Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 1: Sifat Nafsiyah dan Sifat Salbiyah)

Ilmu Aqidah Ahlussunnah wal Jama´ah (ASWAJA) Asy´ariyah/ Maturidiyah sering disebut ilmu Sifat 20, yang ketika masih kecil kita menghafal 20 Sifat Wajib, 20 Sifat Mustahil serta 1 Sifat Jaiz bagi Allah. Marilah kita menyelami ilmu Sifat 20 ini, untuk meningkatkan keyakinan kita terhadap ilmu Aqidah ASWAJA, agar kita dapat membentengi Iman kita dan menjawab tuduhan golongan yang menolak dan menyesatkan Aqidah ASWAJA, terutamanya golongan Tauhid 3 Serangkai (Rububiyah, Uluhiyah, Asma Wa Sifat). Kalau kita dalami Ilmu Sifat 20 kita akan mengagumi kehebatan Ulama ASWAJA dan betapa mereka yang menentangnya adalah sebab mereka tidak faham, maka marilah kita bantu memahamkannya kepada mereka.
Kita ketahui bahwa Sifat Allah bukanlah hanya 20. Berapa banyak Sifat Allah? Hanya Allah Yang Maha Tahu. Sifat Allah yang ada dalam Nama Allah diberitahukan kepada kita ada 99 jumlahnya yang disebut Asma ul Husna.
Ilmu Aqidah Sifat 20 disusun oleh Imam Abul Hasan Al Asy´ari dan Abu Mansur Al Maturidi. Mengapa hanya 20 Sifat Allah yang dipelajari ? Sebab 20 Sifat Wajib Allah inilah yang menjadi perbincangan di zaman salaf ketika adanya fitnah Aqidah terutamanya dari golongan Muktazilah yang berfahaman Qadariyah, yaitu fahaman bahwa manusia dapat menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan Allah, sementara pada sisi yang lain adanya fahaman Jabariyah yaitu fahaman bahwa nasib manusia sepenuhnya ada pada Kuasa dan Kehendak Allah, sehingga manusia tidak dapat mengubah nasibnya dan hanya berserah diri kepada Allah. Mempelajari Sifat 20 ini sudah dianggap cukup dalam memberi kefahaman kepada kita bahawa Allah ta`ala memiliki segala sifat kesempurnaan dan Maha Suci Allah daripada segala sifat kekurangan.
Penyusunan Sifat Allah yang 20 ini berdasarkan dalil Aqli (akal) selain dalil Naqli (Quran dan Hadits). Kita tidak disuruh bahkan dilarang untuk memikirkan Dzat Allah, sebab kita tidak akan mampu. Kita disuruh untuk mengenali Allah dengan memperhatikan tanda-tanda Sifat dan Perbuatan Allah pada ciptaanNya termasuk diri kita sendiri.
Firman Allah dalam QS Adz-Dzariyaat: 20-21

Surat Adz-Dzariyat ayat 20
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.
Surat Adz-Dzariyat ayat 21
dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Kita dapat memperhatikan tanda-tanda Sifat dan Perbuatan Allah dengan akal yang dikaruniai oleh Allah. Akal kita memahami Sifat dan Perbuatan Allah, yang dengan itu hati kita kemudian mengimani dan meyakini Allah. Dan seterusnya mudah-mudahan kita dapat mengenal Allah.

Oleh sebab itu dikatakan tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal. Salah satu syarat mukallaf yaitu orang yang dibebani melaksanakan syariat adalah sehat akalnya. Disinilah perlunya kita mengenal ilmu Mantiq (ilmu Logika) agar kita tidak keliru dalam menggunakan akal kita untuk memahami Aqidah sebagaimana kita mengenal ilmu Tajwid agar kita tidak keliru dalam membaca Al Qur´an. Contoh bagaimana bahayanya pemahaman Aqidah yang tidak memakai ilmu Mantiq yang memahami Allah di atas Arasy dengan makna zahir, menjadikan  orang membahas dan memikirkan Dzat Allah secara tidak sadar, sehingga menjadikannya tidak tahu hal pokok agama Islam bahwa yang selain Allah adalah makhluk termasuk juga Arasy. Lihat jawaban seorang Ustad yang bergelas doktor yang membahas Allah bersemayam di atas Arasy dengan makna zahir, ketika ditanya apakah Arasy itu makhluk atau bukan? beliau jawab tidak tahu, kata beliau apa-apa yang berhubungan dengan dengan Allah dan DzatNya, Ulama cenderung untuk tidak membicarakannya. Apakah menurutnya Arasy itu bagian dari Dzat Allah? Na’ùdzu billahi min dzalik (lihat video ini).

