Akibat ajaran Tauhid Rububiyah dari ajaran 3 Tauhid yang menyandarkan pada ayat Quran untuk orang kafir

Sekarang kami mencoba mengungkapkan apa sebenarnya sandaran ulama penganut ajaran 3 Tauhid mendefinisikan Tauhid Rububiyah pada ajaran aqidahnya itu dan akibatnya, sehingga keluar pernyataan bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah sebagaimana orang beriman (lihat juga menit ke 7 video ini ). Padahal Al Qur´an membantah bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah.

Mereka menyandarkan kefahaman orang beriman tentang Rububiyah Allah kepada kefahaman orang kafir tentang adanya Allah tetapi bukan tentang Allah sebagai Robb mereka. Padahal kita tahu bahwa pengakuan seseorang tentang sesuatu sangat bergantung kepada kefahaman orang itu terhadap sesuatu itu. Mungkinkah Rasulullah SAW memahami Allah sebagai Robb bagi Baginda Rasul SAW seperti orang kafir memahami Allah sebagai Robb bagi mereka?
Orang kafir yang disebut dalam Al Qur´an faham benar makna Robb tetapi mereka tidak kenal Allah dengan sifat RububiyahNya Yang Maha Mendidik/Memelihara/Mengasuh dengan Kasih Sayang. Yang mereka fahami adalah Allah sebagai Pencipta, Pengatur, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan, Yang Memberi Rezeki dan Sifat-Sifat Allah  yang diakuinya di dalam Qur´an. Mereka sebenarnya tidak mengakui Allah sebagai Robb Maha Pemelihara/Pendidik/Pengasuh bagi mereka, maka mereka tidak merasa pula menjadi marbub (yang dipelihara/dididik/diasuh) oleh Allah. Mereka tidak peduli untuk apa mereka diciptakanuntuk apa Allah menciptakan langit dan bumiuntuk apa Allah menghidupkan dan mematikan dan lain-lain hikmah perbuatan Allah Robb kita semua. Bahkan mereka berputus asa terhadap rahmat Allah, Sifat Utama Rububiyah Allah.

Jadi memang aneh ajaran Tauhid 3 serangkai ini yang menerangkan tauhid Rububiyah yang sepatutnya untuk orang beriman tetapi merujuk pada pengakuan orang kafir dalam Al Qur`an. Inilah yang menjadi penyebab keluar pernyataan-pernyataan lain yang keliru karena bersandar pada keyakinan yang keliru.

Contoh, ulama Ahlussunnah Wal Jama´ah sepakat bahwa memberi hadiah berupa pahala amal soleh seperti bacaan Al Quran, sholawat dan sedekah kepada orang Islam yang sudah meninggal dunia bermanfaat untuknya. Inilah ciri khas Ahlussunnah Wal Jama´ah yang berkasih sayang terhadap sesama muslim baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Tetapi ulama Tauhid 3 serangkai berkata, memberi hadiah amal soleh itu tidak akan sampai kepada orang beriman yang sudah meninggal dunia. Pernyataan ini mereka keluarkan karena mereka menyamakan orang beriman yang sudah meninggal dengan orang kafir yang sudah mati dalam hal menerima hadiah amal soleh dari orang beriman yang masih hidup. Memang hadiah amal soleh kita tidak akan sampai kepada orang kafir yang sudah meninggal, bahkan kita tidak boleh mengucapkan salam ketika orang kafir itu masih hidup. Dalam hal berdoa untuk kebaikan akhirat bagi orang kafir, kita hanya boleh memohon kepada Allah agar orang kafir mendapat hidayah sehingga mereka dibukakan hatinya untuk mudah menerima Islam

Bagaimana mungkin orang yang beriman yang telah wafat apalagi kalau mereka itu para Nabi dan Rasul serta para auliya, syuhada dan orang-orang soleh lainnya yang telah berjasa kepada kita, sehingga kita dapat merasakan nikmatnya Iman dan Islam tidak mendapatkan manfaat dari hadiah amal soleh sebagaimana orang kafir?

