Sifat Jaiz Allah

Sifat Jaiz Allah adalah Sifat yang mungkin Allah lakukan dan mungkin Allah tinggalkan. Sifat Jaiz bukan yang Mustahil (tidak mungkin) bagi Allah dan bukan pula yang Wajib (yang pasti Allah lakukan). Sifat Jaiz Allah ini erat kaitannya dengan ketiga sumber hukum dalam pengantar Ilmu Mantiq, yaitu:
1. Hukum yang diwahyukan:
– ilmu Tauhid,
– Ahkam (Syariat),
– Qishash (kisah orang yang taat dan durhaka kepada Allah untuk dijadikan iktibar.
2. Hukum akal:
– Wajb,
– Mustahil,
– Jaiz
3. Hukum adat/alam/kebiasaan :
– Peristiwa biasa
– Peristiwa luar biasa.

Telah disebutkan dalam Sifat Wajib Allah yang 20 ada Sifat Wajib Allah yang objeknya adalah perkara yang Jaiz, yaitu Sifat Qudrah (Maha Kuasa) dan Sifat Iradah (Maha Berkehendak). Maksudnya segala perkara yang mungkin ada/terjadi dan yang mungkin tidak ada/tidak terjadi adalah dalam Kekuasaan dan Kehendak Allah. Tidak ada sesuatu terjadi/ada kecuali Allah yang Berkehendak agar hal itu terjadi/ada, Tidak ada pula sesuatu itu tidak terjadi/tidak ada, kecuali Allah yang Berkehendak bahwa hal/perkara itu tidak terjadi/ada.

Disini kita mesti betul-betul memahami apa itu hukum adat (hukum kebiasaan atau hukum alam) dan apa itu hukum akal dalam ilmu Mantiq. Kita sering tertukar dengan sesuatu kejadian yang di luar kebiasaan menurut hukum adat (kebiasaan) dengan mustahil menurut hukum akal, sehingga mengira kejadian itu adalah mustahil dan orang tak percaya. Padahal itu sebenarnya masih mungkin (Jaiz) dan bukan Mustahil.

Banyak contoh yang disebut dalam Al Qur’an, mari kita perhatikan kejadian yang berlaku kepada Nabi Ibrahim alaihi salam.

  1. Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api. Menurut hukum adat/alam/kebiasaan, manusia akan mati dan hangus terbakar oleh api. Tetapi Allah Berkehendak dan Berkuasa menjadikan api itu dingin dan nyaman untuk Nabi Ibrahim, sehingga Nabi Ibrahim tidak terbakar dalam kobaran api, bahkan diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim merasakan saat yang paling nyaman (tidak kedingingan dan tidak kepanasan adalah ketika ada dalam kobaran api.
  2. Ketika Nabi Ibrahim bersama istrinya Siti Sarah sudah berumur sangat tua (menurut riwayat sudah keduanya sudah di atas 80 tahun) belum dikaruniakan anak . Menurut hukum adat/alam/kebiasaan wanita yang sudah berumur diatas 60 tahun sudah menopause dan tidak akan dapat hamil. Apalagi jika suaminya sudah sangat tua di atas umur 80 tahun.
    Tetapi Allah Berkehendak dan Berkuasa menjadikan Siti Sarah istri Nabi Ibrahim dapat mengandung dan melahirkan Nabi Ishaq, pada saat mereka berumur di atas 80 tahun.

Semua itu adalah Jaiz dan bukan Mustahil bagi Allah. Hanya peristiwa itu diluar kebiasaan dari hukum adat/ hukum alam. Peristiwa yang di luar kebiasaan atau yang luar biasa disebut dengan khawariqul adat (bertentangan dengan kebiasaan). Disinilah penting kita memahami Sifat Jaiz Allah untuk kita yakini, bahwa hakikatnya segala yang Jaiz mungkin ada/terjadi dan mungkin pula tidak ada( tidak terjadi adalah atas Kehendak dan Kuasa Allah, baik perkara itu adalah hal yang biasa terjadi maupun yang tidak biasa terjadi. Jika Allah Berkehendak maka sangat mudah bagi Allah untuk membuatnya ada/terjadi dan membuatnya tidak ada atau tidak terjadi.

Namun perkara yang luar biasa itu tidak menunjukkan seseorang itu orang yang bertaqwa di sisi Allah, sebab bukan perkara yang luar biasa yang menunjukkan seseorang itu bertaqwa atau tidak.
Untuk mengetahui apakah seseorang itu bertaqwa tidak diukur dari perkara yang luar biasa yang terjadi padanya, melainkan dilihat dari sejauh mana dia memperlakukan hukum yang diwahyukan yaitu Qur’an dan Sunnah.

