Andalan

Pendahuluan

Bismillahirohmanirrohim,

Segala puja dan puji hanya milik Allah Robb seluruh alam, Arrahman, Yang Maha Pemurah dan Arrohim, Yang Maha Penyayang. Salam dan Sholawat semoga selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi tercinta Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam beserta keluarga dan shahabat serta pengikutnya yang ikhlas hingga akhir zaman.

Kami mulakan penulisan tulisan ini dengan pujian kepada Allah dan Sholawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam.

Kami memohon dan berharap kepada Allah dengan keberkatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam dan guru-guru kami yang telah menyampaikan ilmu Allah kepada kami untuk membantu kami menulis di blog ini, karena tidak ada kemampuan tidak ada kuasa untuk menulis walaupun satu huruf atau tanda baca, kecuali dengan izin Allah.

Semoga Allah selalu meluruskan niat kami dalam menulis ini hanyalah untuk memperoleh keredhoan Allah, untuk men-share ilmu yang Allah pinjamkan kepada kami sebelum Allah memanggil kami untuk kembali kepadaNya. Tidak ada ilmu yang ada pada kami kecuali ilmu yang Allah ajarkan kepada kami.

Semoga tulisan-tulisan yang kami sampaikan ini bermanfaat untuk kami dan pembaca sekalian, di dunia dan di akhirat.

Pemuda Desa

Artikel:

Penjelasan kekeliruan ajaran membagi Tauhid menjadi 3 (Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa Sifat).

Tauhid Rububiyah dalam ajaran 3 Tauhid melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri

Orang kafir mengakui adanya Allah bukan sebagai Robb mereka

Sifat Rahmat (Kasih Sayang) adalah Sifat Utama Rububiyah Allah

Mengapa Sifat Rahmat sangat penting dalam Sifat Rububiyah dan Uluhiyah Allah

Sejarah ditulisnya ilmu-ilmu Islam

Jika seseorang mengakui Allah sebagai Robb baginya.

Perbedaan memahami Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan dengan dan tanpa Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Allah sebagai Maha Pencipta di mata orang beriman dan orang musyrikin

Al Qur´an membantah bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah

Akibat ajaran Tauhid Rububiyah dari ajaran 3 Tauhid yang menyandarkan pada ayat Quran untuk orang kafir

Mengapa ASWAJA mengikuti Imam Mazhab

Anomali Tauhid Asma Wa Sifat yang memahami sifat Allah sesuai lafaz zahir Asma dan Sifat Allah, kecuali Sifat Rububiyah

Bagaimana ASWAJA memahami ayat-ayat Mutasyabihat

Perbedaan pemahaman orang beriman dan orang kafir terhadap Allah sebagai Pencipta langit dan bumi

Anomali pengikut Tauhid 3 serangkai yang percaya dengan ahlinya kecuali kepada Imam Mazhab

Isyarat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam membenarkan Aqidah ASWAJA Asy´ariyyah/Maturidiyah, berfiqih dengan bermazhab dan bertasauf

Ulama Tauhid 3 Serangkai mengubah (mentahrif) text dalam Kitab Ulama ASWAJA (1)

Ulama Tauhid 3 Serangkai mengubah (mentahrif) text dalam Kitab Ulama ASWAJA (2)

Kekeliruan Tauhid 3 serangkai membawa kepada kerancuan

Ulama Tauhid 3 serangkai memasukkan fahamannya melalui catatan kaki Mushaf Al Qur’an

Sajak Muhasabah Anehnya Tauhid 3 Serangkai

Orang kafir berputus asa terhadap Sifat Utama Rububiyah yakni Rahmat Allah

Ulama Tauhid 3 serangkai memasukan fahamannya melalui catatan kaki Kitab Riyadhush Sholihin

Mengapa pernyataan orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah adalah mustahil

Mengapa Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah adalah sama

Mengapa perkumpulan ASWAJA mesti mendeklarasikan Aqidah Asy´ariyah/Maturidiyah, bermazhab dan bertasawuf

Benarkah mengatakan mari kembali kepada Qur´an dan Sunnah mendekatkan orang kepada Qur´an dan Sunnah?

Ayah Rasulullah Shallallahu alahi wa alihi wassalam

Ibunda Rasulullah Shallallahu alahi wa alihi wassalam

Mengapa Ilmu Mantiq diperlukan untuk memahami Aqidah

Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 1: Sifat Nafsiyah dan Sifat Salbiyah)

Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 2: Sifat Ma’ani: Hayyun, Qudrah dan Iradah)

Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 3: Sifat Ma’ani Ilmun dan Kalam)

Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 4: Sifat Ma’ani Sama’ dan Bashar)

Sifat Jaiz Allah

Perbedaan mengakui Allah Yang Memberi Rezeki dengan dan tanpa mengaitkan dengan Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Hikmah Aksi Damai 411 (4 November 2016)

Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat

Hikmah Aksi Super Damai 212 (2 Desember 2016)

Mengenal Sifat Jaiz Allah untuk Memahami Khawariqul ´Adat

Mengapa muslim Ahlussunnah wal Jama’ah menolak Ustad Khalid Basalamah

Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah

Apa maksud “janganlah kalian berpikir tentang Dzat Allah, tapi pikirkanlah ciptaan-Nya”?

 

Bahaya fahaman Mujassimah (1); Allah ada di comberan?

Bahaya fahaman Mujassimah (2); Allah ada di luar alam?

Perkara buruk apa yang sama-sama dilakukan oleh golongan yang mengkafirkan Shahabat radhiallahu anhum dan golongan Tauhid 3 serangkai?

Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah?

Bahaya fahaman Mujassimah (3), Allah mempunyai sifat fisik?

Bagaimana menjelaskan konflik antara kaidah Tauhid Rububiyah dan kaidah Tauhid Asma wa Sifat dalam ajaran Tauhid dibagi 3 dengan kaidahnya sendiri

Bahaya fahaman Mujassimah (4), Allah ada di atas?

Hal penting dari Sultan Muhammad Al Fatih yang tidak diceritakan oleh Ustad Felix Siauw

 

Iklan

Hal penting dari Sultan Muhammad Al Fatih yang tidak diceritakan oleh Ustad Felix Siauw

Muh_Fatih_Felix_Siauw_1

Ustad Felix Siauw adalah seorang Muslim yang amat fenomenal yang dahulunya adalah seorang Mualaf. Beliau menemukan Islam dari hasil pencarian beliau kepada kebenaran, yang akhirnya beliau dapatkan ketika beliau kuliah di IPB melalui Jamaah Hizbut Tahrir Indonesia. Jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang maka tidak ada apapun yang dapat menyesatkan. Sebaliknya jika Allah biarkan seseorang itu sesat karena kekesatan hatinya, maka tidak dapat seorangpun memberikan hidayah kepadanya.

Dalam waktu yang relatif singkat beliau telah berubah dari seorang Mualaf – yaitu orang yang baru masuk Islam yang hatinya perlu diberikan “ulfah” atau kasih sayang khusus – menjadi seorang Mukallaf yang tidak hanya memikul beban syariat tetapi juga seorang yang memikul beban dakwah. Semoga Allah melindungi dan memimpin beliau dalam melaksanakan tugas berdakwah di jalanNya.

Dalam dakwahnya itu beliau terkenal diantaranya karena sering meng“highlight” kisah perjuangan Sultan Muhammad II, salah seorang Sultan dari kerajaan Usmaniyah yang mendapat gelar Al Fatih, karena beliaulah yang berhasil melakukan Futuh (membuka) Konstantinopel (Istanbul) pada tahun 1453 M.

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الْاَمِيرُ اَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

“Sungguh akan terjadi Futuh Kota Konstantinopel di tangan Islam. Pemimpin yang berhasil melaksanakan Futuh itu adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”[Hadits Konstantinopel]

Muh_Fatih_Felix_Siauw_2

Beliau telah menulis sebuah buku tentang perjuangan Sultan Muhammad Al Fatih. Kamipun tertarik untuk membeli dan membaca buku itu.
Dalam buku itu, beliau menerangkan secara detail bagaimana Muhammad Al Fatih kecil dididik oleh ayahnya Sultan Murad II dengan mencarikan guru-guru terbaik, sehingga menjadikannya menjadi pejuang tangguh, pemimpin terbaik yang memimpin pasukan terbaik, sesuai dengan Hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tentang pembukaan (Futuh) Kontantinopel. Bahkan beliau menulis secara detail strategi dan alat perang yang digunakan dengan panjang lebar.

Namun sayang sekali kami tidak menemukan perkara yang amat penting dari Sultan Muhammad Al Fatih yang semestinya beliau juga “highlight“kan dalam bukunya itu. Yaitu landasan agama Islam yang dipegang oleh Sultan Muhammad Al Fatih dan kerajaan Usmaniyah. Kalau Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sudah memuji tentulah apa-apa yang ada pada orang itu dalam hal beragama adalah benar dan tidak diragukan lagi, sehingga patut untuk kita jadikan tauladan. Demikian juga Sultan Muhammad Al Fatih. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sudah memujinya bahkan dengan bala tetaranya sebelum mereka dilahirkan (lihat Isyarat Rasulullah SAW membenarkan Aqidah ASWAJA Asy´ariyyah/Maturidiyah, berfiqih dengan bermazhab dan bertasauf).

Sekarang ini banyak golongan mengaku beragama Islam dan mengaku Ahlussunnah wal Jamaah. Namun Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya punya ciri khas tersendiri yang telah diketahui dan disepakati oleh Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jamaah dari zaman ke zaman. Ciri khas itu adalah landasan agamanya yang dikenal dengan tiga Rukun Agama dalam Ahlussunnah wal Jamaah yaitu: Islam, Iman dan Ihsan. Tiga rukun agama ini diambil dari Hadits yang terkenal yang sering juga disebut dengan Hadits Jibril:

“Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khatthab RA, beliau berkata, ‘Pada suatu hari, di saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, tiba-tiba muncullah seorang laki-laki yangsangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, dan tidak terlihat bekas-bekas bahwa dia datang dari jauh, dan tidak ada seorang pun diantara kami yang mengenalinya, sampai dia duduk di depan Nabi shallallahu alaihi wassalam, dan menempelkan kedua lututnya dengan kedua lutut Nabi, seraya meletakkan kedua telapak tangannya di kedua paha beliau. Kemudian dia berkata, ‘Ya Muhammad, jelaskan kepadaku tentang Islam?’

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Islam ialah hendaknya angkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah rasul-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan melaksanakan haji jika engkau mampu.’

Laki-laki itu berkata, ‘Engkau benar’. Maka kami pun merasa heran terhadap laki-laki itu, dia bertanya tapi dia juga membetulkan (jawabannya). Selanjutnya dia berkata, ‘Terang pula kepadaku tentang Iman?’

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Iman ialah hendaknya engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan buruknya.’

‘Engkau benar’, kata laki-laki itu. Seterusnya dia berkata, ‘Jelaskan kepadaku tentang Ihsan?’

Nabi shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Ihsan ialah hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.’

Laki-laki itu berkata, ‘Jelaskan pula kepadaku tentang hari kiamat?.’

Nabi shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.’

Laki-laki itu berkata lagi, ‘Katakan kepadaku tentang tanda-tandanya (kiamat)?’

Nabi shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘(Tanda-tandanya ialah) jikaseorang budak perempuan telah melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang, papa, dan penggembala kambing, berlomba-lomba membangun rumah-rumah yang tinggi.’

Untuk mempelajari ketiga rukun agama itu, Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah menjabarkannya menjadi ilmu Fiqih, Ilmu Tauhid dan Ilmu Tasawuf *) sbb:

  1. Ilmu Fiqih, yaitu ilmu tentang hukum-hukum syariat yang diwajibkan oleh Allah untuk dilaksanakan oleh kaum muslim dan muslimat. Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah bersepakat bahwa dalam ilmu fiqih, umat Islam Ahlussunnah wal Jama´ah mengikuti satu dari 4 Mazhab yang mu´tabar yaitu Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafei dan Mazhab Hambali. (lihat Mengapa Ahlussunnah wal Jamaah mengikuti Imam Mazhab).
  2. Ilmu Tauhid atau Aqidah, yaitu hal-hal yang wajib diyakini oleh seorang mukallaf (orang yang telah dewasa yang wajib menjalankan hukum agama), yang terdiri dari ketuhanan, kenabian, dan hal-hal yang sam’iyyat (masalah-masalah ghaib). Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah bersepakat bahwa jika disebut Aqidah Ahlussunnah wal Jama´ah adalah Aqidah yang disusun oleh Imam Abul Hasan Al Asy´ari (wafat 324 H) dan Imam Abu Mansur Al Maturidi (wafat 333 H). Oleh sebab itu disebut juga Aqidah Ahlussunnah wal Jama´ah Asy´ariyyah dan Maturidiyah. (lihat Mari menyelami Sifat Wajib Allah yang 20 (bagian 1: Sifat Nafsiyah dan Sifat Salbiyah)).
  3. Ilmu Tasawuf, yaitu ilmu tentang akhlak bathin dimana sifat yang baik (mahmudah) wajib dijadikan hiasan oleh seorang hamba, dan sifat yang buruk mazmumah mesti dibuang dan ditinggalkan. Di antara Imam yang telah menyusun Kitab Tasawwuf dari Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah adalah Imam Junaid Al Baghdadi, Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani, Imam Ghazali, Ibnu Athoilah As-sakandari dan banyak lagi.
    (lihat Sejarah ditulisnya ilmu-ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama´ah ).