Mereka melarang untuk berziarah kubur, dengan alasan syirik atau menyembah makam. Fatwa larangan ini mereka tetapkan akibat dari kekeliruan dalam aqidah mereka itu. Mereka tidak memasukan sifat Mendidik dan sifat Kasih Sayang Allah dalam pembahasan Sifat Rububiyah Allah. Kalau mereka tidak membahas sifat Mendidik dan sifat Kasih Sayang Allah dalam Tauhid Rububiyah
– Bagaimana mereka dapat merasakan didikan dan kasih sayang Allah sebagai Robb?
– Bagaimana mereka dapat merasakan didikan dan kasih sayang dari murobbi (pendidik) yang Allah utus yaitu Rasulullah SAW?
– Bagaimana pula mereka dapat merasakan didikan dan kasih sayang Shahabat r.a, Tabi´in, Tabi´ut tabi´in dan ulama amilin setelah mereka?
– Dan seterusnya bagaimana mereka dapat merasakan didikan dan kasih sayang dari murobbi yang ditemui sekarang secara langsung?

Pada hakikatnya didikan dan kasih sayang Allah sebagai Robb dapat kita rasakan adalah melalui berkat didikan dan kasih sayang yang sambung menyambung dari murobbi yang pertama yaitu Rasulullah SAW kepada Sahabat, Tabi´in, Tabi´ut tabi´in dan seterusnya melalui murobbi-murobbi berikutnya hingga kepada murobbi yang kita bertemu dengannya.

Kalau kita dapat merasakan aliran keberkatan didikan dan kasih sayang dari Allah sebagai Robb Yang Maha Pendidik/Pemelihara dan Maha Pemberi Kasih Sayang ini melalui mereka kepada kita, yang membuat kita menjadi orang beriman dan bersyukur, tentulah kita akan sayang, cinta dan berhutang budi kepada mereka yang menyambungkan tali didikan dan kasih sayang itu.
Kalau hubungan kasih sayang yang mendalam ini sudah terjalin, bagaimana mungkin kita tidak berterima kasih dan rindu kepada mereka dan berusaha membalasnya dengan mengalirkan didikan dan kasih sayang ini kepada generasi kita dan setelah kita.
Untuk melepas rindu kepada mereka sekali-sekali kita menziarahi mereka baik ketika hidup dan wafatnya serta memberikan hadiah amal soleh yang dengan sebab didikan dan kasih sayang mereka itu kita dapat melakukannya. Para Sahabat r.a sering berziarah ke makam Rasulullah SAW, bahkan Sayidina Bilal r.a. datang khusus dari Syam ke Madinah karena rindu dan menziarahi Rasulullah SAW. (Lihat Bersimpuh di makam Rasulullah SAW dan Kisah Pilu Kerinduan Bilal Kepada Rasulullah SAW )
Kita mendapat didikan dan kasih sayang dari mereka untuk berkeyakinan bahwa pada hakikatnya kita memperoleh hidayah dan taufik untuk dapat beramal soleh itu adalah berkat rahmat Allah. Tetapi jalan dan wasilah yang menjadikan kita memahaminya adalah melalui murobbi kita, sebagaimana Shahabat r.a dahulu memperolehinya dari Baginda Rasulullah SAW.

