), adalah cara untuk kita dapat lebih mencintai Rasulullah.
      (lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Burdah). Siapa yang melarang justru aneh, dan dapat diartikan melarang untuk menghafal, mengenal dan mencintai Rasulullah shallallahu alahi wassalam.

      2. Tentang membaca Yasin Fadhillah.

      3. Buku asli mungkin bisa ditanyakan di toko buku terkemuka atau via internet https://www.tokopedia.com/terjemahkitab/risalah-ahlussunnah-wal-jamaah

      4. Tentang ayat Mutasyabihat.
      https://pemudade.wordpress.com/2015/11/21/bagaimana-aswaja-memahami-ayat-ayat-mutasyabihat/

      5. Kami tidak pernah mendengar tentang nanti akan diluruskan oleh penerusnya. Tidak mungkin Waliullah mengajarkan sesuatu yang salah dan terus berharap diluruskan oleh penerusnya. Yang ada Waliullah selalu meengajarkan berdasarkan Quran dan Sunnah. Jadi semua itu ada dalilnya.

      6. Kami juga pernah mendengar adanya mimpi itu. Tak ada yang salah dengan perintah Nabi shallallahu alaih wassalam. Kita lihat dalil Quran dan Sunnah agar kita berdakwah menyampaikan sabda Nabi walaupun satu ayat kepada siapa saja termasuk bangsa Indonesia.

      Mohon maaf jika ada kekurangan. Sebaiknya kalau ada kesempatan datanglah ke pengajian bertemu dengan Ulama Ahlussunnah wal Jamaah secara langsung

      Suka

  8. Dian

    Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Terima kasih atas jawabannya Mas Pemuda desa.
    Jika di daerah Cikarang, ulama siapa yg harus sy rujuk ya.

    Wassalamu alaikum warohmatulahi wabarokatuh

    Suka

  9. Ingin Masuk Surga

    Sodaraku yang baik, saya orang awam yang bingung tapi pengen masuk surga. Jadi bukan pengen ribut disini, cuma mau tau aja yg bener gimana.

    Tanya.
    1. Khusus hanya dalam sholat, kata sayyidina dalam tahiyat apakah sebenarnya ada diajarkan oleh nabi atau tidak? Klo diluar sholat, biar nanti saya cari lagi, yg dalam sholat ini yg penting soalnya.
    Mohon rujukan dalilnya jg, biar lebi mantab disaya.

    Terima Kasih

    Suka

    1. Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu. Terimakasih Tuan (yang) Ingin Masuk Syurga, karena telah membuka tulisan kami.
      Itu ada ikhtilaf di kalangan ulama.
      Namun kami memilih membaca dengan Sayidina, Silakan dengar keterangan Buya Yahya dibawah ini (kalau tidak punya waktu, sila dengarkan mulai menit ke 4.00).

