Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam

Setelah kita membahas tuduhan kelompok Tauhid 3 Serangkai (Wahab/Salafi) terhadap Ayah Rasulullah Shallallahu alahi wa alihi wassalam, sekarang mari kita membahas tuduhan mereka terhadap Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam.
Mereka berkeyakinan bahwa Ibu Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam juga termasuk kafir dan musyrik yang akan masuk neraka. Kita berlindung kepada Allah dari berkeyakinan dan tidak beradab terhadap Ibunda dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam seperti itu.

Dalil tuduhan mereka itu adalah Hadits sebagai berikut

“Nabi Shallallahu alaihi wa alihi wassalam pergi berziarah ke kubur ibundanya. Lalu beliau menangis sehingga membuat orang-orang yang disekitarnya ikut menangis pula. Beliau berkata: “Saya telah meminta kepada Rabbku agar saya diizinkan untuk memohon ampun baginya, namun Allah tidak mengizinkanku. Saya meminta kepada-Nya agar saya diizinkan untuk menziarahi kuburnya, dan Allah mengizinkanku.” [HR Muslim (976)]

Akibat Aqidah aneh mereka yang membuang Sifat Rahmat (Kasih Sayang), Sifat Utama Rububiyah Allah dari pembahasan Tauhid Rububiyah maka hilang pula rahmat mereka terhadap Ibunda dan mungkin juga terhadap Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam. (lihat Anomali Tauhid Asma Wa Sifat yang memahami sifat Allah sesuai lafaz zahir Asma dan Sifat Allah, kecuali Sifat Rububiyah) Sehingga mereka memahami hadits itu sebagai berikut:

(lihat http://dakwahquransunnah.blogspot.de/2013/04/akidah-kedua-orang-tua-nabi-muhammad_6041.html)

Hadits di atas dengan jelas menerangkan bahwa ibunda Rasulullah صلى الله عليه وسلم mati dalam keadaan kafir. Buktinya adalah karena Rasulullah dilarang untuk memintakan ampun bagi ibundanya.  Kalau seandainya dia seorang mukminah, maka tentunya beliau tidak akan dilarang untuk memintakan ampun untuk sang ibunda. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ta’ala di dalam Al Qur`an:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tidaklah boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam.” [QS At Taubah: 113]

Mereka menghubungkan larangan memohon ampun terhadap Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam dengan larangan Allah memohon ampun terhadap orang musyrik walaupun itu kerabatnya dalam QS At Taubah: 113.
Padahal larangan memohon ampun bukan hanya sebab kemusyrikan dan kekafiran. Banyak umat Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam yang telah meninggal yang kita tidak perlu memohonkan ampun untuknya sebab Allah sudah mengampunkannya dan bahkan ampunan Allah terhadap orang itu masih cukup untuk mengampunkan kita semua. Contoh para syuhada, bahkan seorang wanita umat Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam yang telah berzina kemudian bertaubat dan bersedia dihukum rajam taubatnya itu dapat mengampunkan 70 warga Madinah.

Imran bin al-Husain al-Khunza radhiallahu ‘anhu menceritakan bahwa ada seorang wanita dari Juhainah yang datang kepada Rasulullah Shollallahu alayhi wa Sallam dalam keadaan hamil karena berzina. Ia berkata,
“Wahai Rasulullah! Aku telah melanggar batas. Maka tegakkanlah hukum terhadapku.”
Kemudian Nabi memanggil salah seorang walinya agar memperlakukannya dengan baik. Beliau berkata,
“Perlakukan dia dengan baik. Jika ia telah melahirkan maka bawalah dia kepadaku.” Maka ia melakukannya. Nabi pun memerintahkan untuk menghadirkan wanita tersebut. Lalu bajunya diikatkan pada tubuhnya. Lalu beliau memerintahkan agar wanita itu dirajam. Lalu Rasulullah menshalatkannya. Umar radhiallahu ‘anhu berkata kepadanya,
“Apakah engkau menshalatkan dia wahai Rasulullah? Sedangkan ia telah berbuat zina?”
Rasulullah bersabda, “Ia telah melakukan taubat dengan taubat yang apabila dibagikan kepada 70 penduduk Madinah, niscaya mereka semua akan mendapatkan bagian. Apakah engkau mendapatkan keadaan yang lebih baik daripada ia yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah?” (HR. Muslim)

Larangan Allah terhadap Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam untuk meminta ampun untuk Ibunda beliau, justru menunjukkan kemuliaan Ibunda beliau. Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam  menangis boleh jadi disebabkan bahagia sebab Ibundanya sudah diampunkan seluruh dosanya oleh Allah sehingga beliau tidak perlu meminta ampun lagi. Atau boleh juga bersedih sebab dilarang untuk dapat selalu berbakti kepada Ibundanya dengan memintakan ampun untuknya. tetapi berbahagia diizinkan Allah, Kekasihnya menziarahi Ibunda beliau Shallallahu alaihi wa alihi wassalam. Kita tahu beliau Shallallahu alaihi wa alihi wassalam kehilangan Ibundanya ketika berusia 6 tahun, sehingga tidak pernah merasa telah membalas jasa pengorbanan Ibunda yang telah melahirkan beliau.
Maka karena dilarang meminta ampun kemudian beliau Shallallahu alaihi wa alihi wassalam meminta izin untuk menziarahi ibundanya, dan ini Allah izinkan. Kita perlu ingat bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam bukan berkata mengikuti hawa nafsunya.
Inilah bukti bahwa Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam adalah seorang mukminah, sebab Allah izinkan Rasulullah untuk menziarahi makamnya. Kalau Ibunda beliau seorang kafir pasti Allah melarangnya, sebagaimana firman Allah di QS At Taubah 84:

