Tauhid Rububiyah dalam ajaran 3 Tauhid melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri

aqidah-wahabi-tauhid-rububiyah-melanggar-tauhid-asma-wa-sifatDalam ajaran pokok Tauhid 3 serangkai menjelaskan

Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif (mengubah arti), tanpa ta’thil (menolak/menghilangkan arti) dan tanpa takyif (menanyakan bagaimana) (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul). (lihat muslim.or.id/6615-makna-tauhid). Kemudian mereka katakan

Tahrif adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna zhahir-nya menjadi makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata ‘istiwa’ yang artinya ‘bersemayam’ dipalingkan menjadi ‘menguasai’.
Keyakinan terhadap Asma dan Sifat dengan makna zahirnya ini amat berbahaya bagi penganutnya termasuk pengajarnya sendiri, sehingga seorang Ustad bergelar Doktor karena terlalu mengikuti makna zahir ayat Mutasyabihat menjadi tidak tahu lagi ajaran pokok Aqidah bahwa yang selain Allah itu pasti makhluk, termasuk juga Arasy (lihat video ini atau video ini pada menit ke 3:15).

 

Berikut ini kami akan jelaskan bahwa definisi Tauhid Asma wa Sifat tidak berlaku untuk Sifat Rububiyah Allah dalam pembahasan Tauhid Rububiyah. Jadi Sifat Rububiyah dalam Tauhid Rububiyah melanggar definisi Tauhid Asma wa Sifat ajaran pokoknya sendiri.

Telah kita bahas pada tulisan kami Orang kafir mengakui adanya Allah bukan sebagai Robb mereka bahwa akar kata Robbun atau Rububiyah sama dengan akar kata tarbiyah dan murobbi yang berarti mendidik, memelihara, mengasuh, menjaga, memiliki. Definisi yang lebih umum adalah memproses sesuatu agar menjadi lebih baik. Allah sebagai Robb bagi manusia adalah Yang Mendidik/Memelihara/Memproses manusia menjadi yang lebih baik, dan seterusnya menjadi insan kamil atau manusia beriman yang berakhlak mulia dan berilmu.

Kita perhatikan dalam definisi Tauhid Rububiyah dalam Tauhid 3 serangkai menyebutkan:
Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Disini saja mereka sudah lupa atau tanpa sadar telah menta’thil (menolak) sebahagian Sifat Rububiyah bahwa hanya Allah yang dapat menghidupkan manusia setelah matinya di akhirat nanti, sebagaimana firman Allah dalam QS Al Muthaffiffin: 4-6

Surat Al-Muthaffifin Ayat 4
Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,
Surat Al-Muthaffifin Ayat 5
pada suatu hari yang besar,
Surat Al-Muthaffifin Ayat 6
(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

Mengapa Ulama Tauhid 3 serangkai lupa dengan kaidah yang mereka buat sendiri dalam Tauhid asma wa Sifat ketika memahami Asma “Robb” dan “Sifat Rububiyah” Allah? Bagaimana mereka dapat mendefinisikan pengertian Robbun menjadi hanya Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka? Bukankah definisi ini mengubah (mentahrif) makna.

Bahkan dalam definisi Tauhid Rububiyah yang telah mengurangi banyak Sifat Rububiyah Allah itu, Tauhid 3 serangkai berkesimpulan:
Dan perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang (Lihat  video ini menit ke-7, dan Tauhid 3 serangkai, tulisan yang diberi tanda merah ).

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

Padahal banyak sekali ayat Qur’an yang menyebutkan bahwa orang kafir tidak mengakui akan dihidupkan lagi oleh Allah setelah mereka mati di dunia. Diantaranya QS Al-Isra: 49

17:49
Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?”

Sebagaimana yang disebut di atas, ini adalah bukti bahwa dalam Tauhid Rububiyah mereka menta’thil (menolak) sebahagian Sifat Rububiyah yaitu Menghidupkan manusia di akhirat nanti setelah matinya di dunia.

Apa makna Robbun atau Rububiyah? Untuk memudahkan kita memahami makna Robbun (Rububiyah) secara lebih luas yang merangkumi banyak Sifat-Sifat Allah yang menjelaskan Sifat Allah sebagai Maha Pendidik, marilah kita perhatikan seseorang yang ingin menyerahkan anaknya kepada seorang murobbi (pendidik) agar anaknya itu mendapatkan tarbiyah yang diharapkan dapat membawanya menjadi anak yang soleh yaitu anak yang berilmu dan berakhlak mulia. Murobbi yang bagaimana yang dicari? Sifat-sifat apa yang sangat penting yang mesti dimiliki oleh seorang Murobbi. Secara automatis kita pasti akan mencari Murobbi (pendidik) yang mempunyai sifat sbb:

  • Berkasih sayang
  • Berilmu
  • Bijaksana
  • Adil
  • Tegas
  • Berwibawa
  • Dan lain-lain sifat yang diperlukan oleh seorang Murobbi.