Inilah pegangan Sultan Muhammad Al Fatih dan Kerajaan Usmaniyah. Dalam hal fiqih, orang Turki pada umumnya bermazhab Hanafi. Aqidahnya mengikuti Imam Abu Mansur Al Maturidi yang juga bermazhab Hanafi. Umat Islam yang bermazhab Maliki dan Syafei pada umumnya Aqidahnya mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy’ari. Pengikut Mazhab Maliki mengatakan bahwa Imam Abul Hasan Al Asy’ari bermazhab Maliki, dan pengikut Mazhab Syafei mengatakan beliau bermazhab Syafei. Hal ini bukan masalah sebab memang di zaman itu, masih banyak Ulama yang menguasai lebih dari satu Mazhab. Ilmu Aqidah Ahlussunnah wal Jama´ah yang disusun oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Maturidi adalah sama pada pokoknya. Hanya ada perbedaan kecil yang tidak menyangkut pokok, seperti pada cara pendefinsian. Misalnya dalam ajaran Imam Abul Hasan Al Asy´ari sifat wajib Rasul ada 4 yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah. Sifat Ma´shum (tidak melakukan dosa) sudah termasuk di dalam 4 Sifat itu. Dalam ajaran Imam Abu Mansur Al Maturidi, sifat wajib Rasul ada 5 yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah dan ‘Ishmah (Ma´shum).
Pengikut Mazhab Hambali sebagiannya mengikuti Aqidah Asy’ariyah dan Maturidiyah, sebagiannya mengikut Aqidah yang disusun oleh Ibnu Taimiyah (wafat 728H) yang sekarang kemudian dikenal dengan Tauhid dibagi 3. Ibnu Taimiyah memang dikenal sebagai Ulama yang banyak pendapatnya keluar dari Jumhur Ulama Ahlussunah.
Umat Islam pada zaman kerajaan Usmaniyah pada umumnya bertasawuf dengan mengikuti Tariqat sebagai jalan untuk mendidik akhlaknya. Bahkan guru dari Sultan Muhammad Al Fatih adalah bertariqat Naqsibandiyah. Pada umumnya para Sultan dari Kerajaan Usmaniyah memang bertariqat Naqsibandiyah.

Mengapa menyebutkan 3 Rukun agama ini sangat penting? Kalau kita membuka Kitab-kitab Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang terdahulu, seperti Imam Ghazali, Imam As Suyuti, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Zakaria Al Anshari, Imam Fahrurrazi, Imam Ahmad Ad-Dardir dan lain-lain. Mereka selalu menuliskan pada awal Kitabnya itu tentang pegangan mereka dalam Aqidah, madzhab fikih dan tidak jarang mereka sebut pula Tariqatnya. Ini menunjukkan bahwa perkara ini amat penting. Kita Umat Islam Ahlusssunnah wal Jamaah akan segera tahu bahwa penulis buku itu adalah Ulama Ahlussunnah wal Jamaah, sehingga timbul kecintaan dan ta’zhim kepadanya karena kesamaan guru yaitu para Imam Ahlussunnah wal Jamaah.

Kita lebih dapat memahami maksud mereka mendeklarasikan pegangannya dalam Kitab-Kitab mereka dengan melihat keadaan zaman sekarang ini. Karena di zaman inilah banyak orang mengaku mengikuti Qur’an dan Hadits tetapi tanpa menyebut darimana mereka memperoleh ilmu Qur’an dan Hadits. Yaitu ilmu yang berkaitan dengan perkara Aqidah, Fiqih dan Tasawwuf sebagai penjabaran Hadits Jibril di atas dalam kehidupan, yang telah disepakati oleh Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jamaah.
Kalau mereka tidak menuliskan dari siapa mereka belajar sebagai rasa syukur dan mengingat jasa guru, bagaimana mereka dapat mendidik orang lain agar bersyukur dan mengingat jasa gurunya?

Oleh sebab itu di akhir zaman ini mendeklarasikan bahwa kita berpegang pada Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah di saat orang menganggap remeh perkara ini adalah suatu dakwah dan syiar Islam. Mengatakan kita berpegang pada satu dari 4 Mazhab yang Muktabar (Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafei dan Mazhab Hambali) di kala orang mengabaikan Mazhab adalah dakwah dan syiar Islam. Mengatakan kita mengikuti Ulama Tasawuf yang Muktabar di waktu orang mengatakan tasawuf itu bid’ah adalah dakwah dan syiar Islam.

Insya Allah umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah akan kembali berjaya sebentar lagi, karena semakin banyak orang yang melakukan dakwah dan syiar Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah. Dengan itu di satu sisi akan semakin banyak pula umat Islam yang mengenal dan melihat kehebatan dan kecerdasan Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah, di sisi lain semakin nampak kelemahan dan keanehan ajaran Islam yang menyimpang, terutamanya ajaran Aqidah yang membagi Tauhid menjadi 3 yang didukung oleh suatu negara Petrodollar. Sebagaimana dahulu Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi mengembalikan Umat Islam dari aliran Aqidah menyimpang Muktazilah yang juga disponsori oleh suatu kerajaan Islam. Mereka memenangi perjuangan mereka bukan dengan politik, tetapi melalui dakwah dan penyampaian kepada Umat Islam yang memperlihatkan kehebatan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Perjuangan Sultan Muhammad Al Fatih inilah Isyarat Rasulullah shallallahu alaihi wassalam membenarkan Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah Asy´ariyyah/Maturidiyah, berfiqih dengan bermazhab dan bertasauf.

Satu hal yang jarang diketahui oleh mayoritas Umat Islam Indonesia bahwa Umat Islam Turki berpegang pada Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariah/Maturidiyah hingga sekarang. Kalau anda datang ke Mesjid yang dikelola oleh pemerintah atau oleh organisasi Islam Turki baik di dalam negeri maupun di luar negara Turki anda akan melihat bahwa mereka semua berpegang pada Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariah/Maturidiyah. Setiap Mesjidnya selalu ada Hojah (Ustad) yang bertugas berkhidmat di Mesjid, Tidak ada Mesjid didirikan tanpa Hojah. Para Hojah inilah yang menjaga pegangan Ahlussunnah wal Jamaah di Mesjid itu. Inilah keunggulan masyarakat Islam Turki dibanding Umat Islam bangsa lain sekarang ini.

Pengaruh pengikut Tauhid dibagi 3 dan golongan orang yang mengkafirkan Shahabat hampir-hampir tidak ada. Ini juga berkat warisan dari Kerajaan Usmaniyah yang telah berkhidmat selama hampir 700 tahun memegang amanah Khilafah kepada umat Islam.

Banyak muslim Indonesia yang menokohkan President Turki sekarang, tetapi hanya melihat dari sisi politik, karena mungkin merasa sama-sama berjuang melalui Partai Islam. Namun kekuatan Islam di Turki bukanlah kekuatan partai politik saja, melainkan yang terpenting adalah kesamaan pegangan Ahlussunnah wal Jamaah pada masyarakat Islam Turki pada umumnya. Semua Mesjid baik yang dikelola oleh pemerintah maupun dari berbagai organisasi Islam, mereka sama-sama memperingati hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi, Malam Rajaib (malam Jumat pertama di bulan Rajab), Baraat Kandili (malam Nisyfu Sya’ban), hari Asyura (10 Muharam), Isra’ Mi’raj dan lain-lain. Mereka merayakan Hari Raya Idul Adha dan Idul Fithri pada hari yang sama sesuai dengan keputusan pemerintahnya. Tidak ada issue bid’ah membid’ahkan di antara mereka. Perkara ini kelihatannya remeh temeh, tapi inilah kekuatan pemersatu Umat islam Turki yang luar biasa. Oleh sebab itu kami ingin “highlight”kan hal penting dari Sultan Muhammad Al Fatih yang tidak diceritakan oleh ustad Felix Siauw dalam buku dan pengajian-pengajiannya.
Hal penting ini sampai saat ini masih menjadi kekuatan utama persatuan Umat Islam di Turki. Agar kalau kita ingin benar-benar menjadikan Sultan Muhammad Al Fatih sebagai tauladan perjuangan kita, maka mulai dari bagian mana dari Sultan Muhammad Al Fatih yang ingin kita tiru? Tentulah kita mulai dari landasan agamanya, yaitu Aqidahnya, fikihnya dan tasawufnya. Bukankah beliau telah dipuji oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Tentulah beliau termasuk orang yang telah diberi ni’mat, yaitu orang yang ingin kita ikuti, seperti do’a kita dalam surat Al Fatihah yang selalu kita baca, bahwa kita minta ditunjukkan jalan yang lurus yaitu jalan orang yang telah Allah beri ni’mat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang tersesat. Amin Allahumma amin.

Wallahu a´lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

*) KH Hasyim Asy’ari sudah mengingatkan kepada Umat Islam Indonesia tentang pentingnya pegangan Ahlussunnah wal Jamaah ini – yang menjadi pegangan Umat Islam Nusantara dari awal datangnya Islam ke Nusantara – dalam Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ustad Adi Hidayat telah menjelaskan sebagiannya, namun sayang justru tidak menjelaskan 2 bagian pentingnya  yaitu

  1. Apa itu Ahlussunnah wal Jamaah yaitu
    a. Islam, ilmunya disebut ilmu Fiqih dengan mengikut satu dari 4 Imam Mazhab (dalam hal ini di Indonesia, mayoritas bermazhab Syafei)
    b. Iman, ilmunya disebut ilmu Tauhid/Aqidah yang merujuk kepada Imam Abul Hasan Al Asy’ari (dan Imam Abu Mansur Al Maturidi.
    c. Ihsan, ilmunya disebut Ilmu Tasawuf/Akhlak mengikuti Ulama Tasawuf seperti Imam Ghazali dan Imam Junaid Al Baghdadi
  2. Kekeliruan ajaran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab yang membagi Tauhid menjadi 3 (Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Sifat).

(Lihat Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat).

Bahaya fahaman Mujassimah (4), Allah ada di atas?

Setelah kita membahas:

Bahaya fahaman Mujassimah (1); Allah ada di comberan?

Bahaya fahaman Mujassimah (2); Allah ada di luar alam?

Bahaya fahaman Mujassimah (3), Allah mempunyai sifat fisik?

Kali ini kita bahas Video seorang Ustad yang berfaham Mujassimah yang konon ingin mengenalkan lebih dekat Aqidah Asy’ariyah dengan maksud ingin menunjukkan kekeliruannya. Namun karena beliau sebenarnya tidak faham Aqidah Asy’ariyah/Maturidiyah, maka yang terjadi adalah sebaliknya, beliau justru menerangkan hakikat fahaman Mujassimah dalam ajaran yang membagi Tauhid menjadi 3.
Aqidah Asy’ariyah/Maturidiyah adalah Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya yang dianut oleh mayoritas umat Islam dari dahulu hingga sekarang.

Beliau mengatakan bahwa Allah berada di atas dengan makna zahirnya, Lihat video dibawah pada menit 11:50 hingga 13:00

 

Bahkan beliau menyindir pemahaman Aqidah Asy’ariyah dengan mengatakan:

“Saya tidak pernah mendengar mereka berkata kita serahkan kepada yang ada dimana-mana. Saya tidak pernah mendengar kita serahkan kepada yang tidak di atas dan yang tidak dibawah.”

Secara tidak sadar pernyataan telah menjelaskan fahaman Mujassimahnya itu. Kaum Mujassimah jika mendengar ayat atau hadits yang menyatakan Sifat Allah yang berkaitan dengan tempat, mereka langsung memahaminya dengan makna zahirnya. Karena mereka memahami Dzat Allah itu berjisim (bertubuh/ fisik/ benda), maka yang mereka fahami dari pernyataan “Allah ada dimana-mana”, adalah jisim Dzat Allah ada di mana-mana. Padahal yang dimaksud bukanlah Dzat Allah berada dimana-mana, melainkan tanda-tanda Sifat Keagungan Allah ada di mana-mana.

Demikian juga mereka tidak faham pernyataan “Allah tidaklah berada di atas dan tidak pula di bawah”. Kaum Mujassimah tidak dapat memahami bahwa Dzat Allah bukan jisim. Karena Dzat Allah bukan jisim maka Allah tidak memiliki sifat jisim. Sifat jisim hanya ada pada makhluk. Jisim memerlukan tempat/ruang.
Makna zahir “di atas” dapat dikatakan “di atas” karena ada jism lain yang berada di bawahnya. Sifat jisim berada di atas ini pun hanya dapat dikatakan oleh jisim lain yang berada di bawahnya. Jadi makna zahir di atas tergantung dari sesuatu yang berada di bawahnya. Kalau tidak ada sesuatupun di bawah benda itu, maka tidak dapat dikatakan benda itu berada di atas.
Jadi Mustahil Allah “di atas” difahami dengan makna zahirnya, karena Allah bukan jisim yang tergantung pada yang lain.

(lihat juga Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah )

Kaum Mujassimah benar-benar memahami Ayat Quran yang Mutasyabihat dengan makna zahirnya, tanpa takwil dan tanpa takwil. Karena begitulah kaidah Tauhid Asma wa Sifat dalam Tauhid dibagi 3. Namun anehnya ketika membahas Tauhid Rububiyah mereka justru melanggar kaidah ini, karena banyak Sifat Allah yang ditakwil dan di ta’thil (lihat Bagaimana menjelaskan konflik antara kaidah Tauhid Rububiyah dan kaidah Tauhid Asma wa Sifat dalam ajaran Tauhid dibagi 3 dengan kaidahnya sendiri). Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah telah menjelaskan Bagaimana memahami ayat-ayat Mutasyabihat.

Makna Allah di atas yang disebut di dalam hadits jariyah yang sering mereka sebutkan, sebenarnya bukanlah makna zahirnya. Kalau kita ingin membahas makna di atas maka kita perlu takwil (mengalihkan makna) dari makna zahir hadits yang Mutasyabihat (samar) kepada makna yang pasti yang pada Ayat Muhkamat (yang jelas maknanya).