9:84
Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik

Dalam Tafsir Jalalain maksud berdiri di atas kuburnya adalah juga menziarahinya.
Mengapa Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam meminta izin dan ingin terus menziarahinya? Sebab Rasulullah ingin berbakti kepada Ibunya. Kalau meminta ampun tidak boleh, maka beliau ingin berbakti sebagai anak kepada Ibundanya dengan menziarahi makamnya. Kalau Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam selalu menziarahi makam Ibundanya tentulah beliau merawat makam Ibunda beliau. Jadi ini justru bukti lagi betapa Allah ingin memuliakan Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam. Tidak mungkin perbuatan Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam itu sia-sia, bahkan perbuatan beliau Shallallahu alaihi wa alihi wassalam selalu membawa berkat dan manfaat untuk rahmat seluruh alam.

Jika Rasulullah boleh mendoakan maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam dapat melakukan dari jauh, tetapi ini dilarang. Jadi kalau ingin berbakti kepada Ibunda, Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam dapat berziarah dan merawat makam Ibundanya. Ini menjelaskan pentingnya merawat makam orang-orang soleh seperti Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam agar dapat senantiasa diziarahi.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam selalu menziarahi makam Ibunda beliau adalah bentuk kasih sayang dan bakti Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam kepada Ibundanya di dunia. Ini juga bukti bahwa Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam adalah seorang mukminah. Karena kalau Ibunda beliau orang kafir musyrik tentu Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam tidak mungkin dapat berkasih sayang lagi dengan Ibundanya, sebagaimana firman Allah dalam QS Mujadilah : 22
Surat Al-Mujadilah Ayat 22
Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.

Wallahu a´lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi
Iklan

5 pemikiran pada “Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam

    1. Tuan/Puan adiroses terimakasih telah membaca tulisan kami yang menjelaskan kedudukan Ibunda Rasulullah shallallahu alahi wa alihi wassalam.
      Mohon maaf kalau kami tidak dapat memahamkan kepada anda tentang perlunya merawat makam orang yang mulia. Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wassalam memberi contoh untuk selalu menziarahi makam orang yang dimuliakan, tentulah beliau tidak akan membiarkan makam orang mulia itu tidak terawat, seperti ditumbuhi rerumputan dan kotor yang lama-lama dapat hilang dan tak dikenali lagi dan dilupakan.
      Itulah yang terjadi pada golongan yang melupakan orang yang telah berjasa kepadanya. Golongan ini bahkan mencoba menghilangkan jejak dan jasa orang yang telah mengislamkan nenek moyangnya dahulu (seperti wali songo),
      Kalau mereka tidak mengenang orang yang berjasa kepadanya bagaimana mungkin dia dapat mengajarkan dan memberi contoh kepada orang lain bagaimana mengenang jasa kepadanya?

      Suka

      1. adiroses

        dengan adanya makam para wali songo trus yang pantas dilakukan didepan makam kegiatan apa? Tawassul ? Ngalap Berkah ?

        Suka

    2. Tuan/Puan adiroses, pemikiran anda adalah akibat Aqidah aneh yang menbagi Tauhid jadi 3, yang membuang Sifat Rahmat Allah dari Tauhid Rububiyah. Dimana Tauhid yang satu melanggar Tauhid yang lain.
      https://pemudade.wordpress.com/2015/09/05/tauhid-rububiyyah-dalam-tauhid-3-bagian-melanggar-tauhid-al-asma-was-sifat/
      Aqidah yang aneh kaidah/aturannya
      https://pemudade.wordpress.com/2015/10/06/anomali-tauhid-asma-wa-sifat-yang-memahami-sifat-allah-sesuai-lafaz-zahir-asma-dan-sifat-allah-kecuali-sifat-rububiyah/
      Memahami Tauhid Rububiyah sebagaimana orang kafir memahaminya, bukan seperti Rasulullah memahami Tauhid Rububiyah
      https://pemudade.wordpress.com/2015/10/18/tauhid-rububiyah-ajaran-3-tauhid-menyandarkan-pengakuan-orang-beriman-tentang-rububiyah-allah-pada-ayat-quran-untuk-orang-kafir/
      Mereka tidak dididik mengenang jasa orang yang telah membawa dakwah Islam ke Indonesia.
      Anda kira Islam datang ke Indonesia melalui siapa?
      Sepatutnya kita teruskan perjuangan mereka, yang jelas keberhasilannya mengislamkan Indonesia,

      Suka

  1. Achmad

    Maa Syaa Allah..
    Sungguh kelihatan perbedaan antara komentar yang didasari nafsu dengan komentar orang berilmu yang berbicara & menulis disertai etika.
    Silahkan diskusi yang baik tanpa menjelekkan yang lain.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s