Ulama Tauhid 3 serangkai memasukkan fahamannya melalui catatan kaki Mushaf Al Qur’an

Al Qur´an adalah Kitab suci yang Allah jamin keasliannya. Oleh sebab itu tidak mungkin seorangpun dapat mengubah, mengurangi atau menambah isinya. Namun Ulama Tauhid 3 serangkai mempunyai cara lain yang effektiv dengan menggunakan Kitab pegangan umat untuk memasukan fahamannya itu, yaitu
1. Dengan mentahrif (mengubah) Kitab Ulama mu´tabar ASWAJA
2. Dengan catatan kaki Kitab Ulama mu´tabar ASWAJA, misalnya dalam Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi.
3. Melalui catatan kaki dalam Mushaf Al Qur´an.

Insya Allah akan kami sampaikan buktinya satu persatu.

Dengan catatan kaki dalam mushaf Al Qur´an

Catatan kaki yang menjelaskan QS Al Baqarah ayat 255 (ayat Kursi)
Pada mushaf Al Qur´an yang lama terbitan Kerajaan Saudi, yang disahkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia tertulis:


ASLI (CETAKAN LAMA)
catatan-kaki-2-255-ok_zoom
(161) Kursi dalam ayat ini oleh sebagian mufassirin diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaanNya

Tetapi pada cetakan baru terbitan Kerajaan Saudi, yang juga disahkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia catatan kaki ditambah

SUDAH DIUBAH (CETAKAN BARU)

catatan-kaki-2-255-not-ok_zoom

(161) Kursi dalam ayat ini oleh sebagian mufassirin diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaanNya. Pendapat yang sahih terhadap ma´na “Kursi” ialah tempat letak telapak kakiNya

Perhatikan tulisan di catatan kaki “Pendapat yang sahih”. Apa maksudnya? Apakah pendapat sebelumnya “tidak sahih”. Mari kita simak ayat Kursi QS Al Baqarah: 255

Ayat Kursi

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Perhatikan terjemahan kalimat “Kursi Allah meliputi langit dan bumi“. Kalau kita masukan makna Kursi ke dalam kalimat itu:

Menurut golongan Tauhid 3 serangkai makna Kursi “yang sahih” (lihat situs mereka di islamqa atau disini adalah

  • tempat letak telapak kakiNya meliputi langit dan bumi

Bandingkan uraian Ulama Ahlussunnah Wal Jama´ah yang menurut Ulama Wahabi (Tauhid 3 serangkai) “tidak atau kurang sahih” sebagai lawan dari “yang sahih”. Ayat ini termasuk dalam ayat Mutasyabihat (lihat Bagaimana ASWAJA memahami ayat-ayat Mutasyabihat), sebab ada makna Kursi yang syubhat/samar. Kita yakin bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk. Makna Kursi yang sebenarnya hanya Allah Yang Mengetahui. Namun ada ayat Muhkamat yang menjelaskannya. Maka Kursi ada kemungkinan bermakna:

  • Ilmu Allah meliputi langit dan bumi 

Sesuai ayat Muhkamat (yang jelas maknanya) dalam QS Al Hajj: 70

Surat Al Hajj ayat 70
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.
atau
  • Kekuasaan Allah meliputi langit dan bumi

Sesuai ayat Muhkamat (yang jelas maknanya) dalam QS Maryam:65

Surat Maryam Ayat 65

Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?

Dengan akal sehat saja, kita sebagai hamba Allah dapat merasakan Keagungan dan Kehebatan Allah dengan makna “Kursi” adalah Ilmu atau Kekuasaan dari pada “tempat letak telapak kakiNya”. Bahkan makna “tempat letak telapak kakiNya” terkesan aneh bahkan cenderung menyerupakan Allah dengan makhluk, kita berlindung kepada Allah dari keyakinan seperti itu. Inilah salah satu akibat Aqidah Tauhid 3 serangkai yang keliru dalam menggunakan akal (lihat Penjelasan kekeliruan ajaran membagi Tauhid 3 serangkai, Mengapa Ilmu Mantiq diperlukan untuk memahami Aqidah).

Perhatikan peringatan Allah tentang adanya ayat Muhkamat dan ayat Mutasyabihat dalam QS Ali Imran : 7 dan 8.

Surat Ali Imran Ayat 7
Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
Surat Ali Imran Ayat 8

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

Manakah di antara makna Kursi di bawah ini yaitu:

  • tempat letak telapak kakiNya meliputi langit dan bumi

atau

  • Ilmu Allah meliputi langit dan bumi  
  • Kekuasaan Allah meliputi langit dan bumi

yang difahami orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah?

Sehingga kita minta perlindungan kepada Allah dari hati yang condong pada kesesatan sesudah Allah beri kita petunjuk?

Bukti nyata cara pengajaran Aqidah yang mengikuti ayat Mutasyabihat dengan makna zahirnya mengakibatkan seorang Ustad bergelar Doktor yang menyampaikannya justru menjadi lupa dan tidak tahu lagi salah satu pokok ajaran Aqidah Islam bahwa yang selain Allah Yang Maha Pencipta adalah pasti makhluk (yang diciptakan), termasuk juga Arasy (lihat  video ini). Semoga Allah melindungi kita dari condongnya hati kepada kesesatan setelah kita mendapat hidayah Islam.

Lihat juga:

Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah

Apa maksud “janganlah kalian berpikir tentang Dzat Allah, tapi pikirkanlah ciptaan-Nya”?

Wallahu a´lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s