Untuk memudahkan kita faham makna “di atas” bukan dengan makna zahir, kita uraikan sebagai berikut. Kalau kita melihat ada orang berkuasa, kita yakin pasti ada orang lain yang “di atasnya” yang lebih berkuasa dari pada orang itu. “Di atas” orang inipun pasti ada orang lain lagi yang lebih berkuasa. Dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya “Yang mengatasi” semua makhluk ini adalah Allah yang Maha Berkuasa. Kalau orang yang berkuasa memerlukan ada orang lain atau benda yang dikuasainya, sedang Allah tidak memerlukan makhluk yang dikuasaiNya. Allah tetap Maha Kuasa dan Kuasa Allah sama sekali tidak bertambah dan berkurang baik ketika makhluk itu belum, setelah diciptakan, maupun jika ditiadakan kembali. Ini sesuai dengan Firman Allah di QS Al Baqarah:20

 

Surat Al-Baqarah Ayat 20
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

 

Kalau kita melihat ada orang kaya, tentu kita yakin pasti ada orang yang “di atas”nya yang lebih kaya dari pada orang itu. “Di atas” orang inipun pasti ada orang lain lagi yang lebih kaya. Dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya “Yang mengatasi” semua makhluk ini adalah Allah yang Maha Kaya. Kalau orang yang kaya memerlukan adanya orang lain atau benda yang menjadi kekayaannya, sedang Allah tidak memerlukan makhluk yang dimilikiNya. Bahkan kekayaan Allah sama sekali tidak bertambah dan berkurang baik ketika makhluk itu belum atau setelah diciptakan, maupun jika ditiadakan kembali. Ini sesuai dengan Firman Allah di QS Al Ankabut:6

Surat Al 'Ankabut Ayat 6

Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Demikian juga kalau kita melihat ada orang yang berilmu, tentu kita yakin pasti ada orang lain yang “di atas”nya yang lebih banyak ilmunya dari pada orang itu. “Di atas” orang inipun pasti ada orang lain lagi yang lebih berilmu. Dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya “Yang mengatasi” semua makhluk ini adalah Allah yang Maha Berilmu (Mengetahui). Kalau orang yang berilmu dikatakan berilmu karena ada orang lain yang lebih sedikit ilmunya dari dirinya. Artinya orang berilmu itu memerlukan adanya orang lain yang lebih bodoh darinya, sedang Allah tidak memerlukan makhluk. Allah tetap disebut Maha Mengetahui, IlmuNya sama sekali tidak bertambah dan tidak berkurang baik ketika makhluk itu belum atau setelah diciptakan, maupun jika ditiadakan kembali. Ini sesuai dengan Firman Allah di QS Al Hasyr:22

 

Surat Al-Hasyr Ayat 22

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 

Jadi kalau kita memahami Sifat Salbiyah yang kita pelajari dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah, adalah sangat jelas dan “smart” dalam memahami Sifat-Sifat Allah yang indah itu (Asmaul Husna). Sangat rugi mereka yang tidak dikenalkan dengan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah, apalagi jika mereka justru menganggap remeh ajaran Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah. Mereka menjadi tidak kenal dengan Ulama-ulama Ahlussunnah wal Jamaah dan tidak mengenal betapa hebat Ulama-Ulama itu. Mereka jadi tidak dapat mensyukuri jasa Ulama yang membawa Islam sehingga sampai kepada kita.

Kalau mereka tidak kenal Ulama yang bersambung ilmunya kepada Ulama Salaf dan seterusnya para Shahabat radhiallahu anhum dan seterusnya Rasulullah shallallahu alaih wassalam, bagaimana mereka dapat kenal kepada Rasulullah?

Allah menyuruh kita berdoa agar terlindung dari fitnah orang yang hatinya condong pada kesesatan karena mengikuti makna zahir Ayat Mutasyabihat (QS Ali Imran:8)

 

Surat Ali Imran Ayat 8
(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

 

Wallahu a´alam.
Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Bagaimana menjelaskan konflik antara kaidah Tauhid Rububiyah dan kaidah Tauhid Asma wa Sifat dalam ajaran Tauhid dibagi 3 dengan kaidahnya sendiri

Dalam ajaran Tauhid dibagi 3, Tauhid terdiri dari

  1. Tauhid Rububiyah
  2. Tauhid Uluhiyah
  3. Tauhid Asma wa Sifat

Ajaran ini menerangkan kaidah-kaidah Tauhid ini dengan urutan yang disebut di atas. Namun kalau kita jeli mendalaminya, sebenarnya ada konflik antara kaidah Tauhid Rububiyah dan kaidah Tauhid As wa Sifat. Kita dapat dengan mudah mengetahui konflik kaidah antara kedua Tauhid ini, jika kita mulai dari memahami kaidah Tauhid Asma wa Sifat dan baru kemudian membahas kaidah Tauhid Rububiyah.

Cara pengajaran Tauhid dibagi 3 dengan urutan seperti di atas telah “membungkus” kejanggalan dan konflik kaidah Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma wa Sifat. Lihat video di bawah ini dan tulisan di muslim.or.id/6615-makna-tauhid. Di situ diterangkan kaidah jenis-jenis Tauhid sesuai urutan pembagian Tauhid di atas.

Berikut ini penjelasan konflik dan kejanggalan kaidah Tauhid dibagi 3 dengan kita membahas kaidah Tauhid Asma wa Sifat terlebih dahulu dan kemudian membahas Tauhid Rububiyah.

istawa_kuasa

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

Kaidah Tauhid Asma wa Sifat

Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif (mengubah), tanpa ta’thil (mengingkari) dan tanpa takyif (bertanya bagaimana) (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul).

Tahrif/Takwil adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna zhahir-nya menjadi makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata ‘istiwa’ yang artinya ‘bersemayam’ dipalingkan menjadi ‘menguasai’.

Ta’thil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat Allah. Sebagaimana sebagian orang yang menolak bahwa Allah berada di atas langit dan mereka berkata Allah berada di mana-mana.

Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah sama sekali tidak serupa dengan makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang mampu menggambarkan hakikat wujudnya. Misalnya sebagian orang berusaha menggambarkan bentuk tangan Allah,bentuk wajah Allah, dan lain-lain.

Adapun penyimpangan lain dalam tauhid asma wa sifat Allah adalah tasybih dan tafwidh.

Kaidah Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi,

Dan perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang.

Pelanggaran Kaidah Tauhid Asma wa Sifat pada pembahasan Tauhid Rububiyah

Mentakwil (memalingkan) Sifat Allah

Contoh Sifat Allah yang ditakwil (dipalingkan maknanya) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah (lihat muslim.or.id/6615-makna-tauhid dan screen shot di atas)

  • QS Az-Zukhruf: 87

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Az Zukhruf: 87)

Di situ jelas ditulis ketika orang kafir ditanya siapakah “Siapa yang menciptakan mereka?”. Orang kafir menjawab: Allah. Sifat yang ditetapkan di situ adalah. Orang kafir mengakui bahwa Allah Menciptakan mereka. Ditakwil (dipalingkan maknanya) menjadi orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah.

  • QS. Al Ankabut 61

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjalankan matahari juga bulan?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Al Ankabut 61)

Di situ jelas ditulis ketika orang kafir ditanya “Siapa yang menciptakan langit dan bumi?”. Orang kafir menjawab: Allah. Sifat yang ditetapkan di situ adalah. Orang kafir mengakui bahwa Allah Menciptakan langit dan bumi. Ditakwil (dipalingkan maknanya) menjadi orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah.

Menta’thil (mengingkari/menolak) Sifat Allah

Banyak Sifat Allah yang dita’thil (diingkari) dalam Tauhid Rububiyah. Telah ditetapkan dalam pembahasan Tauhid Rububiyah, bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah. Padahal banyak Sifat Rububiyah Allah yang disebut dalam Qur’an yang tidak diakui oleh orang kafir. Contoh:

  • QS An Naziat 10-11
Surat An-Nazi´at Ayat 10
(Orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?
Surat An-Nazi´at Ayat 11
Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?”

 

Allah akan menghidupkan manusia di akhirat setelah mematikan mereka di dunia. Orang kafir tidak mengakui. Jadi kalau Sifat ini saja tidak dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah, tentu tidak dapat menyimpulkan bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah.

  • QS Al Ankabut 23
Surat Al 'Ankabut Ayat 23
Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.

Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Maha Pengasih dan Penyayang. Ini adalah Sifat Utama Rububiyah Allah. Rububiyah maknanya Memelihara / Mendidik. Sifat Utama Mendidik adalah Kasih Sayang. SIfat ini tidak diakui oleh orang kafir. Mereka berputus asa terhadap Rahmat (Kasih Sayang) Allah. Jadi kalau Sifat ini tidak dita’thil (diingkari) dalam pembahasan Tauhid Rububiyah, tentu tidak dapat dikatakan  bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah.

Wallahu a´alam

Baca juga:

Penjelasan kekeliruan ajaran membagi Tauhid menjadi 3 (Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa Sifat).

Tauhid Rububiyah dalam ajaran 3 Tauhid melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri

Orang kafir mengakui adanya Allah bukan sebagai Robb mereka

Sifat Rahmat (Kasih Sayang) adalah Sifat Utama Rububiyah Allah

Mengapa Sifat Rahmat sangat penting dalam Sifat Rububiyah dan Uluhiyah Allah

Jika seseorang mengakui Allah sebagai Robb baginya.

Perbedaan memahami Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan dengan dan tanpa Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Allah sebagai Maha Pencipta di mata orang beriman dan orang musyrikin

Al Qur´an membantah bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah

Anomali Tauhid Asma Wa Sifat yang memahami sifat Allah sesuai lafaz zahir Asma dan Sifat Allah, kecuali Sifat Rububiyah

Perbedaan pemahaman orang beriman dan orang kafir terhadap Allah sebagai Pencipta langit dan bumi

Anomali pengikut Tauhid 3 serangkai yang percaya dengan ahlinya kecuali kepada Imam Mazhab

Kekeliruan Tauhid 3 serangkai membawa kepada kerancuan

Sajak Muhasabah Anehnya Tauhid 3 Serangkai

Orang kafir berputus asa terhadap Sifat Utama Rububiyah yakni Rahmat Allah

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Bahaya fahaman Mujassimah (3), Allah mempunyai sifat fisik?

Setelah membahas:

Kali ini kita tidak perlu lagi menerangkan panjang lebar bahwa ajaran Tauhid 3 serangkai itu berfahaman Mujassimah, karena dalam video di atas, ustad berfahaman Mujassimah sudah mengatakan secara eksplisit bahwa Allah mempunyai sifat fisik, Sifat fisik inilah yang disebut Jism atau jasmani.

Jadi adanya video mereka yang mereka buat dan upload di Youtube adalah bukti nyata kepada yang masih ragu bahwa ajaran Aqidah Tauhid 3 serangkai mempunyai fahaman Mujassimah.

Di video itu jelas disebutkan bahwa Allah mempunyai sifat fisik (jisim) seperti telapak kaki, tangan, kaki, mata dan wajah. Bahkan disebutkan juga perbuatan “fisik” Allah ini yaitu

  • Allah meletakkan telapak kakiNya ke dalam neraka untuk membuat neraka mengkerut.
  • Allah menggenggam langit dan bumi pada hari kiamat dengan telapak tangan kananNya.
  • Allah turun ke bumi untuk melimpahkan rahmat dan mengabulkan doa.

Secara dalil Aqli ini jelas Mustahil, sebab Allah itu Maha Esa bukan jism yang terdiri dari organ-organ Dzat, bukan yang bergerak turun dan naik, seperti makhluk. Demikian juga keyakinan ini melanggar firman Allah dalam Quran Surat Ali Imran:47 sebagai dalil Naqli-nya :

Surat Ali Imran Ayat 47

Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun”. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.

Konflik dalam faham Mujassimah tentang apa yang dimaksud berbicara di Dzat Allah

Disini mereka secara tidak sadar telah membicarakan Dzat Allah. Padahal dalam ceramah tentang Aqidah yang lain (lihat Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah?), ketika ditanya apakah Arasy itu makhluk atau bukan, dijawab tidak tahu alasannya Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melarang berbicara di Dzat Allah. Disini kita lihat konflik dalam ajaran mereka, di satu sisi ketika berbicara tentang Arasy dikira berbicara di Dzat Allah, di sisi lain mereka berbicara “organ-organ” dari Dzat Allah secara gamblang dan leluasa sampai disebut secara eksplisit “Allah mempunyai sifat fisik”. Maha Suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan itu.
Maksud awalnya tidak ingin mentakwil (mengalihkan makna) Sifat Allah dengan memegang teguh makna zahir ayat Mutasyabihat (yang samar maknanya), yang terjadi justru mentakwil pemahaman Dzat Allah dari tidak serupa dengan makhluk menjadi Dzat Allah yang mempunyai sifat fisik (jisim), yang syubhat karena menyerupakan Allah dengan makhluk. Na’udzu billahi min dzalik.

Ketahuilah ini adalah fahaman yang amat berbahaya, karena telah menafikan Sifat Wahdaniyah (Maha Esa) Allah. Suatu dzat yang terdiri dari organ-organ dzat adalah Jism (fisik), sebagaimana yang disebutkan oleh mereka secara eksplisit bahwa Allah mempunyai sifat fisik (jism), walaupun kemudian mereka katakan “organ-organ” Dzat Allah itu berbeda dengan organ-organ dzat mahkluk. Mengapa keterangan ini disebut menafikan Sifat Wahdaniyah Allah?
Karena secara fitrah, akal memahami dzat yang terdiri dari organ-organ dzat adalah:

  • organ-organ dzat itu adalah berbeda satu dengan yang lain dan saling berhubungan membentuk satu dzat. Maka dzat itu tidak lagi Esa (tunggal), tetapi lebih dari satu dan berbeda-beda. Maha Suci Allah dari yang mereka sifatkan itu
  • Antara satu organ dzat dengan organ dzat yang lain mempunyai kesetaraan yaitu
    • sama-sama makhluk: tangannya, wajahnya, kakinya dan organ-organ lainnya adalah semuanya setarasama-sama makhluk”
      atau
    • sama-sama bukan makhluk: tangannya, wajahnya, kakinya dan organ-organ lainnya adalah semuanya setara “sama-sama bukan makhluk”. Kita tahu yang selain makhluk adalah Dzat Allah.