      Suka

  10. Muslih Rujianto

    Assalamualaikum Warrahmatullah Hiwabarokatuh Akhi, afwan ana ikut nimbrung. Ana orang awam tapi Ana sering mengikuti Video Ceramah Ust Khalid Basalamah dan juga Ust Lainnya misal Ust Syafik Reza, Ust Firanda Andirja, Ust Riyadh Bajrey, Ust Abu Yahya Badrussalam, Ust Yazid, Ust Adi Hidayat, Ust Oemar Mitta, Dr Zakir Naik, Buya Yahya, Habib Rizieq. Habib Ali Zaenal, Ust Abdul Somad, Ust Ammi Nur Bait, Ust Erwandi Tirmizi, dll. Memang ada Perbedaan, tapi ana sebagai penuntut ilmu yang baik tentunya mencari yang hujjahnya paling kuat berdasar Al Qur’an & As Sunnah. Sama seperti kemaren ana ketemu 2 buku berjudul doa-doa dan Wirid setelah Sholat Wajib. Buku yang pertama isinya merupakan Wirid yang diamalkan orang kebanyakan, namun sayang buku ini tidak disertakan dalil-dalil pendukung (dari Hadist Shahih). Sedangkan buku kedua agak berbeda dari wirid-wirid yang diamalkan orang kebanyakan namun disertai dalil-dalil pendukung. Tentunya ana lebih mengikuti yang berdalil walaupun berbeda dari orang kebanyakan, mengikuti orang banyak itu belum tentu yang paling benar kan. Adapun Video Pengusiran Ust Khalid Basalamah di Sidoarjo itukan dilakukan oleh segelintir/sekelompok orang, jumlah yg sangat kecil kalau dibanding dengan jumlah jamaah yang datang, kecuali yang mengusir atau tidak setuju dengan kajian Ust Khalid Basalamah itu dari jamaah itu sendiri, nah itu lain cerita. Yang tidak setuju kan dari Banser Nu, sambil teriak-teriak Wahabi, Wallahualam apakah mereka tahu maksud dari Wahabi itu sendiri.
    BTW utk Video Terakhir dari Buya Yahya di atas ana kurang sependapat. Kalau menurut Lafad Hadist Nya Sholawat Ibrahimiyah itu memang tidak ada kata-kata Sayyidinanya (bisa dilihat di Video Ust Adi Hidayat), lebih baik utk bacaan tahiyat akhir harus sesuai dengan lafad Hadist Shahih, jangan ditambah-tambah, kita tidak lebih pintar dari Nabi, malah dikhawatirkan di kemudian hari malah menjadi bid’ah. Adapun sahabat Abdullah bin Ummar yang menambah lafad Bacaan itu tidak bisa dihukumi sebagai Bid’ah, karena Rasulullah masih hidup, wahyu sedang turun, hukum belum turun semuanya. Bukannya yang seperti itu disebut dengan Taqrir ya (Perkataan/perbuatan Sahabat yang didiamkan atau malah dipuji Nabi) malahan ini di kemudian hari bisa menjadi hukum juga. Adapun mengenai Sapaan Sayyiduna itu kan kata Ust Khalid kalau Di Arab Saudi sana sama dengan Panggilan Tuan, ya kl di Indonesia mungkin sama Dengan Pak. Misal Sayyidina Umar, Sayyidina Ali, Sayyidina Abu Bakar. Adapun Hadist yang antum bawakan mengenai (Sayyid) Bani Adam, itu juga pernah ana dengar tapi kan beda konteks Akhi. Obrolan di atas lebih kepada Sapaan kepada Nabi. Kalau saya sih lebih cenderung dengan Penyebutan Nabbiyuna. Memamg agak aneh kl melihat sekarang ini misal kemaren ana searching di Internet mengenai Hadist Fadillah Surah Yasin (yang banyak diamalkan orang), di satu link itu semua disebutkan mengenai Fadillah membaca Surrah Yasin itu adalah Hadist Palsu dan Hadist Doif zidan tapi di link lain disebutkan mengenai Fadillah membaca Surah Yasin itu Hadistnya Hasan. Kalau antum punya Kitab-hadist mungkin bisa dicek juga, supaya kita tidak taklid buta juga, Wallahualam

    Suka

    1. Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh Tuan Muslih Rujianto,
      terima kasih telah berkunjung dan membaca tulisan kami.
      Mohon maaf, kami ingin bertanya sudahkan anda membaca tulisan dan semua video di atas?
      Ada masalah yang lebih berat dan berbahaya dalam video-video di atas yaitu masalah Aqidah, terutama tentang keyakinan Mujassimah dan tidak tahunya tentang hal pokok Aqidah bahwa yang selain Allah itu pasti makhluk. Arasy adalah termasuk makhluk Allah.
      Perkara ini tidak ada iktilaf, bahkan orang Islam tidak boleh meleset dalam keyakinan ini.
      Tulisan kami sebenarnya menekankan pokok Aqidah Islam itu. Kalau ada orang tidak tahu bahwa Arasy itu makhluk, maka perlu mendalami perkara itu dahulu.