Peristiwa luar biasa yang berlaku pada seseorang dapat dibagi sebagai berikut dilihat dari keadaan iman seseorang:

  1. Mu’jizat: kejadian luar biasa yang terjadi pada Nabi dan Rasul. Mu’jizat menambah rasa syukur dan tawadhu` para Nabi dan Rasul, karena mereka sadar betul bahwa itu semua adalah atas Kehendak dan Kuasa Allah, tidak sama sekali atas kemampuan mereka. Jauh sekali dari rasa sombong atas mu’jizat itu, mu’jizat itu menambahkan tinggi derajat mereka di sisi Allah.
    Di antara mu’jizat telah disebut di atas.
  2. Karamah: kejadian luar biasa yang terjadi pada wali atau orang yang sangat dekat dengan Allah. Sebagaimana Mu’jizat yang terjadi pada Nabi dan Rasul, karamah menjadikan pada wali Allah tersebut menambahkan rasa syukur dan tawadhu’ kepada Allah. Jauh dari membangga-banggakan peristiwa luar biasa itu untuk menyombongkan diri. Karamah berarti kemuliaan, maksudnya peristiwa itu menjadikan wali itu bertambah kemuliannya di sisi Allah.
    Ada karamah yang terjadi pada wali tetapi hakikatnya adalah bagian dari mu’jizat Rasul, seperti pindahnya singgasana Ratu Balkis oleh seorang alim yang bertaqwa di depan Nabi Sulaiman alaih salam. Ini disebutkan dalam QS An-Naml 40

    Surat An Naml ayat 40
    Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

    Nabi Sulaiman mengatakan bahwa peristiwa luar biasa itu adalah karunia Allah untuk menguji dirinya apakah bersyukur atau kufur atas nikmat Allah itu.Begitu sekali rasa kehambaan para Nabi dan Rasul, jauh dari rasa membanggakan diri. Hakikatnya itu adalah juga ingatan untuk kita semua bahwa peristiwa luar biasa adalah ujian untuk kita bukan menunjukkan keistimewaan seseorang disisi Allah. Seseorang dinilai bertaqwa disisi Allah jika menyadari peristiwa itu adalah ujian dan dapat dilaluinya sesuai dengan keredhoan Allah.

  3. Irhasy: adalah kejadian luar biasa yang terjadi pada Nabi dan Rasul sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Contoh
    – suburnya ternak Siti Halimah sejak adanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam di rumah beliau.
    – dibelahnya dada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa alihi wassalam oleh Malaikat Jibril ketika masih berumur 5 tahun
  4. Ma’unah: adalah kejadian luar biasa yang terjadi pada orang biasa, yang tidak menjadikan orang itu lupa kepada Allah. Bahkan orang itu menjadi semakin bersyukur dan semakin dekat kepada Allah. Ma’unah yang berlaku pada orang yang bukan Islam akan membawa keyakinan orang itu akan kebenaran Islam sehingga menjadikannya suatu ketika memeluk agama Islam.
  5. Istidraj: adalah kejadian luar biasa yang terjadi pada orang fasiq atau kafir  yang menjadikannya semakin jauh dari Allah. Mereka menjadi lalai dan membangga-banggakan peristiwa luar biasa itu untuk kepentingan dunia. Contoh: Fir’aun dan orang besarnya yaitu Hamman dan Samiriy. Mereka diberi keistimewaan yaitu kepandaian dan kekuatan. Namun kepandaian dan keistimewaannya justru menjadikannya lalai dan menyombongkan diri untuk kepentingan dunia mereka.
  6. Sihir: adalah kejadian luar biasa yang dipelajari oleh orang fasiq dan kafir dengan bantuan makhluk gaib (jin). Dalam hukum syariat mempelajari sihir adalah haram, karena untuk mempelajarinya mesti meyakini adanya kekuatan lain selain Allah untuk menjalankan sihirnya yang menjurus kepada syirik. Maka dalam mengamalkannya jelas mendurhakai Allah. Contoh: ahli sihir Fir’aun. Namun dengan Mu’jizat Nabi Musa, Allah beri hidayah kepada mereka sehingga mereka menjadi beriman kepada Allah. Bahkan mereka bersedia mati oleh ancaman Fir’aun karena mempertahankan iman yang baru didapatnya itu.

