Andalan

Pendahuluan

Bismillahirohmanirrohim,

Segala puja dan puji hanya milik Allah Robb seluruh alam, Arrahman, Yang Maha Pemurah dan Arrohim, Yang Maha Penyayang. Salam dan Sholawat semoga selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi tercinta Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam beserta keluarga dan shahabat serta pengikutnya yang ikhlas hingga akhir zaman.

Kami mulakan penulisan tulisan ini dengan pujian kepada Allah dan Sholawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam.

Kami memohon dan berharap kepada Allah dengan keberkatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam dan guru-guru kami yang telah menyampaikan ilmu Allah kepada kami untuk membantu kami menulis di blog ini, karena tidak ada kemampuan tidak ada kuasa untuk menulis walaupun satu huruf atau tanda baca, kecuali dengan izin Allah.

Semoga Allah selalu meluruskan niat kami dalam menulis ini hanyalah untuk memperoleh keredhoan Allah, untuk men-share ilmu yang Allah pinjamkan kepada kami sebelum Allah memanggil kami untuk kembali kepadaNya. Tidak ada ilmu yang ada pada kami kecuali ilmu yang Allah ajarkan kepada kami.

Semoga tulisan-tulisan yang kami sampaikan ini bermanfaat untuk kami dan pembaca sekalian, di dunia dan di akhirat.

Pemuda Desa

Artikel:

Penjelasan kekeliruan ajaran membagi Tauhid menjadi 3 (Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa Sifat).

Tauhid Rububiyah dalam ajaran 3 Tauhid melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri

Orang kafir mengakui adanya Allah bukan sebagai Robb mereka

Sifat Rahmat (Kasih Sayang) adalah Sifat Utama Rububiyah Allah

Mengapa Sifat Rahmat sangat penting dalam Sifat Rububiyah dan Uluhiyah Allah

Sejarah ditulisnya ilmu-ilmu Islam

Jika seseorang mengakui Allah sebagai Robb baginya.

Perbedaan memahami Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan dengan dan tanpa Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Allah sebagai Maha Pencipta di mata orang beriman dan orang musyrikin

Al Qur´an membantah bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah

Akibat ajaran Tauhid Rububiyah dari ajaran 3 Tauhid yang menyandarkan pada ayat Quran untuk orang kafir

Mengapa ASWAJA mengikuti Imam Mazhab

Anomali Tauhid Asma Wa Sifat yang memahami sifat Allah sesuai lafaz zahir Asma dan Sifat Allah, kecuali Sifat Rububiyah

Bagaimana ASWAJA memahami ayat-ayat Mutasyabihat

Perbedaan pemahaman orang beriman dan orang kafir terhadap Allah sebagai Pencipta langit dan bumi

Anomali pengikut Tauhid 3 serangkai yang percaya dengan ahlinya kecuali kepada Imam Mazhab

Isyarat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam membenarkan Aqidah ASWAJA Asy´ariyyah/Maturidiyah, berfiqih dengan bermazhab dan bertasauf

Ulama Tauhid 3 Serangkai mengubah (mentahrif) text dalam Kitab Ulama ASWAJA (1)

Ulama Tauhid 3 Serangkai mengubah (mentahrif) text dalam Kitab Ulama ASWAJA (2)

Kekeliruan Tauhid 3 serangkai membawa kepada kerancuan

Ulama Tauhid 3 serangkai memasukkan fahamannya melalui catatan kaki Mushaf Al Qur’an

Sajak Muhasabah Anehnya Tauhid 3 Serangkai

Orang kafir berputus asa terhadap Sifat Utama Rububiyah yakni Rahmat Allah

Ulama Tauhid 3 serangkai memasukan fahamannya melalui catatan kaki Kitab Riyadhush Sholihin

Mengapa pernyataan orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah adalah mustahil

Mengapa Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah adalah sama

Mengapa perkumpulan ASWAJA mesti mendeklarasikan Aqidah Asy´ariyah/Maturidiyah, bermazhab dan bertasawuf

Benarkah mengatakan mari kembali kepada Qur´an dan Sunnah mendekatkan orang kepada Qur´an dan Sunnah?

Ayah Rasulullah Shallallahu alahi wa alihi wassalam

Ibunda Rasulullah Shallallahu alahi wa alihi wassalam

Mengapa Ilmu Mantiq diperlukan untuk memahami Aqidah

Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 1: Sifat Nafsiyah dan Sifat Salbiyah)

Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 2: Sifat Ma’ani: Hayyun, Qudrah dan Iradah)

Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 3: Sifat Ma’ani Ilmun dan Kalam)

Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 4: Sifat Ma’ani Sama’ dan Bashar)

Sifat Jaiz Allah

Perbedaan mengakui Allah Yang Memberi Rezeki dengan dan tanpa mengaitkan dengan Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Hikmah Aksi Damai 411 (4 November 2016)

Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat

Hikmah Aksi Super Damai 212 (2 Desember 2016)

Mengenal Sifat Jaiz Allah untuk Memahami Khawariqul ´Adat

Mengapa muslim Ahlussunnah wal Jama’ah menolak Ustad Khalid Basalamah

Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah

Apa maksud “janganlah kalian berpikir tentang Dzat Allah, tapi pikirkanlah ciptaan-Nya”?

 

Bahaya fahaman Mujassimah (1); Allah ada di comberan?

Bahaya fahaman Mujassimah (1), Allah ada di comberan?

Setelah kami mengamati video-video yang beredar dari para penganut Tauhid 3 serangkai yang menerangkan Aqidah Asy’ariyah yang mereka fahami, kami merasa sampai saatnya kami menjelaskkan bagaimana kekeliruan pemahaman mereka itu, disebabkan oleh pemahaman Mujassimah mereka. Mujassimah adalah pemahaman Allah itu berjism/bersosok/bertubuh yang menempati suatu ruang, sehingga menyerupakan Allah dengan makhluk.  Na’udzu billah min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari keyakinan seperti itu.

Mereka sebenarnya tidak faham Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, tapi merasa telah menjelaskan kekeliruan Aqidah Asy’ariyah. Akhirnya menjadi berbalik justru membuka kekeliruan fahaman Mujassimah mereka sendiri.

Insya Allah, karena kalau ditulis dalam satu artikel akan cukup panjang maka kami akan jawab satu per satu sehingga menjadi beberapa artikel.

Mereka tidak faham perkataan “Allah ada dimana-mana”, (lihat juga Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah)

Dalam video ini menit ke 2:50 (lihat Video di atas) Ustad berfahaman Mujassimah menceritakan sedang berdialog dengan seorang Ahlussunah wal Jamaah Asy’ariyah.

Ustad Mujassimah bertanya : Jadi menurut bapak, Allah itu ada dimana?

Pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah : “Allah ada di mana-mana”

Ustad Mujassimah: Jadi di comberan ada? Diam dia

Pengikut  Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyyah: “Iya nggak, (Allah) di tempat bersih.”

Ustad Mujassimah: Lho katanya ada dimana-mana?

Para pendengar tertawa. Mereka merasa lebih pandai, tapi sebenarnya secara tidak sadar justru menunjukkan kekeliruan pemahaman mereka sendiri. Dari dialog tersebut justru menjelaskan hakikat fahaman Mujassimah Ustad tersebut. Mengapa?

Pada awalnya orang Asy’ariyah tidak terfikir bahwa pertanyaan “Allah ada dimana” adalah mempertanyalan Dzat ada Allah dimana“, karena menurut keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah, Dzat Allah bukan jism.  Mustahil Allah berjism, hanya makhluk yang berjism.
Padahak pertanyaan “Allah ada dimana” yang dimaksud Ustad berfaham Mujassimah, adalah pertanyaan dengan makna zahir yaitu  mempertanyakan “posisi” Dzat Allah di dimensi ruang. Sesuatu yang menempati ruang pasti suatu jism/sosok/tubuh dan menyerupai makhluk. Inilah hakikat pemahaman Mujassimah. Pada fikirannya telah tertanam keyakinan bahwa Allah itu berjism. Berjism tentu memerlukan ruang atau tempat. Walaupun kemudian mereka katakan sifat jism Allah itu berbeda dengan sifat Jism makhluk dengan maksud untuk mengelak disebut berfaham Mujassimah. Namun pemahaman ini tetap melawan fitrah akal manusia,

Pemahaman Mujassimah itu bertambah jelas ketika Ustad itu bertanya: Kalau Allah ada dimana-mana,  jadi Allah ada di comberan?

Perhatikan, Ustad itu bermaksud membodohi dan menjebak orang Asy’ariyah agar bingung dengan kekeliruan fahaman Mujassimah yang mereka ungkapkan dalam pertanyaan itu.
Jelas maksud dari pertanyaan itu sebenarnya adalah:  Jadi “Jism” Allah ada di comberan?

Orang Asy’ariyah itu sekarang faham bahwa Ustad itu berfaham Mujassimah, yang  bertanya dengan makna zahirnya maka dia kemudian menjawab Allah tidak ada di mana mana. Maksudnya sebenarnya adalah (Dzat) Allah tidak menempati mana-mana tempat, karena Allah bukanlah Jism seperti pemahaman mereka.

Begitulah perbedaan antara fahaman Mujassimah dan fahaman Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah.

Pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah tidak pernah meyakini Allah itu berjism seperti pemahaman kaum Mujassimah. Mustahil Allah berjism. Dalam  Ilmu Tauhid Ahlussunnah wal Jamaah tentang SIfat Salbiah dijelaskan bahwa Dzat Allah bukan makhluk dan tidak serupa sama sekali dengan makhluk. Dzat Allah bukan jism yang menempati ruang dan terikat waktu. Dzat Allah ada tanpa tempat dan tidak terikat waktu. Sedang fahaman Mujassimah adalah meyakini Allah itu berjism dan menempati ruang, maka timbullah pertanyaan “Allah di mana?” dengan makna zahir dalam ajaran Aqidah mereka.

Perlu kami jelaskan bahwa pernyataan Allah ada di mana-mana, adalah bukan makna zahir Dzat Allah ada di mana-mana. Maksudnya adalah Sifat Allah ada di mana-mana. Sifat Allah dimaksud adalah Sifat Maknawiyah Allah bukan Sifat “Jism” seperti difahami kaum Mujassimah. Sifat Maknawiyah Allah tanda-tandanya dapat dilihat pada makhluk Allah. Dan makhluk Allah itu ada di mana-mana. Tidak ada suatu ruang dan tempat, kecuali itu adalah makhluk Allah di situ.

Jadi pertanyaan “Allah ada di comberan?”,  kalau kita fahami secara maknawiyah, sebenarnya bisa juga dijawab dengan  “iya benar (tanda-tanda Kekuasaan) Allah ada juga di comberan tidak hanya di tempat bersih.

Allah berfirman dalam Qur´an surat Ali Imran ayat 190-191:
Surat Ali Imran Ayat 190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Surat Ali Imran Ayat 191

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

 

Comberan itu ada di bumi, maka tentulah disitu ada tanda-tanda Kekuasaan Allah. Comberan yang kotor yang banyak penyakitpun adalah tanda-tanda Kekuasaan Allah, Bahkan diceritakan bahwa air sungai Nil berubah menjadi darah termasuk Mu’jizat Nabi Musa alaihi salam. Mu’jizat adalah tanda Sifat Maha Kuasa Allah yang dinampakkan pada makhlukNya untuk membuktikan kenabian.

Kalau kaum Mujassimah meyakini Allah tidak ada ditempat kotor dengan makna zahir, maka sesungguhnya Allah juga tidak ada ditempat bersih dengan makna zahirnya, sebab Allah bukan jism yang menempati tempat. Mengapa?
Kalau mereka yakin Allah tidak ada di tempat kotor dan hanya ada di tempat bersih dengan makna zahir, maka menjadikan bentuk “jism” seperti itu adalah seperti keju yang berlubang-lubang, dimana keju adalah tempat bersih dan yang lubang itu adalah tempat kotor. Na’udzu billah min dzalik. Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan seperti itu.

Pemahaman Mujassimah ini berbahaya. Ketika mereka membaca Ayat Mutasyabihat QS Thaha ayat 5, “Arrahmanu ‘alal ‘Arsy istawa”, “(Allah) Yang Maha Pengasih beristawa di atas Arasy.” Merekapun langsung memahami “Jism” Allah memang benar-benar bersemayam di atas Arasy sebagaimana makna zahirnya, walaupun kemudian mereka katakan tidak serupa dengan jism makhluk.
Namun tetap melawan fitrah akal manusia, sehingga seorang Ustad bergelar Doktor dari sebuah Universitas di Timur Tengah, tidak dapat menjawab pertanyaan apakah Arasy itu makhluk atau bukan (video ini atau video ini pada menit ke 3:15).. Padahal kita waktu kecil sudah belajar bahwa yang selain Allah adalah makhluk, termasuk Arasy adalah makhluk.
Karena mereka memahami Allah perlu tempat, sedang tempat itu terikat dengan waktu, maka itulah yang menyebabkan Ustad bergelar Doktor itu bingung ketika ditanya Arasy itu makhluk atau bukan.
Kalau dia sebut Arasy itu makhluk, maka Arasy terikat waktu, yaitu pernah tidak ada. Kalau tidak ada Arasy, maka “Jism” Allah yang mereka yakini itu bersemayam dimana?
Sebaliknya kalau disebut bukan makhluk, jadi Arasy itu apa?
Na’udzu billah min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari keyakinan yang demikian.

Bertambahlah kita yakin akan suruhan Allah agar kita berdoa minta perlindungan kepada Allah dari hati yang cenderung pada kesesatan karena mengikuti makna zahir ayat Mutasyabihat, setelah diberi hidayah Islam. Doa ini disebut dalam QS Ali Imran ayat 8. (lihat Bagaimana Ahlussunah wal Jamaah memahami ayat-ayat Mutasyabihat)

Surat Ali Imran Ayat 8
(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

 

Jadi jelas bahwa pemahaman Mujassimah ini berbahaya dan melawan fitrah akal. Tujuan mereka untuk menjatuhkan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah yang haq dihadapan manusia, namun niat mereka itu justru berbalik kepada mereka, yaitu membongkar kekeliruan fahaman Mujassimah mereka sendiri.

Wallahu a’lam

Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua.

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

 

 

Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat (2)

Sejak tulisan kami Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat (bagian 1) diterbitkan, sampai hari ini tulisan itu masih cukup sering dikunjungi. Data statistik yang ada bukan mesti menunjukkan banyaknya jumlah orang yang membaca, sebab mungkin saja memang dibaca seluruhnya, hanya sebagian saja atau tidak dibaca sama sekali.