      Kami agak heran saja, anda lebih menyentuh masalah ikhtilaf tentang perkataan Sayidina yang sudah kami jelaskan di atas

      Wassalam

      Pemuda Desa

      Suka

  11. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatu
    tentang kontroversi ceramah dari ustad khalid saya rasa menyikapinya tidak berlebihan seperti ini, bagaimana jika ada pembaca yang masih awam tentang islam, takutnya akan menghujat beliau.
    kalaupun anda tidak setuju dengan dakwah beliau terutama mengenai aqidah yang beliau sampaikan, anda bisa mengambil sesuatu yang baik dari dakwahnya, apabila anda menemukan dakwah beliau yang tidak sesuai dengan aqidah lebih baik tinggalkan atau anda bisa tabayun dengan beliau.
    saya tanya kepada anda, apakah anda pernah hadir langung ke pengajian beliau ? saya gambarkan saja, Masya Allah hampir semua akhwat yang datang menggunakan hijab syar’i dan cadar, merapatkan shaf dan kaki sampai tumit saat solat berjamaah, dan cara silaturahim yang sesuai syar’i (saling mengucapkan salam setiap bertemu tanpa saling kenal sebelumnya).
    ini yang tidak saya temui di pengajian lain ( Maaf selain kajian ust.sunah lainnya ).
    anda bisa mengambil sesuatu yang bermanfaat dari ceramah beliau.

    Terimakasih

    Suka

    1. Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuhu.
      terimakasih Tuan JJ.Johannes S H atas komentarnya yang membangun.
      Bagaimanapun kami menerima kritik Tuan. Kami ingin bertanya sudahkan anda baca tulisan dan dengar video di atas? Kalau anda sebut berlebihan, yang mana yang berlebihan?

      Namun kami tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat Tuan bahwa kami berlebihan dalam menanggapi kontroversi ceramah ustad Khalid Basalamah. Sebab kami juga sodorkan dalil dan hujah yang bernas. 2 contoh:

      1. apakah anda setuju bahwa seorang Ustad yang mengajar Aqidah, justru menjadi ragu dan meragukan orang tentang hal pokok Aqidah bahwa yang selain Allah itu pasti makhluk, termasuk juga Arasy. lihat video ini. https://youtu.be/vrScmpJCJzE

      Apakah berlebihan mengemukakan perkara Aqidah syubhat yang disampaikan beliau?
      Atau apakah anda biarkan keluarga atau kawan anda juga ragu bahwa ada selain Allah yang bukan makhluk (yang diciptakan)?

      2. Apakah anda anggap bahwa orang yang berdahi hitam itu adalah bekas sujud yang disebut dalam surat Al Fath ayat 29 seperti ceramah Ustad KHB? (lihat https://youtu.be/85Wpur_-ZOM). Kalau ini anda benarkan maka orang yang paling kuat bekas sujudnya adalah Rasulullah shallallahu alaih wassalam. apakah tanda itu dinampakkan dengan dahi yang hitam pada Rasulullah ? Na’udzu billah min dzalik. Tidak ada yang meriwayatkan demikian.
      Dalam surat Al Fath 29 disebut BEKAS SUJUD DI WAJAH, BUKAN BEKAS SUJUD DI DAHI seperti kata Ustad KHB.
      Apakah menurut anda berlebihan membetulkan keyakinan yang keliru ini?

      Justru tulisan kami ini menolong mereka yang awam yang mendengar ceramah beliau. Itu yang kami ingatkan di akhir tulisan kami di atas.

      Akhir kata, kami mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan.

      Wassalam

      Pemuda Desa

      Suka

  12. Toyib

    Assalamualaikum.