Perlu kita garis bawahi bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam telah memberi isyarat membenarkan ilmu Sifat 20 dalam Aqidah ASWAJA Asy´ariyyah/ Maturidiyah.

20 Sifat Wajib Allah dibagi menjadi 4 Kategori yaitu:

I. Sifat Nafsiyah (1 Sifat)
II. Sifat Salbiyah (5 Sifat)
III. Sifat Ma’ani (7 Sifat)
IV. Sifat Ma’nawiyah (7 Sifat)

I. Sifat Nafsiyah yaitu Sifat yang menetapkan adanya Allah. Sifat ini hanya ada satu yaitu

1. Wujud yang artinya ada.

Dalil Naqli: banyak sekali ayat Quran yang menjelaskan adanya Allah, diantara : QS Al Furqan:61

Al Furqan ayat 61

Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.

Dalil Aqli:  kita melihat adanya alam ini. Menurut hukum akal, mustahil alam yang luar biasa kompleks (rumit) tetapi ada aturannya (hukum alamnya) terjadi dengan sendirinya. Alam ini pasti ada suatu Dzat Yang Maha Agung dan Maha Hebat yang menciptakan, mengatur dan memeliharanya, Dialah Allah. Maka menurut akal, Wajib bahwa Allah itu bersifat Wujud (ada) dan mustahil Allah itu bersifat ´Adam (tidak ada).

II. Sifat Salbiyyah adalah sifat yang menolak segala sifat-sifat yang tidak layak dan tidak patut bagi Allah Subhanahu wa Ta´ala, sebab Dzat dan Sifat Allah Maha Sempurna dan tidak memiliki kekurangan. Mengapa kita memulai dengan mempelajari sifat yang menolak segala sifat-sifat yang tidak layak dan tidak patut bagi Allah? Jawabannya adalah karena sesuai dengan konsep Syahadat Tauhid “Laa ilaaha illallah” yang dimulai dengan menolak adanya ilah (tuhan yang disembah selain Allah) dan kemudian menetapkan bahwa yang ada dan patut disembah hanyalah Allah.
Sifat Salbiyah ini ada 5 (no. 2 s/d 6) yaitu:

2. Qidam artinya sedia ada. Sifat ini menolak sifat yang tidak layak bagi Allah yaitu sifat huduts (baharu).

Dalil Naqli: QS Al Hadid:3

Surat Al Hadid Ayat 3

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dalil Aqli: Kita melihat setiap yang ada awal atau permulaan pasti pernah tidak ada. Sedang Allah Mustahil pernah tidak ada. Oleh sebab itu Wajib bagi akal bahwa Allah itu bersifat Qidam (sedia ada/ tidak berawal). Mustahil Allah bersifat huduts (baharu).

3. Baqa artnya kekal. Sifat ini menolak sifat yang tidak layak bagi Allah yaitu sifat fana (menua/akan sirna/punah)

Dalil Naqli: QS Al-Qashah:88

Surat Al Qashash ayat 88

Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Dalil Aqli: waktu adalah makhluk ciptaan Allah. Seluruh makhluk berubah dan menua ketika melalui waktu, dan akhirnya akan sirna dan punah sesuai dengan kehendak Allah. Allah sama sekali tidak terpengaruh dan tidak berubah dengan berjalannya waktu. Maka Allah wajib bersifat Baqa (kekal) dan mustahil bersifat fana (punah/sirna).

Sifat Qidam dan Baqa ini menegaskan Maha Suci Allah dari keterikatan dengan waktu. Waktu adalah juga makhluk. Keterikatan dan terpengaruh oleh waktu (makhluk) adalah suatu sifat kelemahan. Segala sifat kelemahan adalah tidak layak dan tidak patut bagi Allah.

Perlu ditambahkan disini tentang ciptaan Allah yang dijadikan kekal seperti Syurga dan Neraka beserta penghuninya. Makhluk Allah ini tetap terikat oleh waktu, tetapi Allah memanjangkan “usia” makhluk itu sampai waktu yang tak terhingga. Kekalnya makhluk Allah berbeda dengan Sifat Baqa bagi Allah yang sama sekali tidak terikat dan terpengaruh oleh waktu.

4. Mukhalafatu lil Hawadits artinya tidak serupa dengan yang baharu (makhluk). Sifat ini menolak sifat yang tidak layak bagi Allah yaitu mumatsalatu lil Hawadits, serupa/semisal dengan yang baharu (makhluk).

Dalil Naqli: QS Asy-Syura:11

Surat Asy-Syura ayat 11

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.