Maka Dzat Allah itu terdiri dari beberapa Dzat yang berbeda yang kesemuanya adalah Tuhan. Maha Suci Allah dari yang mereka sifatkan itu. Ini jelas mustahil.

Untuk “membungkus” faham Mujassimah ini mereka mengatakan:

  • Allah punya mata tapi berbeda dengan mata makhluk
  • Allah punya wajah tapi berbeda dengan wajah makhluk
  • Allah punya fisik tapi berbeda dengan fisik makhluk.
  • Allah turun ke bumi, tapi berbeda dengan turunnya makhluk
  • Allah punya organ-organ Dzat tapi berbeda dengan organ-organ dzat makhluk. Maha Suci Allah dari yang mereka sifatkan itu.
  • Bandingkan dengan pernyataan ini:
    • “Tuhan punya anak. tapi anak Tuhan berbeda dengan anak manusia”.
    • “Tuhan itu punya tiga pribadi tapi tiga pribadi yang tidak seperti tiga pribadi makhluk.”

Na’udzu billahi min dzalik, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.

Maka betapa ngerinya keyakinan yang seperti ini, yang dapat mengeluarkan orang dari iman, sebab telah menyekutukan Allah. Secara fitrah saja, mari kita tanya hati nurani kita, adakah kita menjadi lebih takut dan gentar terhadap sifat Allah yang yang mempunyai sifat fisik organ-organ Dzat yang demikian? Apa perlunya membahas Dzat Allah secara demikain?
Bukankah hati kita lebih takut dan bergetar ketika mendengar Sifat Maha Kuasa Allah dan Maha Berkehandak Allah?

Konflik Tauhid Asma wa Sifat dan Tauhid Rububiyah.
(Tauhid Rububiyah dalam ajaran 3 Tauhid melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri )

Anehnya di satu sisi ketika membahas Nama dan Sifat Allah, mereka begitu fanatik dan teguh memahami makna asil yang zahir

  • tanpa ta’thil (menolak sebagian atau seluruh makna)
  • tanpa takwil (mengalihkan makna)
  • tanpa takyif (bertanya bagaimana)
  • tanpa tahrif (mengubah makna)

Di sisi lain ketika membahas Nama “Robb” dan Sifat “Rububiyah” dalam pembahasan Tauhid Rububiyah, mereka menyandarkan makna Robb dan Sifat Rububiyah mengikut pengakuan orang kafir yang disebut dalam Al Qur’an, padahal yang diakui orang kafir itu hanyalah sebagian Sifat Rububiyah.

Dalam Tauhid Rububiyah mereka

  • menta’thil banyak Sifat Rububiyah, diantaranya
    • Allah menghidupkan manusia di akhirat setelah manusia dimatikan di dunia
    • Allah Memelihara manusia dengan Sifat Rahmat (kasih sayang)

Orang kafir tidak mengakui akan dihidupkan lagi di akhirat dan putus asa terhadap Rahmat Allah. Jadi mereka

  • mentakwil/mentahrif (mengalihkan/mengubah) makna Sifat Mencipta langit dan bumi, Mengatur; Memberi Rezeki dan Mengatur alam semesta menjadi Sifat Rububiyah, seolah-olah itulah keseluruhan Sifat Rububiyah Allah.

Dengan tujuan agar dapat mengeluarkan pernyataan : orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah seperti orang beriman.

(Lihat menit ke 7 video ini, dan tulisan dalam muslim.or.id tentang makna tauhid, yang diberi tanda merah dibawah ini)

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

 

Begitu kalau Aqidah disusun tanpa kaidah yang benar, bahkan menolak Ulama Tauhid dari zaman Salaf. Akhirnya Ilmu Aqidah dengan kaidah yang kacau itu membuat kacau cara berfikir dan sikap mereka sendiri. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua dan melindungi kita dari fitnah kaum Mujassimah.

Bersambung

Bahaya fahaman Mujassimah (4), Allah ada di atas?

Lihat juga

Orang kafir mengakui adanya Allah bukan sebagai Robb mereka

Sifat Rahmat (Kasih Sayang) adalah Sifat Utama Rububiyah Allah

Mengapa Sifat Rahmat sangat penting dalam Sifat Rububiyah dan Uluhiyah Allah

Jika seseorang mengakui Allah sebagai Robb baginya.

Perbedaan memahami Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan dengan dan tanpa Sifat Rububiyah Yang Maha Mendidik dan Kasih Sayang

Allah sebagai Maha Pencipta di mata orang beriman dan orang musyrikin

Al Qur´an membantah bahwa orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah

Akibat ajaran Tauhid Rububiyah dari ajaran 3 Tauhid yang menyandarkan pada ayat Quran untuk orang kafir

Anomali Tauhid Asma Wa Sifat yang memahami sifat Allah sesuai lafaz zahir Asma dan Sifat Allah, kecuali Sifat Rububiyah

Bagaimana ASWAJA memahami ayat-ayat Mutasyabihat

Perbedaan pemahaman orang beriman dan orang kafir terhadap Allah sebagai Pencipta langit dan bumi

Anomali pengikut Tauhid 3 serangkai yang percaya dengan ahlinya kecuali kepada Imam Mazhab

Kekeliruan Tauhid 3 serangkai membawa kepada kerancuan

Sajak Muhasabah Anehnya Tauhid 3 Serangkai

Orang kafir berputus asa terhadap Sifat Utama Rububiyah yakni Rahmat Allah

Mengapa pernyataan orang kafir mengakui Tauhid Rububiyah adalah mustahil

Mengapa Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah tidak dapat dipisahkan

Benarkah mengatakan mari kembali kepada Qur´an dan Sunnah mendekatkan orang kepada Qur´an dan Sunnah?

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

 

Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arasy adalah makhluk Allah?

Dalam suatu video youtube seorang Ustad bergelar Doktor penganut Tauhid 3 serangkai, yang sedang mengajar Aqidah Islam ketika ditanya apakah Arasy itu makhluk? Beliau menjawab tidak tahu. Ketika beliau memberi kuliah tentu banyak yang mendengar, bahkan nampaknya ada tim khusus yang merekam dan mengupload video itu. Namun dari sekian banyak yang hadir baik murid maupun gurunya sama-sama tidak sensitif dengan keyakinan yang amat syubhat itu.

(lihat video di atas di menit ke 3 dan detik ke 15)

Ini text yang diucapkan dalam video itu:
“.. tentang apakah Arasy itu makhluk ya… Allahu a’lam, Ini saya tidak bisa jawab apakah Arasy itu makhluk atau tidak. Allahu a’lam gitu khan.. karena Arasy ini adalah tempat Allah subhanahu wa ta’ala bersemayam. Semua yang berhubungan dengan Allah dan DzatNya itu lebih cenderung ulama mengatakan seseorang tidak berbicara. Karena ada sabda Nabi shallallahu alaihi wassalam yang berbunyi berbicaralah di Nama-Nama dan Sifat Allah dan jangan berbicara di DzatNya Allah, karena DzatNya Allah kita tidak akan mampu membicarakan masalah-masalah sampai di sana”

Ucapan beliau itu menunjukkan jalan pemikiran beliau akibat memahami ayat Mutasyabihat dengan makna zahirnya. Beliau tidak dapat menjawab bahwa Arsy itu makhluk atau bukan, alasannya adalah karena:

  1. Arasy ini adalah tempat Allah subhanahu wa ta’ala bersemayam, maka Arasy adalah berhubungan dengan Allah dan DzatNya.
  2. Ada sabda Nabi shallallahu alaihi wassalam yang berbunyi berbicaralah di Nama-Nama dan Sifat Allah dan jangan berbicara di DzatNya Allah, karena DzatNya Allah kita tidak akan mampu membicarakan masalah-masalah sampai di sana. Jadi beliau mengira jika berbicara apakah Arasy itu makhluk atau bukan adalah sama dengan berbicara di Dzat Allah.

    Maha Suci Allah dari apa yang telah disifatkan itu.

Bagi orang Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang telah belajar Ilmu Tauhid Sifat 20 dari kecil tahu bahwa yang selain Allah adalah makhluk, termasuk Arasy adalah makhluk.

Dari informasi yang kami terima, sebenarnya beliau berasal dari lingkungan dan keluarga Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah/Matudiriyah sebagaimana sebagian besar Umat Islam Indonesia. Dan memang Umat islam Indonesia dari dahulu, dari sejak masuknya Islam ke Indonesia adalah beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah/Matudiriyah, bermazhab Syafei dan bertasawuf mengikuti Ulama Tasawuf seperti Imam Ghazali, Imam Junaid Al Baghdadi dan Imam Hasan Al Syadzili. Hal ini telah ditulis oleh KH Hasyim Asy’ari dalam Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah (lihat Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat).

Mengapa beliau kemudian menjadi tidak tahu bahwa yang selain Allah adalah makhluk, termasuk Arasy adalah makhluk Allah?

Konflik antara makna zahir istawa dengan Sifat Allah menurut dalil Aqli dan Naqli

Inilah bukti adanya konflik dalam ajaran Tauhid 3 serangkai, karena menolak ilmu Tauhid Sifat 20 yang telah disusun oleh Ulama Tauhid Ahlussunnh wal Jamaah yang berdasarkan dalil Naqli dan Aqli. Ajaran Tauhid 3 serangkai menolak Ilmu Mantiq (logika), sedangkan ilmu Mantiq ini sangat diperlukan agar kita tidak keliru dalam menggunakan akal, sebagaimana pentingnya ilmu Tajwid agar kita tidak keliru membaca Al Quran.
Meyakini yang selain Allah adalah makhluk, dan yang selain makhluk itu adalah Allah adalah satu perkara pokok Aqidah yang amat mendasar. Setiap orang yang berakal pasti dapat dengan mudah memahaminya. Selain dengan dalil Naqli sebagaimana disebut dalam QS Al-Ikhlash, juga dengan dalil aqli (akal) pun kita dapat mudah memahaminya, karena ini sesuai dengan fitrah akal.

Surat Al-Ikhlas Ayat 1
 Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
Surat Al-Ikhlas Ayat 2
 Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Surat Al-Ikhlas Ayat 3
 Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
Surat Al-Ikhlas Ayat 4
dan tidak ada seorang/sesuatupun yang setara dengan Dia”.

 

Sehingga sudah semetinya keyakinan ini sudah sebati dengan keyakinan kita. Beliau itu Ustad bergelar Doktor yang telah belajar agama bertahun-tahun, namun mengapa demikian?
Mengapa ajaran Tauhid dibagi 3 membuat beliau menjadi tidak tahu bahwa Arasy adalah makhluk? Bagaimana jika yang belajar itu orang awam?

Akal kita mempunyai fitrah yang tidak dapat kita nafikan. Kalau suatu ajaran melawan fitrah akal, walaupun diajarkan dengan sistem dogma secara berulang-ulang, tetap saja akal yang masih sehat dan sesuai fitrahnya akan menolak, akal dan hati akan merasa tertekan dan tidak puas. Contoh ada agama yang mengajarkan Tuhan mempunyai anak, walaupun diajarkan bertahun-tahun dengan “dalil aqli yang diada-adakan”, tanpa Ilmu Mantiq (logika), yaitu:

  • Allah itu Maha Kuasa dapat melakukan apa saja, termasuk punya anak.
  • anak Tuhan berbeda dengan anak manusia yang melalui proses biologis.

Namun di bawah sadarnya akal menolak dan tidak merasa puas, karena ada konflik dalam ajarannya itu. Fitrah akal memahami bahwa dzat anak adalah setara dengan dzat sang ayah,

  • sifat dzat anak selalu mewarisi sifat dzat ayahnya
  • suatu saat dzat sang anak akan menjadi seperti dzat ayahnya

Karena mereka gigih “mempertahankan” dan “memaksakan” Tuhan punya anak, maka pada akhirnya mereka mengangkat “anak” Tuhan – yang tadinya disebutnya berbeda dengan anak manusia – menjadi “bagian dari Tuhan”. Maka Tuhan yang mereka sifatkan itu tidak lagi Maha Esa, Subhanallah, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.

Untuk “membungkus” pemahaman yang sudah kacau ini mereka katakan: Tuhan itu tiga tapi satu, satu tapi tiga, yang hingga sekarang akal dan hati mereka sendiri tidak terima. Mereka katakan imani saja, inilah rahasia keimanan.

Sebenarnya dalil Aqli (lihat Sifat Salbiyah dalam Sifat 20) sudah dapat menjawab bahwa mustahil Allah punya anak, selain dalil Naqli yang disebut dalam QS Al Ikhlash.

Demikian juga ajaran Tauhid 3 serangkai. Dalam Tauhid Asma wa Sifat, mereka sangat fanatik dan gigih mempertahankan makna asli yang zahir dari ayat Mutasyabihat (yang samar maknanya) walaupun itu melawan fitrah akalnya.
Mereka mempertahankan makna istawa dengan terjemahan bersemayam dengan makna zahirnya dalam QS Thaha:5

Surat Thaahaa 20:5
(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.

 

Bahkan menolak takwil (mengalihkan makna) dengan kata menguasai (lihat mulism.or.id tentang makna-tauhid).

istawa_kuasa

Walaupun ada ayat Muhkamat (yang jelas maknanya) yang menyatakan Allah Menguasai Arasy, seperti disebut dalam QS At-Taubah:129

9:129

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Robb (Tuhan Yang Menguasai, Memiliki, Mencipta, Memelihara)  ‘Arsy yang agung“.

Sebenarnya Allah sudah memberikan panduan bagaimana kita mesti memahami ayat-ayat Mutasyabihat, Pertama dengan Tafwid yaitu menyerahkan sepenuhnya kepada Allah atau dengan cara Takwil yaitu dengan memalingkan dari membahas makna yang samar dalam ayat Mutasyabihat ke ayat yang jelas maknanya dalam ayat Muhkamat.