    Saya bukan ahli agama juga, sya hanya orang awam yg lgi cari ilmu danbukan di pihak manapun,, klo memang benar ustd khb salah.. tolong tegur beliau secara lgsung, janganlah curhat bikin tulisan di internet. Ini namanya provokasi.
    Coba baik2 datangi dan ditegur.
    Tulisan kyagini kan yg baca juga pasti orang awam kya saya, yg bikin jadi tambah bingung dgn dunia ini, iya klo mereka punya filter . Jadi gk percaya kasana kemari nntinya..
    Saran sya bro, lgsung aja ketemu KHB, pengikutnya mah gampang , klo beliau udh klarifikadi, pengikutny pasti ngikut…

    Terima kasih.
    Assalamualaikum

    Suka

  13. Toyib

    Assalamualaikum.

    Saya bukan ahli agama juga, sya hanya orang awam yg lgi cari ilmu danbukan di pihak manapun,, klo memang benar ustd khb salah.. tolong tegur beliau secara lgsung, janganlah curhat bikin tulisan di internet. Ini namanya provokasi.
    Coba baik2 datangi dan ditegur.
    Tulisan kyagini kan yg baca juga pasti orang awam kya saya, yg bikin jadi tambah bingung dgn dunia ini, iya klo mereka punya filter . Jadi gk percaya kasana kemari nntinya..
    Saran sya bro, lgsung aja ketemu KHB, pengikutnya mah gampang , klo beliau udh klarifikadi, pengikutny pasti ngikut…

    Terima kasih.
    Assalamualaikum

    Suka

    1. Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

      Tuan Toyib, terima kasih anda telah mengunjungi website dan membaca tulisan kami.
      Sebenarnya sudah banyak yang menegur Ustad KHB baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun beliau tidak berubah dan tetap pada pendiriannya seperti Video beliau yang masih beredar.
      Contoh teguran langsung dan diketahui umum adalah peristiwa di Sidoarjo beberapa waktu lalu, yang juga menjadi sebab tulisan ini dikeluarkan. Kalau beliau memang orang yang terbuka dan ingin ditegur sebaiknya datang saja ke pimpinan atau ustad yang menegur beliau di Sidoarjo, mengapa umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah menolak beliau.

      Mengapa anda menuduh tulisan kami memprovokasi? Kalau anda baca dengan hati dan fikiran yang jernih, walaupun orang awam, akan mendapat penjelasan yang bukan memprovokasi. Silakan anda baca ulang dan pelan-pelan tulisan kami, tidak ada perkataan kami yang memprovokasi.

      Orang yang menuduh memprovokasi, biasanya sudah simpati pada pihak tertentu, sehingga kalau ada pihak lain yang menjawab atau memberi penjelasan yang berbeda dengan pihak yang dia telah simpati padanya, langsung menuduh pihak lain itu memprovokasi.
      Tapi kalau orang itu tidak berfihak, dia akan tetap jernih melihat fakta. Kalau dia merasa ada yang tidak jelas, atau membela satu pihak cukup tulis saja pertanyaan atau pendapatnya itu dengan alasan/dalil mengapa dia mendukung satu pendapat.

      Kalau terjadi tukar menukar pendapat dengan niat ingin mencari kebenaran, pasti Allah akan bukakan kebenaran kepadanya.

      Namun pengalaman kami dalam menjawab dan memberi penjelasan terhadap kekeliruan Aqidah yang membagi Tauhid menjadi 3, kami justru tidak menerima jawaban yang bernas, kecuali tuduhan provokasi, tuduhan adu domba, tuduhan syiah atau mengapa tidak bertemu saja dengan Ustad bersangkutan?

      Kalau anda tuduh provokasi, silakan tulis point mana yang berisi provokasi dan mengapa anda sebut provokasi. Silakan anda tulis saja, Mudah2 mudahan Allah izinkan kami untuk menjelaskan lebih jauh.

      Mohon maaf

      Wallahu a’lam

      Pemuda Desa

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s