Dalil Aqli: Allah adalah Khaliq (Maha Pencipta) maka tentu berbeda secara total dengan makhlukNya. Semua makhluk adalah baharu dzatnya dan sifatnya. Baharu atau menyerupai yang baharu (makhluk) adalah satu kelemahan, sifat yang tak layak dan tak patut ada pada Allah. Allah adalah Maha Sempurna, tidak serupa sama sekali dengan makhlukNya yang bersifat baharu.

Wajib bagi akal bahwa Allah itu bersifat Mukhalafatul lil Hawadits (tidak serupa dengan yang baharu (makhluk)). Mustahil bagi akal bahwa Allah bersifat Mumatsalatul lil Hawadits (serupa dengan yang baharu (makhluk)).

5. Qiyamuhu Binafsihi, artinya Berdiri Sendiri. Sifat ini menolak sifat yang tidak layak bagi Allah yaitu Sifat Ihtiyajul li ghoirihi (tergantung kepada yang lain).

Dalil Naqli: QS Al Ankabut:6

Surat Al 'Ankabut Ayat 6

Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Dalil Aqli: Allah adalah Tuhan Maha Berkuasa dan Berkehendak. Allah dapat berbuat sekehendakNya, tanpa terikat dan tergantung dengan dengan selainNya. Selain Allah adalah makhlukNya yang pernah tidak ada. Allah tidak terikat dan tergantung pada makhlukNya. sebelum dan sesudah makhluk itu ada atau setelah makhluk itu kembali tidak ada. Maka Wajib bagi Allah bersifat Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri) dan Mustahil bersifat Ihtiyajul li ghoirihi (tergantung kepada yang lain).

Sifat Mukhalafatu lil Hawadits dan Qiyamuhu Binafsihi adalah juga menegaskan Maha Suci Allah dari keterikatan dengan tempat. Sebab tempat adalah makhluk, baik tempat di alam nyata maupun tempat di alam ghaib. Keterikatan dengan tempat adalah suatu sifat kelemahan. Segala sifat kelemahan adalah tidak layak dan tidak patut bagi Allah.

Syubhat meyakini Allah bertempat

Hal ini perlu kita hayati, sebab di akhir zaman ini ada fitnah fahaman yang disebarkan oleh pengikut Tauhid 3 Serangkai yang berkeyakinan Allah berada di atas, di langit dan beristawa (bersemayam) di atas Arasy, sebagaimana makna zahirnya. Ini sangat berbahaya, sehingga timbul pembahasan di mana Allah. Pertanyaan “di mana” adalah mempertanyakan “posisi” sesuatu dalam dimensi tempat. Maka pertanyaan ini tidak layak ditanyakan untuk Allah, sebab Allah tidak terikat oleh tempat. Selain itu pertanyaan ini juga melawan fitrah akal sehat manusia, yang dapat menyebabkan seorang Ustad bergelar doktor kemudian menjadi lupa atau tidak tahu lagi perkara pokok dalam Aqidah Islam bahwa yang selain Allah adalah pasti makhluk, termasuk juga Arasy adalah makhluk Allah (lihat Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah?)

Memahami Allah berada di atas, di langit dan beristawa (bersemayam) di atas Arasy, sebagaimana makna zahirnya, berarti mengatakan Allah bertempat. Maka hal ini selain mengatakan Dzat Allah:
– tergantung kepada yang lain  yaitu tempat “atas”, langit dan Arasy, menafikan Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri).
– serupa dengan makhluk yang memerlukan dengan yang lain, menafikan Sifat Mukhalafatul lil Hawadits (tidak serupa dengan yang baharu (makhluk)).
– Juga mengatakan Sifat Allah adalah baharu, karena Sifat Allah “berada” di atas, di langit dan istawa di atas Arasy baru ada setelah adanya makhluk tempat “atas dan bawah”, “langit” dan “Arasy”. Sebelum makhluk-makhluk ini ada, Sifat Allah itu belum ada. Jadi menafikan Sifat Qidam (sedia ada) bagi Sifat Allah.
Kita berlindung kepada Allah dari berkeyakinan demikian. Disini kita sudah dapat melihat betapa pentingnya Ilmu Mantiq untuk memahami Aqidah, sebagaimana ilmu Tajwid untuk membaca Al Qur’an.

6. Wahdaniyah, artinya Maha Esa. Sifat ini menolak sifat yang tidak layak bagi Allah yaitu sifat ta´addud (berbilang) baik pada Dzat, Sifat dan Perbuatan.

Dalil Naqli: QS Al-Ikhlash:1

Surat Al-Ikhlas Ayat 1
 Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS Al Anbiya 22

21:22

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.