Dari sebagian orang yang membaca, kami memperoleh komentar tentang tulisan itu, ada yang ditulis langsung pada kolom komentar di bawah tulisan itu, ada juga ditulis di kolom komentar di YouTube.

Dari komentar yang kami baca, kami dapat melihat bahwa sebagian besar pembaca mengatakan memang fakta bahwa Ustad Adi Hidayat telah melompati bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah.
Hanya sebagian kecil tidak percaya bahkan menuduh bahwa bagian penting yang kami sampaikan itu tidak ada dalam Kitab tersebut, Ada yang ingin minta bukti dengan Kitab aslinya yang berbahasa Arab. Walaupun golongan ini adalah sebagian kecil dari komentar, namun kami rasa perlu juga menanggapinya, karena komentar yang sedikit itu mungkin mewakili orang banyak yang tidak percaya, tetapi tidak mengungkapkan isi hatinya.

Setelah beberapa waktu berusaha mencari Kitab asli yang berbahasa Arab seperti yang dibaca oleh Ustad Adi Hidayat, akhirnya Allah izinkan kami mendapatkan Kitab itu dari sebuah toko buku. Alhamdulillah.

Dalam tulisan lanjutan ini kami ingin sampaikan hasil scan Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah yang berbahasa Arab, untuk melengkapi tulisan kami yang pertama.

Dari komentar pembaca yang percaya bahwa memang bagian penting itu dilompati. Kami dapat membagi menjadi 3 golongan besar ditinjau dari sikap mereka terhadap tulisan kami yaitu:

  1. Golongan yang menganggap bahwa Ustad Adi Hidayat sengaja melompati bab penting itu dan membenarkan beliau melompatinya. Golongan ini menganggap antara Ustad Adi Hidayat dan kami adalah dua pihak yang saling berlawanan. Mereka mendukung Ustad Adi Hidayat dan “memusuhi” kami. Diantara mereka ada yang berusaha menjatuhkan atau menjelek-jelekan tulisan kami ini,
  2. Golongan yang menganggap bahwa Ustad Adi Hidayat sengaja melompati bab penting itu dan menyalahkan sikap beliau telah melompatinya. Seperti point 1 di atas, Golongan ini menganggap antara Ustad Adi Hidayat dan kami adalah dua pihak yang saling berlawanan. Golongan ini sangat mendukung kami dan “memusuhi” Ustad Adi Hidayat. Mungkin diantara mereka ada yang men-share tulisan ini, yang menyebabkan tulisan ini sejak diterbitkan menjadi salah satu “best seller” dari seluruh tulisan kami.
  3. Golongan yang menganggap bahwa Ustad Adi Hidayat tidak sengaja melompati bab penting itu, karena alasan waktu yang terbatas. Golongan ini juga sangat mendukung tulisan kami, tetapi menganggap antara Ustad Adi Hidayat dan kami adalah dua pihak yang saling bantu dan melengkapi, sebagai orang Islam yang bersaudara yang saling tolong menolong dalam kebenaran. Golongan ini bersangka baik bahwa suatu saat nanti jika waktu lapang, Ustad Adi Hidayat pasti akan menyampaikan bagian penting yang telah dilompati itu, insya Allah.

Silakan masing-masing kita mengukur atau muhasabah diri, termasuk golongan manakah diri kita dari 3 golongan yang disebut di atas?

Seperti yang disampaikan oleh Ustad Adi Hidayat, Kitab itu adalah kumpulan Kitab tulisan KH Hasyim Asy’ari yang terdiri dari 19 Kitab.

Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jamaah atau judul lengkapnya Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah fi Haditisil Mauta wa Asyrothis Saa’ah wa Bayani Mafhumis Sunnah wal Bid’ah adalah Kitab kedua dari kumpulan 19 Kitab itu.

Mohon maaf bahwa hasil scan kami ada bagian yang agak gelap, sebab bukunya cukup tebal, sehingga sangat sulit untuk menekan seluruh halaman agar rata pada mesin scan, yang mangakibatkan sisi halaman yang dijilid (bagian dalamnya) agak terlihat gelap.

Cover Kitab bagian depan

Cover Kitab bagian belakang

Keterangan judul dan penerbit

Halaman 9 (sesuai dengan halaman yang disebut Ustad Adi Hidayat).

Dengan tambahan garis yang menandai text yang dilompati (lihat bagian 1).

Garis biru: penjelasan Ahlussunnah wal Jama’ah yang dimaksud, yang dianut oleh orang Jawa (Indonesia).

Garis merah: penjelasan aliran yang menyimpang (ajaran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi )

risalah-aswaja-arab-9_tandaygdilompati

Halaman 10

Dengan tambahan garis yang menandai text yang dilompati (lihat bagian 1).

Hampir dilompati seluruhnya kecuali paragraf terakhir (yang ketiga seperti disebut oleh Ustad Adi Hidayat)

Garis merah: penjelasan aliran yang menyimpang (ajaran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi)

risalah-aswaja-arab-10_tandaygdilompati

Halaman 11

Perlu kami tambahkan disini bahwa dalam File PDF terjemah pada tulisan Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat yang  pertama (Terjemah Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah KH Hasyim Asy’ari)  perlu ada koreksi sedikit dalam bab yang dilompati yaitu pada keterangan apa itu pegangan Ahlussunnah wal Jamaah yang dianut oleh masyarakat Jawa (Indonesia). Koreksi itu adalah

…. dalam Tasawwuf ikut Imam Ghazali dan Imam Hasan As Syadzili.

Namun ini tidak mengubah esensi pegangan Ahlussunnah wal Jamaah, sebab memang Imam Junaid Al Baghdadi dan Imam Hasan As Syadzili adalah Ulama Tasawwuf yang menjadi rujukan dan panutan umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di Indonesia bahkan seluruh dunia.

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Apa maksud “janganlah kalian berpikir tentang Dzat Allah, tapi pikirkanlah ciptaan-Nya”?

Larangan berpikir tentang Dzat Allah dan sebagai gantinya kita disuruh memikirkan ciptaan-Nya sudah sering kita dengar. Namun akhir-akhir ini ada ajaran Aqidah yang dikenal dengan Tauhid 3 serangkai (Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Sifat) yang justru secara tidak sadar telah membahas Dzat Allah itu dengan panjang lebar yang disebarkan melalui channel Youtube. Bukti nyata cara pengajaran Aqidah yang menyimpang itu adalah mengakibatkan seorang Ustad bergelar Doktor yang menyampaikan ajaran Aqidah ini justru menjadi lupa dan tidak tahu lagi salah satu pokok Aqidah Islam bahwa yang selain Allah Yang Maha Pencipta adalah pasti makhluk (yang diciptakan), termasuk juga Arasy (lihat  video ini dan video ini di menit ke 3:15 ;sayang video ini (di menit ke 3:15) sudah dihapus oleh adminnya).

Ini menunjukkan ajaran Aqidah ini melawan fitrah akal manusia, karena secara tidak sadar telah membahas Dzat Allah yang jelas dilarang oleh Allah. Mengapa ajaran Aqidah ini secara tidak sadar telah membahas Dzat Allah? mari kita uraikan bersama-sama.

Kalau kita diminta menceritakan tentang sifat-sifat seseorang, kita dapat membagi pembahasan menjadi 2 bagian besar yaitu:

  1. Sifat jismnya (lahiriah/fisiknya), yaitu sifat yang berkaitan dengan dzatnya yang berjisim (bertubuh), karena manusia adalah makhluk dan makhluk selalunya mempunyai jisim (jasad). Misalnya orang itu tinggal di kota A, umurnya sekian tahun, tingginya sekian cm, beratnya sekian kg, warna kulitnya sawo matang, hidungnya mancung, matanya agak besar, tubuhnya kuat, dan sebagainya. Perlu ditambahkan disini bahwa makhluk ghaib seperti malaikat juga berjisim (bertubuh/bersosok), tetapi jisim (jasad) di alam ghaib.
  2. Sifat bathinnya, yaitu sifat yang berkaitan dengan jiwa atau fikirannya, misalnya orang itu pemurah, cerdas, suka membantu, sabar, rendah hati dan sebagainya.

Begitulah sifat yang ada pada makhluk. Kita dapat membahas sifat jism dzatnya (lahiriah) dan sifat bathinnya. Dengan menceritakan sifat-sifat lahir dan bathin seseorang kita akan mengenalnya lebih dekat. Kalau orang itu adalah orang yang dimuliakan Allah seperti Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, kita akan bertambah kenal dan cinta kepadanya. Itu sebabnya mengenal fisik dan bathin Rasulullah shallallahu alaihi wassalam termasuk disuruh dalam agama Islam agar kita lebih mengenal dan lebih mencintai beliau shallallahu alaihi wassalam.

Awaluddin ma’rifatullah, permulaan (ajaran) agama adalah mengenal Allah. Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sudah memberikan panduan berdasarkan dalil aqli (akal) selain dalil naqli (Quran dan Hadits) agar kita dapat mengenal Allah, Dzat yang kita sembah sebagai tujuan kita diciptakan.

Dalam Aqidah Ahlusunnah wal Jamaah, pengenalan kita tentang Allah dimulai dengan mempelajari Sifat Wajib Allah yang 20. Namun dalam ilmu Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah pembagian Sifat Allah bukan terdiri dari Sifat Jism (lahiriah) dan Sifat bathiniah, sebab Allah bukan makhluk yang terdiri dari jism (jasad/ tubuh/ sosok) dan bathin. Kita dikenalkan dengan Sifat Allah yang terdiri dari Sifat Nafsiyah, Sifat SalbiyahSifat Ma’ani dan Sifat Ma’nawiyah. Ini dilakukan agar kita umat Islam meyakini bahwa wujud Dzat Allah itu bukanlah berjism/ berjasad/ bersosok, sehingga kita terhindar dari memikirkan dan membahas Dzat Allah. Selain akal kita tidak akan mampu, juga hal ini melawan fitrah akal kita.

Kita disuruh mengenali Allah dengan memikirkan dan membahas Sifat Allah yang dapat kita lihat pada makhlukNya, sebagaimana firman Allah QS Ali Imran ayat 190-191:

Surat Ali Imran Ayat 190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Surat Ali Imran Ayat 191

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Ajaran Tauhid 3 Serangkai membahas Tauhid Asma Wa Sifat dengan makna zahir. Mereka katakan mereka tidak membahas Dzat Allah tetapi membahas Sifat Allah. Namun karena mereka memahaminya dengan makna asli yang zahir dari Sifat Allah itu dan makna zahir Sifat Allah itu berkaitan dengan Sifat Jism maka hakikatnya mereka membahas Dzat Allah secara tidak sadar. Padahal Allah bukanlah Dzat yang berjism (berjasad/ bersosok/ bertubuh). Itu sebabnya mereka disebut golongan Mujassimah, yaitu golongan yang meyakini Allah punya Jism (jasad/sosok/bertubuh), walaupun kemudian mereka nafikan bahwa Sifat (jism) Allah itu berbeda dengan jism makhluk.

Dalam pembahasan Tauhid Asma wa Sifat, mereka sebutkan Allah punya jism (tubuh/ jasad/ sosok) dengan anggota badan seperti Tangan, Wajah dan Kaki secara makna zahirnya (lihat video ini) , kemudian mereka katakan bahwa Tangan, Wajah dan Kaki Allah berbeda dengan tangan, wajah dan kaki makhluk. Mereka katakan Allah berada di atas dan bersemayam di atas Arasy, kemudian mereka katakan Allah “berada di atas” dan “bersemayam” di atas Arasy, berbeda dengan “berada di atas” dan bersemayamnya makhluk. Namun secara tidak sadar mereka telah membahas Sifat jisim (tubuh/ jasad/ sosok) dari Dzat Allah. Kalau membahas Dzat Allah tentu mereka berpikir tentang Dzat Allah itu, walaupun kemudian mereka berkata, jangan pikirkan bagaimana Tangan, Wajah, Kaki, bagaimana “bersemayam” dan bagaimana “berada di atas” bagi Allah.

Sebagai bukti bahwa mereka sudah memikirkan Dzat Allah tanpa sadar, dan melawan fitrah mereka adalah menjadikan Ustad penganutnya secara tidak sadar menjadi tidak tahu lagi bahwa Arasy adalah makhluk, seperti yang telah kami sampaikan di atas (lihat  video ini atau video ini di menit ke 3:15). Sedang sudah kita pelajari dari kecil bahwa yang selain Allah itu pasti makhluk. Ucapan Ustad bergelar doktor itu adalah keluar dari hatinya tanpa sadar. Jadi apa yang dibayangkannya tentang Arasy jika beliau berkata demikian? Na’udzu billahi min dzalik.

Mereka berhujah, Allah sendiri yang berkata bahwa Allah bersemayam di atas Arasy, seperti Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Disini kelihatan bahwa mereka tidak dapat membedakan Sifat Jism dan Sifat Ma’nawiyah. Mereka mengira makna Mendengar dan Melihat adalah sama dengan makna zahir istawa (bersemayam). Mendengar dan Melihat adalah Sifat Ma’nawiyah yang tidak mesti dikaitkan dengan jism (jasad), sedang bersemayam secara makna zahir adalah erat sekali dengan makna jisim/sosok/jasad.

Untuk lebih memahami apa beda Sifat Ma’nawiyah dan Sifat Jism, mari kita bahas sebagai berikut. Sifat Ma’nawiyah dapat difahami tanpa terikat dengan jisim. Sifat Ma’nawiyah Allah adalah bersifat Qidam (tidak ada permulaan) dan Baqa (tidak ada akhir) yang menegaskan tidak terikat dengan waktu (lihat Sifat Salbiyah). Allah Melihat dan Mendengar seluruh makhluk tanpa tergantung oleh waktu. Allah Melihat dan Mendengar seluruh makhluk baik ketika makhluk itu belum diciptakan, ketika makhluk itu ada, maupun setelah makhluk itu ditiadakan kembali atau dibiarkan kekal (seperti syurga dan neraka).

Berbeda dengan Sifat Jism bersemayam di atas Arasy, Bersemayam dengan makna zahir hanya dapat dilakukan setelah Arasy diciptakan, sebelum diciptakan tidak mungkin dapat bersemayam. Namun jika Sifat Istawa difahami dengan Sifat Ma’nawiyah seperti Maha Kuasa, berdasarkan QS At-Taubah:129 di akhir ayatnya “Dan Dia (Allah) adalah Robbul (Tuhan yang Menguasai) Arsy yang agung”, maka Sifat Maha Kuasa Allah terhadap Arasy dapat difahami akal, baik ketika Arasy itu belum ada maupun setelah Arasy diciptakan (lihat Bagaimana Ahlussunnah wal Jam’ah memahami ayat-ayat Mutasyabihat). Allah Maha Kuasa atas semua makhlukNya, baik sebelum diciptakan, setelah diciptakan, maupun setelah kembali ditiadakan.