Peringatan maulid Nabi SAW dan pembacaan kisah hidup Rasulullah SAW adalah juga untuk melepas kerinduan kita kepada Rasulullah SAW, tauladan kita, marbub terbaik dari Allah Robb kita. Penganut ajaran Tauhid 3 serangkai agak hambar atau bahkan melarang dan menuduh bid´ah sesat terhadap amalan peringatan Maulid ini. Ini juga disebabkan oleh tidak dimasukannya Sifat Maha Mendidk dan Rahmat Allah dalam pembahasan Sifat Rububiyah dalam tauhid Rububiyah ajaran Aqidah mereka. Bagaimana kita akan merasakan rahmat dan didikan Allah sebagai Robb dengan Sifat RububiyahNya, kalau tidak membahas sifat utamanya yaitu Sifat Rahmat dan Maha Pendidik sebagai sifat utama RububiyahNya? Pujian yang bagaimana yang disukai Allah sebagai Robb kita jika sifat utama Robb tidak disebut dan dijadikan pembahasan utama Sifat Rububiyah Allah? Allah dan Rasulullah SAW sudah mengajarkan agar kita memulai setiap pekerjaan baik dengan basmalah, dengan sifat utama Allah yakni Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Anehnya ada di kalangan golongan yang ekstrim dari penganut Tauhid 3 serangkai ini menuduh bid´ah pembacaan Maulid dan tahlil berdasarkan ayat Quran yang dimaksudkan untuk orang kafir. Mereka menuduh amalan-amalan itu hanyalah mengikuti amalan nenek moyang.

Surat Al-Maidah Ayat 104

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. (QS Al Maidah:104)


Karena kekeliruan kefahaman mereka tentang Sifat Rububiyah Allah yang mereka sandarkan kepada ayat Quran untuk orang kafir, maka kelirulah fatwa-fatwa mereka. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Nabi Ya’qub ketika bertanya kepada anak-anaknya tentang agama apa yang mereka anut sepeninggal Nabi Ya’qub adalah agama dari bapak-bapak Nabi Ya’qub?

Surat Al-Baqarah Ayat 133

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyang (bapak-bapak) mu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (QS Al Baqarah:133)


Mereka telah mudah menuduh dan menyamakan nenek-moyang (bapak-bapak) yang beriman dengan nenek-moyang (bapak-bapak) yang kafir. Begitulah bahayanya kekeliruan pemahaman Sifat Rububiyah dalam Tauhid Rububiyah ajaran Tauhid 3 serangkai, yang menyebabkan kekeliruan-kekeliruan berikutnya.

Mereka berkata, Rasulullah SAW dan Sahabat r.a. tidak pernah melakukan Maulid dan tahlil, maka melakukan Maulid dan tahlil adalah bid´ah.
Kegiatan Maulid dan tahlil adalah mengumpulkan orang Islam untuk sama-sama membacakan dan memperdengarkan dzikir, shalawat, Qur´an, bertausiyah, membacakan kisah hidup Rasulullah SAW (dalam acara maulid Nabi) dan doa untuk umat Islam. Di dalamnya juga ada sedeqah menyediakan makanan, bersilaturahmi, saling tolong menolong dan bertausiyah yang sangat dianjurkan dan dilakukan oleh Rasulullah SAW dan Sahabat r.a.
Kalau kita bertanya kepada mereka apakah dalam sejarah Rasulullah SAW dan Sahabat r.a. pernah melarang umat Islam berkumpul membacakan dan memperdengarkan dzikir, shalawat. Qur´an, bertausiyah dan doa, atau melarang sedeqah menyediakan makanan, bersilaturahmi, saling tolong menolong dan bertausiyah?
Di zaman Rasulullah SAW dan Shahabat r.a, umat Islam banyak melakukan amal soleh itu sehari-hari, karena iman dan ilmu mereka yang sudah mendarah daging pada dirinya. Mereka mendoakan umat Islam setiap malam dalam sholat malam mereka. Mereka tidak pernah menghabiskan waktu sia-sia seperti zaman-zaman kemudian apalagi zaman sekarang.
Zaman sekarang banyak orang berkumpul untuk menonton bola atau menonton film dan acara TV yang melalaikan. Mengapa golongan Tauhid 3 serangkai tidak keras membid´ahkan perkumpulan seperti ini? Tanyakan kepada mereka apakah Rasulullah SAW dan Shahabat pernah berkumpul untuk menonton hal yang melalaikan?
Membuat kegiatan Maulid dan tahlil adalah usaha ulama ASWAJA untuk mendidik masyarakat agar terbiasa dengan amal-amal soleh itu. Mereka telah berdakwah, mendidik dengan cara yang bijaksana, sehingga bangsa Indonesia hampir menjadi muslim seluruhnya.

Wallahu ´alam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s