Dalil Aqli: Allah adalah Tuhan yang Maha Berkehendak dan Maha Berkuasa. Maka apa yang ada dan terjadi di alam ini hanyalah atas Kehendak dan Kuasa Allah yang Maha Esa. Tidak mungkin ada yang lain yang dapat mempengaruhi dan memaksa Kehendak dan Kuasa Allah. Berbagi kuasa atau berkompromi untuk mencapai satu kehendak adalah suatu sifat kelemahan yang tak layak bagi Allah. Maka Wajib hanya ada satu Tuhan yang Maha Kuasa dan Berkehendak, itulah Allah.

Allah itu bukan makhluk yang bertubuh/berjisim. Bertubuh/berjisim adalah suatu kelemahan. Salah satu sifat makhluk adalah berbilang (lebih dari satu) baik secara eksternal dan internal.
– Eksternal maksudnya berjumlah lebih dari satu, contoh: ada banyak Malaikat, ada banyak manusia, binatang dsb.
– Internal maksudnya terdiri dari bagian-bagian pada diri setiap makhluk itu, contoh: manusia punya kepala, wajah, tangan, kaki dsb, yang berbeda fungsi yang membentuk manusia. Bagian-bagian tubuh ini saling melengkapi sehingga jisim/tubuh manusia itu dapat hidup dengan sempurna. Dzat Allah adalah Maha Sempurna, Maha Esa, bukan tersusun dari bagian-bagian Dzat seperti makhluk untuk menyempurnakanNya. Makna Sifat Maha Esa (Maha Tunggal) bagi Allah berbeda dengan makna sifat bilangan satu bagi makhluk, yang dapat dibagi-bagi. Maha Suci Allah dari serupa dengan mahklukNya.

Jadi Wajib menurut akal Allah itu bersifat Wahdaniyah (Esa) dan Mustahil bersifat ta´addud (berbilang) baik secara eksternal maupun internal.

Bahaya Syubhat pemahaman tajsim

Perlu ditegaskan disini mengapa kita perlu memahami Sifat Allah Maha Esa secara eksternal dan internal. Allah tidak berbilang secara eksternal tentu kita mudah memahaminya. Allah adalah Ahad (satu) tidak ada tuhan selainNya.
Mengapa pula kita mesti menegaskan Allah juga tidak berbilang secara internal? Hal ini sangat penting kita fahami apalagi di zaman ini ada fahaman tajsim (memahami Allah itu berjisim/bertubuh) seperti yang diyakini oleh pengikut Tauhid 3 Serangkai. Mereka mengatakan Allah itu berjisim punya Wajah (lihat muslim.or.id/64-apakah-allah-memiliki-wajah), punya Tangan bahkan disebut berjumlah dua tanganNya (lihat abul-jauzaa.blogspot.de/2010/06/sifat-dua-tangan-allah), punya telapak kaki (Ulama Tauhid 3 serangkai memasukan fahamannya melalui catatan kaki Mushaf Al Qur´an) karena mereka memahami ayat sebagaimana makna zahirnya. Walaupun mereka katakan wajah, tangan dan telapak kaki Allah berbeda dengan wajah, tangan dan telapak kaki makhluk, tetapi ini tetap syubhat dan berbahaya. Maha Suci Allah dari yang disifatkan itu.

Mengapa mensifatkan Allah punya anggota DzatNya adalah sangat berbahaya, sebab akan timbul syubhat yang membingungkan, misalnya kalau Allah Berkuasa, akan timbul pertanyaan,
– ada pada bagian Dzat yang mana Kuasa Allah, pada WajahNya atau pada dua TanganNya atau pada telapak kakiNya?
– Berapa jumlah bagian Dzat Allah?
Maka dengan demikian Kuasa Allah tidak lagi Esa. Atau akan timbul pemahaman syubhat, Dzat Allah terdiri dari bagian-bagian tapi tidak seperti bagian-bagian pada makhluk. Kuasa Allah ada di semua bagian DzatNya itu tapi satu, satu tapi ada di semua bagian Dzat Allah. Mereka menjadi rancu dalam memahami  Sifat Maha Esa Allah, sebagaimana orang yang berkeyakinan Tuhan itu tiga tetapi satu, dan satu tetapi tiga. Kita berlindung kepada Allah dari berkeyakinan demikian. Disini kita juga melihat betapa pentingnya Ilmu Mantiq untuk memahami Aqidah.

Setelah kita mengenal Sifat Salbiyah Allah ini, maka kita dapat rasakan betapa Allah itu Maha Hebat dan Maha Agung, dan betapa kecil dan betapa tak ada apa-apanya kita sebagai makhlukNya.

(bersambung)

Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 2: Sifat Ma’ani: Hayyun, Qudrah dan Iradah)

Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 3: Sifat Ma’ani Ilmun dan Kalam)

Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 4: Sifat Ma’ani Sama’ dan Bashar)

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s