Itu sebabnya sekali lagi kami sampaikan mengapa orang yang membahas Sifat Allah bersemayam di atas Arasy dengan makna zahir melawan fitrah akal, sehingga menjadikannya tidak tahu lagi bahwa Arasy adalah makhluk Allah. Sedang ketika di awal kita belajar Aqidah, kita diberitahu bahwa yang selain Allah Yang Maha Pencipta (Al Khaliq) adalah pasti makhluk, keyakinan ini tidak boleh meleset. Kalau ada orang yang sampai tidak tahu bahwa Arasy yang selain Allah itu makhluk (diciptakan), maka bahayanya orang itu mungkin menjadi ragu karena membayangkan bahwa Arasy itu termasuk makhluk atau bagian dari Dzat Allah. Na’udzubillah min dzalik.

Wallahu a´lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah.

Akhir-akhir ini kami banyak temukan Video youtube mengajarkan Aqidah Islam dengan judul “Di mana Allah”. Cara mengajarkan Aqidah Islam dengan thema “Di mana Allah” adalah ciri ajaran Aqidah yang membagi Tauhid menjadi 3. Itu adalah “thema andalan” mereka yang konon untuk membuktikan kebenaran ajaran Aqidah mereka,

Kelihatannya dengan banyaknya channel youtube, TV, Radio dan media lainnya, dakwah mereka ini menguntungkan mereka. Namun ketahuilah sebenarnya justru akan terjadi sebaliknya, karena mereka secara tidak sadar telah membuka kekeliruan keyakinan mereka yang cenderung kepada Mujassimah seperti apa adanya. Mujassimah adalah meyakini Dzat Allah berjism yaitu seperti benda fisik yang berbentuk dan bervolume yang menempati ruang atau tempat, na’udzubillahi min dzalik.

Itu sebabnya mereka selalu mengkaitkan setiap dalil naqli yang mutasyabihat yang dapat diartikan dengan jism (tubuh/sosok) – secara tidak sadar – mereka fahami dengan makna zahir “sifat Jism” Dzat Allah, baik “sifat Jism” yang terdiri dari beberapa “bagian Jism” maupun “sifat Jism” yang dapat berada dalam ruang/tempat. Seperti mereka katakan Allah punya tangan, Allah punya kaki, Allah punya Wajah. Walaupun mereka katakan tangan, kaki dan wajah Allah tidak serupa dengan yang punya makhluk. Hakikatnya kalimat itu sama dengan kalimat bahwa “sifat Jism Allah” berbeda dengan sifat jism makhluk. Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan yang demikian.

Mereka juga sering memojokkan ajaran Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah Asy’ariyah Maturidiyyah yang sudah lama dianut di Indonesia sejak Islam pertama kali datang ke Indonesia.
Padahal inilah Ahlussunnah Wal Jamaah yang sebenarnya yang meyakini Allah secara dalil Aqli (akal) selain dali Naqli (yang dinukil dari Kitabullah dan Sunnah). Inilah keyakinan yang sesuai fitrah kita, yang membersihkan keyakinan kita dari menyerupakan Allah dengan makhluk, menjauhkan kita dari fahaman ekstrim Jabariyah dan Qadariyah, Mujassimah dan Jahmiyah. Kalau kita faham Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah ini akan terasa keindahan ilmu Tauhid. Sangat rugi bagi mereka yang tidak mempelajari ini atau apalagi menjelekan golongan Ahlussunnah Wal Jamaah Asy’ariyah, seperti yang mereka sebarkan. Mungkin itu sebabnya mereka tidak dapat memahami ilmu Aqidah Ahlusunnah Wal Jamaah karena “durhaka” kepada Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan ulama-ulama Asy’ariyah. Mereka menolak Ilmu Mantiq (Logika) untuk memahami Aqidah. Itu sebabnya mereka juga menolak Ilmu Tauhid Sifat Wajib Allah yang 20.

Penjelasan makna “Allah ada dimana-mana” dan “Allah ada tanpa tempat”

Allah ada dimana-mana

Ungkapan “Allah ada di mana-mana” sebenarnya berasal dari pemahaman dari satu kalimat dalam terjemah QS Al Hadid:4 “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”

Surat Al Hadid Ayat 4
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

 

Contoh “kedurhakaan” mereka adalah memahami kata-kata Ulama Asy’ariyah “Allah ada di mana-mana” yang dipelintir, kemudian meremehkan dan bahkan mentertawakannya karena sebenarnya mereka tidak faham (lihat video ini menit ke 2:50). Ini adalah “kalimat mutasyabihat” samar artinya sebagaimana terjemah kalimat “Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” pada QS Al Hadid:4 di atas. Karena mereka berfahaman Mujassimah, yang mereka fahami adalah “Dzat Allah ada di mana-mana” sebagaimana mereka memahami Dzat Allah ada di atas Arasy (lihat ini). Bagi Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah kalimat “Allah ada dimana-mana” maksudnya bukan Dzat Allah yang ada di mana-mana, melainkan Sifat Allah ada dimana-mana. Maksudnya kita dapat mengenali ayat (tanda-tanda) Sifat Maha Besar Allah melalui makhlukNya (ciptaamNya) yang ada dimana-mana bagi orang yang berakal.

Allah berfirman dalam Qur´an surat Ali Imran ayat 190-191:
Surat Ali Imran Ayat 190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Surat Ali Imran Ayat 191

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

 

Bahkan tanda-tanda (Sifat Kekuasaan) Allah itu ada dalam diri kita, sebagaimana firman Allah dalam QS Adz-Dzariyaat: 20-21

Surat Adz-Dzariyat ayat 20
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.
Surat Adz-Dzariyat ayat 21
dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

 

Sifat yang dimaksud adalah Sifat MaknawiyahNya bukan Sifat Jism, seperti yang difahami oleh kaum Mujassimah. Perhatikan beberapa contoh ayat Muhkamat di bawah ini yang menunjukkan bahwa Sifat Allah dapat kita rasakan ada dimana-mana.

QS Al Hajj:70

Surat Al Hajj ayat 70
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.

 

Dalam QS Al Hajj:70 jelas disebutkan bahwa Allah Maha Mengetahui apa saja yang ada di langit dan bumi: Maka jelas disini bahwa Sifat Maha Mengetahui Allah ada di mana pun di langit dan di bumi. Tiada tempat dan ruang dimanapun kecuali Allah Mengetahuinya.

QS Maryam:65

Surat Maryam Ayat 65

Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?

Dalam QS Maryam:65 jelas disebutkan bahwa Allah adalah Robb (Tuhan Yang Maha Memelihara, Maha Berkuasa, Maha Pencipta, Maha Memiliki) bagi langit dan bumi dan diantara keduanya, tentu maksudnya Sifat Allah Maha Memelihara, Maha Berkuasa, Maha Pencipta, Maha Memiliki ada di mana pun di langit dan di bumi. Tidak ada tempat dan ruang dimanapun yang Allah tidak Memelihara, Berkuasa, Mencipta, Memilikinya.

Dan banyak lagi ayat yang menunjukkan Sifat Allah yang lain yang dapat kita lihat pada makhlukNya dan kita rasakan ada dimana-mana, seperti Sifat Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengawasi, maha Mencipta dan sebagainya. Sebagai orang beriman dapat merasakan bahwa Sifat Allah itu ada di mana-mana atau dimanapun kita berada. Tidak ada satu ruang dan tempat kecuali Allah Melihat, Mendengar, Mengawasi dan Allah yang Menciptakannya.

Demikian juga tentang maksud Dia (Allah) bersemayam di atas Arasy, bukanlah Dzat Allah yang bersemayam di atas Arasy, sebagaimana yang diyakini oleh kaum Mujassimah. melainkan Sifat Maknawiyah Allah yang mengatasi Arasy. Kalau memaknainya sebagai Dzat Allah hakikatnya sama dengan memahaminya sebagai Sifat Jism Allah, sedang Allah bukanlah Jism seperti makhluk. Kita berlindung kepada Allah dari fitnah kaum Mujassimah.

Ada 2 cara Ulama Ahlussunah wal Jamaah dalam memahami Ayat Mutasyabihat, yaitu

1. Melakukan Tafwid yaitu menyerahkan sepenuhnya kepada Allah apa maknanya sebab hanya Allah yang Maha Mengetahui apa maksud sebenarnya.

2. Melakukan Takwil yaitu mengalihkannya dengan membahasnya ayat Muhkamat yang berkaitan dengan ayat Mutasyabihat itu, sebagai contoh:

QS At Taubah:129
9:129Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Robb (Tuhan yang Memelihara /Memiliki) ‘Arsy yang agung

 

Dalam surat At Taubah:129 jelas disebut bahwa Allah adalah Robb (Tuhan Yang Maha Memelihara, Maha Menguasai, Maha Memiliki) ‘Arsy yang agung, Maksudnya Sifat Allah Maha Memelihara, Maha Menguasai, Maha Memiliki ada mengatasi Arsy. Inilah diantara maksud “Dia (Allah) bersemayam di atas Arasy”. (Lihat juga bagaimana Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah menjelaskan ayat-ayat Mutasyabihat ini).

Allah ada tanpa tempat

Sedang maksud “Allah ada tanpa tempat” adalah “Dzat Allah” itu Wujud tanpa memerlukan tempat, karena memang Dzat Allah bukanlah Jism seperti makhluk. Wujud Dzat Allah itu tidak berawal dan tidak ada akhirnya, Allah tidak terikat waktu. Wujud Allah tidak serupa sama sekali dengan makhlukNya. Wujud Dzat Allah itu Esa dan ditegaskan lagi dapat berdiri sendiri tanpa tergantung pada makhlukNya. Waktu dan tempat adalah termasuk makhluk Allah. Oleh sebab itu Allah tidak tergantung dan tidak terikat pada waktu dan tempat. (Lihat Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 1: Sifat Nafsiyah dan Sifat Salbiyah) )

Kita melihat betapa kokoh kaidah/metode yang diajarkan oleh Ulama Tauhid Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi dalam memahami Aqidah. Metode ini mudah difahami dan sesuai fitrah akal kita.

Aqidah Tauhid dibagi 3 adalah rapuh dan tidak punya kaidah/metode yang pasti

Aqidah mereka itu sebenarnya sangat rapuh dan tidak punya kaidah atau metode yang pasti. Kaidah mereka kadang mereka langgar sendiri tanpa mereka sadar, ini menunjukkan Ulama mereka sebenarnya tidak mengikut Ulama salaf. Jauh sekali dari kealiman dan kecerdasan Ulama salaf yang sebenarnya.

Sebagai contoh, kaidah Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif (mengubah arti), tanpa ta’thil (menolak/menghilangkan arti) dan tanpa takyif (menanyakan bagaimana) (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul). (lihat muslim.or.id/6615-makna-tauhid).

Kemudian mereka menyebut definisi Tauhid Rububiyah dalam Tauhid 3 serangkai menyebutkan:
Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Dengan definisi Ini dengan mudahnya mereka membuat kesimpulan: Dan perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang,

(Lihat tulisan yang diberi tanda merah dalam muslim.or.id/6615-makna-tauhid di bawah ini dan lihat juga menit ke 7 video ini).

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

Disini saja mereka sudah lupa atau tanpa sadar telah menta’thil (menolak) sebahagian Sifat Rububiyah bahwa hanya Allah yang dapat menghidupkan manusia setelah matinya di akhirat nanti. sebagaimana firman Allah dalam QS Al Muthaffiffin: 4-6

Surat Al-Muthaffifin Ayat 4
Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,
Surat Al-Muthaffifin Ayat 5
pada suatu hari yang besar,
Surat Al-Muthaffifin Ayat 6
(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

Banyak sekali ayat Qur’an yang menyebutkan bahwa orang kafir tidak mengakui Sifat Rububiyah Allah yang akan menghidupkan mereka lagi setelah mereka mati di dunia. Diantaranya QS Al-Isra: 49

17:49
Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?”

Jadi keyakinan mereka yang mengatakan orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah jelas melanggar aturan Tauhid Asma wa Sifat dan melanggar Al Qur’an. Begitulah rapuhnya kaidah dan methode pemahaman mereka.

Kembali pada thema “Allah dimana”. Mereka mengatakan Allah berada di atas, atau Allah bersemayam di atas Arasy. Mereka benar-benar meyakini bahwa Dzat Allah itu berada di atas atau besemayam di atas Arasy. Untuk dalil Quran dan Hadits yang mengatakan Allah di atas dan bersemayam di Arasy mereka pegang teguh makna zahirnya.

Tapi untuk ayat tertentu mereka tidak yakini makna zahirnya, seperti dalam QS Al Fajr:14

Surat Al-Fajr Ayat 14

sesungguhnya Tuhanmu benar-benar dalam al-mirshod

 

Makna al-mirshod itu adalah tempat/menara pengawas tertentu. Mereka tidak lagi memahami makna zahir, bahwa Allah ada dalam tempat/menara pengawas. Kebanyakan terjemah Al Quran sudah ditakwil dengan “sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi”, karena ulama ingin memudahkan umat Islam memahami.

QS Ash-Shaffat:99

Surat Ash Shaffat Ayat 99

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.

 

Ketika itu Nabi Ibrahim akan pergi ke Palestina. Beliau berkata pergi menuju Tuhannya. Tetapi mereka tidak lagi memahami Allah ada di Palestina. Ulama memterjemahkan Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku” untuk memudahkan kita faham. Ini membuktikan secara fitrah kalau disebut Allah maka kita langsung memahami bahwa itu adalah Sifat Maknawiyah bukan Sifat Jism yang zahir.

Keyakinan Mujassimah jelas bertentangan dengan fitrah. Mereka akan menjadi bingung sendiri. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, sudah memperingatkan agar jangan membahas tentang Dzat Allah, tapi bicaralah tentang Asma dan Sifat Allah. Sifat Allah yang dimaksud disini adalah Sifat yang maknawiyah, bukan Sifat jism yang zahir. Kalau membahas Sifat Jism yang zahir maka sama dengan membahas Dzat Allah, Akal dan hati tambah tidak faham dan akan bingung. Sedang membahas Sifat maknawiyah, akal dan hati akan tentram dan faham, karena sesuai fitrah manusia.