Setelah fitrah kita sendiri menjelaskan kepada kita tentang sifat-sifat yang semestinya dimiliki oleh Murobbi/pendidik, mengapa dalam memahami Allah sebagai Robb dalam Tauhid Rububiyah dalam Tauhid 3 serangkai itu hanya disebutkan “Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka.”? Mana pembahasan makna zahir dari Robb/Rububiyah yang akar katanya sama dengan Tarbiyah, Murobbi dan Robbayani (dalam doa untuk orang tua) yang erat dengan Sifat Rahmat (Kasih Sayang)?

Bukankah artinya sifat-sifat yang lain dalam sifat Rububiyah telah dita´thil (ditolak) dalam definisi Tauhid Rububiyah. Selain itu ajaran Tauhid 3 serangkai itu juga telah mentahrif (mengubah) sifat-sifat Allah dalam definisi Tauhid Rububiyah yang sedikit itu seolah-olah menjadi keseluruhan Sifat Rububiyah, sebagaimana pertanyaan kepada orang kafir di dalam Al Qur´an yaitu:
Allah sebagai Maha Pencipta langit dan bumi
Allah sebagai Maha Pemberi rezeki
Allah sebagai Maha Pencipta manusia
– Allah sebagai Maha Pengatur segala urusan
Allah sebagai Yang Maha Mematikan dan Menghidupkan
– Allah Yang berkuasa atas segala sesuatu, sehingga tidak ada yang dapat berlindung dari-Nya
– Allah sebagai Robb dari 7 langit dan Arasy yang besar (bukan sebagai Robb bagi mereka/ bagi orang kafir)
Sehingga mereka langsung berkesimpulan bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah sebagaimana orang beriman.

Mengapa Tauhid 3 serangkai justru memahami sifat Rububiyah Allah dan mengenal Robb bagi mereka dengan “mengikuti pengakuan orang kafir yang disebut dalam Al Qur´an?”
Mengapa tidak melihat bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam memahami sifat Rububiyah Allah dan mengenal Robb bagi diri Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam?

Firman Allah dalam QS Al Anbiya 107

21:107
Dan tiadalah Kami mengutus mu (Rasulullah), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Firman Allah dalam QS Al Ahzab:21
Surat Al Ahzab Ayat 21
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam mengenal dan mengakui Allah sebagai Robb Yang Mendidik, Mengurus dan Memelihara manusia? Ini salah satu hadits Rasul Shallallahu alaihi wa alihi wassalam tentang Allah sebagai Robb (Pendidik) bagi Rasul Shallallahu alaihi wa alihi wassalam.
“Aku dididik oleh Tuhanku, maka sungguh baik hasil pendidikan-Nya.”

Adakah orang kafir mengakui Allah sebagai Robb (Pendidik) bagi mereka sebagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam mengakui dan mengenal Allah sebagai Robb (Pendidik) bagi diri Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wassalam ? Jauh panggang dari api.

Ini jelas disebut dalam Quran Surat Yusuf 87:

Surat Yusuf Ayat 87
Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”

Dan dalam Surat Al Ankabut 23

Surat Al 'Ankabut Ayat 23
Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.

Dijelaskan dalam 2 ayat di atas bahwa orang kafir berputus asa terhadap rahmat Allah Sifat Utama Rububiyah Allah. Orang yang berputus asa terhadap rahmat Allah artinya tidak mengakui Sifat Rububiyah Allah yang memelihara dirinya dengan rahmat (kasih sayang). Orang kafir pun tidak mengakui Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa alihi wassalam sebagai Rasulullah dan tidak menjadikan beliau Shallallahu alaihi wa alihi wassalam sebagai suri tauladan dalam kehidupannya.

Ajaran Tauhid 3 serangkai memasukkan sifat rahmat Allah itu dalam pembahasan Sifat Rububiyah dalam Tauhid Al Asma Was Sifat, dan membuangnya (menta’thil)  dalam pembahasan Tauhid Rububiyah. Pemisahan ini menjadi fatal, karena membuat kefahaman orang Islam yang berpegang pada tauhid 3 serangkai ini ketika membahas Tauhid Rububiyah dan menyebut Robb tidak teringat akan sifat utama Rububiyah yakni rahmat Allah dan juga sifat-sifat Rubibyah yang lain. Padahal banyak sekali do´a dalam Al Qur´an dan Sunnah kita memanggil Robbi atau Robbana kepada Allah.