Karena gigihmempertahankan” dan “memaksakan” makna asli yang zahir dari ayat Mutasyabihat dengan dalih tidak ingin mentakwil dengan memalingkan arti istawa, akibatnya mereka justru telah mentakwil (memalingkan) pemahaman Arasy dari “makhluk Allah” menjadi mengira “bagian dari Dzat Allah”, Na’udzu billahi min dzalik.

Sebagaimana agama yang meyakini Tuhan punya anak tadi, mereka juga punya “dalil aqli yang diada-adakan” tanpa Ilmu Mantiq (logika), mereka katakan

  • Allah itu Maha Kuasa, tentu Dzat Allah mampu melakukan istawa (bersemayam) dengan makna zahir di atas Arasy.
  • Bersemayamnya Dzat Allah berbeda dengan bersemayamnya makhluk

Namun di bawah sadarnya akal sebenarnya tidak terima, karena ada konflik dalam pemahaman demikian.

Mengapa ada konflik pemahaman dalam fitrah akal di bawah sadarnya? Sebab fitrah akal memahami suatu dzat yang bersemayam dengan makna zahir di atas dzat yang lain, adalah jika dua dzat ini setara. Setara yang dimaksud adalah sama sifat dzatnya. Yakni

  • sama-sama mempunyai jisim (tubuh, benda, bervolume) 
  • jism itu wujud (ada) pada waktu yang bersamaan.

Di satu sisi untuk dapat dikatakan bersemayam, kedua jism (tubuh) Allah dan Arasy harus sama-sama wujud. Di sisi lain, Arasy itu bukan Allah, kalau bukan Allah tentu Arasy itu pernah tidak ada, jadi batal sifat bersemayam bagi Jism Allah karena Jism Arasy belum ada. Disinilah konflik akal yang menyebabkan Ustad bergelar Doktor tidak dapat menjawab apakah Arasy itu makhluk atau bukan, alasannya Arasy ini adalah tempat Allah subhanahu wa ta’ala bersemayam. Beliau mengira kalau menjawab apakah Arasy itu makhluk atau bukan, sama dengan bicara di Dzat Allah. Secara tak sadar akalnya menganggap ada kesetaraan antara Allah dan Arasy.  Na’udzu billahi min dzalik.

Sebenarnya sudah dapat diketahui bahwa pemahaman makna asli yang zahir “istawa” (bersemayam) menurut dalil Aqli (lihat Sifat Salbiyah dalam Sifat 20), adalah mustahil berlaku pada Dzat Allah, Selain dalil Naqli bahwa tidak ada seorang/sesuatupun yang setara dengan Dia” (QS Al Ikhlas). Makna istawa (bersemayam) dengan makna zahir adalah perbuatan Jism (tubuh/benda/volume). Mustahil Allah bersifat jism (tubuh, benda, bervolume), sebab jism/tubuh/volume memerlukan ruang untuk dapat menampungnya, sedang ruang adalah makhluk yang pernah tidak ada. Artinya Allah yang mereka sifatkan itu memerlukan tempat/ruang dan Arasy. Subhanallah, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.

Untuk “membungkus” pemahaman yang kacau ini, mereka katakan Allah bersemayam di atas Arasy tetapi Allah tidak perlu Arasy. Namun video di atas menunjukkan bahwa akal bawah sadar mereka tidak faham dengan pernyataan itu, sehingga Ustad bergelar Doktor beserta seluruh pendengar dan tim dokumentasi yang merekam dan mengupload video itu sama-sama tidak sensitif dengan pernyataan “tidak tahu bahwa Arasy itu makhluk atau bukan”. Bukankah ini meng”kultus”kan makhluk Allah yang bernama Arasy, bahkan syubhat mengira bahwa Arasy adalah bagian dari Dzat Allah. Na’udzu billahi min dzalik.

Konon mereka ingin memurnikan ajaran Islam, namun justru mengotori keyakinannya dengan mempunyai Aqidah yang sangat syubhat.

Konflik Tauhid Rububiyah dengan Tauhid Asma wa Sifat

(lihat Bagaimana menjelaskan konflik antara kaidah Tauhid Rububiyah dan kaidah Tauhid Asma wa Sifat dalam ajaran Tauhid dibagi 3 dengan kaidahnya sendiri).

Dalam ajaran Tauhid 3 serangkai ada konflik antara definisi Tauhid Rububiyah dengan Tauhid Asma wa Sifat. Di satu sisi mereka gigih mempertahankan makna asli Nama dan Sifat Allah dalam Tauhid  Asma wa Sifat. Di sisi lain dalam Tauhid Rububiyah mereka semaunya membuat definisi Sifat Rububiyah tanpa melihat sama sekali makna asli Nama “Robb” dan Sifat “Rububiyah” yang berarti Pemelihara yang erat dengan Sifat Rahman (Kasih Sayang). Akhirnya dalam Tauhid Rububiyah keluar pernyataan  yang menabrak Tauhid Asma wa Sifat, bahwa Tauhid Rububiyah ini diyakini semua orang baik mukmin maupun kafir dari dulu hingga sekarang.

(Lihat menit ke 7 video ini, dan tulisan dalam muslim.or.id tentang makna tauhid, yang diberi tanda merah dibawah ini)

muslim-or-id_org-kafir-percaya-tauhid-rububiyah

Kalau kita melihat definisi Tauhid Rububiyah yang mereka buat sendiri (lihat snapshot di atas) yaitu:

Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka

Salah satu kejadian yang hanya dapat dilakukan Allah adalah menghidupkan manusia di akhirat setelah mematikannya di dunia. Kejadian ini orang kafir jelas menolak mengakuinya, seperti disebut dalam QS Al-Isra:49

17:49
Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?”

 

Jadi Sifat Rububiyah Allah “Menghidupkan manusia di Akhirat” ini dita’thil (ditolak) dalam Tauhid Rububiyah hanya untuk membenarkan pernyataan “Tauhid Rububiyah ini diyakini semua orang baik mukmin maupun kafir dari dulu hingga sekarang“. Dengan keterangan ringkas ini saja sudah dapat dijelaskan konflik yang berlaku pada ajaran Tauhid 3 serangkai yaitu Tauhid Rububiyah melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri.

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Perkara buruk apa yang sama-sama dilakukan oleh golongan yang mengkafirkan Shahabat radhiallahu anhum dan golongan Tauhid 3 serangkai?

Sejarah kehidupan manusia selalunya berulang. Di setiap zaman ada golongan yang baik dan ada yang buruk. Kalau kita lihat sejarah golongan yang menyimpang dari ajaran agama yang lurus, selalunya mempunyai “modus” yang hampir sama.

Kami ingin paparkan perkara buruk apa yang sama-sama dilakukan oleh golongan yang mengkafirkan Shahabat radhiallahu anhum dan golongan Tauhid 3 serangkai. Mengapa modus kedua golongan ini hampir sama, padahal keduanya adalah musuh bebuyutan yang kita lihat dengan jelas di akhir zaman ini. Jawaban singkatnya karena mereka berusaha ingin mengelabui sebanyak-banyaknya umat Islam agar mengikuti mereka, yaitu mengikuti penyimpangan ajaran mereka itu.

Memalsukan sumber rujukan ajaran Islam.

Sumber rujukan ajaran Islam adalah Qur’an, Hadits, Ijma dan Qiyas. Golongan yang mengkafirkan Shahabat radhiallahu anhum sudah ada di zaman Shahabat radhiallahu anhum. Di zaman itu sumber rujukan utama setelah Qur’an adalah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, karena para Shahabat masih hidup. Kitab belum banyak ditulis, sebab belum terlalu diperlukan. Para Shahabat radhiallahu anhum itulah “ilmu Qur’an dan Hadits yang hidup” dan menjadi model pengamalan Qur’an dan Hadits.  Al-Quran adalah Kitab suci yang Allah jamin keasliannya, sebagaimana firman Allah dalam QS Al Hijr:9

15:9

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Maka golongan yang mengkafirkan Shahabat hanya dapat memalsukan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wassalam untuk membelokan pemahaman Al Qur’an seperti yang difahami Shahabat. Para ulama mereka memalsukan hadits untuk menguatkan ajaran menyimpang mereka yang rapuh agar orang Islam yang awam mengikuti mereka. Pemalsuan ini dilakukan oleh ulama-ulama mereka.
Khalifah Bani Umayah yang terkenal dengan keadilannya yaitu Sayidina Umar bin Abdul Aziz radhiallahu anhu (wafat 101 H) memerintahkan para Ulama di zaman beliau untuk menyaring hadits-hadits yang beredar ketika itu. Ini di antara sebab munculnya ilmu dan ulama-ulama hadits pada abad 2 dan 3 Hijriyah.
Penganut Tauhid 3 serangkai juga memalsukan sumber rujukan ajaran Islam yaitu dengan mentahrif dan memalsukan kitab Ulama Mu’tabar yang menjadi panduan umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah untuk membelokkan pemahaman Al Qur’an seperti yang difahami oleh Shahabat radhiallahu anhum dan para Salafusholih. Yang melakukan ini juga ulama penganut 3 serangkai. Tujuannya sama yaitu untuk menguatkan ajaran menyimpang mereka yang rapuh agar orang Islam yang awam mengikuti penyimpangan mereka itu. Pemalsuan itu mereka lakukan dengan berbagai cara di antaranya.

Mengubah (mentahrif) text dalam Kitab Ulama ASWAJA (1)
Mengubah (mentahrif) text dalam Kitab Ulama ASWAJA (2)
Memasukan fahamannya melalui catatan kaki Mushaf Al Qur’an
Memasukan fahamannya melalui catatan kaki Kitab Riyadhush Sholihin
Cara pemalsuan seperti ini sudah dilakukan oleh umat terdahulu yaitu golongan ahlul kitab, Yang melakukannya juga alim ulama di kalangan mereka. Mereka memalsukan Kitab suci Taurat dan Injil. Tujuannya sama untuk menyokong penyimpangan ajaran mereka yang sebenarnya rapuh agar orang Islam awam pengikut Nabi Musa alaihi salam dan Nabi Isa alaihi salam dapat dikelabui mengikuti kesesatan mereka. Al Qur’an menyebutkan kejahatan mereka itu dalam QS Al Baqarah:75-79..

Surat Al-Baqarah Ayat 75

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?.

Surat Al-Baqarah Ayat 76Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: “Kamipun telah beriman,” tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?”

Surat Al-Baqarah Ayat 77

Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?

Surat Al-Baqarah Ayat 79

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.

Memalsukan sejarah dan pribadi tokoh panutan Umat Islam

Selain memalsukan sumber rujukan ajaran Islam, golongan yang menyimpang juga memalsukan sejarah dan pribadi tokoh panutan Umat islam. Ini adalah di antara cara licik yang amat berbahaya. Tokoh panutan itu mahal dan mempunyai pengaruh yang besar walaupun tokoh itu sudah wafat.
Golongan yang mengkafirkan Sahabat radhiallahu anhum melakukan pemalsuan sejarah di satu sisi dengan menghina bahkan mengkafirkan banyak Shahabat radhiallahu anhum, seperti Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar bin Khathab radhiallahu anhuma termasuk para istri Nabi, Siti Aisyah binti Abu Bakar dan Siti Hafshah binti Umar bin Khattab. Sehingga dengan itu mereka menolak hadits para Shahabat radhiallahu anhum, Termasuk Abu Hurairah radhiallahu anhu, padahal beliau adalah Shahabat perawi hadits yang terbanyak.
Di sisi yang lain mengklaim bahwa Shahabat tertentu dan Shahabat di kalangan ahlul bait dan keturunannya berfahaman seperti mereka, seperti Sayidina Ali bin Abi Thalib, Siti Fathimah binti Rasulillah, Sayidina Hasan dan Sayidina Hussein, radhiallahu anhum.
Kemudian mereka meng”klaim” bahwa anak dan cucu  Rasulullahu shallallahu alaihi wassalam adalah Imam-Imam yang berfahaman seperti mereka, seperti Sayidina Ali Zainal Abidin, Sayidina Muhammad Al Baqir, Sayidina Ja’far Shadiq dan seterusnya. Padahal mereka itu adalah Ulama Besar Ahlussunnah Wal jama’ah. Bahkan Sayidina Ja’far Shadiq adalah guru dari para Imam Mazhab.
Para ahlul Bait Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mengakui 4 Khulafahurrasyidin Sayidina Abu Bakar, Sayidina Umar bin Khattab, Sayidina Usman bin ‘Affan dan Sayidina All bin Abi Thalib. Jauh sekali dari merendahkan para Sahabat apa lagi mengkafirkan.  Bahkan para Imam itu selain keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melalui Sayidatina Fathimah radhiallahu anha, adalah juga cucu Sayidina Abu Bakar dari garis keturunan ibu.

Hal ini juga dilakukan oleh golongan Tauhid 3 serangkai. Setelah mereka memalsukan Kitab rujukan umat. mereka juga memalsukan sejarah dan pribadi Ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Di antaranya cerita palsu yang mereka gembar gemborkan adalah:

A. Mereka memalsukan pemahaman Aqidah yang dipegang oleh para Imam Mazhab (Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafei, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah),
Karena mereka hidup sebelum Imam Abul Hasan Al Asy’ari, dikatakan oleh golongan Tauhid 3 serangkai bahwa para Imam itu beraqidah seperti mereka yaitu memahami ayat Mutasyabihat secara zahir. Padahal jauh sekali perbedaannya. Imam Mazhab dan Ulama Salaf kebanyakannya adalah bertafwid  (tidak membahas) sama sekali tentang ayat Mutasyabihat), sedang orang yang mengaku Salaf, tetapi beraqidah membagi Tauhid menjadi 3 memahami makna zahir, dan tidak tafwid (tidak membiarkan tanpa mengetahui maknanya), tanpa tahrif (tidak mengubah teks), tanpa takwil (mengalihkan arti), tanpa menta’thil (tidak menolak makna zahirnya) dan tanpa takyif (tidak bertanya bagaimana). Pemahaman ini sangat syubhat dan menjurus ke faham Mujassimah  Apa perbedaannya ?