Ustad yang menjadi tidak tahu bahwa Arasy adalah makhluk, karena membahas Allah di atas Arasy dengan makna zahir

Bagaimana membicarakan Sifat Jism yang zahir dapat membuat akal jadi bingung dan melawan fitrah akal manusia? Silakan anda saksikan video ini atau video ini pada menit ke 3:15). Seorang Ustad bergelar Doktor dari sebuah Universitas di Timur Tengah, tidak dapat menjawab apakah Arasy itu makhluk atau bukan. Sekian lama beliau belajar, bahkan di Timur Tengah, tempat para Ulama berlajar dan mengajar, tetapi pulang ke Indonesia menjadi lupa dan tidak tahu lagi hal pokok yang amat penting dalam Islam, bahwa yang selain Allah adalah pasti makhluk. Na’udzubillahi min dzalik. Mohon sekiranya ada dikalangan orang dekatnya dapat memberitahukannya agar beliau menjadi yakin kembali bahwa memang Arasy itu makhluk Allah dan mengkoreksi pernyataannya dalam Youtube.

Kita yang belajar Islam Ahlusunnah wal Jama’ah di Indonesia tentu sudah belajar dari kecil ketika usia SD bahwa yang selain Allah pasti makhluk. Para guru-guru kita yang mulia sudah memperingatkan sejak dahulu tentang pentingnya hal ini. Keyakinan ini tidak boleh meleset sama sekali, sebab ini berkaitan dengan keimanan.

Jika seorang Ustad yang cerdas dan telah belajar hingga mencapai gelar Doktor pun karena mempelajari ajaran itu menjadi lupa dan tidak tahu lagi bahwa Arasy itu makhluk, salah satu ajaran pokok yang semestinya sudah diketahui sejak kecil, bagaimana orang awam yang mempelajarinya?

Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua.

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Mengapa Masyarakat Muslim Ahlussunnah wal Jama’ah menolak Ustad Khalid Basalamah

Baru-baru ini ada peristiwa penolakan terhadap Ustad Khalid Basalamah yang sedang memberikan ceramah di Sidoarjo oleh masyarakat Islam dari kalangan Ahlussnunnah wal Jama’ah. Mereka menuntut agar beliau diganti sebagai penceramah karena dianggap meresahkan masyarakat. Berita tentang peritiwa ini cukup tersebar di Indonesia. Ada pihak yang pro, ada yang kontra dan ada pula yang menyayangkan terjadinya peristiwa itu tanpa pro dan kontra terhadap Ustad Khalid Basalamah.

Mengapa Ustad Khalid Basalamah ditolak dan diusir? Mungkin ada diantara mereka yang hanya fanatik membela tanpa tahu apa sebab beliau ditolak. Ini dapat dilihat dari komentar mereka. Mereka sama sekali tidak membahas penyebab sebenarnya. Disini izinkan kami untuk menjelaskan mengapa beliau ditolak oleh masyarakat Islam Ahlussunah wal Jamaah, mudah-mudahan dapat menambahkab wawasan agama kita.

Sebenarnya KH Hasyim Asy’ari sudah mengingatkan kekeliruan Aqidah yang dianut oleh Ustad Khalid Basalamah dalam buku Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ustad Adi Hidayat telah menjelaskan sebagiannya, namun sayang justru tidak menjelaskan 2 bagian penting dari Kitab itu, yaitu

  1. Apa itu Ahlussunnah wal Jamaah yaitu
    a. Islam, ilmunya disebut ilmu Fiqih dengan mengikut satu dari 4 Imam Mazhab (dalam hal ini di Indonesia, mayoritas bermazhab Syafei)
    b. Iman, ilmunya disebut ilmu Tauhid/Aqidah yang merujuk kepada Imam Abul Hasan Al Asy’ari (dan Imam Abu Mansur Al Maturidi.
    c. Ihsan, ilmunya disebut Ilmu Tasawuf/Akhlak mengikuti Ulama Tasawuf seperti Imam Ghazali dan Imam Junaid Al Baghdadi
  2. Kekeliruan ajaran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab yang membagi Tauhid menjadi 3 (Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Sifat).

(Lihat Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat).

Berikut ini beberapa kekeliruan mendasar dengan bukti berupa Video Youtube, mudah-mudahan Video ini tidak dihapus setelah terbitnya tulisan ini, kecuali jika karena beliau sudah mengubah pendirianya yang kembali memegang pegangan Ahlussunnah wal Jama’ah yang dikenal oleh umat Islam pada umumnya yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah Maturidiyah

1.Pemahaman makna zahir Asma wa Sifat yang membawa faham mujassimah, (lihat Bahaya fahaman Mujassimah (1))

a. Meyakini Allah berada di atas langit atau di atas Arasy, Allah punya tangan, Allah punya kaki (menit ke 3:00 video di bawah) sebagaimana makna zahir Asma wa Sifat itu.

Ada pemahaman syubhat yang cukup berbahaya dalam video di atas:

(lihat juga penjelasan Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah.)

Pernyataan ini menunjukkan keyakinan Mujassimah, yaitu meyakini Allah berjisim (berjasad, bertubuh, mempunyai volume dan bentuk di alam zahir atau di alam ghaib), walaupun mereka katakan tidak serupa dengan makhluk. Keyakinan ini berbahaya sebab menyerupakan Allah dengan makhluk. Allah tidak menempati suatu tempat baik di alam zahir maupun alam ghaib. Alam zahir dan alam ghaib adalah makhluk yang pernah tidak ada. Sedang Allah adalah bersifat Qidam (sedia ada, tanpa didahului dengan tidak ada). Disini kita makin sadar Mengapa Ilmu Mantiq diperlukan untuk memahami Aqidah agar tidak keliru menggunakan akal. Ilmu Mantiq adalah ilmu alat untuk menggunakan akal dengan benar dalam memahami Aqidah, sebagaimana ilmu Tajwid yang mesti kita pelajari agar tepat dan tidak keliru dalam membaca Al Quran. Ayat Quran seperti itu adalah ayat Mutasyabihat yang samar artinya. Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah telah  menjelaskan bagaimana memahami ayat-ayat Mutasyabihat.

Syubhat mengatakan Allah mempunyai anggota badan seperti tangan, kaki dan wajah adalah sangat berbahaya, sebab menafikan Sifat Wahdaniyah (Maha Esa). Walaupun mereka katakan tangan, kaki dan wajah Allah tidak serupa dengan makhluk. Secara tidak sadar mereka berkeyakinan bahwa Dzat Allah terdiri dari bagian-bagian yang berbilang (lebih dari satu), sehingga tidak lagi Esa. Hal ini menjadi rancu karena meyakini Dzat Allah terdiri dari bagian-bagian tetapi Esa, Dzat Allah itu Esa tetapi terdiri dari bagian-bagian, sebagaimana golongan yang mengatakan Tuhan itu satu tapi tiga, tiga tapi satu. Na’udzubillahi min dzalik.

Perlu kita ketahui bahwa suatu dzat yang terdiri dari beberapa bagian adalah dzat yang berjisim/bertubuh. Itu sebabnya pentingnya kita memahami Sifat Wahdaniyah, Allah adalah Esa, tidak dapat dibagi, dan tidak terdiri dari bagian-bagian, agar kita meyakini bahwa Allah bukanlah berjisim seperti makhluk yang perlu tempat (yang zahir maupun yang ghaib). Lihat Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 1: Sifat Nafsiyah dan Sifat Salbiyah).

Untuk ayat Mutasyabihat mereka gigih memegang teguh makna asli Asma wa Sifat, tetapi anehnya untuk Sifat Rububiyah dalam Tauhid Rububiyah mereka tidak lagi berpegang teguh pada makna asli dari Rububiyah yang akar katanya sama dengan Tarbiyah, Murobbi dan Robbayani (doa untuk orang tua). Robb berarti Tuhan yang Maha Memelihara.
Misalnya ketika membaca surat Lukman ayat 25

31:25

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

(Lihat menit ke 7 video ini, bukan Ustad Khalid Basalamah, tetapi yang sefaham dengan beliau dan tulisan dalam muslim.or.id tentang makna tauhid, yang diberi tanda merah dibawah ini)

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

Mereka langsung memahami orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah, seolah-olah mencipta langit dan bumi itu adalah keseluruhan Sifat Rububiyah, padahal

b. Tidak mengetahui apakah Arasy adalah makhluk  atau bukan adalah tanda tidak memahami bahwa selain Allah adalah makhluk (menit 3:15 video di bawah ini).

(Lihat juga penjelasan Apa maksud “janganlah kalian berpikir tentang Dzat Allah, tapi pikirkanlah ciptaan-Nya”? )

Padahal beliau menyebut disitu tentang sabda Nabi Shallallahu alaihi wassalam, bicaralah tentang Nama dan Sifat-Sifat Allah dan jangan bicara tentang Dzat Allah. Arasy bukanlah Dzat Allah, Arasy adalah selain Allah. Semua yang selain Allah adalah makhluk. Makhluk termasuk juga Arasy adalah diciptakan sedang Dzat Allah adalah Qidam (sedia ada tanpa didahului oleh tidak ada).
Kalau pernyataan ini berasal dari orang yang tidak dikenal sebagai Ustad, mungkin biasa saja karena tidak akan berdampak kepada masyarakat luas. Tetapi kalau pernyataan ini berasal dari seorang Ustad panutan maka amat berbahaya, karena akan diikuti oleh pengikutnya. Kalau seorang Ustad tidak tahu bahwa Arasy yang selain Allah adalah makhluk maka bagaimana dapat mengenalkan Allah kepada pengikutnya.

Sesungguhnya pertanyaan dimana Allah tidak sepatutnya dibahas sedemikian rupa yang menggambarkan “posisi” Allah dalam dimensi tempat, karena Allah bukan makhluk yang perlu dengan makhluk lain (tempat adalah juga makhluk).
Jawaban pertanyaan dimana Allah konon ada dalilnya yaitu diambil dari suatu Hadits yang terkenal, bukanlah bermakna mempertanyakan posisi Allah di dalam dimensi tempat.
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam yang bertanya kepada seorang budak sama-sama faham maknawiyah dari pertanyaan dan jawabannnya. Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bertanya “Dimana Allah?”. Budak itu memahami pertanyaan itu dengan maksud “bagaimana keyakinanmu terhadap Allah?”, maka dijawab “Di langit”. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam memahami maksud jawaban budak itu bahwa dia yakin bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Besar, Maha Tinggi, Maha Agung yang patut disembah. “Di langit” dapat bermakna Allahu Akbar, Allah Maha Tinggi atau Allah Maha Agung, sebagaimana sering kita dengar dalam bahasa kita, “ilmunya selangit”, maksudnya ilmunya sangat tinggi.

Ada kisah Sayidina Umar bin Khattab radhiallahu anhu yang ingin menguji seorang penggembala ketika membujuknya agar menjual satu ekor domba kepada beliau dan mengatakan kepada penggembala itu bahwa pemilik domba itu tidak akan tahu bahwa dombanya hilang satu. Lalu penggembala itu berkata kepada Sayidina Umar radhiallahu anhu: “Fa ainallahu (kalau begitu di mana Allah?)”. Pertanyaan ini jelas bukan mempertanyakan posisi Allah di dimensi tempat, tetapi difahami, “bagaimana keyakinanmu terhadap Allah, apakah engkau tidak yakin bahwa Allah Maha Mengetahui semua perbuatan kita?”. Sayidina Umar radhiallahu anhu menangis terharu sebab rakyatnya yang dari kalangan penggembala pun memahami  Iman Islam dan Ihsan secara baik.

c. Pemahaman Allah tidak dapat dilihat sebab Allah terlalu Besar secara makna zahir.

Menjawab Allah tidak bisa dilihat sebab Allah Maha Besar melebihi besarnya fisik alam semesta dengan makna zahir (lihat video di atas menit pertama). Ini satu bukti lagi keyakinan Mujassimah. Ajaran ini memahami Allah itu berjisim (berjasad, bervolume). Dalam video itu digambarkan “BesarNya” Dzat Allah, diceritakan secara panjang lebar besarnya dimensi bumi, langit, bintang dan alam semesta, untuk membandingkan dengan besarnya Dzat Allah. Bahkan disebutkan dalam menit ke 6:50 bahwa Kursi (diambil dari ayat kursi) adalah pijakan kakinya Allah. Na’udzubillah min dzalik. Subhanallahu, Maha Suci Allah dari apa yang disifatkan itu.

(lihat juga Ulama Tauhid 3 serangkai memasukan fahamannya melalui catatan kaki Mushaf Al Qur´an)

Ahlussunnah Wal Jama’ah memahami bahwa Allah  berbeda dengan makhluk secara total baik makhluk yang zahir maupun makhluk ghaib. Dzat Allah tidak dapat dilihat sebab Allah bukan makhluk, Allah bukan berjisim/bertubuh. Jisim/tubuh perlu tempat (baik di alam zahir maupun alam ghaib). Allah tidak memerlukan makhlukNya. Temasuk makhluk adalah tempat dan waktu. Allah tidak terikat dan tidak terpengaruh dengan tempat dan waktu. Kehebatan, Kebesaran, Kemuliaan Allah dapat diceritakan bagaimana Allah menciptakan makhluk hanya dengan “Kun Fa Yakun”.

Allah menciptakan makhluk yang kecil seperti nyamuk sama mudahnya dengan makhluk yang besar sepert arasy, cukup dengan “Kun fa yakun”. Demikian juga bagi Allah waktu penciptaan nyamuk yang hanya beberapa hari adalah sama singkatnya dengan masa penciptaan bumi dan langit serta alam semesta keseluruhannya. Dan semua itu Allah ciptakan dari bahan yang tidak ada sebelumnya!! Subhanallah betapa Hebat dan AgungNya Allah.

2. Pemahaman aneh mengatakan bekas sujud di wajah dengan makna zahir adalah sama dengan tanda hitam di dahi (dari menit pertama video di bawah ini).

Surat Al Fath ayat 29:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…” (QS. Al Fath: 29)

Memahami bekas sujud adalah dahi menjadi hitam adalah aneh, sebab dahi menjadi hitam adalah akibat alas sholat kasar atau keras yang membekas pada dahi.
Dalam surat Al Fath, disebutkan betapa bagi orang beriman ada bekas sujud pada wajahnya (bukan disebut pada dahi atau keningnya). Ini menggambarkan wajah yang bercahaya yang menyenangkan dan menenangkan kalau dilihat, karena mengingatkan kita kepada Allah. Karena itu adalah pancaran Iman dari hatinya. Dalam agama kita mengenal 3 rukun agama yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Sujud yang dimaksud adalah sujud karena Iman, yang sesuai dengan tata cara syariat Islam dengan disertai hati yang khusyu, karena Ihsan yaitu merasakan Allah selalu menyaksikan dirinya, sehingga ia selalu dalam keadaan takut dan harap kepada Allah. Orang yang seperti inilah yang pada wajahnya akan terlihat cahaya bekas sujud karena pancaran Iman, Islam dan Ihsan dari hatinya, dahinya mungkin menjadi hitam oleh bekas alas sholat atau mungkin juga tidak.