Hikmah menghayati Sifat Jaiz Allah adalah untuk memguatkan rasa Roja’ (harap) dan Khauf (takut) kepada Allah

Ada 2 Sifat Utama Allah yang berkaitan dengan Sifat Jaiz Allah ini, dimana satu Sifat berada di satu sisi dan satu Sifat lagi berada di sisi yang lain, yaitu Sifat Rahmat (Kasih Sayang) dan Sifat Adil.
Segala kejadian/perkara yang menjadikan kita dekat kepada Allah, yang membuat kita mendapat ampunan Allah adalah karena Sifat Rahmat (Kasih Sayang) Allah.
Sedang segala kejadian/perkara yang menjauhkan kita dari Allah adalah karena Sifat AdilNya Allah, karena kita telah zalim pada diri sendiri. Allah tidak akan pernah menzalimi hambaNya.

Di akhirat kelak ketika kita mendapat ampunan dan dimasukan Syurga oleh Allah adalah karena Sifat Rahmat (Kasih Sayang) Allah. Sedangkan ditolaknya taubat kita, kita diadzab dan dimasukan ke dalam neraka adalah karena Sifat Adil Allah.
Oleh sebab itu dalam doa kita dianjurkan selalu memohon Rahmat Allah, dan bukan meminta Keadilan Allah, karena amalan kita tidak pernah cukup bahkan untuk mengganti nikmat yang Allah berikan kepada kita di dunia, apalagi mendapat ganjaran di akhirat.

Kita sebagai hamba Allah yang mengakui Allah sebagai Tuhan Maha Pemelihara kita, semestinya tidak pernah putus asa terhadap Sifat Rahmat Allah dan senantiasa berprasangka baik kepada Allah. Ketika kita tergelincir melakukan kesalahan dan dosa, segeralah kita bertaubat dan meyakini jika kita benar-benar bertaubat Allah akan memberi ampunan kepada kita, karena itu adalah Jaiz bagi Allah dan sangat mudah bagi Allah. Kalau kita masih tergelincir lagi, teruslah kita minta ampun, jangan terfikir sama sekali untuk berputus asa, apalagi sampai berputus asa.
Demikian juga sebaliknya ketika kita dapat beramal soleh, jangan terus terlena bahwa amalan kita pasti diterima, karena itu juga Jaiz bagi Allah untuk menolak amal kita. Atau kita merasa dapat beramal soleh karena kehebatan dan kekuatan kita, sehingga kita lupa akan Kuasa dan Kehendak Allah yang dengan rahmatNya yang menjadikan kita mampu beramal soleh. Kalau kita ingat Sifat Jaiz Allah ini bertambah rasa syukur kita kepada Allah dan rasa kehambaan kita kepada Allah, tidak mengingati amal soleh dan kebaikan yang kita perbuat, bahkan kita akan selalu mengingat dosa dan kesalahan kita, sehingga kita akan terus beristighfar, terus berusaha beramal soleh dan terus memperbaiki diri.

Kita tidak akan pernah merasa lebih hebat dari orang lain, walaupun terhadap orang yang berbuat maksiat, sebab belum tentu kita terus beriman sampai akhir hayat, sebab adalah Jaiz bagi Allah mencabut iman kita dikarenakan kita tidak bersyukur dan lalai. Sebaliknya, orang yang kita lihat sedang bermaksiat, karena Jaiz bagi Allah untuk memberi hidayah kepadanya sehingga di akhir hayatnya mendapatkan husnul khatimah, yang membawanya ke syurga.

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا [رواه البخاري ومسلم]

Dari Abi Abdirrahman Abdillah bin Mas’ud radiallahu’anhu, beliau berkata: Kami diberitahu oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan beliau adalah orang yang jujur lagi terpercaya – Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya telah disempurnakan penciptaan salah seorang dari kalian dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk sperma, kemudian dia menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus kepadanya malaikat, kemudian ditiupkan ruh kepadanya, lalu malaikat tersebut diperintahkan untuk menulis empat perkara; untuk menulis rizkinya, ajalnya dan amalannya dan nasibnya (setelah mati) apakah dia celaka atau bahagia. Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Dia. Sesungguhnya salah seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya satu hasta, lalu dia didahului oleh catatan takdirnya, sehingga dia beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga dia memasukinya. Dan salah seorang di antara kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli neraka, hingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya sehasta, lalu dia didahului oleh catatan takdirnya, sehingga dia beramal dengan amalan ahli surga hingga dia memasukinya. (HR Bukhari dan Muslim. Shahih dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam [Bid’ul Khalqi/3208/Fath]. Muslim di dalam [Al Qadar/2463/Abdul Baqi]).

Dengan demikian besarlah rasa khauf (takut) dan dan besar pula rasa roja’ (harap) kepada Allah. Itulah yang dikehendaki Allah dari kita hambaNya. Begitulah Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam memberi contoh kepada kita.

Wallahu a´alam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s