Tafwid terhadap ayat Mutasyabihat oleh para Imam Mazhab dan Ulama Salaf adalah
1. Membaca ayat Mutasyabihat, tanpa memahami dan membahas maknanya. Mengimani bahwa ayat itu adalah dari sisi Allah, sebagaimana QS 3:7
2. Men”tahzih” yaitu mensucikan Allah dari Sifat yang tidak layak yaitu dari Sifat Jism (berjasad, berbentuk). Hanya makhluk yang bersifat Jism.
3. Menyerahkan makna yang sebenarnya hanya kepada Allah Yang Maha Mengetahui

Tidak mentakwil terhadap ayat Mutasyabihat oleh golongan Tauhid 3 serangkai
1. Membaca ayat Mutasyabihat, tanpa memahami dan membahas maknanya. Mengimani bahwa ayat itu adalah dari sisi Allah, sebagaimana QS 3:7
2. Menetapkani Sifat Allah dengan makna zahir ayat sehingga mereka katakan Allah punya Tangan, Allah punya Wajah, Allah punya Kaki, Allah turun dari langit setiap pagi dini hari, Allah ada di atas, Allah bersemayam di atas Arasy,  jadi yang mereka tetapkan ada Dzat Allah punya sifat yang demikian.
3. Kemudian mengatakan Tangan, Wajah, Kaki, turunNya Allah dari langit setiap pagi dini hari, adanya Dzat Allah di atas, bersemayamNya Allah di atas Arasy, tidak serupa dengan makhluk. Makna zahir tidak ditafwid (tidak dibiarkan tanpa penetapan makna), tidak ditahrif (tidak diubah), tidak dita’thil (tidak ditolak sebagian/seluruh makna), tidak di takwil (tidak di alihkan ke makna lain).

Kita lihat betapa jauh berbeda antara “Tafwid“nya Ulama Salaf dan “Tidak mentakwil“nya penganut Tauhid 3 serangkai. “Tafwid”nya  Ulama Salaf sama sekali tidak menyerupakan Allah dengan makhluknya, sedang “Tidak-mentakwil”nya penganut Tauhid 3 serangkai adalah syubhat meyakini Allah mempunyau Jism (bertubuh/bersosok/bervolume). Sifat Jism adalah sifat makhluk, walaupun mereka katakan Jism Allah berbeda dengan Jism makhluk.

Lihat
Bahaya fahaman Mujassimah (1); Allah ada di comberan?
Bahaya fahaman Mujassimah (2); Allah ada di luar alam?
Bahaya fahaman Mujassimah (3), Allah mempunyai sifat fisik?
Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah?

B. Memalsukan riwayat hidup Imam Abul Hasan Al Asya’ri.

Semasa hidupnya beliau hanyalah melalui 2 fase saja, tetapi dipalsukan menjadi 3 fase yaitu
a. Fase Muktazilah
b. Fase Ahlussunnah wal Jamaah yang ajaranya kita anut sekarang
c.  Di akhir hayatnya dikatakan beliau bertaubat kembali kepada Salaf seperti pemahaman yang mereka.
Sehingga mereka katakan ajaran Asy’ariyah berbeda dengan Imam Abul Hasan Al Asy’ari. Ini adalah pembohongan besar yang buruk sekali.
Para Ulama besar yang Kitabnya samapai hari ini menjadi rujukan Ulama Islam Ahlussunnah wal Jamaah adalah mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi dalam Aqidah. Mereka mengikuti satu dari 4 Imam Mazhab dalam berfiqih. Selain itu mereka semua adalah bertasawuf (ahli sufi). Penyebaran Islam di tanah melayu, disebarkan melalui ulama Tasawuf yang beraqidah mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan bermazhab Syafei. Mayoritasnya bertasawuf dengan mengikuti Tariqat Qodiriyah (Tariqat yang diasaskan oleh Syeikh Abdul Qodir Jaelani dari Bagdad/Iraq), Tariqat Syadziliyah (mengikuti Imam Hasan Al-Syadzili dari Mesir), dan Tariqat Naqyahbandiyah (mengikuti Syeikh Bahauddin Naqsyahbandi dari Uzbekistan). KH Hasyim Asy’ari menuliskannya dalam Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah (lihat Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat ).

C. Memalsukan riwayat Imam Ghazali, seorang Ulama besar bermazhab Syafei dan ber Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah, dikatakan juga telah bertaubat di akhir hayatnya, mengikuti Aqidah seperti mereka.

Ini semua adalah pembohongan yang luar biasa buruknya, yamg mesti mereka pertanggung jawabkan di akhirat kelak. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua dan menjaga kita dari fitnah mereka

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Bahaya fahaman Mujassimah (2), Allah ada di luar alam?

Setelah kita membahas Bahaya fahaman Mujassimah (1); Allah ada di comberan? Mari kita lanjutkan dialog antara ustad berfaham Mujassimah dengan orang Asy’ariyah. (lihat video ini menit ke 4:00 )

Ustad Mujassimah berkata : Yang namanya di dunia alam ini tidak lepas dari dua lho pak, di dalam alam dan di luar alam

Lihat pernyataan di atas. Ini lebih menjelaskan bahwa dalam fikirannya sudah tidak dapat lepas dari keyakinan bahwa Allah berjisim (benda/volume) seperti alam. Padahal dia sudah berkata bahwa di dunia alam ini. Kita tahu yang disebut dunia alam adalah ciptaan Allah. Memang panca indera kita hanya dapat menangkap adanya sesuatu itu secara lahiriah kalau sesuatu itu berupa jisim/sosok/benda. Jika sesuatu itu tidak berada di dalam suatu benda, maka sesuatu itu berada di luarnya. Disini sudah kelihatan jelas pemahaman Mujassimahnya. Allah bukan jism/benda karena Allah berbeda dengan makhluk. Makhluk adalah jism/sosok/benda yang berbentuk, termasuk makhluk di alam ghaib, seperti Malaikat.

Kemudian Ustad Mujassimah melanjutkan: Kalau bapak mengatakan Allah tidak ada di mana-mana maksudnya adalah Allah tidak ada di dalam alam saya setuju sama bapak, berarti Allah berada di luar alam, tapi kalau bapak katakan Allah tidak ada dimana-mana maksudnya adalah tidak ada di dalam alam dan tidak ada di luar alam, berarti bapak atheis, karena bapak sama saja mengatakan bahwa Allah tidak ada, Langsung pergi dia pak (pendengar tertawa).

Di sini sang Ustad ingin memperlihatkan “kehebatanya” telah menang berdebat dan membuat “yang dikalahkannya” pergi. Padahal sang Ustad tidak tahu bahwa dia sedang menelanjangi penyimpangan ajaran Mujassimahnya sendiri. Mengapa?

Penganut Mujassimah tidak dapat mempercayai dan memahami bahwa Allah itu bukan jisim/sosok/benda. Mereka selalu “menempatkan” posisi Allah dengan makna zahir, sehingga kalau Allah itu tidak di dalam alam maka Allah berada di luar alam. Ini adalah sifat jism yaitu sifat makhluk. Itu sebabnya ketika dikatakan Allah tidak ada di dalam tapi tidak juga di luar alam, mereka langsung terfikir bahwa jisim/sosok Allah tidak ada. Inilah hakikat Mujassimah.
Karena pemahaman Mujassimah itulah, mereka tidak tahu bahwa jika disebut Allah tidak ada di dalam tapi tidak juga di luar alam bukan berarti Allah yang tidak ada melainkan keberadaan alam termasuk diri kita ini tidak berpengaruh apapun terhadap Dzat Allah. Bukankah Sifat Allah itu Baqa (tetap, tidak berubah), tidak terikat waktu. Allah tidak tergantung dengan makhluk dan tidak memerlukan yang lain. Yang selain Allah adalah pasti makhluk dan Allah tidak serupa dengan makhlukNya. Jangankan pengaruh jism/lahiriah makhluk, pengaruh bathiniah makhluk pun tidak berarti apa-apa bagi Allah,

Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman:

يا عبادي ! لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم . كانوا على أتقى قلب رجل واحد منكم . ما زاد ذلك في ملكي شيئا . يا عبادي ! لو أن أولكم وآخركم . وإنسكم وجنكم . كانوا على أفجر قلب رجل واحد . ما نقص ذلك من ملكي شيئا

Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bertaqwa, hal itu sedikitpun tidak menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat, hal itu sedikitpun tidak mengurangi kekuasaan-Ku” (HR. Muslim, no.2577)

Mungkin anda yang baru mendengar ini juga agak susah untuk faham. Mari sama-sama kita fahamkan, semoga Allah bantu. Telah disebut dalam Sifat Salbiyah, bahwa Allah Qidam (tidak berawal) dan Baqa (tetap, tidak berubah, tidak ada akhirnya). Maksudnya Allah tidak terikat oleh waktu. Waktu adalah ciptaan Allah
Allah adalah mukholafatuhu lil hawadits (tidak serupa dengan yang baharu/makhluk) dan Qiyamuhu bi nafsihi (tidak tergantung dengan yang lain). Maksudnya Allah tidak tergantung dengan tempat/ruang. Tempat/ruang adalah juga ciptaan Allah.

Sifat “dalam” dan “luar” adalah sifat jisim/sosok benda yang diciptakan (makhluk). Sifat yang memerlukan perbandingan dengan benda lain yang setara (sama-sama jism/benda). Firman Allah dalam QS Al Ikhlash: 4

Surat Al-Ikhlas Ayat 4
dan tidak ada seorang/sesuatu pun yang setara dengan Dia”.

Sesuatu jisim/benda dapat berada di “luar” kalau ada benda lain yang mempunyai volume. Kalau jisim itu berada di posisi yang dibatasi oleh batas luar benda yang bervolume tadi, maka dikatakan jisim ada di dalam benda tadi. Sedang sebaliknya kalau jisim itu berada di posisi yang tidak dibatasi oleh batas luar benda bervolume tadi, maka jism itu dikatakan berada di luar.

Sedang kita tahu bahwa alam yang bervolume ini dahulunya pernah tidak ada, yaitu ketika alam ini belum diciptakan oleh Allah. Itulah yang disebut dalam istilah Aqidah disebut zaman Azali. Di zaman itu alam yang terikat waktu dan ruang ini belum diciptakan. Waktu dan ruang itu juga makhluk yang belum ada. Jadi di zaman Azali itu, Allah tidak berada di “luar” dan tidak pula berada di “dalam” alam sebab alam belum ada, yang ada hanya Allah yang Maha Esa.

Maka ketika alam sudah diciptakan, Sifat dan Dzat Allah adalah tetap sebagaimana ketika alam ini belum ada. Karena Allah bersifat Baqa (tidak berubah). Mustahil Allah tiba-tiba berada di “luar” alam, setelah adanya alam. Keadaan Allah tidak terikat oleh waktu. Bagi orang yang belum melepaskan diri dari pengaruh Mujassimah akan sulit memahami ini, namun dengan hidayah Allah, Allah akan mudahkan kita memahaminya. Semoga Allah berikan kefahaman yang semestinya sebagaimana pemahaman yang Allah redhoi. Itulah pemahaman Aqidah Ahlussunah wal Jamaah.

Itu sebabnya dikatakan, Dzat Allah tidak terpisah dari alam tetapi juga tidak menyentuh atau melebur dengan alam. Sebab sifat “terpisah” dan “menyentuh/melebur” (hulul) dengan makna zahir adalah sifat jisim yang memerlukan jisim lain agar dapat disebut “terpisah” atau “menyentuh/melebur” yang setara yaitu sama-sama jism/benda. Sedang Dzat Allah bukan jisim/benda. Inilah diantara Sifat Allah yang tidak serupa dengan makhluk. Seperti disebut dalam QS Al Ikhlash:4, tidak ada sesuatu/seorangpun yang setara dengan Allah.

Makhluk adalah berjisim, Alam adalah juga makhluk dan berjisim. Jism berada di dalam atau di luar alam. Yang dimaksud alam disini juga mencakup alam lahiriah dan alam ghaib. Sedang Allah bukanlah alam, bukan berada baik di dalam maupun di luar alam lahiriah. Bukan pula berada baik di dalam maupun di luar alam ghaib.

Itulah sebabnya kita dilarang memikirkan Dzat Allah, Kita hanya disuruh mengingati (berdzkir) Nama Allah. Kita hanya disuruh memikirkan makhluk Allah, sebab disitulah dapat kita kenali Sifat-Sifat Allah. QS Ali Imran: 190-191

Surat Ali Imran Ayat 190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Surat Ali Imran Ayat 191

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Kalau kita sudah faham bahwa Allah bukan jisim maka ketika kita baca Sifat dan Nama Allah dalam Al Qur’an, kita langsung faham yang dimaksud pasti bukan Sifat jism/fisik. Misalnya ayat yang sering menjadi perbahasan oleh penganut Tauhid dibagi 3 yang dipegang Ustad Mujassimah tadi.

QS Thaha: 5
Surat Thaahaa 20:5
(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.

 

Maka yang dimaksud bukanlan Jism Allah bersemayam di atas Arasy, melainkan Sifat Maknawiyah yang tidak berkaitan dengan jism. Ayat ini disebut ayat Mutasyabihat yaitu ayat yang samar maknanya. Kalau kita ingin membahas artinya, kita perlu penjelasan dari ayat yang Muhkamat (ayat yang jelas), misalnya QS At-Taubah ayat 1299:129

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Robb (Tuhan Yang Menguasai, Memiliki, Mencipta, Memelihara)  ‘Arsy yang agung“.