Sebaliknya dahi menjadi hitam, tidak harus dikaitkan Iman. Islam dan Ihsan, karena itu hanyalah bekas lahir pada dahi yang sensitif sebab terkena alas yang kasar dan keras.

3. Membaca Sayidina kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam dianggap merendahkan dibanding dengan panggilan Nabi dan Rasul (lihat video di bawah ini)

Mengatakan bahwa membaca Sayidina dianggap menurunkan derajat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam dengan dalih bahwa Sayidina boleh diberikan kepada orang lain, sedang Nabi dan Rasul hanya kepada Rasulullah. Ini adalah pemahaman keliru atau salah kaprah yang jauh dari konteks maksud kita memanggil Sayidina kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Ucapan Sayidina adalah memuliakan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, karena Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sendiri yang mengatakan bahwa dirinya adalah Sayid (pemimpin) dari seluruh Bani Adam, termasuk Bani Adam adalah Nabi dan Rasul. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam adalah juga Sayidul Anbiya dan Mursalin.  Jadi kita memanggil Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dengan Sayidina, adalah untuk lebih memuliakan beliau. Jauh sekali dari pandangan merendahkan kalau dibandingkan dengan panggilan Nabi dan Rasul. Kalau kita hubungkan dengan dalih Sayidina bisa diberikan pada orang lain, sekarang kita tanya bolehkah kita gunakan panggilan Sayid dari seluruh bani Adam kepada semua orang? tentu tidak, hanya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam yang boleh menggunakannya, bahkan Nabi dan Rasul yang lain tidak boleh. Panggilan Sayidina ini sudah beratus-ratus tahun biasa dilakukan bahkan di seluruh dunia Islam. Maka pernyataan dalam video di atas hanya menimbulkan banyak mudharat di masyarakat Islam di Indonesia.

4. Mengatakan bahwa jika tidak menemukan dalilnya dari Quran dan Hadits maka berkesimpulan bahwa amalan itu tidak ada dalilnya, seolah-olah sudah mengetahui seluruh dalil Quran dan Hadits. (menit ke 2:50)

Pernyataan beliau yang cukup memprihatinkan adalah memberi komentar negativ yang bersifat fatwa tentang amalan Ahlussunnah wal Jamaah yang sudah dijalankan ratusan tahun dalam perjalanan dakwah di Indonesia yang tentu saja ada dasar dan dalilnya yang sesuai dengan Quran dan Hadits, serta Ijma dan Qiyas. Beliau mengatakan bahwa jika suatu amalan  tidak ditemukan dalilnya dari Quran dan Hadits olehnya maka berkesimpulan bahwa amalan itu tidak ada dalilnya, seolah-olah beliau sudah mengetahui seluruh dalil Quran dan Hadits. Ini menunjukkan sikap yang tidak terpuji terhadap ulama terdahulu. Kalau kita memahami mengapa adanya Mazhab Fiqih dalam Islam adalah suatu rahmat dan keniscayaan dalam perjalanan sejarah Islam, tentu beliau tidak akan mengeluarkan pernyataan itu. (lihat Mengapa ASWAJA mengikuti Imam Mazhab).

Imam Mazhab adalah suri tauladan kita. Kalau istinbat hukum Imam yang satu berbeda dengan Imam Mazhab sebelumya, tidak pernah Imam yang kemudian mengeluarkan pernyataan bahwa istinbat hukum Imam lain itu keliru atau tidak ada dalilnya. Bahkan mereka semua berpesan, jika engkau menemui hadits yang lebih shohih dari Mazhabku, maka ambillah hadits itu dan tinggalkan Mazhabku. Lihat Imam Mazhab itu berkata “Mazhabku” dan mereka bukan berkata “ikut Quran dan Hadits” – karena tawadhuk mereka – walaupun yang disebut “Mazhabku” itu adalah hasil ijtihad mereka berdasarkan Quran dan Hadits. Sebaliknya Ulama akhir zaman yang menolak Mazhab, mengatakan kalau amalan yang diajarkan oleh ulama lain tidak ditemukan dalilnya maka tinggalkanlah dan katakan kepada mereka amalan itu tidak ada dalilnya, yang benar adalah Quran dan Hadits (menurut “Mazhabku”). Kami sengaja memberi tanda kurung untuk dua kata terakhir (menurut “Mazhabku”), karena ulama akhir zaman hanya berhenti sampai Quran dan Hadits, namun sebenarnya mereka hanyalah ikut Quran Sunnah yang sesuai dengan “Mazhabku”.

Nampak jauh beda sikap ulama akhir zaman dengan akhlak mulia para Imam Mazhab yang mendidik kita agar terus belajar untuk melihat kesalahan diri bukan untuk mencari kesalahan orang lain.

5. Tentang orang tua Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. 

Lihat

Ayah Rasulullah Shallallahu alahi wa alihi wassalam

Ibunda Rasulullah Shallallahu alahi wa alihi wassalam

6. Mengatakan kesalahan Tarikat dan Tasawuf berdasarkan kekeliruan oknum dalam Tarikat dan Tasawuf.

Penyampaian dalam video tentang tarikat dan tasawuf yang memojokkan tasawuf dan tarikat agar umat Islam menganggap tarikat dan tasawuf itu salah berdasarkan kekeliruan oknum pengamal tarikat dan tasawuf, tanpa mengetengahkan amalan tasawuf dan tarikat yang benar atau bertanya kepada ahlinya. Kalau melihat kesalahan itu, mengapa tidak membetulkan yang salah itu saja bukan melarang Tarikat dan Tasawuf dengan dalil kesalahan sebagian oknum.
Apakah boleh kita mengatakan bahwa ilmu kedokteran itu salah, hanya karena ada beberapa oknum dokter melanggar hukum?

Cara berfikir seperti ini adalah cara berfikir orang yang memusuhi Islam, seperti yang kita saksikan sekarang. Mereka dengan mudah mengatakan agama Islam adalah agama kekerasan, hanya karena ada kelompok kecil oknum yang memakai nama Islam tetapi berbuat melanggar ajaran Islam dengan ekstrimisme atau kekerasan.

Kita sebenarnya menjadi kasihan kepada beliau dengan kekeliruan yang disebut di atas apalagi menyangkut keyakinan yang mendasar, kalau beliau belum juga menyadari ini, kita doakan bersama semoga beliau segera menyadari dan memperbaikinya. Dan pendengar atau pengikut beliau dapat mengambil manfaat dari kuliah beliau yang bermanfaat dan menyaring pernyataan beliau yang keliru, yang sebagiannya telah disebutkan di atas.

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Mengenal Sifat Jaiz Allah untuk Memahami Khawariqul ´Adat

Sifat Jaiz Allah adalah Sifat yang mungkin Allah lakukan dan mungkin pula Allah tinggalkan. Mengenal Sifat Jaiz Allah dalam pengantar Ilmu Mantiq adalah sangat penting untuk kita dalam memahami khawariqul ´adat.

Dalam pengantar Ilmu Mantiq, kita mengenal ada 3 sumber hukum ditinjau dari bagaimana akal kita membuat kesimpulan yaitu,

1. Hukum yang diwahyukan atau hukum Allah.
Hukum yang diwahyukan adalah suatu hukum yang diyakini atas dasar Quran dan Hadits. Dalil yang dipakai untuk menentukan hukum ini disebut Dalil Naqli, yakni dalil yang dinukil dari Kitab Suci Al Quran atau Hadits Rasululllah shallallahu alaihi wassalam.

2. Hukum akal atau disebut juga hukum logika.
Hukum logika adalah suatu hukum atau kesimpulan yang dibuat oleh akal berdasarkan logika. Kesimpulan terhadap sesuatu hal atau kejadian menurut hukum akal (logika) dibagi menjadi 3 perkara yaitu:
a. Perkara Wajib.
b. Perkara Mustahil.
c. Perkara Jaiz

3. Hukum adat atau hukum kebiasaan atau sering disebut juga hukum alam atau sunnatullah.
Hukum adat atau hukum alam adalah suatu hukum atau kesimpulan yang dibuat oleh akal berdasarkan pengamatan dan pengalaman secara berulang-ulang. Perkara khawariqul ´adat adalah perkara yang menyalahi hukum ´adat/alam atau kebiasaan. Maka perkara khawariqul ‚adat disebut juga perkara yang terjadi di luar kebiasaan atau kejadian yang luar biasa. Maka kadang kita mengatakan peristiwa itu adalah tidak masuk akal, maksudnya adalah peristiwa itu tidak masuk dalam akal kita yang selama ini mengamati dan mengalami hal yang biasa atau yang terjadi secara berulang-ulang.
Seluruh perkara hukum alam, baik yang biasa maupun yang luar biasa adalah perkara yang Jaiz bagi Allah dan semua itu ada dalam Kuasa dan Kehendak Allah.

Khawariqul ´adat sama sekali tidak menunjukkan seseorang itu orang yang taat dan dekat kepada Allah atau orang yang bertaqwa. Orang yang taat dan dekat kepada Allah atau orang yang bertaqwa dapat diketahui dengan melihat bagaimana orang itu bersikap terhadap hukum yang diwahyukan, yaitu Al Qur’an dan Hadits.

Khawariqul ´adat bukan suatu tanda ketaatan dan bukan tujuan kita taat kepada Allah. Tujuan kita taat kepada Allah adalah semata-mata untuk beribadah kepada Allah, sesuai dengan firman Allah dalam QS Adz Dzariyat: 56

Surat Adz-Dzariyat ayat 56
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Jadi bukan khawariqul ´adat  yang menunjukkan istimewanya seseorang itu di sisi Allah, tetapi justru sebaliknya kita dapat mengenal apakah suatu khawariqul ´adat itu termasuk irhasy/mu’jizat/karamah/ma’unah yang diredhoi Allah ataukah termasuk istidraj/sihir yang mengundang kemurkaan Allah adalah karena kita mengetahui bagaimana orang yang mendapat khawariqul ´adat itu bersikap terhadap hukum yang diwahyukan atau Kalam Allah, apakah dia taat atau ingkar kepada Allah.

Tujuan Allah menjadikan khawariqul ´adat adalah untuk menarik perhatian hambaNya akan tanda-tanda KebesaranNya pada makhlukNya agar hambaNya itu mengenal Kebesaran Allah, sehingga menjadi tunduk dan beriman kepada Allah melalui makhlukNya. Namun khawariqul ‚adat juga menguji hamba Allah yang melihat dan yang mengalaminya, apakah hamba Allah itu dapat bersyukur atau menjadi kufur atas nikmat Allah.

Allah berfirman dalam QS An-Naml : 40

Surat An Naml ayat 40
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Maka khawariqul ‚adat dilihat dari keimanan seseorang yang mengalaminya dapat dibagi menjadi beberapa jenis yaitu:

  1. Mu’jizat: kejadian luar biasa yang terjadi pada Nabi dan Rasul. Mu’jizat menambah rasa syukur dan tawadhu` para Nabi dan Rasul, karena mereka sadar sekali bahwa itu semua adalah atas Kehendak dan Kuasa Allah, tidak sama sekali atas kemampuan mereka. Jauh sekali dari rasa sombong atas mu’jizat itu. Mu’jizat menambahkan tinggi derajat mereka di sisi Allah dan mengukuhkan kedudukan Nabi dan Rasul di hadapan hamba-hamba Allah yang lain, sehingga – sesuai dengan maknanya – Mu’jizat membuat mereka menjadi lemah, tunduk dan beriman kepada Allah dan Nabi/RasulNya.
  2. Karamah: kejadian luar biasa yang terjadi pada wali atau orang yang sangat dekat dengan Allah. Sebagaimana Mu’jizat yang terjadi pada Nabi dan Rasul, karamah menjadikan pada wali Allah tersebut menambahkan rasa syukur dan tawadhu’ kepada Allah. Jauh dari membangga-banggakan peristiwa luar biasa itu untuk menyombongkan diri. Karamah berarti kemuliaan, maksudnya peristiwa itu Allah menjadikan bertambah kemulian wali Allah di sisiNya dan mengukuhkan kedudukan waliullah itu dihadapan hambaNya yang lain.
  3. Irhasy: adalah kejadian luar biasa yang terjadi pada Nabi dan Rasul sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul.
  4. Ma’unah: adalah kejadian luar biasa yang terjadi pada orang biasa, yang tidak menjadikan orang itu lupa kepada Allah. Bahkan orang itu menjadi semakin bersyukur dan semakin dekat kepada Allah. Ma’unah yang berlaku pada orang yang bukan Islam akan membawa keyakinan orang itu akan kebenaran Islam sehingga menjadikannya suatu ketika memeluk agama Islam.
  5. Istidraj: adalah kejadian luar biasa yang terjadi pada orang fasiq atau kafir  yang menjadikannya semakin jauh dari Allah. Mereka menjadi lalai dan membangga-banggakan peristiwa luar biasa itu untuk kepentingan dunia. Contoh: Fir’aun dan orang besarnya yaitu Hamman dan Samiriy. Mereka diberi keistimewaan yaitu kepandaian dan kekuatan. Namun kepandaian dan keistimewaannya justru menjadikannya lalai dan menyombongkan diri untuk kepentingan dunia mereka.
  6. Sihir: adalah kejadian luar biasa yang dipelajari oleh orang fasiq dan kafir dengan bantuan makhluk gaib (jin). Dalam hukum syariat mempelajari sihir adalah haram, karena untuk mempelajarinya mesti meyakini adanya kekuatan lain selain Allah untuk menjalankan sihirnya yang menjurus kepada syirik.

Manusia yang melihat atau mendengar perkara khawariqul terbagi menjadi 3 kategori

a.      Orang beriman akan bertambah imannya kepada Allah, bertambah percaya dan yakin kepada Rasul/Nabi atau waliullah itu. Sebagaimana terjadi pada Sayidina Abu Bakar radhiyallahu anhu. Ketika beliau mendengar adanya berita tentang peristiwa Isra‘ dan Mi’raj yang terjadi pada Rasulullah shallallahu alahi wassalam, beliau langsung percaya dan yakin, bahkan beliau berkata: kalau ada perkara yang lebih dari itu yang diceritakan oleh Rasulullah shallallahu alahi wassalam maka beliau akan langsung percaya juga.
Sayidina Abu Bakar radhiyallahu anhu berkata begitu bukan berarti beliau tidak menggunakan akalnya, sebab telah disebutkan bahwa tidak ada agama bagi orang yang tidak mempunyai akal. Keyakinan Sayidina Abu Bakar radhiyallahu anhu ini justru menunjukkan kecerdasan beliau dalam menggunakan akalnya. Beliau kenal betul siapa Rasulullah shallallahu alahi wassalam dan dari Rasulullah itu beliau kenal siapa Allah, Tuhan yang disembah yang menciptakan alam semesta ini dengan Kuasa dan KehendakNya. Rasulullah shallallahu alahi wassalam adalah utusan Allah yang sangat taat kepada Allah. Beliau shallallahu alahi wassalam bersifat Siddiq(benar), Amanah (dipercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathanah (cerdas), maka sudah sewajarnya bagi orang yang beriman dan berakal akan yakin bahwa apa yang diceritakan Rasulullah shallallahu alahi wassalam pasti benar, tidak ada keraguan padanya.

b.    Bagi orang yang semula tidak beriman tetapi hatinya terbuka menerima kebenaran, akan menjadi beriman kepada Allah kepada Rasul/Nabi atau waliullah.

