Sejarah ditulisnya ilmu-ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama´ah

Semua Ilmu islam berasal dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam. Di zaman Shahabat r.a ilmu Islam belum perlu ditulis dan disusun seperti sekarang, sebab ilmu Islam sudah hidup dan melekat pada diri Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam dan Shahabat r.a. yang dapat dipelajari hanya dengan hidup bersama mereka. Seterusnya Ilmu Islam berkembang kepada generasi Tabi´in dari generasi Sahabat r.a sebagaimana berkembangnya Islam dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam kepada Shahabat r.a yaitu dengan hidup dan bergaul bersama mereka. Seterusnya Islam berkembang seperti itu juga di zaman Tabi´ut Tabi´ín.

Lama kelamaan ulama menyadari perlunya Ilmu Islam ini dtulis dan disusun secara terstruktur agar mudah dipelajari oleh umat islam di generasi berikutnya, sebab jumlah umat islam semakin banyak, sedang jumlah “ilmu Islam hidup” yaitu para Sahabat, Tabi´in dan Tabi´ut Tabi´in semakin sedikit.
Ilmu-ilmu itu ditulis oleh ulama karena keperluan mendesak untuk kemaslahatan masyarakat Islam di waktu itu.

Ilmu-ilmu yang disusun dan ditulis di zaman salafus sholeh di antaranya

– Ilmu Bahasa Arab dan Ilmu Nahu Sharaf sudah mulai ditulis di zaman Shahabat r.a dan tabi´in agar umat Islam tidak salah dalam memahami  bahasa Arab Al Qur´an
– Ilmu Tajwid juga mulai ditulis dan disusun di zaman Shahabat r.a dan Tabi´in, agar umat Islam tidak salah dalam membaca Al Qur´an yang dapat mengubah arti Al Qur´an, Ketika ini penyusunan Ilmu fiqih belum mendesak diperlukan, sebab masyarakat masih alim-alim belaka dalam hal fiqih syariat.
– ilmu Fiqih syariat yang lengkap mulai ditulis di zaman Tabi´in atau Tabi´ut Tabi´in hingga abad 3 H, yang kemudian dikenal dengan fiqih mazhab dari Imam Mujtahid Mutlak, yaitu Imam yang dapat berijtihad dan mengistinbat hukum dengan merujuk pada Qur´an dan Hadits.
Fiqih Mazhab yang masih ada pengikutnya hingga sekarang adalah dari mazhab
-Imam Hanafi (wafat 150H) , kemudian
-Imam Maliki (wafat 179H),
-Imam Syafei (wafat 201H), dan
-Imam Hambali (wafat 243H).
Di zaman itu Aqidah sesat baru mulai meluas, Imam-Imam Mazhab sudah menulis ilmu Aqidah tetapi belum lengkap. Aqidah sesat terutama Muktazilah masih dapat meluas hingga dianut oleh kalangan pemerintah kerajaan di zaman Imam Hambali.
– Ilmu Tasawuf (membersihkan hati) sudah mulai ditulis secara khusus di abad 2 H. Di antaranya yang terkenal adalah ditulis oleh Imam Junaid Al Bagdadi, beliau berguru kepada murid langsung Imam Syafei.
– Ilmu Aqidah yang lengkap ditulis di akhir abad 3 dan awal abad 4. Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah (ASWAJA) disusun oleh Imam Abul Hasan Al Asy´ari (wafat 324H) dan Imam Abu Mansur Al Maturidi (wafat 333H).
Imam Abul Hasan Al Asy´ari bermazhab Syafei, berjuang hingga wafat di Bagdad sedang Imam Abu Mansur Al Maturidi bermazhab Hanafi, berjuang hingga wafat di Samarkand (Uzbekistan). Mereka berdua tidak pernah bertemu, tetapi ilmu Aqidah yang disusun mereka adalah sama intinya, berbeda dalam beberapa istilah dan pembagiannya.
Misalnya dalam ajaran Imam Abul Hasan Al Asy´ari sifat wajib Rasul ada 4 yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah. Sifat Ma´shum (tidak melakukan dosa) sudah termasuk di dalam 4 sifat itu. Dalam ajaran Imam Abu Mansur Al Maturidi, sifat wajib ada 5 yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah dan ‘Ishmah (Ma´shum). Ilmu aqidah juga disusun agar umat Islam tidak keliru dalam beriktiqad dan memahami rukun Iman, karena keperluan mendesak menghadapi aliran aqidah sesat yang menyebar dalam masyarakat Islam waktu itu.
Dengan aqidah yang disusun mereka berdua, penganut aqidah Muktazilah dan aqidah sesat lainnya semakin berkurang dan seterusnya melemah, sehingga Aqidah ASWAJA ini diakui dan diikuti oleh mayoritas umat Islam.
Sesuai dengan nama kedua Imam itu, maka ajaran Aqidah ASWAJA ini dikenal juga dengan ASWAJA Asy´ariyyah/Maturidiyyah.
Jumhur ulama ASWAJA mengatakan jika disebut aqidah ASWAJA maka itu adalah Aqidah Asy´ariyyah/Maturidiyyah, Aqidah ini sesuai dengan Aqidah yang diajarkan Rasulullah SAW, para Shahabat, Tabi`in, Tabi´ut Tabi´in dan para Salafus shalih.

Ulama-ulama yang datang kemudian sepakat bahwa Ilmu dasar Islam yaitu Aqidah dan Fiqih sudah selesai ditulis, sehingga tidak perlu menulis Ilmu dasar Islam itu kecuali untuk lebih memudahkan pengajaran ilmu-ilmu itu di zaman berikutnya berdasarkan kaidah yang telah disusun dalam Fiqih Mazhab dan Aqidah ASWAJA.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam telah memberi isyarat kepada kita membenarkan Aqidah ASWAJA Asy´ariyyah/Maturidiyah, berfiqih dengan bermazhab dan bertasawuf.

Wallahu a’lam
Artikel lain ada dalam Daftar Isi
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s