(lihat link Aqidah 3 Tauhid juga menjelaskan makna Robb dan Sifat Rububiyah muslim.or.id/3868-ar-rabb dalam Tauhid Asma Wa Sifat. Disitu dijelaskan adanya Sifat Rububiyah umum dan Sifat Rububiyah khusus, (lihat snapshot di bawah ini)

SifatRububiyah-khusus-umum

Dimana Sifat Rububiyah khusus hanya untuk orang beriman. Makna Rububiyah ini berbeda dengan makna Rububiyah dalam Tauhid Rububiyah dalam artikel muslim.or.id/6615-makna-tauhid, yaitu tidak dimasukannya Sifat Rububiyah khusus atau telah dita´thil (dibuang). Ini jelas melanggar definisi Tauhid Asma Wa Sifat ajarannya sendiri).

Insya Allah, kami akan jelaskan lebih luas di tulisan kami mendatang, mengapa pemahaman Sifat Rububiyah dalam Tauhid Rububiyah dengan menyandarkan kepada pengakuan orang kafir di dalam Qur´an dapat berakibat fatal.
Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua.

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Iklan

10 pemikiran pada “Tauhid Rububiyah dalam ajaran 3 Tauhid melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri

  1. ASSALAAMU’ALAINA WA’ALA IBADILLAHI SOLIHIIN.. ” LA ILAHA ILLALLAH adalah kalimat TAUHIDULDZAT yang tidak berbentuk seperti Makhluk atau Patung Berhala yang Mereka Orang2 Kafir Musyrik Sekutukan ” “MUHAMMADUR RASULULLAH adalah UTUSAN ALLAH BERSIFAT YANG TERPUJI yang harus MANUSIA IKUTI ” @ SELAIN ITU ADALAH BID’AH..!!!

    Suka

    1. Terimakasih telah memberi komentar. Benar sekali.
      Allah tidak serupa dengan makhluk. Allah adalah Robb dengan seluruh Sifat RububiyahNya, yang Maha Memelihara/Mengurus/Mendidik manusia dengan rahmatNya, yang diwujudkan dengan mengutus Rasulullah shallahu alaihi wassalam. Sehingga disebutkan tidaklah Rasulullah diutus kecuali untuk rahmat bagi seluruh makhlukNya.
      Jadi kalau ada ajaran yang mengajarkan Tauhid Rububiyah tanpa membahas rahmat Allah sama sekali sehingga mengatakan orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah seperti orang beriman adalah bid´ah.

      Suka

  2. Dadan Salman Ramdhani

    Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, apakah anda setuju dengan pendapat Tauhid mujasimah, yang menyatakan Bahwa Allah itu di atas aras??? Wassalam wr wb

    Suka

    1. Wa alaikum salam wa Rahmatullahi wa barakatuhu. Mas Dadan.
      Tauhid Mujassimah itu sangat berbahaya sebab membuat org tergelincir memahami Allah. Sehingga tidak tahu lagi ajaran pokok Tauhid yaitu meyakini bahwa yg selain Allah itu pasti makhluk termasuk Arasy.
      Ada seorang Ustad bergelar doktor menjadi jahil (tidak tahu ) bahwa Arasy adalah makhluk sebab berfaham Mujassimah.

      Suka

      1. Mas Dadan, anda bertanya dimana Allah?
        Sebelum kami jawab kami ingin bertanya dahulu apakah yg anda maksud
        A. makna zahirnya seperti yg difahami kaum Mujassimah yaitu posisi jism (sosok) Allah dalam dimensi tempat (atas , bawah, di langit , di atas arasy dgn makna zahir dll) .

        Atau

        B. makna kiasan yaitu bagaimana pandangan hati kita terhadap Allah apakah
        – mengagungkan Allah yaitu mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya atau
        – mengabaikan Allah yaitu mengabaikan perintah dan larangan Allah

        Suka

  3. Rasulullah Shallallahu alahi wassalam melarang kita membahas dan memikirkan Dzat Allah. Kita hanya disuruh berdzikir ( menyebut dan mengingat Dzat Allah yaitu menyebut dan mengingat NamaNya yg indah ( Asmaul Husna ).
    Kalau kita ingin memikirkan dan membahas maka fikirkan makhlukNya, maka kita akan mengenal Sifat Allah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s