  • Sebagaimana yang terjadi pada tukang sihir Firaun setelah melihat Mu’jizat Nabi Musa alaihi salam. Bahkan para tukang sihir yang telah bertaubat dan beriman kepada Allah dengan sesungguh-sungguhnya. Sehingga tidak mau kembali menjadi kafir sekalipun diancam dengan hukuman yang amat berat oleh Fir’aun,

Allah berfirman dalam QS Thaha : 69-72

20:69
Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. „Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang“.

20:70
Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: „Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa“.

20:71
Berkata Fir’aun: „Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih
dan lebih kekal siksanya“.

20:72

Mereka berkata: „Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.
  • Demikian juga dengan apa yang berlaku pada Ratu Bilkis setelah melihat Mu’jizat Nabi Sulaiman alaihi salam.
Surat An Naml ayat 41

Dia (Nabi Sulaiman) berkata: „Rubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya)“.

Surat An Naml ayat 42

Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: „Serupa inikah singgasanamu?“ Dia menjawab: „Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri“.

Surat An Naml ayat 43
Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.

Surat An Naml ayat 44

Dikatakan kepadanya: „Masuklah ke dalam istana“. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: „Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca“. Berkatalah Balqis: „Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam“.

c.     Bagi orang kafir yang menutup hatinya, akan bertambah jauh dari Allah dan ingkar kepada Rasul/NabiNya atau waliullah bahkan berbuat zalim terhadap Mu’jizat Rasul, sebagaimana kaum Tsamud yang membunuh Unta betina, Mu’jizat Nabi Shaleh, sehingga umat Nabi Shaleh itu mendapat adzab dari Allah.

Firman Allah dalam QS Hud: 61-68
11:61
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: „Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)“.

11:62
Kaum Tsamud berkata: „Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami“.
11:63
Shaleh berkata: „Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain daripada kerugian.

 

11:64
Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat“.

 

11:65
Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shaleh: „Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan“.

 

11:66

Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-Lah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

11:67
Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya,
11:68
seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.

Demikianlah Allah binasakan kaum Tsamud setelah Allah utus Nabi Shalih alaihi salam dengan Mu’jizat berupa Unta betina.

Sesungguhnya bagi orang-orang beriman tanda-tanda Kebesaran Allah sudah dapat dilihat dan diketahui melalui ciptaan Allah. Ini sudah cukup untuk menjadikan mereka lemah dan tunduk kepada Allah, sebab orang beriman melihat alam ini dengan akal dan hatinya yang terbuka sebagaimana firman Allah dalam Qur´an surat Ali Imran ayat 190-191:

Surat Ali Imran Ayat 190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Surat Ali Imran Ayat 191

(yaitu) orang-orang yang mengingati Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Oleh sebab itu bagi orang yang beriman dan berakal khawariqul ´adat sebenarnya terbagi 2:

1.     Khawariqul ‘adat lahiriah. Perkara ini dapat dengan mudah dilihat dengan mata, diantaranya,
– Mu’jizat Rasulullah shallallahu alaihi wassalam ketika bulan terbelah dan kembali menjadi satu, Mu’jizat Nabi Sulaiman berupa karamah yang dilakukan oleh salah satu pengikutnya yang alim yaitu memindahkan singgasana Ratu Bilkis dalam sekejap mata dari negeri Saba (di Yaman sekarang) ke Yerusalem.
– Karamah wali Allah dapat berjalan di atas air, dapat terbang, dapat menaikkan air dan sebagainya.

Semua ini adalah anugerah dari Allah yang bukan menjadi sesuatu yang mesti diperjuangkan dan diusahakan apalagi menjadi tujuan hidup kita. Tujuan hidup kita adalah beribadah kepada Allah.

2.     Khawariqul ´adat maknawiyah. Perkara ini tidak mudah dapat dilihat oleh mata lahir, tetapi mesti dilihat dengan alat penglihatan yang maknawiyah pula yaitu hati kita yang terbuka. Perkara yang luar biasa itu adalah Al Qur’an, Mu´jizat Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Yang dimaksud Al Qur’an adalah termasuk Hadits yang merupakan keterangan Al Qur’an.

a. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dengan Mujizat Al Qur’an begitu istiqamah dalam berdakwah dan berjuang sehingga mampu mendidik manusia dari masyarakat jahiliyah yang berpecah belah menjadi masyarakat beriman yang bersatu padu dan menjadi sebaik-baik umat manusia. Merekalah Shahabat radhiallahu anhum yang sangat mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, yang begitu gigih meneruskan perjuangan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, yang menjadi tauladan bagi umat Islam. Kemenangan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam ini adalah berkat Mujizat Al Qur’an. Allah selalu membantu perjuangannya setelah melalui banyak ujian, Allah berfirman dalam QS An-Nashr: 1-3

Surat An-Nashr Ayat 1
 Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
Surat An-Nashr Ayat 2
Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
Surat An-Nashr Ayat 3
Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

 

Ayat di atas menyebutkan walaupun Rasulullah shallallahu alaihi wassalam telah mendapat kemenangan dengan bantuan Allah, Allah masih memerintahkan untuk tetap istiqamah bertasbih memuji Allah dan memohon ampun kepada Allah. Diriwayatkan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam memasuki kota Mekkah dengan sangat tawadhuk dan menunduk, sehingga kepala beliau shallallahu alaihi wassalam hampir menyentuh leher tunggangannya. Begitulah rasa kehambaan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam yang istiqamah.

 

b. Karamah Khalifah Sayidina Umar bin Abdul Aziz ketika memerintah di kerajaan Bani Umayah dalam waktu kurang dari 2 tahun 2 bulan dapat mengubah pemerintahan yang korup dan zalim menjadi pemerintahan yang begitu adil, aman dan makmur. Sehingga diriwayatkan tidak ada rakyatnya yang mau menerima zakat, karena rakyatnya sudah merasa berkecukupan. Keberhasilan Khalifah Sayidina Umar bin Abdul Aziz sebenarnya adalah berkat istiqamahnya mengamalkan Mu’jizat Rasulullah shallallahu alaihi wassalam yaitu Al Qur’an. Sebagaimana Mu’jizat Al Qur’an di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, keberhasilan ini juga karena Allah membantu dalam perjuangannya.

c. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam pernah bersabda,

لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الْاَمِيرُ اَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

“Sungguh akan terjadi Futuh Kota Konstantinopel di tangan Islam. Pemimpin yang berhasil melaksanakan Futuh itu adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”

Sejak zaman Shahabat radhiyallahu anhum ada 29 pemimpin Islam yang mencoba membebaskan kota Konstantinopel selama lebih kurang 800 tahun. Baru di zaman Sultan Muhammad Al Fatih dari kerajaan Usmaniyah yang begitu gigih berjuang dengan sabar dan istiqamah, Konstantinopel akhirnya dibebaskan (1453 Masehi). Kota Konstatinopel diubah namanya menjadi Islambol (=Islam keseluruhannya, sekarang disebut Istanbul). Ketika itu beliau baru berusia 21 tahun. Ini adalah suatu karamah dari Sultan dan tentaranya beserta guru Mursyid Sultan yaitu Syeikh Aksyamseddin. Sesuai hadits tentang Konstatinopel di atas, beliau dan tentaranya yang dimaksud dengan sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik tentara oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, pujian luar biasa dari manusia yang luar biasa. Tentu pendidik Sultan yaitu Syeikh Aksyamseddin tentulah seorang yang luar biasa pula. Inilah berkat istiqamahnya mereka mengamalkan Mu’jizat Rasulullah shallallahu alaihi wassalam yaitu Al Qur’an, sehingga bantuan Allah datang kepada mereka.

Semua kejadian itu adalah dalam Kuasa dan Kehendak Allah dan amat mudah bagi Allah untuk melakukannya. Sebagaimana khawariqul ‚adat yang lahiriah maka khawariqul ‚adat yang maknawiyah juga anugerah Allah. Anugerah-anugerah ini Allah berikan setelah mereka mendapat didikan dan pimpinan dari pemimpinnya secara istiqamah mengamalkan Al Qur’an. Istiqamah dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah yang lahir dan bathin. Istiqamah dalam iman dan melaksanakan syariat, istiqamah dalam bersabar menghadapi ujian dan menjauhi larangan Allah, istiqamah dalam bersabar dan bersyukur dalam menerima nikmat Allah, istiqamah dalam menjaga akhlaq yang mulia dan seterusnya istiqamah dalam segala hal yang diredhoi Allah.

Istiqamah adalah satu perkara yang luar biasa. Mereka yang mendapatkan istiqamah dalam mengamalkan Al Qur’an inilah yang disebut dengan mereka yang telah diberi nikmat oleh Allah dalam do’a kita dalam surat Al Fatihah. Istiqamah termasuk karamah maknawiyah. Oleh sebab itu ada ulama yang berkata istiqamah lebih baik dari 1000 karamah. Maksudnya istiqamah (yaitu termasuk karamah maknawiyah) adalah lebih baik dari 1000 karamah (yang lahiriyah). Istiqamah mengamalkan Al Qur’an inilah yang disuruh oleh Allah, sedang karamah lahiriyah dan maknawiyah berupa kejayaan adalah anugerah dan bantuan dari Allah.

Wallahu a’lam.

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Hikmah Aksi Super Damai 212 (2 Desember 2016)

Setelah Aksi Damai 411 pada tanggal 4 November 2016, umat Islam Indonesia kembali melakukan aksi serupa yang disebut dengan Aksi Super Damai 212 pada tanggal 2 Desember 2016. Seperti angka 411, angka 212 juga diambil dari tanggal dan bulan peristiwa itu terjadi.
Mari kita coba menggali hikmah dibalik Aksi Super Damai 212, setelah kita mencoba mengambil hikmah dari Aksi Damai 411.
Walaupun dikatakan Aksi Super Damai 212 serupa dengan Aksi Damai 411 namun menurut hemat kami sebenarnya Aksi Super Damai 212 mempunyai perbedaan yang ketara, kalau tidak ingin dikatakan jauh berbeda dari Aksi Damai 411.
Aksi Super Damai 212 fokus kegiatan utamanya adalah Dzikir dan Doa untuk keselamatan Bangsa. Di banyak tempat di seluruh Indonesia disebutkan sebagai membaca Istighotsah bersama. Banyak yang datang ke Jakarta pada hari Kamis malam Jum’at. Ada yang naik pesawat, ada yang naik bus, kereta api bahkan ada yang berjalan kaki. Banyak di antara mereka yang sudah memulai kegiatan dengan sholat Shubuh bersama di pagi hari Jum’at itu.
Kegiatan resmi diisi dengan membaca dzikir, sholawat, tausiyah dan berdoa serta ditutup dengan sholat Jum’at bersama. Berdoa bersama adalah datang dan memohon kepada Allah, Robb (Tuhan Maha Pemelihara) manusia, Ilah (Tuhan yang disembah) manusia dan Malik (Raja yang menguasai) seluruh manusia. Selama kegiatan tersebut, ucapan dari para ustad pimpinan aksi Super Damai lebih banyak ditujukan kepada Allah dan nasehat kepada diri sendiri, tidak mengeluarkan kata yang tidak sepatutnya diucapkan oleh orang muslim yang berakhlak mulia. Kita telah mendengar nasehat yang mengatakan bahwa dosa kita ini lebih berbahaya dari kesalahan Ahok, sebaiknya kita perbaiki diri kita. Kita juga mendengar doa dari lubuk hati, agar Allah memberikan hidayah kepada Ahok, dan diaminkan oleh beberapa juta orang baik yang hadir maupun yang melihat dari “live streaming”. Ucapan dan doa seperti ini adalah ucapan dan doa layaknya para wali yang selalu muhasabah atas kesalahan dirinya terhadap Allah, sebagai rasa kehambaan yang mendalam yang menginginkan keselamatan bagi seluruh manusia termasuk orang kafir.

Allah Maha Mendengar segala dzikir, doa dan rintihan dalam Aksi Super Damai 212.

Walaupun kita tidak mengetahui pasti bagaimana jawaban Allah atas doa dan rintihan kita kepadaNya pada Aksi Super Damai 212 itu apakah dikabulkan atau tidak, namun kita dapat merasakan dan berprasangka baik bahwa setidaknya sebagian doa dan rintihan kita telah dijawab secara positiv oleh Allah, diantaranya.

  • Ada hujan rintik-rintik untuk menyejukkan udara siang Jakarta yang biasanya panas dan untuk berwudhu bagi jemaah yang batal wudhu. Hujan rintik-rintik adalah salah satu tanda datangnya rahmat Allah.
  • Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla tanpa diduga datang ikut serta sholat Jum’at dan mendengarkan Khotbah Jum’at yang disampaikan oleh Khatib yang juga tidak direncanakan sebelumnya yaitu Habib Riziq Shihab. Seluruh muslimin yang hadir senang dan mengapressiasi kehadiran mereka. Siapakah yang mampu berbuat demikian? Tentu hanya Allah Subhanahu wa ta’ala.
  • Suasana yang aman damai, walaupun yang hadir ada sekitar 2x lipat dari Aksi Damai 411. Kaum muslimin tampak ikhlas saling membantu dan menyapa, bahkan polisi melayani masyarakat dengan mesra. Sampai aksi berakhir dan para peserta pulang meninggalkan tempat tepat pada waktu yang disepakati dengan aman damai tanpa ada kerusuhan dan kekerasan. Tidak ada penyusup yang dapat mengacaukan suasana damai Aksi Super Damai 212. Siapakah yang dapat menjaga kedamaian pada begitu banyak orang kalau bukan Allah?
  • Polisi dan peserta Aksi Super Damai 212 merasakan sama-sama berhasil dengan terlaksananya Aksi Super Damai 212. Siapakah yang dapat memberikan rasa yang demikian selain Allah?
Sedang Aksi Damai 411 bertujuan untuk menyampaikan tuntutan kepada pemerintah, dengan memulai kegiatan dengan sholat Jum’at, kemudian dilanjutkan dengan orasi-orasi yang ditujukan kepada pemerintah, termasuk Presiden. Kadang terdengar orasi dari pimpinan pendemo yang menghujat dan tidak layak diucapkan oleh seorang muslim yang beradab, sedang polisi justru melantunkan istighfar dan asmaul husna.
  • Suasana menjadi panas dan seperti tidak terkendali. Ada pimpinan pendemo yang berbicara keluar dari konteks demo, yaitu menyatakan cara menjatuhkan pemerintah yang sah.
  • Presiden Jokowi yang ingin ditemui, justru tidak berada ditempat yang membuat kecewa pada pendemo.
  • Aksi demo terpaksa melewati waktu yang telah disepakati, yang berakhir dengan kerusuhan yang disebabkan oleh penyusup yang menginginkan kerusuhan.
  • Setelah waktu yang disepakati polisi terpaksa menembakan gas air mata ke arah pendemo dan mengenai sebagian pendemo, yang membuat beberapa pendemo menjadi korban baik terkena tembakan gas air mata langsung maupun oleh gas air mata yang menyesakkan nafas dan memedihkan mata.