Di ayat ini disebut Allah adalah Robbul Arasy yang artinya Tuhan Yang Menguasai, Memiliki, Mencipta, Memelihara Arasy, yaitu Sifat Maknawiyah yang tidak terkait sama sekali dengan Jism. Sifat Maknawiyah ini Qidam dan Baqa. Allah telah menjadi Tuhan dari Arasy ketika Arasy belum ada, ketika ada dan ketika Arasy sudah ditiadakan lagi, jika Allah Menghendaki.

Sebaliknya kalau orang memahaminya sebagai Jism Allah bersemayam di atas Arasy sebagai mana zahirnya seperti yang difahami kaum Mujassimah, walaupun mereka berkata, bersemayamNya Allah di atas Arasy berbeda dengan bersemayamnya makhluk, tetap saja syubhat menyerupakan Allah dengan makhluk, karena hakikat perkataan itu sebenarnya bermakna “Sifat Jism bersemayamNya Dzat Allah berbeda dengan sifat jism bersemayamnya dzat makhluk”,
Ini melawan akal manusia. Akal manusia menjadi “error” dan tidak akan faham, sebab secara tidak sadar orang yang berkata begitu telah membahas dan memikirkan Dzat Allah yang telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Ini amat berbahaya. Akibatnya seorang Ustad bergelar doktor menjadi tidak tahu hal pokok agama bahwa yang selain Allah adalah makhluk, termasuk Arasy adalah makhluk Allah (lihat Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah?).

Bersambung

Wallahu a’lam

Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua.

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Bahaya fahaman Mujassimah (1), Allah ada di comberan?

Setelah kami mengamati video-video yang beredar dari para penganut Tauhid 3 serangkai yang menerangkan Aqidah Asy’ariyah yang mereka fahami, kami merasa sampai saatnya kami menjelaskkan bagaimana kekeliruan pemahaman mereka itu, disebabkan oleh pemahaman Mujassimah mereka. Mujassimah adalah pemahaman Allah itu berjism/bersosok/bertubuh yang menempati suatu ruang, sehingga menyerupakan Allah dengan makhluk.  Na’udzu billah min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari keyakinan seperti itu.

Mereka sebenarnya tidak faham Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, tapi merasa telah menjelaskan kekeliruan Aqidah Asy’ariyah. Akhirnya menjadi berbalik justru membuka kekeliruan fahaman Mujassimah mereka sendiri.

Insya Allah, karena kalau ditulis dalam satu artikel akan cukup panjang maka kami akan jawab satu per satu sehingga menjadi beberapa artikel.

Mereka tidak faham perkataan “Allah ada dimana-mana”, (lihat juga Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah)

Dalam video ini menit ke 2:50 (lihat Video di atas) Ustad berfahaman Mujassimah menceritakan sedang berdialog dengan seorang Ahlussunah wal Jamaah Asy’ariyah.

Ustad Mujassimah bertanya : Jadi menurut bapak, Allah itu ada dimana?

Pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah : “Allah ada di mana-mana”

Ustad Mujassimah: Jadi di comberan ada? Diam dia

Pengikut  Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyyah: “Iya nggak, (Allah) di tempat bersih.”

Ustad Mujassimah: Lho katanya ada dimana-mana?

Para pendengar tertawa. Mereka merasa lebih pandai, tapi sebenarnya secara tidak sadar justru menunjukkan kekeliruan pemahaman mereka sendiri. Dari dialog tersebut justru menjelaskan hakikat fahaman Mujassimah Ustad tersebut. Mengapa?

Pada awalnya orang Asy’ariyah tidak terfikir bahwa pertanyaan “Allah itu ada dimana?” adalah mempertanyalan Dzat ada Allah dimana?“, karena menurut keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah, Dzat Allah bukan jism.  Mustahil Allah berjism, hanya makhluk yang berjism.
Padahal pertanyaan “Allah ada dimana?” yang dimaksud Ustad berfaham Mujassimah, adalah pertanyaan dengan makna zahir yaitu  mempertanyakan “posisi” Dzat Allah di dimensi ruang. Sesuatu yang menempati ruang pasti suatu jism/sosok/tubuh dan menyerupai makhluk. Inilah hakikat pemahaman Mujassimah. Pada fikirannya telah tertanam keyakinan bahwa Allah itu berjism. Berjism tentu memerlukan ruang atau tempat. Walaupun kemudian mereka katakan sifat jism Allah itu berbeda dengan sifat Jism makhluk dengan maksud untuk mengelak disebut berfaham Mujassimah. Namun pemahaman ini tetap melawan fitrah akal manusia,

Pemahaman Mujassimah itu bertambah jelas ketika Ustad itu bertanya: Kalau Allah ada dimana-mana,  jadi Allah ada di comberan?

Perhatikan, Ustad itu bermaksud membodohi dan menjebak orang Asy’ariyah agar bingung dengan kekeliruan fahaman Mujassimah yang mereka ungkapkan dalam pertanyaan itu.
Jelas maksud dari pertanyaan itu sebenarnya adalah:  Jadi “Jism” Allah ada di comberan?

Orang Asy’ariyah itu sekarang faham bahwa Ustad itu berfaham Mujassimah, yang  bertanya dengan makna zahirnya maka dia kemudian menjawab Allah tidak ada di mana mana. Maksudnya sebenarnya adalah (Dzat) Allah tidak menempati mana-mana tempat, karena Allah bukanlah Jism seperti pemahaman mereka.

Begitulah perbedaan antara fahaman Mujassimah dan fahaman Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah.

Pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah tidak pernah meyakini Allah itu berjism seperti pemahaman kaum Mujassimah. Mustahil Allah berjism. Dalam  Ilmu Tauhid Ahlussunnah wal Jamaah tentang SIfat Salbiah dijelaskan bahwa Dzat Allah bukan makhluk dan tidak serupa sama sekali dengan makhluk. Dzat Allah bukan jism yang menempati ruang dan terikat waktu. Dzat Allah ada tanpa tempat dan tidak terikat waktu. Sedang fahaman Mujassimah adalah meyakini Allah itu berjism dan menempati ruang, maka timbullah pertanyaan “Allah di mana?” dengan makna zahir dalam ajaran Aqidah mereka.

Perlu kami jelaskan bahwa pernyataan Allah ada di mana-mana, adalah bukan makna zahir Dzat Allah ada di mana-mana. Maksudnya adalah Sifat Allah ada di mana-mana. Sifat Allah dimaksud adalah Sifat Maknawiyah Allah bukan Sifat “Jism” seperti difahami kaum Mujassimah. Sifat Maknawiyah Allah tanda-tandanya dapat dilihat pada makhluk Allah. Dan makhluk Allah itu ada di mana-mana. Tidak ada suatu ruang dan tempat, kecuali itu adalah makhluk Allah di situ.

Jadi pertanyaan “Allah ada di comberan?”,  kalau kita fahami secara maknawiyah, sebenarnya bisa juga dijawab dengan  “iya benar (tanda-tanda Kekuasaan) Allah ada juga di comberan tidak hanya di tempat bersih.

Allah berfirman dalam Qur´an surat Ali Imran ayat 190-191:
Surat Ali Imran Ayat 190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Surat Ali Imran Ayat 191

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

 

Comberan itu ada di bumi, maka tentulah disitu ada tanda-tanda Kekuasaan Allah. Comberan yang kotor yang banyak penyakitpun adalah tanda-tanda Kekuasaan Allah, Bahkan diceritakan bahwa air sungai Nil berubah menjadi darah adalah termasuk Mu’jizat Nabi Musa alaihi salam. Mu’jizat adalah tanda Sifat Maha Kuasa Allah yang dinampakkan pada makhlukNya untuk membuktikan kenabian.

Kalau kaum Mujassimah meyakini Allah tidak ada ditempat kotor dengan makna zahir, maka sesungguhnya Allah juga tidak ada ditempat bersih dengan makna zahirnya, sebab Allah bukan jism yang menempati tempat. Mengapa?
Kalau mereka yakin Allah tidak ada di tempat kotor dan hanya ada di tempat bersih dengan makna zahir, maka menjadikan bentuk “jism” seperti itu adalah seperti keju yang berlubang-lubang, dimana keju adalah tempat bersih dan yang lubang itu adalah tempat kotor. Na’udzu billah min dzalik. Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan seperti itu.

Pemahaman Mujassimah ini berbahaya. Ketika mereka membaca Ayat Mutasyabihat QS Thaha ayat 5, “Arrahmanu ‘alal ‘Arsy istawa”, “(Allah) Yang Maha Pengasih beristawa di atas Arasy.” Merekapun langsung memahami “Jism” Allah memang benar-benar bersemayam di atas Arasy sebagaimana makna zahirnya, walaupun kemudian mereka katakan tidak serupa dengan jism makhluk.
Namun tetap melawan fitrah akal manusia, sehingga seorang Ustad bergelar Doktor, tidak dapat menjawab pertanyaan apakah Arasy itu makhluk atau bukan (video ini atau video ini pada menit ke 3:15).. Padahal kita waktu kecil sudah belajar bahwa yang selain Allah adalah makhluk, termasuk Arasy adalah makhluk.
Karena mereka memahami Allah perlu tempat, sedang tempat itu terikat dengan waktu, maka itulah yang menyebabkan Ustad bergelar Doktor itu bingung ketika ditanya Arasy itu makhluk atau bukan.
Kalau dia sebut Arasy itu makhluk, maka Arasy terikat waktu, yaitu pernah tidak ada. Kalau tidak ada Arasy, maka “Jism” Allah yang mereka yakini itu bersemayam dimana?
Sebaliknya kalau disebut bukan makhluk, jadi Arasy itu apa?
Na’udzu billah min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari keyakinan yang demikian.
(lihat Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah? )

Bertambahlah kita yakin akan suruhan Allah agar kita berdoa minta perlindungan kepada Allah dari hati yang cenderung pada kesesatan karena mengikuti makna zahir ayat Mutasyabihat, setelah diberi hidayah Islam. Doa ini disebut dalam QS Ali Imran ayat 8. (lihat Bagaimana Ahlussunah wal Jamaah memahami ayat-ayat Mutasyabihat)

Surat Ali Imran Ayat 8
(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

 

Jadi jelas bahwa pemahaman Mujassimah ini berbahaya dan melawan fitrah akal. Tujuan mereka untuk menjatuhkan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah yang haq dihadapan manusia, namun niat mereka itu justru berbalik kepada mereka, yaitu membongkar kekeliruan fahaman Mujassimah mereka sendiri.

Bersambung

Wallahu a’lam

Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua.

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

 

 

Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat (2)

Sejak tulisan kami Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat (bagian 1) diterbitkan, sampai hari ini tulisan itu masih cukup sering dikunjungi. Data statistik yang ada bukan mesti menunjukkan banyaknya jumlah orang yang membaca, sebab mungkin saja memang dibaca seluruhnya, hanya sebagian saja atau tidak dibaca sama sekali.

Dari sebagian orang yang membaca, kami memperoleh komentar tentang tulisan itu, ada yang ditulis langsung pada kolom komentar di bawah tulisan itu, ada juga ditulis di kolom komentar di YouTube.

Dari komentar yang kami baca, kami dapat melihat bahwa sebagian besar pembaca mengatakan memang fakta bahwa Ustad Adi Hidayat telah melompati bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah.
Hanya sebagian kecil tidak percaya bahkan menuduh bahwa bagian penting yang kami sampaikan itu tidak ada dalam Kitab tersebut, Ada yang ingin minta bukti dengan Kitab aslinya yang berbahasa Arab. Walaupun golongan ini adalah sebagian kecil dari komentar, namun kami rasa perlu juga menanggapinya, karena komentar yang sedikit itu mungkin mewakili orang banyak yang tidak percaya, tetapi tidak mengungkapkan isi hatinya.

Setelah beberapa waktu berusaha mencari Kitab asli yang berbahasa Arab seperti yang dibaca oleh Ustad Adi Hidayat, akhirnya Allah izinkan kami mendapatkan Kitab itu dari sebuah toko buku. Alhamdulillah.

Dalam tulisan lanjutan ini kami ingin sampaikan hasil scan Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah yang berbahasa Arab, untuk melengkapi tulisan kami yang pertama.

Dari komentar pembaca yang percaya bahwa memang bagian penting itu dilompati. Kami dapat membagi menjadi 3 golongan besar ditinjau dari sikap mereka terhadap tulisan kami yaitu:

  1. Golongan yang menganggap bahwa Ustad Adi Hidayat sengaja melompati bab penting itu dan membenarkan beliau melompatinya. Golongan ini menganggap antara Ustad Adi Hidayat dan kami adalah dua pihak yang saling berlawanan. Mereka mendukung Ustad Adi Hidayat dan “memusuhi” kami. Diantara mereka ada yang berusaha menjatuhkan atau menjelek-jelekan tulisan kami ini,
  2. Golongan yang menganggap bahwa Ustad Adi Hidayat sengaja melompati bab penting itu dan menyalahkan sikap beliau telah melompatinya. Seperti point 1 di atas, Golongan ini menganggap antara Ustad Adi Hidayat dan kami adalah dua pihak yang saling berlawanan. Golongan ini sangat mendukung kami dan “memusuhi” Ustad Adi Hidayat. Mungkin diantara mereka ada yang men-share tulisan ini, yang menyebabkan tulisan ini sejak diterbitkan menjadi salah satu “best seller” dari seluruh tulisan kami.
  3. Golongan yang menganggap bahwa Ustad Adi Hidayat tidak sengaja melompati bab penting itu, karena alasan waktu yang terbatas. Golongan ini juga sangat mendukung tulisan kami, tetapi menganggap antara Ustad Adi Hidayat dan kami adalah dua pihak yang saling bantu dan melengkapi, sebagai orang Islam yang bersaudara yang saling tolong menolong dalam kebenaran. Golongan ini bersangka baik bahwa suatu saat nanti jika waktu lapang, Ustad Adi Hidayat pasti akan menyampaikan bagian penting yang telah dilompati itu, insya Allah.

