Anomali pengikut Tauhid 3 serangkai yang percaya kepada ahlinya tentang sesuatu kecuali kepada Imam Mazhab

Anomali Tauhid 3 serangkai yang memahami makna zahir Asma dan Sifat Allah kecuali Sifat Rububiyah dapat membuat pengikutnya atau orang yang terpengaruh terhadap ajarannya mempunyai sikap yang anomali pula.

Pada umumnya manusia mempercayakan suatu masalah atau hal kepada ahlinya. Misalnya ketika sakit, manusia pergi ke dokter dan biasanya mereka langsung percaya kepada nasehat dokter atau obat yang diberi dokter itu tanpa bertanya apa dalil dokter itu memberikan nasehat atau obat itu.
Ketika hendak membangun rumah, orang akan mencari dan membayar ahli teknik sipil untuk minta dibuatkan rumah tanpa bertanya apa dalilnya mengapa mesti begini atau mengapa perlu bahan ini dan itu untuk membangun rumah.
Ketika hendak naik pesawat, kebanyakan orang hanya datang pesan tiket untuk terbang dari satu tempat ke tempat lain, tanpa bertanya apakah pilotnya benar-benar sudah pengalaman menerbangkan pesawat.
Ketika hendak membeli cincin mutiara, manusia akan datang ke ahli cincin untuk memilih dan membeli cincin mutiara, tanpa bertanya ini mutiara dari mana, atau mencoba mencari tiram mutiara sendiri.
Ketika ingin memiliki mobil, orang akan pergi ke penjual mobil mengatakan kriteria mobil yang diinginkan, kemudian membeli tanpa perlu mempelajari bagaimana dan mengapa mesin mobil itu berfungsi.

Anehnya orang yang terpengaruh oleh ajaran Tauhid 3 serangkai ketika ingin melaksanakan agamanya mereka justru ragu kepada ulama. Ini ditandai dengan tidak maunya mereka dalam menjalankan syariat Islam mengikuti satu mazhab dari 4 Mazhab yang mu´tabar. Mereka masih ragu apakah betul hadits Imam Mazhab ini sahih atau bukan, sehingga mereka masih terus mencoba mengistinbat hukum dari Qur´an dan Hadits yang mereka seleksi sendiri dari Qur´an dan Hadits terutama dari Kitab Hadits Bukhari dan Muslim, bahkan hingga di zaman sekarang ini. Padahal Imam Bukhari dan Imam Muslim adalah pengikut Mazhab Syafei. Mereka selalu berkata mari kembali kepada Allah dan Rasulullah SAW, dengan mempelajari Qur´an dan Hadits langsung melalui buku.
Apakah mereka tidak tahu bahwa Ilmu agama makin lama makin sedikit sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh. Kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [Al-Bukhari (100, 7307); Muslim (2673)]
Berbeda dengan Ilmu sains, yang semakin lama semakin banyak, karena banyak ditemukan ilmu sains yang baru.

Imam Mazhab adalah Ulama yang disebut Mujtahid Mutlak yang cukup ilmu dan ketaqwaanya untuk layak mengistinbat hukum langsung dari Qur´an dan Sunnah. Ketaqwaan dan ilmu mereka diakui oleh ulama ASWAJA dari zaman para Imam Mazhab itu hingga zaman sekarang. Ilmu para Imam Mazhab itu diajarkan secara berantai sambung menyambung dari Ulama di satu generasi ke generasi berikutnya.

Kita sering dengar jika mereka diberitahu tentang suatu amalan, mereka sering bertanya mana haditsnya? mana dalilnya? Sebab mereka tidak percaya. Padahal mereka orang awam yang kalau diberitahukan dalilnya merekapun belum tentu faham. Oleh sebab itu ulama-ulama mereka dalam mengajarkan kepada orang awam selalu membacakan dalil dari Quran dan Sunnah. Ini kelihatannya baik tetapi sebenarnya dapat mengelirukan orang awam sebab mereka akan merasa hanya mereka yang sudah ikut Quran dan Sunnah, sehingga jika ada orang lain yang berbeda, mereka mudah mengatakan bid´ah sebab berbeda dengan yang mereka pelajari. Mereka tidak menyadari bahwa istinbat hukum dari Quran dan Sunnah yang mereka dapati itu adalah sebenarnya istinbat hukum menurut pendapat/Ijtihad guru mereka itu atau penulis buku yang mereka baca.

Itulah sebabnya Ulama ASWAJA dalam mengikuti dan menyampaikan suatu hukum fikih syariat, selalu menyebut nama Imam Mazhab yang diikuti. Hal ini sering disalahfahami oleh pengikut Tauhid 3 serangkai bahwa kita yang mayoritas di Indonesia bermazhab Syafei tidak ikut Quran dan Sunnah tetapi ikut Kiai, Habaib atau Ustaz yang ikut kepada Imam Syafei. Sebenarnya kita semua yang bermazhab Syafei juga ikut Quran dan Sunnah yaitu Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pendapat/Ijtihad Imam Syafei.

Menyebut nama Imam Mazhab dari siapa kita belajar fiqih syariat adalah amat penting. Tujuannya agar jika kita melihat ada orang Islam lain yang berbeda dari kita, kita akan berprasangka baik mungkin mereka ikut Imam Mazhab lain seperti Imam Hanafi, Imam Maliki atau Imam Hambali. Inilah hikmah besar mengapa kita Umat Islam ASWAJA bermazhab.

Wallahu a´lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s