Kalau kita ingat firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 79:

Surat An-Nisa Ayat 79
Apa saja nikmat kebaikan yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.

Maka bagi kita orang yang beriman, tidak ada yang lebih baik selain kita muhasabah pada diri sendiri. Mungkinkah musibah yang terjadi pada Aksi Damai 411 adalah sebab kesalahan kita sendiri? Mengapa Allah biarkan semua musibah itu terjadi, sedang dalam Aksi Super Damai 212 yang lebih besar jumlahnya justru Allah jaga dari musibah itu?

Semua yang baik dari Allah, sedang semua yang buruk dari kita sendiri, begitulah layaknya seorang hamba yang mengikuti jalan para kekasih Allah, sebagaimana doa yang selalu kita panjatkan dalam bacaan Al Fatihah yang selalu kita baca dalam setiap sholat:

Al-Fatiah Ayat 6
 Tunjukilah kami jalan yang lurus,
Al-Fatiah Ayat 7
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Kekasih Allah adalah orang-orang yang telah Allah beri nikmat, yaitu Rasulullah shallallahu alaih wassalam, para Shahabat radhiyallahu anhum, para tabi’in, para tabi’ut tabi’in dan seterusnya para wali dan ulama pewaris Nabi.

Buah dari Aksi Super Damai adalah kebersamaan umat Islam yang lama telah hilang. Bahkan sekarang timbul gerakan untuk sholat Shubuh berjamaah di Mesjid secara nasional. Kalau hal ini dapat dilakukan dengan istiqamah, tidak mustahil bantuan Allah akan datang dengan lebih besar lagi dan lebih cepat lagi.

Kita ingat sejarah telah menceritakan kepada kita bahwa Sultan Salahuddin Al Ayyubi pernah melakukan gerakan serupa secara nasional ketika hendak membangkitan iman, rasa kebersamaan dan rasa ukhuwah dengan gerakan peringatan Maulid Nabi shallallahu alaih wassalam dalam rangka berupaya membuka Palestina dari tangan pemerintahan Kristen yang zalim ketika itu. Seluruh umat Islam diperintahkan untuk memperingati Maulid Nabi shallallahu alaih wassalam dengan membaca sirah Nabawiyah, yaitu riwayat hidup Nabi kita Muhammad shallallahu alaih wassalam untuk dapat lebih dikenali dan dicintai sehingga umat Islam terasa berhutang budi kepada beliau shallallahu alaih wassalam dan ingin membalas budi dengan meneruskan perjuangan beliau shallallahu alaih wassalam dengan cara yang beliau shallallahu alaih wassalam contohkan, yaitu dengan iman dan kasih sayang. Pembacaan sirah Nabawiyah itu dilakukan secara terus menerus tidak menunggu pada bulan Rabi’ul awal atau tanggal 12 Rabi’ul awal.

Alhamdulillah, telah kita ketahui bersama akhirnya Umat Islam yang dipimpin oleh Sultan Salahuddin Al Ayyubi berhasil membebaskan Masjidil Aqsha dan Palestina dengan kekuatan yang mendamaikan dan kasih sayang.

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat

Ustad Adi Hidayat telah membahas Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang kemudian rekamannya telah dituangkan dalam video youtube Risalah Ahlussunah Wal Jama’ah (1) dan video youtube Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah (2) (sayang kedua video ini kemudian dihapus setelah tulisan ini diterbitkan, alhamdulillah kemudian kami menemukan video di atas dan video ini (3), mudah-mudahan tidak dihapus lagi setelah ini). Beliau membahas dengan rinci sebagian dan melompati bagian penting dalam Kitab itu.

Dalam adab mengaji kitab di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah biasanya sebelum memulai seorang Ustad akan membacakan al Fatihah yang diniatkan jika Allah beri pahala atas bacaan Al Fatihah dan pahala dari mengajarkan Kitab itu untuk dihadiahkan pahalanya khusus kepada penulis Kitab itu dan juga guru-guru yang mengajarkan Kitab itu secara sambung menyambung hingga sampai kepadanya. Kemudian dia akan merasakan bahwa gurunya itu ada berada di sampingnya ketika dia mengajarkan Kitab itu sehingga dia merasa tawadhuk dan khawatir ketika dia menyampaikan isi Kitab itu tidak sesuai dengan seperti yang dimaksudkan gurunya. Demikianlah gurunya itu dahulu diajarkan oleh guru dari gurunya itu, dan seterusnya hingga bersambung kepada KH Hasyim Asy’ari. Sebagaimana kita ketahui bersama sanad ilmu beliau diambil dari guru yang bersambung hingga Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, (Ustad Adi Hidayat juga mengakui dalam video youtube di atas, sayang video ke (1) dan ke (2) sudah dihapus setelah tulisan ini terbit, mudah-mudahan yang di atas dan yang ke (3) tidak dihapus) Begitulah aliran keberkatan dari Rasulullah shallallahu alaihi wassalam disampaikan melalui Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut tabi’in dan terus ke ulama pewaris nabi dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga sampai kepada kita.

Ustad Adi Hidayat berkata dalam video di atas (menit 1:30) bahwa Kitab itu asli berbahasa Arab ada gambar KH Hasyim Asy’ari berjenggot. Kalau tidak berjenggot itu palsu jadi jangan dimanipulasi. Kemudian beliau berkata tidak akan beropini, tidak akan mengambil pendapat pribadi. Semua yang akan dibahas hanya mengambil dari apa yang tertulis dalam Kitab itu.

Namun mengapa Ustad Adi Hidayat tidak menyampaikan bagian yang penting ini? Mungkin begitulah cara Ustad Adi Hidayat belajar dari gurunya sehingga bagian penting itu dilompati tanpa memberikan keterangan dan membahas sedikitpun bagian yang dilompati itu. Kalau benar memang karena alasan waktu sebagaimana beliau sebutkan di video di atas pada menit 4:30, mudah-mudahan beliau ada kesempatan untuk menerangkan bagian penting ini di lain waktu. Karena bagaimanapun  KH Hasyim Asy’ari sudah pasti telah menjelaskan seluruh kitab yang ditulisnya itu kepada muridnya, kalau tidak, tidak mungkin beliau menuliskannya dalam Kitabnya itu.
Disini kami berprasangka baik kepada beliau, mungkin beliau ingin memberitahukan kepada kami, agar kami menyampaikan bagian yang telah dilompatinya. Semoga Allah membalas kebaikan beliau yang telah menerangkan sebagian isi Kitab Ahlussunnah wal Jama’ah sekaligus lebih mengenalkan KH Hasyim Asy’ari.

Terjemah Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang asli dapat dilihat dalam Terjemah Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah KH Hasyim Asy’ari. Text yang dibaca (dan yang dilompati) oleh Ustad Adi Hidayat yang berbahasa Arab kami muat pada lanjutan tulisan kami ini.

Bagian yang dilompati ada dalam halaman 12 hingga 14 dan awal halaman 15 (lihat di bawah ini). Ustad Adi Hidayat menjelaskan di awal video youtube bagian awal dari halaman 12 itu yaitu bahwa KH Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa dahulu di tanah Jawa (Nusantara) hanya ada satu Madzhab Islam yaitu Ahlussunnah Wal Jama’ah.

risalah-aswaja-12_farb

risalah-aswaja-13_farb

risalah-aswaja-14_farb

risalah-aswaja-15_farb

Kemudian teks yang menerangkan apa itu Ahlussunnah Wal Jama’ah tidak dibaca atau dilompati (text yang diwarnai biru di halaman 12). KH Hasyim Asy’ari menerangkan yang dimaksud dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah di Nusantara itu adalah dalam fiqihnya ikut Imam Syafei,  dalam Aqidah (teologi)  ikut Imam Abul Hasan Al Asy’ari, dalam Tasawwuf ikut Imam Ghazali dan Imam Junaid Al Baghdadi. Ini sesuai dengan dasar Ahlulsunnah Wal Jama’ah secara umum yaitu:
1. Islam, ilmunya disebut ilmu Fiqih mengikut 1 dari 4 Imam Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafei, Hambali)
2. Iman, ilmunya disebut ilmu Tauhid/Aqidah merujuk kepada Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturudi
3. Ihsan, ilmunya disebut Ilmu Tasawuf/Akhlak mengikuti Ulama Tasawuf diantaranya Imam Junaid Al Baghdadi dan Imam Ghazali.

Setelah itu Ustad Adi Hidayat kembali membaca Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah yaitu sejak tahun 1330 Hijriyah, telah masuk aliran dan faham lain yang saling bertentangan, bahkan disebutkan dalam youtube sampai terjadi pertentangan fisik.
Perlu kita ketahui bahwa tahun 1330 H itu adalah bersamaan dengan berdirinya organisasi Muhammadiyah, tepatnya tanggal 18 November 1912 atau 8 Dzulhijjah 1330 H (lihat Muhammadiyah di Wikipedia). KH Hasyim Asy’ari tidak menjelaskan secara explisit apa yang dimaksud dengan tahun 1330 H, apakah yang dimaksud itu adalah tahun berdirinya Muhammadiyah? Wallahu a’lam.
Walaupun KH Ahmad Dahlan beraqidah mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan berfiqih mengikut Imam Syafei, namun telah diketahui umum dan diakui oleh Muhammadiyah bahwa memang ada penyusupan fahaman itu ke dalam ajaran Aqidah dalam Muhammadiyah (lihat halaman 2 dan 3 pada tulisan  REINTERPRETASI DOKTRIN TAUHID DALAM MUHAMMADIYAH) yang mengikuti  ajaran  Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi yang Aqidahnya membagi Tauhid menjadi 3 (Uluhiyah, Rububiyah dan Asma Wa Sifat.

Dalam halaman 2 dan 3 dari REINTERPRETASI DOKTRIN TAUHID DALAM MUHAMMADIYAH

Tauhid_Rahamautiyah_Muhammadiyah_page2-3_strich

Dimana Tauhid Rububiyah melanggar Tauhid Asma wa Sifat ajarannya sendiri dan pemahaman Tauhid Asma wa Sifat yang dapat menjerumuskan orang kepada faham Mujassimah (meyakini Allah berjisim/berjasad seperti makhluk). Karena mengikuti Ayat Mutasyabihat dengan makna zahirnya menyebabkan seorang Ustad bergelar doktor kemudian menjadi lupa atau tidak tahu lagi perkara pokok dalam Aqidah Islam bahwa yang selain Allah adalah pasti makhluk, termasuk juga Arasy adalah makhluk Allah (lihat video ini atau video ini pada menit ke 3:15). Disini kita bertambah faham  Mengapa perkumpulan ASWAJA mesti mendeklarasikan Aqidah Asy´ariyah/Maturidiyah, bermazhab dan bertasawuf.
Kemudian Ustad Adi Hidayat melompati text yang diwarnai biru di sisa halaman 12 dan di awal halaman 13 yang menerangkan amalan Ahlussunnah Wal Jama’ah yaitu :
Sebagian dari mereka terdapat kaum salaf yang berpegang pada para ulama salaf dan menganut madzhab yang jelas, memegangi kitab-kitab mu’tabar, mencintai keluarga Nabi, para wali, dan orang-orang shaleh dan meminta barakah kepada mereka baik ketika masih hidup ataupun setelah meninggal, mengamalkan ziarah kubur, talqin mayit, shadaqah kepada mayit, meyakini syafaat Nabi, manfaat doa dan tawasul, dan lain-lain.

Kemudian Ustad Adi Hidayat melompati tulisan berikutnya yang berwarna merah di halaman 13 hingga awal halaman 15. Dalam tulisan itu KH Hasyim Asy`ari menjelaskan ulama-ulama yang membawa ajaran yang menyimpang dari Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ulama-ulama itu adalah Muhammad Abduh dan Rasyid Ridla, Muhammad bin Abdul Wahab al-Najdi, Ahmad bin Taimiyah, Ibnu Qayim al-Jauzi, dan Ibnu Abdul Hadi. Mereka megharamkan yang disunahkan kaum muslimin, yaitu perjalanan ziarah ke makam Nabi s.a.w. dan selalu menyalahi pendapat kelompok lainnya.
Berkata Ibnu Taimiyah dalam “Fatawi” bahwa orang yang ziarah ke makam Nabi dengan meyakininya sebagai suatu ketaatan maka hal itu adalah haram secara pasti.
Berkata Syeikh Muhammad Bahith al- Hanafi al-Muthi’i dalam kitab “Tathhir al-Fu’ad mindanas al-I’tiqad”, bahwa kelompok ini telah banyak menguji kaum muslimin baik salaf maupun khalaf dengan banyak fitnah, mereka sebenarnya aib dalam Islam, dan sebagai organ Islam yang rusak dan harus diamputasi, mereka bagaikan orang yang terjangkit penyakit lepra yang harus dijauhi, mereka adalah kaum yang mempermainkan agama. Mereka menghina para ulama salaf dan khalaf, bahwa, menurut mereka, para ulama tersebut bukanlah orang yang maksum sehingga tidak patut diikuti. Baik yang hidup maupun yang mati. Mereka mencederai kehormatan ulama dan menyebarkan faham yang membingungkan di hadapan orang-orang bodoh dengan tujuan membutakannya dan agar menimbulkan kerusakan di muka bumi. Mereka berkata dusta kepada Allah dan mengira telah melakukakan amar makruf nahi munkar. Padahal Allah menyaksikan mereka sebagai pembohong. Dan menurut KH Hasyim Asy’ari mereka adalah ahli bid’ah dan mengikuti hawa nafsu.