Silakan masing-masing kita mengukur atau muhasabah diri, termasuk golongan manakah diri kita dari 3 golongan yang disebut di atas?

Seperti yang disampaikan oleh Ustad Adi Hidayat, Kitab itu adalah kumpulan Kitab tulisan KH Hasyim Asy’ari yang terdiri dari 19 Kitab.

Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jamaah atau judul lengkapnya Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah fi Haditisil Mauta wa Asyrothis Saa’ah wa Bayani Mafhumis Sunnah wal Bid’ah adalah Kitab kedua dari kumpulan 19 Kitab itu.

Mohon maaf bahwa hasil scan kami ada bagian yang agak gelap, sebab bukunya cukup tebal, sehingga sangat sulit untuk menekan seluruh halaman agar rata pada mesin scan, yang mangakibatkan sisi halaman yang dijilid (bagian dalamnya) agak terlihat gelap.

Cover Kitab bagian depan

Cover Kitab bagian belakang

Keterangan judul dan penerbit

Halaman 9 (sesuai dengan halaman yang disebut Ustad Adi Hidayat).

Dengan tambahan garis yang menandai text yang dilompati (lihat bagian 1).

Garis biru: penjelasan Ahlussunnah wal Jama’ah yang dimaksud, yang dianut oleh orang Jawa (Indonesia).

Garis merah: penjelasan aliran yang menyimpang (ajaran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi )

risalah-aswaja-arab-9_tandaygdilompati

Halaman 10

Dengan tambahan garis yang menandai text yang dilompati (lihat bagian 1).

Hampir dilompati seluruhnya kecuali paragraf terakhir (yang ketiga seperti disebut oleh Ustad Adi Hidayat)

Garis merah: penjelasan aliran yang menyimpang (ajaran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi)

risalah-aswaja-arab-10_tandaygdilompati

Halaman 11

Perlu kami tambahkan disini bahwa dalam File PDF terjemah pada tulisan Bagian penting Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah susunan KH Hasyim Asy’ari yang tidak diterangkan oleh Ustad Adi Hidayat yang  pertama (Terjemah Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah KH Hasyim Asy’ari)  perlu ada koreksi sedikit dalam bab yang dilompati yaitu pada keterangan apa itu pegangan Ahlussunnah wal Jamaah yang dianut oleh masyarakat Jawa (Indonesia). Koreksi itu adalah

…. dalam Tasawwuf ikut Imam Ghazali dan Imam Hasan As Syadzili.

Namun ini tidak mengubah esensi pegangan Ahlussunnah wal Jamaah, sebab memang Imam Junaid Al Baghdadi dan Imam Hasan As Syadzili adalah Ulama Tasawwuf yang menjadi rujukan dan panutan umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di Indonesia bahkan seluruh dunia.

Wallahu a’lam

Artikel lain ada dalam Daftar Isi

Apa maksud “janganlah kalian berpikir tentang Dzat Allah, tapi pikirkanlah ciptaan-Nya”?

Larangan berpikir tentang Dzat Allah dan sebagai gantinya kita disuruh memikirkan ciptaan-Nya sudah sering kita dengar. Namun akhir-akhir ini ada ajaran Aqidah yang dikenal dengan Tauhid 3 serangkai (Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Sifat) yang justru secara tidak sadar telah membahas Dzat Allah itu dengan panjang lebar yang disebarkan melalui channel Youtube.

Ajaran Aqidah ini melawan fitrah akal manusia, karena secara tidak sadar telah membahas Dzat Allah yang jelas dilarang oleh Allah. Mengapa ajaran Aqidah ini secara tidak sadar telah membahas Dzat Allah? mari kita uraikan bersama-sama.

Kalau kita diminta menceritakan tentang sifat-sifat seseorang, kita dapat membagi pembahasan menjadi 2 bagian besar yaitu:

  1. Sifat jismnya (lahiriah/fisiknya), yaitu sifat yang berkaitan dengan dzatnya yang berjisim (bertubuh), karena manusia adalah makhluk dan makhluk selalunya mempunyai jisim (jasad). Misalnya orang itu tinggal di kota A, umurnya sekian tahun, tingginya sekian cm, beratnya sekian kg, warna kulitnya sawo matang, hidungnya mancung, matanya agak besar, tubuhnya kuat, dan sebagainya. Perlu ditambahkan disini bahwa makhluk ghaib seperti malaikat juga berjisim (bertubuh/bersosok), tetapi jisim (jasad) di alam ghaib.
  2. Sifat bathinnya, yaitu sifat yang berkaitan dengan jiwa atau fikirannya, misalnya orang itu pemurah, cerdas, suka membantu, sabar, rendah hati dan sebagainya.

Begitulah sifat yang ada pada makhluk. Kita dapat membahas sifat jism dzatnya (lahiriah) dan sifat bathinnya. Dengan menceritakan sifat-sifat lahir dan bathin seseorang kita akan mengenalnya lebih dekat. Kalau orang itu adalah orang yang dimuliakan Allah seperti Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, kita akan bertambah kenal dan cinta kepadanya. Itu sebabnya mengenal fisik dan bathin Rasulullah shallallahu alaihi wassalam termasuk disuruh dalam agama Islam agar kita lebih mengenal dan lebih mencintai beliau shallallahu alaihi wassalam.

Awaluddin ma’rifatullah, permulaan (ajaran) agama adalah mengenal Allah. Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sudah memberikan panduan berdasarkan dalil aqli (akal) selain dalil naqli (Quran dan Hadits) agar kita dapat mengenal Allah, Dzat yang kita sembah sebagai tujuan kita diciptakan.

Dalam Aqidah Ahlusunnah wal Jamaah, pengenalan kita tentang Allah dimulai dengan mempelajari Sifat Wajib Allah yang 20. Namun dalam ilmu Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah pembagian Sifat Allah bukan terdiri dari Sifat Jism (lahiriah) dan Sifat bathiniah, sebab Allah bukan makhluk yang terdiri dari jism (jasad/ tubuh/ sosok) dan bathin. Kita dikenalkan dengan Sifat Allah yang terdiri dari Sifat Nafsiyah, Sifat SalbiyahSifat Ma’ani dan Sifat Ma’nawiyah. Ini dilakukan agar kita umat Islam meyakini bahwa wujud Dzat Allah itu bukanlah berjism/ berjasad/ bersosok, sehingga kita terhindar dari memikirkan dan membahas Dzat Allah. Selain akal kita tidak akan mampu, juga hal ini melawan fitrah akal kita.

Kita disuruh mengenali Allah dengan memikirkan dan membahas Sifat Allah yang dapat kita lihat pada makhlukNya, sebagaimana firman Allah QS Ali Imran ayat 190-191:

Surat Ali Imran Ayat 190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Surat Ali Imran Ayat 191

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Ajaran Tauhid 3 Serangkai membahas Tauhid Asma Wa Sifat dengan makna zahir. Mereka katakan mereka tidak membahas Dzat Allah tetapi membahas Sifat Allah. Namun karena mereka memahaminya dengan makna asli yang zahir dari Sifat Allah itu dan makna zahir Sifat Allah itu berkaitan dengan Sifat Jism maka hakikatnya mereka membahas Dzat Allah secara tidak sadar. Padahal Allah bukanlah Dzat yang berjism (berjasad/ bersosok/ bertubuh). Itu sebabnya mereka disebut golongan Mujassimah, yaitu golongan yang meyakini Allah punya Jism (fisik/sosok tubuh), walaupun kemudian mereka nafikan bahwa Sifat (jism) Allah itu berbeda dengan jism makhluk.

Dalam pembahasan Tauhid Asma wa Sifat, mereka sebutkan secara eksplisit bahwa Allah punya sifat fisik dengan anggota badan seperti Tangan, Wajah dan Kaki secara makna zahirnya (lihat video ini di menit ke 4:30) , kemudian mereka katakan bahwa Tangan, Wajah dan Kaki Allah berbeda dengan tangan, wajah dan kaki makhluk. Mereka katakan Allah berada di atas dan bersemayam di atas Arasy, kemudian mereka katakan Allah “berada di atas” dan “bersemayam” di atas Arasy, berbeda dengan “berada di atas” dan bersemayamnya makhluk. Namun secara tidak sadar mereka telah membahas Sifat jisim (tubuh/ jasad/ sosok) dari Dzat Allah. Kalau membahas Dzat Allah tentu mereka berpikir tentang Dzat Allah itu, walaupun kemudian mereka berkata, jangan pikirkan bagaimana Tangan, Wajah, Kaki, bagaimana “bersemayam” dan bagaimana “berada di atas” bagi Allah.

Akibat memikirkan Dzat Allah tanpa sadar dan melawan fitrah menjadikan Ustad bergelar doktor menjadi tidak tahu lagi bahwa Arasy adalah makhluk, bahkan dikiranya adalah bagian dari Arasy (lihat  video ini atau video ini di menit ke 3:15). Maha Suci Allah dari yang disifatkan itu.
Anehnya ketika Ustad itu menyampaikan seluruh pendengar dan tim dokumentasi yang telah merekam juga tidak sadar akan keyakinan yang syubhat ini, bahkan kemudian mengupload video itu. Sedang sudah kita pelajari dari kecil bahwa yang selain Allah itu pasti makhluk. Ucapan Ustad bergelar doktor itu adalah keluar dari hatinya tanpa sadar. Jadi apa yang dibayangkannya tentang Arasy jika beliau berkata demikian? Na’udzu billahi min dzalik.

(lihat Mengapa seorang Ustad bergelar Doktor penganut Aqidah 3 serangkai menjadi tidak tahu bahwa Arsy adalah makhluk Allah? )

Mereka berhujah, Allah sendiri yang berkata bahwa Allah bersemayam di atas Arasy, seperti Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Disini kelihatan bahwa mereka tidak dapat membedakan Sifat Jism dan Sifat Ma’nawiyah. Mereka mengira makna Mendengar dan Melihat adalah sama dengan makna zahir istawa (bersemayam). Mendengar dan Melihat adalah Sifat Ma’nawiyah yang tidak mesti dikaitkan dengan jism (jasad), sedang bersemayam secara makna zahir adalah erat sekali dengan makna jisim/sosok/jasad.

Mari kita bahas apa itu Sifat Ma’nawiyah dan Sifat Jism untuk lebih memahami perbedaan antara keduanya, Sifat Ma’nawiyah dapat difahami tanpa terikat dengan Sifat Jism. Sifat Jism (fisik) selalu terikat oleh waktu dan ruang/tempat). Sifat Ma’nawiyah Allah adalah bersifat

  • Qidam (tidak ada permulaan) dan Baqa (tidak ada akhir) yang menegaskan tidak terikat oleh waktu
  • Mukhalafatu lil hawadits (berbeda dengan yang baharu/makhluk) dan Qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri tanpa tergantung kepada makhluk) yang menegaskan tidak terikat oleh ruang/tempat (lihat Sifat Salbiyah).

Allah Melihat dan Mendengar seluruh makhluk tanpa terikat oleh waktu dan tempat. Allah Melihat dan Mendengar seluruh makhluk baik ketika makhluk itu belum diciptakan, ketika makhluk itu ada, maupun setelah makhluk itu ditiadakan kembali atau dibiarkan kekal (seperti syurga dan neraka).

Berbeda dengan Sifat Jism (fisik) yang terikat oleh waktu dan ruang/tempat. Sebagai contoh ayat Mutasyabihat (ayat yang samar artinya) yang paling sering mereka jadikan dalil yaitu “Istawa alal Arsy” yang artinya bersemayam di atas Arasy, Bersemayam di atas Arasy dengan makna zahir hanya dapat dilakukan setelah Arasy diciptakan, sebelum diciptakan tidak mungkin dapat bersemayam di atasnya.

Namun jika Sifat Istawa difahami dengan Sifat Ma’nawiyah berdasarkan ayat Muhkamat (ayat yang jelas artinya) (lihat Bagaimana Ahlussunnah wal Jam’ah memahami ayat-ayat Mutasyabihat) seperti disebut dalam QS At-Taubah:129

9:129

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Robb (Tuhan Yang Menguasai, Memiliki, Mencipta, Memelihara)  ‘Arsy yang agung“.

maka Sifat Maha Kuasa Allah terhadap Arasy dapat difahami akal, baik ketika Arasy itu belum ada, setelah Arasy diciptakan ataupun jika Arasy kembali ditiadakan, sebagaimana Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar seluruh makhlukNya. Allah Melihat, Mendengar dan Berkuasa atas semua makhlukNya, baik sebelum makhluk itu diciptakan, setelah diciptakan, maupun setelah kembali ditiadakan. Bahkan akal juga faham bahwa Mustahil Allah baru dapat Melihat, Mendengar dan Berkuasa hanya setelah makhluk itu ada atau diciptakan.

Itu sebabnya sekali lagi kami sampaikan mengapa orang yang membahas Sifat Allah bersemayam di atas Arasy dengan makna zahir melawan fitrah akal, sehingga menjadikannya tidak tahu lagi bahwa Arasy adalah makhluk Allah. Sedang ketika di awal kita belajar Aqidah, kita diberitahu bahwa yang selain Allah Yang Maha Pencipta (Al Khaliq) adalah pasti makhluk, keyakinan ini tidak boleh meleset. Kalau ada orang yang sampai tidak tahu bahwa Arasy yang selain Allah itu makhluk (diciptakan), maka bahaya bagi orang itu mungkin menjadi ragu karena membayangkan bahwa Arasy itu adalah bagian dari Dzat Allah. Na’udzubillah min dzalik.

Wallahu a´lam

Lihat juga:

Pembahasan “Di mana Allah?” secara makna zahir dapat menjerumuskan ke pemahaman Mujassimah

Bahaya fahaman Mujassimah (1); Allah ada di comberan?

Bahaya fahaman Mujassimah (2); Allah ada di luar alam?

Bahaya fahaman Mujassimah (3), Allah mempunyai sifat fisik?

Artikel lain ada dalam Daftar Isi