Ada keanehan dalam ajaran Tauhid dibagi 3 yakni Anomali Tauhid Asma Wa Sifat yang memahami sifat Allah sesuai lafaz zahir Asma dan Sifat Allah, kecuali Sifat Rububiyah. Keyakinan yang anomali (aneh) membawa kepada sikap yang anomali (aneh) pula, yaitu Anomali pengikut Tauhid 3 serangkai yang percaya dengan ahlinya kecuali kepada Imam Mazhab juga cara dakwah mereka yang berslogan kembali kepada Qur´an dan Sunnah namun tidak mau percaya kepada Ulama, karena menurut mereka Ulama bukanlah maksum, dengan maksud mereka masih terus mencari dalil Quran dan Hadits yang menurut mereka paling sahih hingga sekarang. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wassalam telah berkata bahwa sebaik-baik kurun adalah 3 kurun pertama sejak Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Di zaman terbaik itulah para Imam Mazhab menyusun Mazhab fiqih yang mengistinbat hukum langsung dari Qur’an dan Sunnah (lihat Mengapa Ahlussunnah wal Jama’ah mengikut Imam Mazhab).

Ilmu agama tidak seperti ilmu sains. Ilmu agama semakin lama semakin sedikit, sebab ulama-ulama yang berilmu dengan ilmu yang bersanad sampai kepada Rasulullah SAW semakin sedikit.
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh. Kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [Al-Bukhari (100, 7307); Muslim (2673)]
Maka barang siapa di akhir zaman ini masih mencari dan mencoba mengistinbat hukum sendiri dari Quran dan Hadits yang paling sahih, maka dia tidak akan mendapatkan ilmu fiqih yang lebih baik dari 4 Imam Mazhab dan bahkan dia bisa tersesat. Sebab dia berada dalam zaman yang ilmu agamanya sedikit. Berbeda dengan Ilmu sains, sebab ilmu sains semakin ke sini semakin banyak, karena banyak ditemukan ilmu sains yang baru.

Mereka mengatakan Ulama bukanlah maksum, namun anehnya mereka tidak amalkan perkataan mereka ini pada ulama mereka sendiri. Mereka amat meyakini bahwa perkataan ulama mereka adalah pasti benar walaupun ulama mereka tidak maksum. Dan menganggap perkataan ulama lain yang berbeda dengan mereka adalah salah, sebab ulama bukan maksum.

Setelah melompati bagian yang penting itu, Ustad Adi Hidayat langsung membahas golongan sesat Rafidhoh (tertulis Rafidzah di halaman 15) yaitu golongan Syiah yang menolak dan membenci sebagian besar Shahabat radhiallahu anhum. Kemudian beliau menerangkan golongan yang menyimpang lainnya.

Banyak umat Islam di Indonesia sekarang ini yang tidak mengetahui pesan KH Hasyim Asy`ari yang telah dilompati oleh Ustad Adi Hidayat itu, sehingga banyak di antara mereka yang terjebak dalam pemahaman ulama-ulama yang menyimpang itu. Namun mereka merasa sebagai penganut Ahlussunnah wal Jama’ah.
Ustad Adi Hidayat berkata dalam video di atas (menit 6:55) bahwa KH Hasyim Asy’ari sudah mengingatkan sejak 108 tahun (Qomariyah) yang lalu, yaitu sejak tahun 1330 H (video di atas dan tulisan ini dibuat pada tahun 1438 H). Kalau diberi peringatan 1, 2 atau 3 hari, kalau lupa wajar tidak? tetapi ini diberi peringatan sejak 108 tahun, jadi dengan cara apalagi untuk mengingatkan? Itulah sebabnya kami menulis bab penting yang telah dilompati oleh Ustad Adi Hidayat ini.

Bagian penting yang tidak diterangkan dalam Kitab Risalah Ahlussunah Wal Jama’ah  terasa masih aktual hingga hari ini, terbukti dengan peristiwa yang terjadi baru-baru ini yaitu penolakan terhadap seorang Ustad yang berfahaman itu di Sidoarjo. Banyak orang fanatik membelanya tidak tahu mengapa muslim Ahlussunnah wal Jama’ah menolaknya.

Hasil scan Kitab asli yang berbahasa Arab telah dimuat di sini:

Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat (2)

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Hikmah Aksi Damai 411 (4 November 2016)

Pada tanggal 4 November 2016 ratusan ribu hingga satu juta umat Islam telah melakukan Demonstrasi Aksi Damai ke Istana Negara untuk menyampaikan aspirasi kepada Presiden Indonesia berkaitan dengan issue penistaan agama, penistaan Al Quran dan Ulama. Karena Aksi Damai itu dilakukan tanggal 4 bulan 11, orang menyebutnya dengan Aksi Damai 411.

Tujuan Aksi Damai 411 dengan semangat yang tinggi itu adalah dilakukan juga untuk mengawal hasil pelaksanaan hukum terhadap penista agama dengan seadil adilnya sesuai dengan yang dijanjikan pemerintah sebelumnya yakni memproses hukum pelaku dugaan penistaan agama. Bahkan para pemimpin Aksi Damai itu telah berjanji pula akan terus melakukan Aksi Damai sampai tuntutan agar keadilan dalam proses hukum itu terpenuhi, yaitu agar orang yang diduga melakukan penistaan agama itu dihukum.

Namun para peserta Aksi Damai 411 terpaksa mengungkapkan rasa kecewanya yang mendalam karena tidak dapat bertemu Presiden yang diharapkan menyelesaikan masalah ini. Presiden telah meninggalkan Istana sebelum Aksi Damai dimulai dan tidak dapat kembali ke Istana oleh suatu sebab teknis. Para peserta Aksi Damai 411 sempat bertahan lebih lama dari waktu yang disepakati.

Syukur alhamdulillah dengan rahmat Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang gerakan Aksi Damai 411 secara garis besarnya benar-benar berjalan dengan damai, hanya ada segelintir orang penyusup yang bukan termasuk peserta Aksi Damai 411 yang melakukan kerusuhan setelah waktu Aksi Damai yang disepakati.

Semoga mereka yang mengikuti Aksi Damai 411 itu diluruskan niat dari awal hingga akhirnya adalah hanyalah untuk menyampaikan aspirasi mereka untuk semata-mata mengharapkan redho Allah, mengharapkan rahmat dan ampunanNya. Demikian juga pemerintah beserta semua jajaran aparatnya diluruskan pula niatnya untuk menjaga keamanan dan kedamaian hanya itu keredhoan, rahmat dan ampunan Allah.

Marilah kita mengambil hikmah dari Aksi Damai 411 agar kita dapat sama-sama mendapat manfaat darinya, terutama kita ambil semangat Aksi Damai 411 yang begitu tinggi sehingga menggerakkan begitu banyak umat Islam dari seluruh penjuru tanah air yang menyertainya dengan mengeluarkan biaya sendiri. Tentu ini adalah satu tanda-tanda Kebesaran Allah yang dinampakkan dengan kecintaan hambaNya pada agamaNya dan Kitab SuciNya.

Semangat dan energi  yang amat tinggi ini sebaiknya terus dipertahankan dan diarahkan untuk menambah ketaatan kepada perintah Allah yang lain yang mungkin selama ini terabaikan, yaitu sholat berjamaah tepat waktu di Mesjid. Satu perintah yang sebenarnya mudah dan murah untuk dilaksanakan.

  • Jika sholat berjamaah di Mesjid, terutama sholat Shubuh dan Isya, maka dapat kita bayangkan betapa Mesjid akan penuh seperti sholat Jum’at. Untuk melakukan ini tidaklah diperlukan biaya besar dan waktu yang lama untuk ke Jakarta dan berjalan menuju Istana Negara. Pemerintah tidak perlu repot mempersiapkan jajaran aparatnya untuk mengamankan. Seluruh Umat Islam dapat melakukan di tempat mereka masing-masing.
  • Melaksanakan  sholat berjamaah tepat waktu di Mesjid adalah “unjuk rasa” dan munajat kita kepada Allah. Dijamin kita tidak akan kecewa sebab Allah selalu hadir dan mendengarkan seluruh keluh kesah kita. Lebih-lebih lagi jika kita tambah dengan “berdemo” kepada Allah pada sholat tahajud atau sholat sunnat yang lain.
  • Dengan melakukan sholat berjamaah dan tepat waktu di Mesjid serta sholat tahajud, kitapun ikut “mengawal” hasil doa dan munajat kita kepada Allah setiap hari, yang Allah janjikan. Sebagaimana Aksi Damai 411, kitapun bersemangat akan terus melakukannya tanpa henti sampai Allah kabulkan hajat kita.
    Allah telah berjanji, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar, bukan hanya jalan keluar untuk persoalan penistaan agama, tetapi seluruh masalah hidup kita, sebab kita tidak hanya menghadapi persoalan penistaan agama.

Dengan memelihara semangat Aksi Damai 411 dan niat untuk mendapatkan keredhoan Allah kita dapat melaksanakan perintah Allah yang lain setiap saat, dimanapun kita berada. Maka dengan itu kita buktikan kepada Allah bahwa kita melakukan Aksi Damai 411 hanyalah karena Allah bukan karena yang lain, sebab semangat itu senantiasa kita pelihara tanpa perlu menunggu ada orang yang diduga menistakan agama.

Atau mungkinkah Allah kirimkan kepada kita seorang yang dituduh menista agama, karena kita selama ini telah abai kepada perintah Allah dan RasulNya shallallahu alahi wassalam seperti untuk selalu sholat berjamaah di Mesjid?
Rasulullah shallallahu alahi wassalam pernah bersabda, bahwa salah satu ciri-ciri munafik adalah malas untuk sholat berjamaah di Mesjid di waktu Shubuh dan Isya. Bahkan Rasulullah shallallahu alahi wassalam pernah mengancam akan membakar rumah Shahabat yang mendengar adzan tetapi tidak datang sholat berjamaah di Mesjid. Jadi telah lama kita telah mengabaikan dan menganggap remeh sabda Rasulullah shallallahu alahi wassalam ini, karena kita terlalu menuruti dan membiarkan hawa nafsu kita yang selalu menistakan agama pada diri kita. Mengapa kita bersemangat ketika ada terduga orang lain menistakan agama Islam tetapi membiarkan hawa nafsu kita yang juga menistakan agama Islam pada diri kita, sedang keputusan menghukum hawa nafsu kita itu ada ditangan kita?

Itulah salah satu hikmah Aksi Damai 411 yang dapat kita ambil dan sebagai bahan muhasabah kita bersama. Semoga Allah selesaikan masalah dugaan penistaan agama ini dengan solusi yang terbaik untuk Umat Islam dan Negara kita tercinta Indonesia.

Wallahu a’lam

Perbedaan mengakui Allah Yang Memberi Rezeki dengan dan tanpa mengaitkan dengan Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Dalam Tauhid 3 serangkai dinyatakan bahwa orang beriman dan orang kafir sama-sama mengakui Tauhid Rububiyah (lihat rumaysho.com/3637) yaitu sama-sama meyakini bahwa Allah adalah yang memberi rezeki kita, berdasarkan Qur’an Surat 10 Yunus: 31

10:31
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?

Kalau kita tidak mengenal arti Rububiyah yang bermakna Maha Memelihara dan Mendidik yang erat dengan Sifat Rahmat (Kasih Sayang), kita akan mudah percaya dengan hujjah mereka ini. Padahal pemahaman mereka tentang Rububiyah dalam Tauhid Rububiyah bertentangan dengan Al Qur’an, sebab mereka justru menta`thil (membuang) makna Memelihara dan Mendidik dengan kasih sayang.

Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini Allah Yang Maha Memberi rezeki dengan mengaitkan Sifat Rububiyah Allah Yang Maha Memelihara dan Mendidik dengan Kasih sayang sebagaimana orang beriman yang meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, sedang Tauhid 3 serangkai meyakini Allah memberi rezeki sebagaimana orang kafir yang tidak mengaitkan sama sekali dengan Sifat Rububiyah Allah Yang Maha Memelihara dan Mendidik dengan Kasih sayang.

Orang beriman selalu sadar untuk apa Allah memberi rezeki yaitu untuk menguji kita apakah kita termasuk orang yang bersyukur atau kufur, ini dijelaskan dalam QS An-Naml:40,

Surat An Naml ayat 40
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia, 

Orang kafir tidak mengakui Allah sebagai Robb /Tuhan mereka, bahkan mereka mengakui selain Allah sebagai arbaba (tuhan-tuhan, arbaba adalah dari kata plural/jama’ dari kata robb).

Surat At-Taubah: 31

9:31
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai“arbaba” (robb-robb/tuhan-tuhan) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa orang-orang Yahudi telah menjadikan rahib-rahib mereka menjadi arbaba (robb-robb) bagi mereka. tidak dikatakan aalihah (ilah-ilah).

Surat Asy-Syu´ara 96 – 98
26:96

Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka:

26:97

“demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata,

26:98
karena kita mempersamakan kamu dengan Robbul ´alamin (Tuhan semesta alam)“.

Dalam QS Asy-Syu´ara 96 – 98, diceritakan bahwa di akhirat kelak orang kafir menyesal sebab telah menyamakan yang selain Allah sebagai Robb dari alam semesta, bukan hanya sebagai Ilah.

Surat Yusuf 39
Surat Yusuf Ayat 39
Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, arbaba (robb-robb/tuhan-tuhan) yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?

Maka mereka tidak peduli untuk apa Allah memberi rezeki, bahkan orang kafir merasa sombong atas rezeki yang diterimanya, dianggapnya itu adalah karena ilmunya, sebagaimana yang disebut dalam QS Al Qashash:78

 

Surat Al Qashash ayat 78
Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.

 

Orang beriman sangat sadar bahwa semua karunia Allah adalah untuk menguji dirinya sebagai rahmat (kasih sayang) dalam Didikan dan Pemeliharaan Allah kepadanya, sedang orang kafir tidak tahu dan tidak peduli dengan didikan dan pemeliharaan Allah, sebab orang kafir memang tidak mengakui Sifat Rububiyah Allah, yang Maha Memelihara dan Mendidiknya dengan kasih sayang. Bahkan orang kafir berputus asa terhadap Rahmat (Kasih Sayang) Allah.

Ini jelas disebut dalam Quran Surat Yusuf 87:

Surat Yusuf Ayat 87
Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir
Dan dalam Surat Al Ankabut 23
Surat Al 'Ankabut Ayat 23
Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih

 

Jadi jelas Al Qur’an menjelaskan bahwa orang kafir tidak pernah mengakui Tauhid Rububiyah seperti yang dikatakan oleh ajaran Tauhid 3 serangkai.

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi